Di Benua Langit Sembilan, Xiao Yuan adalah jenius tak tertandingi yang memegang Sumsum Naga Suci. Namun, di malam pernikahannya, ia dikhianati oleh tunangannya, Ling’er, yang meracuninya dan membedah tulang naganya untuk diberikan kepada kekasih gelapnya. Xiao Yuan dibuang ke Jurang Keputusasaan dalam kondisi cacat.
Namun, takdir tidak berhenti. Roh Naga Kuno yang tertidur di dasar jurang menyatu dengan jiwanya yang hancur. Dengan bantuan Yun’er, gadis misterius dari klan terbuang, Xiao Yuan merangkak naik dari neraka. Kali ini, ia tidak akan menjadi pelindung dunia, melainkan Dewa Naga yang akan menghancurkan siapa pun yang pernah menginjaknya. "Jika langit menghalangi jalanku, aku akan merobek langit!".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Satu Jam Menuju Kiamat
Langit di atas Hutan Kuno Para Dewa seolah terbelah menjadi dua dimensi yang berbeda. Di satu sisi, pilar cahaya hitam-emas milik Xiao Yuan terus menderu, menantang gravitasi dan hukum dunia rendah. Di sisi lain, sebuah lubang putih raksasa terbuka di balik awan, menampakkan wajah raksasa yang seolah terbuat dari pahatan marmer suci Kaisar Langit, atau setidaknya proyeksi kesadarannya, telah turun tangan.
Xiao Yuan melayang di udara, sayap naga transparannya mengepak perlahan, menciptakan riak energi yang menghancurkan pepohonan di bawahnya hanya dengan hembusan anginnya. Namun, di dalam dadanya, ia merasakan panas yang membakar. Sumsum Esensi Leluhur yang ia serap sedang bekerja terlalu cepat. Darahnya mendidih, dan setiap detak jantungnya terasa seperti ledakan kecil yang mencoba merobek pembuluh darahnya.
"Satu jam," gumam Xiao Yuan, suaranya kini memiliki vibrasi ganda yang menyeramkan. "Lebih dari cukup untuk menghapus noda ini."
Ling’er, yang berdiri di bawah dalam perlindungan cahaya suci yang turun dari gerbang langit, tertawa histeris. Rambutnya berantakan, wajah cantiknya kini dipenuhi gila kekuasaan. "Lihat dirimu, Yuan! Kau berubah menjadi monster! Kau pikir kau bisa menang melawan kehendak langit? Kau hanyalah semut di mata Baginda Kaisar!"
"Jika aku semut, maka aku adalah semut yang akan merayap di tenggorokan tuhanmu dan mencekiknya sampai mati," jawab Xiao Yuan dingin.
Tanpa peringatan, Xiao Yuan melesat. Kecepatannya kini melampaui batas penglihatan manusia. Ia bukan lagi berpindah tempat, ia seolah-olah menghapus jarak antara dirinya dan Ling’er.
DUAARR!
Tinju Xiao Yuan menghantam perisai cahaya suci yang melindungi Ling’er. Getaran dari hantaman itu menciptakan gelombang kejut yang meratakan hutan dalam radius lima kilometer. Tanah amblas, menciptakan kawah raksasa yang mengerikan.
Perisai itu retak, namun proyeksi wajah Kaisar Langit di atas sana mendengus. Sebuah tangan raksasa dari cahaya turun dari langit, mencoba menangkap Xiao Yuan seperti menangkap serangga.
"Berisik!" Xiao Yuan meraung. Ia mengangkat Pedang Keruntuhan Abadi yang kini telah bermutasi menjadi Pedang Penghancur Takdir.
"Tebasan Keenam: Pembelah Cakrawala!"
Sinar hitam-emas raksasa meluncur dari bilah pedangnya, membelah tangan cahaya itu menjadi dua bagian. Cairan emas yang merupakan esensi langit tumpah seperti hujan meteor, membakar apa pun yang disentuhnya.
Xiao Yuan tidak berhenti. Ia menyerang Ling’er kembali. Setiap tebasan pedangnya membawa amarah dari jutaan naga yang telah dikhianati. Ling’er terpaksa menggunakan seluruh energinya untuk bertahan, wajahnya yang tadinya sombong kini mulai menunjukkan ketakutan yang nyata. Ia menyadari bahwa perlindungan langit pun mulai goyah di hadapan amukan Xiao Yuan.
"Kenapa?! Kenapa kau begitu kuat?!" jerit Ling’er sambil memuntahkan darah.
"Karena aku tidak punya jalan pulang, Ling’er! Kau telah membakar semua jembatan di belakangku!" Xiao Yuan mencengkeram leher Ling’er melalui retakan perisainya.
Namun, saat Xiao Yuan hendak menghancurkan tenggorokan Ling’er, sebuah suara lembut namun penuh kesedihan terdengar dari bawah.
"Yuan... berhenti..."
Itu adalah Yun’er. Gadis itu berdiri di tepi kawah, dipapah oleh Kakek Gu. Wajah Yun’er pucat pasi, namun matanya yang jernih menatap Xiao Yuan dengan penuh duka.
"Jika kau membunuhnya sekarang dengan kebencian ini... esensi naga itu akan mengambil jiwamu sepenuhnya. Kau akan menjadi iblis tanpa ingatan! Jangan biarkan dia menang dengan cara mengubahmu menjadi monster!" teriak Yun’er.
Lengan Xiao Yuan bergetar. Panas di dalam tubuhnya semakin menjadi-jadi. Sisik-sisik di tangannya mulai mengeluarkan darah. Waktunya tinggal empat puluh menit. Jika ia terus melepaskan kekuatan ini, ia akan meledak sebelum sempat menyelamatkan ibunya.
Ling’er melihat keraguan di mata Xiao Yuan dan menggunakan kesempatan itu. Ia menusukkan belati perak yang telah diolesi darah Kaisar Langit tepat ke perut Xiao Yuan.
Jleb!
"Ugh!" Xiao Yuan terhuyung mundur. Racun suci dari belati itu mulai bereaksi dengan esensi naga hitamnya, menciptakan perang batin di dalam meridiannya.
"Hahaha! Kau terlalu lemah karena wanita itu, Yuan!" Ling’er melompat mundur, bersiap untuk terbang menuju gerbang langit yang mulai menutup. "Tetaplah di sini dan meledaklah bersama dendammu!"
Xiao Yuan menatap belati yang tertancap di perutnya. Ia menariknya keluar dengan tangan kosong, membiarkan luka itu menyembur darah emas kehitaman. Matanya kembali menajam, namun kali ini ada ketenangan yang menakutkan di sana.
"Yun'er... maafkan aku," bisik Xiao Yuan pelan. "Tapi ada beberapa hutang yang hanya bisa dibayar dengan nyawa."
Xiao Yuan memejamkan matanya, mengabaikan rasa sakit yang membakar tubuhnya. Ia mulai memadatkan seluruh esensi naga yang tersisa di dalam tubuhnya ke ujung pedangnya. Ini adalah serangan bunuh diri. Jika berhasil, ia akan menghancurkan gerbang langit; jika gagal, ia akan mati menjadi abu.
"Teknik Terlarang Leluhur: Naga Kiamat Penelan Surga!"
Tubuh Xiao Yuan berubah menjadi bayangan naga hitam raksasa yang panjangnya mencapai ribuan meter. Naga itu terbang ke atas, menelan seluruh awan, menelan cahaya suci, dan langsung menuju ke arah Ling’er dan gerbang langit.
Ling’er yang sedang berusaha melarikan diri menoleh ke belakang. Matanya membelalak melihat kegelapan yang tak berujung mendekatinya. "TIDAAKK! BAGINDA, SELAMATKAN AKU!"
Proyeksi Kaisar Langit mencoba menutup gerbang, namun naga hitam itu sudah menggigit pinggiran gerbang tersebut, mencegahnya tertutup. Ledakan energi yang sangat dahsyat terjadi di ambang pintu alam semesta.
BOOOMMMM!
Seluruh Benua Langit Sembilan berguncang. Orang-orang di pelosok dunia melihat langit malam mendadak berubah menjadi putih menyilaukan selama beberapa detik, sebelum akhirnya kembali gelap gulita.
Saat cahaya itu memudar, Xiao Yuan jatuh dari langit seperti burung yang patah sayapnya. Zirahnya hancur, sayapnya hilang, dan napasnya hampir berhenti. Ia jatuh tepat di depan Yun’er.
Ling’er? Dia tidak mati. Namun, kondisinya jauh lebih buruk. Serangan Xiao Yuan telah menghancurkan seluruh kultivasinya dan membakar wajah serta tubuhnya. Ia kini tergeletak di tanah, merayap seperti cacing, tanpa kecantikan, tanpa kekuatan, dan tanpa dukungan dari langit yang telah membuangnya karena dianggap gagal.
"Aku... aku masih hidup..." rintih Ling’er, suaranya parau dan jelek.
Xiao Yuan, dengan sisa-sisa tenaganya, merangkak mendekat. Ia memegang kepala Ling’er dan memaksanya melihat ke arah Yun’er dan Kakek Gu.
"Aku tidak membunuhmu, Ling’er. Itu terlalu baik," bisik Xiao Yuan. "Aku telah menghancurkan meridianmu dan menyegel jiwamu dalam tubuh yang akan terus merasakan sakit ini selama seratus tahun ke depan. Kau akan hidup sebagai pengemis yang paling dihinakan, tanpa bisa mati."
Xiao Yuan melepaskan Ling’er, lalu menatap Yun’er. Air mata jatuh dari mata emasnya yang kini mulai meredup. "Waktuku... sudah habis."
Tubuh Xiao Yuan mulai bercahaya. Retakan-retakan emas muncul di sekujur kulitnya. Esensi naga yang berlebih sudah mencapai titik jenuh.
Tepat sebelum Xiao Yuan meledak, Sang Permaisuri Phoenix Es melangkah maju. Ia memegang tangan Yun’er dan tangan Xiao Yuan. "Ada satu cara untuk menyelamatkannya, tapi ini akan mengubah garis takdir kalian selamanya," ucap sang Permaisuri. Ia mulai membacakan mantra 'Penyatuan Jiwa Abadi'. Di saat yang sama, di sisa-sisa gerbang langit yang hancur, sebuah peti perak jatuh ke bumi peti yang berisi ibu Xiao Yuan. Namun, peti itu dikelilingi oleh api hitam yang tidak bisa padam.
Bersambung.....
perjuangan suamiku:istriku surgaku😍
perjuangan suamiku:istriku Surgaku😍