NovelToon NovelToon
Ketika Hati Salah Memilih

Ketika Hati Salah Memilih

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Dunia Masa Depan
Popularitas:643
Nilai: 5
Nama Author: Fauzi rema

Andrew selalu percaya bahwa hidup adalah tentang tanggung jawab.
Sebagai pewaris perusahaan keluarga, ia memilih diam, bersifat logis, dan selalu mengalah,bahkan pada perasaannya sendiri.
sedangkan adiknya, Ares adalah kebalikannya.
Ares hidup lebih Bebas, bersinar, dan hidup di bawah sorotan dunia hiburan. Ia bisa mencintai dengan mudah, tertawa tanpa beban, dan memiliki seorang kekasih yang sempurna.
Sempurna… sampai Andrew menyadari satu hal yang tak seharusnya ia rasakan:
ia jatuh cinta pada wanita yang dicintai adiknya sendiri.
Di antara ikatan darah, loyalitas, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Andrew terjebak dalam pilihan paling kejam,
apa Andrew harus mengorbankan dirinya,
atau menghancurkan segalanya.
Ketika cinta datang di waktu yang salah,
siapa yang harus melepaskan lebih dulu?

Novel ini adalah lanjutan dari Novel berjudul "Istri simpananku, canduku" happy reading...semoga kalian menyukainya ✨️🫰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Suasana di dermaga itu mendadak beku, seolah angin laut yang hangat berubah menjadi es dalam sekejap. Andrew berdiri kaku di belakang kursi roda Ares. Matanya menatap Alana, namun tidak ada lagi binar pemujaan atau gairah yang dulu pernah menghancurkan logikanya. Yang ada hanyalah tatapan dingin, datar, dan penuh jarak. Bagi Andrew, Alana adalah simbol dari kegagalannya sebagai seorang kakak, sebuah masa lalu kelam yang hampir saja merenggut nyawa adiknya.

​Andrew ingin berbalik dan pergi sejauh mungkin, menyeret kursi roda Ares bersamanya. Ia merasa muak dengan kehadiran Alana yang seolah kembali untuk mengusik kedamaian yang baru saja mereka bangun dengan susah payah.

​Ares adalah yang pertama memecah keheningan. Ia menarik napas panjang, menatap Alana yang masih berdiri gemetar di depannya.

​"Kamu tidak perlu menangis melihat kakiku, Alana," ucap Ares, suaranya terdengar sangat dewasa dan stabil. "Aku sedang belajar berdiri lagi. Dan aku akan benar-benar pulih."

​Alana tersentak, ia mencoba melangkah satu kaki lebih dekat. "Ares, aku... aku benar-benar minta maaf. Kalau saja malam itu aku tidak—"

​"Cukup," potong Ares halus namun tegas. "Aku sudah memaafkanmu. Bukan karena apa yang kamu lakukan itu benar, tapi karena aku tidak mau membawa beban kebencian padamu di sisa hidupku. Aku ingin sembuh total, dan itu artinya aku harus melepaskan semua tentangmu."

​Alana terpaku. Kata-kata "memaafkan" dari Ares terasa lebih menyakitkan daripada makian, karena itu adalah tanda bahwa Ares benar-benar sudah tidak memiliki perasaan apa pun lagi padanya.

​Andrew kemudian melangkah maju, berdiri di samping Ares. Ia bahkan tidak menatap mata Alana secara langsung. "Kami sedang merayakan kemajuan Ares. Tolong, jangan rusak momen ini. Pergilah, Alana. Hiduplah dengan baik, tapi jangan pernah muncul di depan kami lagi. Kami sudah memilih untuk melupakan apa yang sudah terjadi."

​Di tengah ketegangan yang menyesakkan itu, terdengar suara ketukan tongkat pada lantai kayu dermaga.

​"Ares? Kak Andrew? Ada apa?"

​Chloe muncul dengan perlahan. Ia sudah bisa berjalan beberapa meter tanpa kursi roda, meski tangannya masih bertumpu pada tongkat penyangga. Wajahnya yang ceria sedikit berubah bingung saat melihat suasana yang begitu kaku. Ia berdiri di samping Ares, secara alami meletakkan tangannya di bahu pria itu, sebuah gerakan yang menunjukkan kedekatan dan rasa saling menjaga.

​Alana menatap Chloe dengan tajam. Sorot matanya yang penuh air mata berubah menjadi kilatan kecemburuan dan rasa ingin tahu yang besar. Ia melihat bagaimana Chloe menatap Ares, dan bagaimana Ares tampak merasa aman dengan kehadiran gadis itu.

​"Siapa dia, Ares?" tanya Alana, suaranya sedikit meninggi, ada nada tidak terima melihat posisi yang dulu ia tempati kini diisi oleh orang lain dengan begitu sempurna.

​Chloe, yang belum tahu siapa Alana sebenarnya, tetap berusaha ramah namun waspada. "Hai, aku Chloe. Teman seperjuangan Ares di rumah sakit. Kamu... temannya ?"

​Ares tidak menoleh pada Alana. Ia justru meraih tangan Chloe yang ada di bahunya, menggenggamnya erat di depan mata Alana. Sebuah pernyataan bisu yang sangat kuat.

​"Dia bukan siapa-siapa, Chloe. Hanya orang yang kita kenal saja," jawab Ares tenang. Ia kemudian menoleh pada Andrew. "Kak, ayo kita pulang. Kakiku mulai terasa lelah."

​Andrew segera memutar kursi roda Ares. Ia tidak memberikan Alana kesempatan untuk bicara sepatah kata pun lagi. "Ayo, Chloe. Kita kembali pulang."

​Saat mereka mulai menjauh, Alana tetap berdiri di sana, membeku di bawah lampu dermaga. Ia melihat pemandangan yang menghancurkan hatinya, Andrew yang protektif mendorong adiknya, dan Chloe yang berjalan perlahan di samping mereka sambil sesekali tertawa kecil menanggapi ucapan Ares.

​Alana menyadari satu hal yang sangat pahit. Andrew dan Ares tidak lagi memperebutkannya. Mereka berdua telah tumbuh melampauinya. Ia hanyalah sebuah luka yang kini telah menjadi parut, sementara Ares dan Andrew sedang menyongsong masa depan yang baru, di mana tidak ada tempat lagi bagi dirinya.

​"Ares... Andrew...kenapa kalian memperlakukan aku seperti ini..." bisik Alana pilu, suaranya hilang ditelan suara ombak, saat ia melihat mereka menjauh dan menghilang di keramaian kota Singapura.

----

Malam di Singapura terasa semakin mencekam bagi Alana. Ia duduk di sebuah taman kecil yang remang-remang, masih gemetar setelah pertemuan di dermaga tadi. Di saat hatinya hancur berkeping-keping, ponsel di tasnya bergetar. Sebuah nama muncul di layar, nama yang kini terasa seperti kutukan: Nadya.

​Alana ragu sejenak, namun ia tahu mengabaikan wanita ini hanya akan membawa masalah lebih besar. Dengan tangan dingin, ia mengangkat telepon itu.

​"Bagaimana, Alana? Aku tahu kamu sudah bertemu dengan mereka di dermaga tadi," suara Nadya terdengar sangat tenang, namun ada nada mengancam yang tersembunyi. "Aku punya mata di mana-mana di Singapura."

​"Anda puas sekarang?" suara Alana pecah menjadi isakan. "Mereka membenciku, Tante Nadya. Andrew bahkan tidak mau menatap mataku, dan Ares... Ares sudah memaafkanku hanya agar dia bisa melupakanku selamanya. Ada gadis lain di sana, gadis yang jauh lebih baik dariku. Semuanya sudah berakhir!"

​Terdengar suara tawa dingin dari seberang telepon. "Berakhir? Tidak ada yang berakhir sebelum aku mengatakannya. Gadis cacat itu hanya gangguan kecil. Kamu adalah pion utamaku."

​"Aku tidak bisa melakukannya lagi!" teriak Alana frustrasi. "Mereka bukan lagi pria yang bisa aku bodohi. Mereka sudah sembuh, mereka sudah sadar! Tolong, biarkan aku tenang di sini."

​"Dengar, Alana," suara Nadya mendadak berubah menjadi sedingin es. "Kamu pikir kamu punya pilihan? Ingat siapa yang membayar hutang-hutang keluargamu ? Ingat siapa yang memalsukan identitasmu agar kamu tidak dideportasi? Kalau aku mau, besok pagi kamu bisa berada di balik jeruji besi atau didepak kembali ke jalanan sebagai gelandangan."

​Alana terdiam, napasnya tersengal.

​"Dapatkan kembali perhatian Andrew. Gunakan rasa bersalah mereka, gunakan kelemahan mereka," perintah Nadya. "Ares mungkin memaafkanmu, tapi Andrew... Andrew selalu punya titik lemah padamu. Hancurkan hubungan mereka dengan gadis baru itu. Buat Andrew kembali terobsesi padamu sampai dia melupakan tugasnya menjaga Ares. Aku ingin keluarga Adrian hancur berkeping-keping saat mereka kembali ke Jakarta nanti."

​"Anda monster... Andrew itu anak kandung Anda sendiri!" bisik Alana ngeri.

​"Andrew memilih wanita lain sebagai ibu mereka. Jadi, mereka harus merasakan akibatnya," jawab Nadya tajam. "Aku beri kamu waktu satu minggu. Dekati mereka lagi, atau aku akan pastikan hidupmu jauh lebih menderita daripada kecelakaan yang dialami Ares. Paham?"

​Sambungan telepon terputus. Alana menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong. Ia terjebak. Di satu sisi, ia ingin menebus dosanya dan membiarkan Ares bahagia bersama Chloe. Namun di sisi lain, ancaman Nadya bukanlah gertakan sambal.

​Alana menatap ke arah apartemen mewah tempat Andrew dan Ares tinggal di kejauhan. Haruskah ia menjadi iblis sekali lagi demi menyelamatkan dirinya sendiri, atau haruskah ia mempertaruhkan nyawanya untuk melawan Nadya?

...🌼...

...🌼...

...🌼...

...Bersambung......

1
Herman Lim
aduh Thor kog kasian bgt sih buat 2 sodara berdarah2 Krn 1 cew
Herman Lim
kyk bakalan perang sodara ne moga aja setelah ini Ares yg mau ngalah buat KK nya
muna aprilia
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!