NovelToon NovelToon
Apa Yang Terjadi Padaku, Kim?

Apa Yang Terjadi Padaku, Kim?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Mantan / Romansa / Cinta Murni
Popularitas:913
Nilai: 5
Nama Author: Chndrlv

Mereka bersama hanya sebentar, namun ingatan tentang sang mantan selalu memenuhi pikirannya, bahkan sosok mantan mampu menembus alam mimpi dengan membawa kenangan-kenangan manis ketika masa-masa sekolah dan saat mereka menjalin kasih.
Pie meneruskan hidupnya dengan teror mimpi dari sang kekasih. Apakah Pie masih mencintai sang mantan? Atau hati Pie memang hanya terpaku pada Kim?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesta

"Maaf, sepertinya aku tak bisa menemanimu bulan depan." Sebuah pesan masuk membuat Pie menoleh.

"Ck, Lagaknya kemarin seolah ingin menemani." Gerutu Pie.

"Ok."

"Kau pergi bersama siapa?"

"Siapa lagi? Aku akan pergi sendiri."

"Benar sendiri?"

"Ya."

"Ya sudah."

Ato, pria 29 tahun yang baru dipacari Pie 4bulan. Mereka bertemu di aplikasi dating. Saat itu Pie sedang iseng bermain karena bosan.

Mereka memutuskan berpacaran setelah pertemuan ke dua.

Pie menawarkan Ato untuk menjalin hubungan serius jika pria itu berkenan. Dan gayung bersambut, namun sudah empat bulan hubungan mereka, Ato belum pernah datang berkunjung ke rumah Pie.

Dia hanya memberi janji dan terkadang membuat Pie mengambang tanpa kepastian. Berbeda dengan kesepakatan mereka ketika di awal.

"Pie? Kau punya pacar?"

Pie terkejut ketika Ayah menanyakan hal tersebut dengan tiba-tiba.

"Punya, yah."

"Kenapa tak disuruh ke rumah."

"Emm.. Belum ada waktu, Yah." Pie enggan menjawab dengan transparan.

"Belum ada waktu ya. Cari saja yang lain, Ayah ingin kau segera menikah, Pie."

"Nanti saja, Yah. Aku belum siap."

Ayah hanya diam, Pie pun pamit untuk masuk ke dalam kamar.

"Jika ayah sudah meminta menantu, artinya ayah sudah siap melepasku? Kenapa rasanya sedih?"

Pesta pernikahan Rum dan Faz, suaminya sangat meriah. Kedua orang tua mereka tak tanggung-tanggung mengeluarkan uang untuk anak mereka.

Pie sangat disuguhi oleh berbagai hidangan, ia sangat kenyang karena mencicipi masing-masing satu hidangan yang disediakan.

"Kau sudah makan puding nanas?" Jemmy berbisik ke telinga Pie.

"Belum, ada di mana?"

"Di sana, di sebelah ketoprak." Pie menatap ke arah yanh ditunjukkan oleh Jemmy. Rekan kerjanya ini sangat berbeda ketika mengenakan kebaya modern, sangat cantik dengan heels yang pas di kakinya. Pie takjub melihat perubahan Jemmy yang seperti saingan pengantin.

"Kau mengambil dua?"

Jemmy mengangguk.

"Aku suka nanas, Pie. Rum sangat mengerti diriku. Haha."

"Aku akan mencobanya setelah ini."

"Sebaiknya kau cepat dari pada habis diborong ibu-ibu." Jemmy menunjuk dengan dagu, Pie kembali menoleh ke belakang. Memang tempat puding sangat dipadati oleh Ibu-ibu.

"Kalau habis, ya sudah. Aku sedang PW duduk di sini."

Jemmy hanya mengangguk sesekali menatap Rum yang sedang asyik berbisik-bisik manja dengan suaminya di atas pelaminan. Kedua pengantin sedang memakai baju adat Palembang. Ini pakaian yang ke dua setelah akad nikah.

"Lihat Rum. Sangat centil dan munafik. Kau tahu, Pie. Semalam dia menangis memelukku tidak ingin menikah, dan lihat itu, dia sangat centil tersenyum-senyum mencolek suaminya." Jemmy mencibir dengan manik yang terus menatap Rum.

Pie hanya tertawa hambar mendengar kedua orang ini saling mencibir ketika terpisah.

"Kau senang sahabatmu bahagia, Jem?"

"Tentu! Rum, orang yang baik dan penyayang. Aku juga sedih, setelah ini tak bisa diantar olehnya lagi."

"Apa Rum akan berhenti bekerja?"

"Kurasa tidak. Tapi dia akan diantar jemput oleh suaminya."

Pie mengangguk pelan.

"Ah, kenapa air mataku tiba-tiba menetes?" Jemmy mengusap kasar air matanya yang menetes ke pipi.

"Hei! Jangan di gosok, ini tap-tap pakai tissue. Sayang sekali makeupmu akan rusak." Pie mencegah tangan Jemmy dan memberikan tissue

"Apa makeupku bagus, Pie?"

"Sangat. Kau sangat cantik dan tampak berbeda, Jem."

"Rum yang memilihkan makeupnya. Dia ingin aku juga tampil cantik meskipun akan menjadi saingannya. Itu yang dikatakan si centil." Pie ingin tertawa dengan kata terakhir tapi tidak jadi karena ia juga merasa sedih dengan kalimat yang diucapkan Jemmy.

"Kalian sudah bersahabat lama, ya? Di mataku kalian itu seperti tulang dan daging yang tak terpisahkan."

"Kau ternyata bodoh, Pie. Tulang dan daging bisa berpisah."

Pie tertawa hambar.

"Aku tak pandai membuat perumpamaan. Kau pasti paham maksudku."

"Ya. Kami bersama sejak kelas satu SMA."

"Huh? Jadi, kau dan Rum seumuran?"

"Ya. Kenapa kau seperti terkejut?"

Pie menutup mulutnya tak percaya.

"Kalian berdua sama-sama akan berumur 30 tahun?"

"Ya." Jemmy menatap heran Pie yang tercengang.

"Aku sangka kalian seumuran denganku."

"Hahaha. Sayang sekali, aku sepuh." Jemmy tertawa hambar.

"Aku harus memanggil kalian "Kakak" jika begitu."

Jemmy menatap horror.

"Jangan berani-berani kau menyematkan panggilan itu untukku."

"Kenapa? Aku rasa tidak sopan jika tak menyebut Kakak."

"Sudahlah, anggap aku seumuran denganmu, Pie. Umur hanyalah angka. Aku tak perlu kehormatan seperti itu."

"Ya, baiklah."

"Kau umur berapa?"

"20 tahun beberapa bulan lagi."

"Astaga, kau bocil."

Pie meringis menatap Jemmy yang menutup mulutnya.

"Tapi kau masih imut. Jadi aku percaya."

Pie mengerucutkan bibirnya.

"Itu penghiburan?"

"Bukan, itu dari hati. Aku sudah lama ingin mengatakannya tapi baru sekarang kita mengobrol berdua, karena pasti ada Rum yang akan mengejekku."

"Kau sudah pulang?"

"Belum."

"Kenapa? Kau sudah dari pagi di sana."

"Aku sedang menghabiskan makanan yang ada di sini?"

"Kau serius?"

"tentu tidak. Aku sedang menunggu temanku berganti pakaian terakhir."

"Kenapa tidak pulang dulu?"

"Kenapa harus bolak-balik?"

"Ya sudah. Ingin bertemu? Sebentar lagi aku akan keluar membeli sesuatu."

"Kau di rumah?"

"Ya. Aku di rumah. Ada apa?"

"Kau sibuk?"

"Pagi sibuk, sekarang sudah tidak. Ada apa, sayang?"

"Tidak."

"Ingin bertemu tidak?"

"nanti kuhubungi lagi."

Pie segera berdiri menghampiri Jemmy yang baru keluar dari ruang rias.

"Apa sudah selesai?"

"Belum, masih berpakaian. Kita duduk di sana saja."

Pie mengangguk lalu mengekor di belakang Jemmy untuk mencari tempat duduk yang pas.

"Kau bebas makan jika lapar lagi, Pie. Kita mendapat tiket khusus dari Rum." Jemmy terkekeh pelan.

"Beruntung sekali aku mengenal Rum."

"Benar. Rum benar-benar baik, kan Pie?"

Pie mengangguk mantap.

Jemmy menggamit lengan Pie untuk kembali mengambil makanan. Mereka membawa beberapa macam makanan untuk mereka santap kembali sembari menunggu Rum keluar dengan pakaian ke empat.

"Oh ya, aku sejak tadi tak melihat pacarmu." Jemmy mengedarkan pandangan mencari sosok pacar Pie yang tidak ia ketahui.

"Memang tidak datang." Pie tak peduli, ia menyuapkan lontong sate ke dalam mulutnya.

"Kau tidak mengajaknya?"

"Sudah, tapi dia bilang sibuk." Pie mengangkat bahu.

"Kau pernah membawa pacarmu ke toko?"

"Untuk apa?"

"Maksudku mengantar-jemputmu."

"Ke rumah pun dia belum."

Jemmy melongo mendengarnya.

"Bukankah kalian sudah lama?"

"Bisa dikatakan iya. Tapi mungkin dia belum siap berkenalan dengan orang tuaku."

"Cari saja yang lain, Pie." Pie merasa dejavu dengan ucapan Jemmy. Mirip dengan ucapan Ayah padanya.

"Kenapa aku harus mencari yang lain?" Pie mencoba memancing.

"Jika laki-laki menunda kedatangannya untuk bertemu orang tuamu, kupastikan dia tak serius. Laki-laki jika serius dia bergerak cepat, Pie."

Pie mengangguk paham.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!