Pensiun sebagai pembunuh nomor satu karena penyakit mematikan, Kenzo bereinkarnasi ke dalam novel kultivasi buatannya sendiri. Berbekal 'Sistem Sampah' yang ia modifikasi menjadi senjata maut dan pengetahuan sebagai sang pencipta, Kenzo siap membantai siapa pun yang berani mengusik waktu santainya bersama sang putri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Kacamata Singkat Umur
Pagi yang cerah di lembah itu seharusnya menjadi awal yang tenang, namun tidak bagi Ling Yue. Sejak keluar dari gubuk untuk menjemur handuk, matanya terus tertuju pada Kenzo yang masih asyik bersandar di kursi malasnya. Ada sesuatu yang berbeda pada wajah pria itu.
Kenzo mengenakan kacamata hitam yang tampak sangat modern, elegan, dan... sangat mencurigakan di mata seorang mantan sistem.
"Kenzo," panggil Ling Yue sambil berjalan mendekat dengan tangan di pinggang. "Benda apa lagi yang kau beli dari hasil judi itu?"
Kenzo tidak menoleh, ia sedang asyik memindai tingkat kelembapan udara dan jumlah kalori pada sarapan yang sedang disiapkan Ling Yue lewat lensa kacamatanya. [Analisis: Nasi Goreng Qi - Lezat: 85% - Racun Omelan: 100%].
"Ini namanya teknologi, Ling Yue. Sesuatu yang tidak akan dipahami oleh kode-kode tuamu." jawab Kenzo santai.
"Teknologi katamu?! Aku bisa merasakan aliran energi aneh dari benda itu!" Ling Yue mendekatkan wajahnya, mencoba melihat pantulan di lensa kacamata Kenzo. "Jangan-jangan kau menggunakan itu untuk mengintip hal-hal yang tidak sopan, kan? Mengaku kau!"
Kenzo mendengus. "Aku sudah bilang, ini hanya untuk analisis taktis. Misalnya, aku bisa melihat bahwa suasana hatimu pagi ini berada di level 'Sangat Meledak'."
"Berikan padaku! Aku harus memeriksanya!" Ling Yue mengulurkan tangan untuk merebut kacamata itu.
"Tidak. Ini barang mahal." Kenzo menghindar dengan gerakan kepala yang minimalis.
Namun, Ling Yue tidak menyerah. Terjadilah aksi saling kejar yang konyol di halaman gubuk. Kenzo menggunakan Langkah Bayangan untuk berpindah-pindah posisi, sementara Ling Yue yang sudah mulai terbiasa dengan tubuh fisiknya, melompat ke sana kemari dengan lincah.
"Sini kau, Tiran Mesum!" seru Ling Yue.
"Ayah! Ibu! Main kejar-kejaran ya? Lin-er ikut!" Lin-er yang baru keluar langsung berlari ke tengah-tengah mereka, membuat Kenzo harus berhenti mendadak agar tidak menabrak anaknya.
Kesempatan itu dimanfaatkan Ling Yue dengan sempurna. Ia melompat dan berhasil mencengkeram bingkai kacamata Kenzo.
"Kena kau!" teriak Ling Yue puas.
Tapi masalahnya, Ling Yue menariknya terlalu keras, dan Kenzo secara refleks menariknya kembali.
KRAK!
Suara patahan plastik dan kaca terdengar jelas di keheningan pagi itu. Kacamata analisis seharga 1.200 poin itu kini terbelah menjadi dua di tangan Ling Yue. Lensa-lensa canggihnya retak, mengeluarkan percikan listrik kecil sebelum akhirnya padam sepenuhnya.
Kenzo terdiam, menatap puing-puing hartanya di tangan Ling Yue. "Satu ribu dua ratus poin... melayang dalam satu tarikan."
Ling Yue membeku, rasa bersalah mulai muncul di wajahnya yang tadi penuh emosi. "E-eh... aku tidak bermaksud mematahkannya. Kenapa benda ini rapuh sekali?"
Kenzo menghela napas panjang, sangat panjang hingga Xiao Mao yang sedang lewat pun merasa kasihan. "Itu kacamata taktis, bukan perisai tameng baja, Ling Yue."
"Maaf... aku hanya curiga," gumam Ling Yue sambil menyodorkan potongan kacamata itu kembali ke Kenzo. "Nanti... nanti aku masakkan daging harimau yang paling enak, bagaimana?"
Lin-er mengambil salah satu potongan lensa yang retak dan menaruhnya di matanya. "Lihat, Yah! Lin-er jadi bajak laut!"
Kenzo hanya bisa mengurut pelipisnya. "Sudahlah. Setidaknya aku sempat melihat bahwa mimpi Ling Yue semalam memang sangat aneh."
"APA?! APA YANG KAU LIHAT?!" wajah Ling Yue kembali merah padam.
Kenzo tidak menjawab, ia bangkit dan berjalan menuju kolam dengan lesu. "Aku butuh poin lagi. Gacha... aku merindukanmu."
"JANGAN BERANI-BERANI KAU JUDI LAGI, KENZO!" teriak Ling Yue, kembali ke mode normalnya, sementara Kenzo hanya melambaikan tangan tanpa menoleh.
sebentar😅😅