Di kehidupan sebelumnya, Li Hua adalah wanita yang dihina, dikucilkan, dan dianggap "buruk rupa" oleh dunia. Ia mati dalam kesunyian tanpa pernah merasakan cinta. Namun, takdir berkata lain. Ia terbangun di tubuh seorang Ratu agung yang terkenal kejam namun memiliki kecantikan luar biasa, mengenakan jubah merah darah yang melambangkan kekuasaan mutlak.
Kini, dengan jiwa wanita yang pernah merasakan pahitnya dunia, ia harus menavigasi intrik istana yang mematikan. Ia bukan lagi wanita lemah yang bisa diinjak. Di balik kecantikan barunya, tersimpan kecerdasan dan tekad baja untuk membalas mereka yang pernah merendahkannya. Apakah merah jubahnya akan menjadi lambang kemuliaan, ataukah lambang pertumpahan darah di istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitrika Shanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bara di Balik Kabut
Desa Sisik Perak yang malang kini berselimut jelaga. Meskipun Mu Feng berhasil membantu menghalau para pemburu bayangan, api yang melalap dermaga menjadi pertanda jelas bahwa persembunyian mereka telah hancur. Namun, Tian Long bukanlah pemimpin yang gegabah. Ia tahu bahwa langsung menuju ibu kota tanpa perhitungan matang adalah tindakan bunuh diri.
Sebelum mereka mengemasi barang-barang yang tersisa, Tian Long memanggil Han, seorang pengawal elit yang selama tiga tahun ini menyamar sebagai tukang kayu di desa sebelah. Han adalah satu-satunya intelijen setia yang tetap menjalin komunikasi rahasia dengan Tian Long melalui kode-kode di batang kayu yang dikirimkan setiap bulan.
"Han," ucap Tian Long di balik reruntuhan rumahnya yang masih berasap. "Aku tidak bisa membawa istri dan anak-anakku ke dalam jebakan. Pergilah ke ibu kota. Gunakan identitas lamamu sebagai pedagang gandum. Aku ingin tahu siapa saja yang masih memegang sumpah setianya, dan siapa yang sudah menjual jiwanya pada Tuan Shen."
Han membungkuk dalam. "Hamba akan berangkat saat gerhana bulan malam ini, Yang Mulia."
Laporan dari Kegelapan
Tujuh hari berlalu dalam kecemasan. Tian Long, Li Hua, Mu Feng, dan si kembar bersembunyi di sebuah gua di balik bukit yang menghadap ke arah jalan utama. Selama masa tunggu itu, Tian Long menghabiskan waktunya dengan mengasah pedang naga hitamnya, sementara matanya terus menatap tajam ke arah utara.
Pada malam ketujuh, Han kembali dengan napas tersengal dan pakaian yang kotor. Ia membawa kabar yang membuat rahang Tian Long mengeras.
"Yang Mulia," lapor Han sambil berlutut. "Situasi di ibu kota lebih buruk dari yang kita bayangkan. Tuan Shen telah mengubah Istana Cahaya menjadi benteng ketakutan. Kaisar boneka kita, keponakan Anda, hanyalah tahanan di kamarnya sendiri. Setiap menteri yang berani menyebut nama Anda telah 'dihilangkan' atau dijebloskan ke penjara bawah tanah."
Li Hua, yang sedang memeluk Li Mei, mendekat. "Bagaimana dengan rakyat? Apakah mereka percaya bahwa kami sudah mati?"
Han menatap Li Hua dengan tatapan sedih. "Tuan Shen menyebarkan fitnah bahwa Permaisuri Li Hua adalah seorang penyihir yang mengutuk Kerajaan Li dengan sihir hitam, dan kematian Anda di Pegunungan Giok adalah hukuman dari langit. Rakyat sekarang hidup dalam kebencian yang dipicu oleh kebohongan. Namun..." Han menjeda kalimatnya.
"Namun apa?" tanya Mu Feng tajam.
"Masih ada Resistansi Bawah Tanah. Mereka dipimpin oleh mantan panglima perang Anda yang dulu dianggap berkhianat, Jenderal Kael. Ternyata dia hanya pura-pura tunduk untuk membangun kekuatan dari dalam selokan kota. Mereka menyebut diri mereka 'Garda Bintang Merah'. Mereka hanya menunggu satu isyarat bahwa sang Naga telah kembali."
Pengintaian Rahasia Sang Kaisar
Mendengar laporan itu, Tian Long membuat keputusan berani. Sebelum ia menggerakkan seluruh keluarganya, ia harus melihat situasi dengan matanya sendiri. Dengan bantuan ilmu penyamaran Mu Feng, Tian Long mengubah wajahnya menjadi seorang pria tua renta dengan janggut putih panjang dan punggung bungkuk.
Ia menyelinap ke pos pemeriksaan terdepan ibu kota, hanya beberapa mil dari gerbang utama, dengan menyamar sebagai pengantar kayu bakar. Di sana, ia melihat pemandangan yang menyayat hati. Prajurit-prajurit yang dulunya ia pimpin dengan kehormatan, kini memalak rakyat kecil dan memukuli orang-orang yang tidak mau tunduk pada panah Tuan Shen.
Di sebuah sudut pasar, ia melihat patung Li Hua yang dulu dibangun rakyat sebagai tanda terima kasih, kini telah dihancurkan dan dilumuri kotoran.
Tian Long mengepalkan tangannya di balik jubah kumalnya. Rasa panas menjalar di dadanya bukan hanya amarah, tapi tanggung jawab yang kembali membara. Saat ia hendak berbalik, ia melihat Tuan Shen melintas dengan kereta kuda emasnya yang dikawal ketat. Dari balik jendela kereta, Shen menatap kerumunan dengan pandangan menghina.
Tian Long menyadari satu hal,shen memiliki aroma sihir yang sangat mirip dengan Nenek Shira. Pria ini bukanlah politisi biasa,ia adalah seorang praktisi ilmu hitam yang lebih licik.
Keputusan Sang Ratu
Sekembalinya ke gua persembunyian, Tian Long menceritakan semua yang dilihatnya. Li Hua terdiam lama, menatap anak-anaknya yang sedang tidur lelap di atas tumpukan jerami.
"Tian Long," suara Li Hua terdengar bergetar namun kuat. "Jika kita kembali hanya dengan pedang, kita akan kalah oleh sihirnya. Dia telah meracuni pikiran rakyat dengan kebencian padaku."
Ia mengeluarkan cermin merah milik Aruna yang terus berdenyut di sakunya. "Aku harus membangkitkan kekuatanku kembali. Aku harus menjadi 'Penyihir' yang mereka takuti, agar aku bisa menunjukkan kepada mereka perbedaan antara kegelapan yang menghancurkan dan cahaya yang melindungi."
"Li Hua, kau tahu harganya," Mu Feng memperingatkan. "Jika kau membangkitkan Mata Emas melalui cermin merah itu, kenanganmu tentang kehidupan tenang kita di desa nelayan ini bisa terhapus. Kau akan menjadi dingin seperti dulu."
Li Hua menatap Tian Long, lalu mencium kening kedua anaknya. "Kenangan adalah kemewahan yang tidak bisa kumiliki saat rakyatku sedang menderita. Jika aku harus melupakan hari-hari indah ini agar mereka bisa memiliki masa depan yang aman, maka biarlah langit mengambil ingatanku."
Tian Long menggenggam tangan Li Hua. "Aku akan membantumu mengingat semuanya, setiap hari, setiap detik, setelah kita merebut kembali takhta itu. Kita berangkat besok fajar."
Strategi Kepungan Bayangan
Rencana besar pun disusun. Kaisar Tian Long akan memimpin 'Garda Bintang Merah' untuk menyerang dari selokan dan jalur rahasia istana. Mu Feng akan bertugas mengamankan anak-anak di tempat perlindungan rahasia milik Jenderal Kael. Sementara Li Hua... ia akan muncul dari gerbang depan, sendirian, untuk memancing perhatian seluruh pasukan Tuan Shen.
"Biarkan mereka melihat permaisuri mereka kembali dari kematian," ucap Li Hua sambil menatap bayangannya di cermin merah yang kini mulai bersinar terang, menyerap seluruh emosi dan kekuatannya yang tertidur.
Fajar menyingsing, dan di cakrawala, menara-menara Istana Cahaya mulai terlihat. Perang perebutan kembali identitas dan kekaisaran telah dimulai.