Aruna Paramitha, gadis cantik yang memiliki bodi gores menganggap rumahnya dalam tempat yang paling aman, menjadi terganggu dengan kedatangan tetangga baru yang menyebalkan. Gavin Adnan, adalah pria garis keras dalam hal ketertiban. Aruna yang berjiwa bebas dan sedikit berantakan pun resmi menjadi musuh bebuyutan Gavin. Namun.un saat sebuah insiden salah kirim paket, mengungkap rahasia kecil Gavin yang tak terduga, tembok pertahanan pria kaku itu mulai goyah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tarik Napas
Mereka berdua berkeliling kompleks perumahan harmoni untuk membagikan undangan tersebut. Saat tina di rumah Pak RT, sang ketua lingkungan itu memakai kacamata bacanya cukup lama untuk mempelajari undangan tersebut.
"Mas Gavin, ini undangan apa instruksi pajak?" tanya Pak RT sambil terkekeh. "Ada grafik alur antrean makannya segala?"
"Itu demi kenyamanan tamu, Pak RT. Saya tidak ingin ada tamu yang mengalami malnutrisi sesaat karena terlalu lama mengantre di satu titik," jawab Gavin dengan wajah sangat serius.
Saat pindah ke rumah warga lain, mereka bertemu dengan sekelompok ibu-ibu yang sedang menyapu jalan. Gavin membagikan undangan itu satu per satu dengan posisi tangan yang sangat simetris.
"Walah, Mbak Runa. Ini undangannya keren banget! Ada barcodenya!" seru salah satu warga.
" Iya Bu, tolong dibawa ya. Karena kalau barcodenya nggak ada, sensor di pintu masuk nggak akan terbuka." tambah Gavin.
Aruna buru-buru menyenggol Gavin. "Maksud Mas Gavin, biar kami bisa menyapa Ibu dengan nama yang muncul di layar, gitu lho Bu!"
Perjalanan membagikan undangan itu di warnai dengan tawa dan gelengan kepala dari tetangga. Mereka semua susah hafal bahwa pernikahan ini akan menjadi pernikahan yang paling teratur sepanjang sejarah perumahan harmoni.
Namun di balik semua SOP dan aturan aneh itu, semua orang bisa melihat bagaimana Gavin selalu menatap Aruna saat memberikan penjelasan teknis. Ia tidak sedang mengaudit pernikahan. Ia sedang memastikan bahwa hari paling membahagiakan bagi Aruna tidak akan terganggu oleh satupun anomali kecil.
Setelah selesai membagikan undangan terakhir, Aruna harus memijat pelipisnya karena melihat Gavin yang masih sibuk mencatat "tingkat efisiensi distribusi undangan" di buku catatannya.
"Mas, sudah ya? Selesai. Sekarang kita fokus ke tamu yang mau datang," ujar Aruna sambil menarik Gavin masuk ke rumah.
Namun "fokus" versi Gavin ternyata adalah sebuah mimpi buruk bagi keteraturan. Karena sore itu juga, rombongan keluarga besar dari kampung Aruna dan keluarga besar Gavin mulai berdatangan. Rumah yang biasanya sunyi dan steril itu berubah menjadi zona anarki bagi seorang Gavin.
Tiga mobil berisi Paman, Bibi, dan sepupu Aruna tiba dengan membawa tumpukan kardus berisi makanan khas desa dan baju-baju batik. Begitu pintu di buka, keponakan Aruna yang masih kecil langsung berlarian masuk ke ruang tamu Gavin yang biasanya mengkilap.
"Wah, rumah Om Gavin bersih banget! Bisa buat main seluncuran!" teriak salah satu bocah sambil melempar tasnya ke atas sofa kulit Gavin.
Gavin mematung. Matanya berkedut melihat tas ransel tersebut mendarat di atas bantal sofa dengan posisi miring tiga puluh derajat.
"Runa, tolong sampaikan pada mereka bahwa sofa tersebut memiliki koefisien keausan tertentu. Dan anak-anak itu... mereka tidak menggunakan hand sanitizer sebelum menyentuh handel pintu," bisik Gavin dengan wajah pucat.
Aruna hanya tertawa, "Sabar, Mas. Namanya juga keluarga."
Di dapur, Ibu Aruna dan Ibu Gavin mulai berkolaborasi. Ibu Gavin yang pensiunan Guru Matematika mencoba mengikuti standar Gavin, sementara Ibu Aruna bekerja dengan insting "kira-kira".
"Jeng, ini bumbunya dipotong berapa mili? kata Gavin harus presisi," tanya Ibu Gavin sambil memegang penggaris dapur.
Ibu Aruna tertawa renyah. "Aduh, Jeng. Masak itu pakai perasaan, bukan pakai kalkulator. Sini, Saya ajarkan cara memotong cabai yang 'estetik' tapi cepat.
Gavin yang lewat depan dapur hampir pingsan melihat kulit bawang berserakan di atas meja granitnya. Ia refleks mengambil vacuum cleaner portable, namun tangannya di tangkis oleh Ibu Aruna.
"Mas Gavin, sana istirahat! Kalau kamu bersihkan sekarang, nanti lima menit lagi kotor lagi kotor lagi. Mubazir energinya!"
Gavin mundur teratur. "Mubazir energi... itu adalah konsep yang tidak ada dalam kamus audit saya, Bu."
Puncak kelucuannya adalah saat malam hari ketika semua orang ingin mandi. Karena jumlah tamu mencapai lima belas orang, Gavin mulai gelisah melihat penggunaan air dan antrean yang tidak teratur.
Aruna menemukan Gavin sedang menempelkan selembar kertas di pintu kamar mandi menggunakan selotip bening yang sangat lurus. Isi tulisan dalam kertas itu adalah jadwal penggunaan kamar mandi. (Ada-ada aja Mas Gavin ini ya?)
"Mas, kamu beneran mau menjatah air buat keluarga sendiri?" protes Aruna.
"Ini demi menjaga tekanan air di pipa lantai dua, Runa. Jika semua orang menyalakan air secara bersamaan, debit air akan turun dan suhu warga heater akan berfluktuasi. Saya tidak mau keluarga kita mengalami trauma termal sebelum hari pernikahan," jawab Gavin serius.
Keesokan paginya, sebelum menuju gereja untuk pemberkatan, Gavin mengumpulkan seluruh anggota keluarga di halaman yang sudah menyatu. Ia memegang papan jalan (clipboard).
"Perhatian semuanya. Kita akan melakukan briefing formasi keberangkatan," ujar Gavin. "Mobil satu berisi pengantin dan saksi. Mobil dua berisi logistik. Jarak antar mobil harus tetap lima meter. Jika ada lampu merah, mobil di depan wajib menunggu mobil di belakang di bahu jalan yang memiliki lebar minimal dua meter."
Paman Aruna yang sedang asyik mengisap rokok hanya manggut-manggut. "Mas Gavin, kalau mau pipis di jalan gimana? Harus ada SOPnya juga?"
Gavin melihat catatannya. "Ada, Paman. Silahkan lihat lampiran empat, prosedur berhenti darurat di rest area."
Aruna hanya bisa memegang tangan Gavin, menenagkannya. "Mas, tarik napas. Semua orang disini sayang sama kita, mereka nggak akan tersesat, meskipun nggak pakai GPS koordinat kamu."
Gavin menatap Aruna lalu perlahan menurunkan papan jalannya. Ia melihat betapa cerianya rumah itu sekarang, sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. "Baiklah, saya akan menurunkan tingkat pengawasan Saya sebanyak sepuluh persen. Tapi hanya untuk hari ini."
Bersambung......