NovelToon NovelToon
Aku Menyerah!

Aku Menyerah!

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Pelakor jahat / Penyesalan Suami / CEO / Selingkuh / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Brilliante Brillia

Ayra menjalani pernikahan yang tidak pernah benar-benar ia inginkan. Menikah karena perjodohan, ia berusaha menjalani perannya sebagai istri dengan sebaik mungkin. Dan kehamilan yang datang kemudian, justru membuatnya berusaha lebih kuat, meski pernikahan itu perlahan menunjukkan sisi gelapnya.

Saat mengetahui Rayyan mendua, Ayra tidak mendapat pembelaan apa pun. Suaminya justru lebih memilih wanita itu dibandingkan dirinya yang sedang mengandung. Tekanan batin yang berat membuat Ayra mengalami keguguran. Kehilangan anaknya menjadi pukulan terbesar dalam hidupnya.

Dikhianati, disudutkan, dan tidak lagi dihargai, Ayra akhirnya sampai pada titik lelah. Ia menyerah, bukan karena kalah, tetapi karena tak ingin menyia-nyiakan hidupnya untuk bertahan dalam hubungan toxic.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tolon Jangan Ceritakan Dulu!

Zavian segera bergegas menuju ruang keamanan hotel. Wajahnya yang tegang membuat petugas di sana tidak berani membantah saat ia meminta rekaman CCTV dibuka.

"Putar ulang rekaman di lorong toilet wanita, dari satu jam yang lalu," perintah Zavian tegas.

Petugas itu mengangguk cepat dan mulai memutar rekaman. Zavian memperhatikan layar dengan saksama. Setelah beberapa menit, ia bisa menemukan apa yang dia cari. Tampak Ayra berjalan ke arah toilet dan masuk ke dalamnya. Tapi setelah ditunggu beberapa saat, tak terlihat wanita itu keluar lagi dari toilet.

"Coba diulang lagi dari yang pas masuk toilet! Mungkin saat keluar bersamaan dengan yang lain, jadi agak terhalangi badannya." Pinta Zavian pada petugas itu.

"Maaf, Pak Zavian. Sudah diulang beberapa kali tapi nona yang tadi memang tidak terlihat keluar lagi," ucap petugas itu hati-hati.

Zavian menggebrak meja pelan, membuat petugas itu tersentak.

"Tidak mungkin! Kamu lihat sendiri kan tadi, dia masuk ke sana? Cek seluruh kamera yang menuju ballroom, mungkin dia sudah berada di sana atau menggunakan jalan lain!"

"Sudah dicek semua, Pak. Nona Ayra sudah tidak terlihat lagi setelah memasuki toilet." jawab petugas itu lagi setelah memeriksa monitor lain.

Zavian terdiam dengan napas berat. Matanya kembali menatap anting permata di telapak tangannya. Ia paham sekarang, ini pasti ada permainan. Rekaman ini mungkin sudah dimanipulasi oleh seseorang yang sangat ahli.

Ia melangkah keluar dan mencoba menelepon Ayra untuk yang kesekian kalinya. Namun, suara operator kembali menyambutnya, memberi tahu bahwa ponsel yang dituju sedang tidak aktif.

"Sial!" umpat Zavian pelan. Ia kemudian memanggil salah satu petugas keamanan di lobi.

"Apa kamu melihat wanita berbaju biru helap keluar dari hotel dalam satu jam terakhir?"

"Tidak ada, Pak. Sejak tadi tamu yang keluar hanya rombongan keluarga dari aula sebelah," jawab petugas itu sopan.

Zavian terus mondar-mandir di lobi dengan perasaan kacau. Waktu berjalan terasa begitu lambat. Setiap menit yang terlewati tanpa kabar membuat pikirannya semakin liar. Ia hampir saja memutuskan untuk melapor ke polisi, sampai akhirnya, setelah lebih dari satu jam menunggu, ponselnya bergetar.

"Ayra?" tanya Zavian cepat bahkan sebelum panggilan itu benar-benar tersambung di telinganya.

"Mas Zavian... maaf," suara Ayra terdengar di ujung sana, sedikit gemetar namun berusaha tenang.

"Kamu di mana? Saya mencarimu ke seluruh hotel!" cecar Zavian.

"Saya... saya sudah di rumah, Mas. Saya sudah pulang."

Zavian terpaku di tempatnya berdiri. "Pulang? Bagaimana bisa kamu pulang tanpa memberitahuku? Dan lewat mana kamu keluar?"

"Tadi kepalaku tiba-tiba pusing sekali, saya tidak sempat mencari Mas. Maaf ya, Mas... saya benar-benar sudah di rumah sekarang."

Zavian menutup teleponnya setelah Ayra terlebih dulu memutus sambungan dengan perasaan yang semakin tidak keruan. Ia menatap anting di tangannya, lalu menatap pintu keluar hotel. Ayra mengaku sudah di rumah, tapi anting ini tertinggal di lantai toilet. Ia tahu, ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh wanita itu.

***

Tanpa membuang waktu, Zavian langsung menuju parkiran dan melajukan mobilnya membelah jalanan malam yang mulai lengang. Pikirannya tidak tenang. Penjelasan Ayra di telepon tadi sama sekali tidak masuk akal baginya. Ia tidak peduli meskipun sudah larut malam untuk bertamu. Fokusnya hanya satu, melihat Ayra dengan matanya sendiri.

Sesampainya di depan rumah Ayra, Zavian segera turun dan mengetuk pintu dengan tidak sabar. Tak lama kemudian, pintu terbuka, memperlihatkan sosok Ayra yang sudah berganti pakaian santai.

"Mas..."

"Ayra..."

Spontan Zavian memeluk erat tubuh di hadapannya. Tentu saja Ayra kaget. Tapi ia hanya bisa diam. Ia tahu Zavian pasti ayok karena dirinya menghilang tadi.

"Mas Zavian? Kok ke sini?" tanya Ayra. Pelan ia mengurai pelukan lelaki itu.

Zavian tidak langsung menjawab. Matanya menyisir seluruh penampilan Ayra, memastikan tidak ada luka fisik atau sesuatu yang membahayakan wanita itu. Hanya wajahnya saja yang masih terlihat pucat.

Setelah yakin Ayra benar-benar tidak terluka dan dalam keadaan baik-baik saja, ia baru bisa mengembuskan napas lega.

"Saya hanya ingin memastikan kamu benar-benar sampai di rumah dengan selamat," ucap Zavian dengan nada yang masih menyisakan kekhawatiran.

Ayra tampak menghindari kontak mata.

"Kan tadi saya sudah bilang lewat telepon, Mas. Saya baik-baik saja, hanya sedikit pusing."

Zavian diam sejenak, lalu perlahan ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan anting permata yang ia temukan di toilet tadi. Ia mengangkat benda itu di depan wajah Ayra.

"Lalu, bagaimana anting ini bisa tertinggal di lantai toilet kalau kamu bilang semuanya baik-baik saja?" tanya Zavian datar.

Ayra tertegun. Ia menatap anting itu dengan sorot mata yang sulit diartikan, sementara tangannya perlahan menyentuh daun telinganya yang kini kosong. Suasana di teras rumah itu tiba-tiba terasa hening. Hanya suara binatang malam yang saling bersahutan.

"Mungkin itu jatuh tanpa sadar, tadi. Sudahlah, tak perlu diperpanjang. Sebaiknya Mas pulang sekarang, saya tidak enak sama tetangga."

Perkataan Ayra benar. Ini sudah larut dan ia pun tak ingin Ayra kena fitnah. Akhirnya Zavian pergi meski dengan hati yang masih penuh tanya.

***

Ayra kembali masuk ke dalam rumahnya. Ia tidak langsung masuk ke kamar, melainkan duduk di ruang tengah sambil menyalakan laptop untuk memeriksa kembali tugas kampusnya. Tapi bukannya fokus pada pelajaran, dia malah mengingat kembali kejadian traumatik tadi.

Saat lelaki itu hampir berhasil melumpuhkannya, seseorang mendobrak pintu dan menyerbu masuk. Orang itu langsung menghajar laki-laki yang ingin melecehkan Ayra tanpa ampun hingga laki-laki itu terluka cukup parah. Bibirnya pecah dan pelipisnya berdarah. Beberapa bagian tubuhnya pun mengalami luka lebam.

Sementara itu, Ayra hanya bisa meringkuk di pojok dengan tubuh bergetar hebat. Gaunnya robek-robek dan rambutnya acak-acakan. Wajahnya tampak pucat, basah oleh air mata dan keringat.

"Mbak Ayra... astaga..." Stella yang juga ada di situ langsung merangkul Ayra. Ternyata, sosok yang menghajar lelaki itu adalah Bryan, tunangan Stella.

"Buka jas kamu, Mas!" seru Stella.

"Untuk apa?" tanya Bryan bingung.

"Cepat!" Suara Stella agak meninggi. Bryan pun menurut dan segera melepaskan jasnya, lalu menyerahkannya pada Stella.

Stella langsung meletakkan jas itu di bahu Ayra untuk menutupi gaun bagian atasnya yang sudah robek. Lalu Ayra dipapahnya keluar dan dibawa ke kamar yang sudah disewa oleh Stella.

"Apa yang sebenarnya terjadi, Mbak Ayra?" tanya Stella setelah Ayra mulai terlihat tenang. Ayra juha sudah membersihkan diri dan berganti baju yang dipinjamkan oleh Stella. Kebetulan ukuran badan mereka memang hampir sama.

Ayra pun mulai menceritakan kronologinya dengan terbata-bata. Mulai dari saat ia baru masuk ke toilet hingga lelaki itu tiba-tiba sudah ada di sana dan hampir melecehkannya.

Setelah Ayra selesai bercerita dengan suara yang masih bergetar, Stella terdiam cukup lama. Ia menggenggam jemari Ayra, mencoba menyalurkan ketenangan.

"Mbak Ayra, aku menyesalkan kejadian ini. Dan aku minta maaf yang sebesar-besarnya karena kejadian ini terjadi di pestaku. Aku sama sekali tak mengenal siapa laki-laki itu. Aku bersumpah demi apapun." Tutur Stella sembari menatap wajah Ayra yang semban.

"Tapi aku mohon satu hal," lanjutnya pelan, matanya menatap Ayra dengan mimikemohon. "Tolong jangan ceritakan dulu kejadian ini pada Mas Zavian."

Ayra mendongak, matanya menatap Stella dengan bingung. "Tapi, Mbak..."

"Aku sangat mengenal Mas Zavian," potong Stella dengan nada cemas.

"Jika dia tahu apa yang menimpamu malam ini, dia pasti akan mengamuk. Dia tidak akan peduli lagi pada tempat atau keadaan apapun. Mas Zavian bisa menghancurkan pesta ini dalam sekejap hanya untuk membalas perbuatan laki-laki itu. Aku tidak ingin pesta pertunanganku berakhir dengan kekacauan dan keributan. Aku mohon pengertian kamu, Mbak Ayra."

Ayra tertegun. Ia membayangkan kemarahan Zavian yang selama ini selalu terlihat tenang dan berwibawa. Mengingat Stella dan Bryan baru saja menyelamatkannya dari ambang kehancuran, Ayra merasa berutang budi.

"Baik, Mbak. Aku akan diam, tapi..." Lirih Ayra, menggantung ucapannya. Stella mengangguk, seolah tahu kelanjutan kalimat yang akan dikatakan Ayra.

"Mbak Ayra boleh menceritakan kejadian ini pada Mas Zavian kapanpun, tapi mohon jangan sekarang."

Akhirnya, ia mengangguk pelan.

"Terimakasih, Mbak Ayra, terimakasih banyak." Ucap Stella penuh ketulusan. Ia mengembuskan napas lega.

Setelah itu Stella segera menelepon sopir pribadi Bryan melalui ponselnya.

"Pak, tolong siapkan mobil di pintu belakang, dekat tangga darurat. Pastikan tidak ada orang yang melihat. Saya ingin Bapak mengantar teman saya pulang sekarang."

Dengan pengawalan yang sangat hati-hati, Stella membawa Ayra keluar dari kamar hotel. Mereka menyusuri tangga darurat yang sepi, menghindari jangkauan kamera pengawas yang tersebar di lorong utama. Ayra merasa seperti seorang buronan, namun ia tahu ini cara terbaik untuk menjaga semuanya tetap tenang.

Di sisi lain hotel, Bryan mengurus sisa kekacauan itu dengan sangat rapi. Laki-laki yang tadi mencoba melecehkan Ayra sudah dibungkam dan diseret keluar melalui pintu servis. Bryan memastikan bajingan itu diserahkan ke kantor polisi tanpa menimbulkan kegaduhan sedikit pun. Pesta di aula tetap berjalan meriah, musik tetap mengalun indah, seolah-olah tidak pernah terjadi drama berdarah di dalam toilet wanita beberapa saat sebelumnya.

1
Tata Hayuningtyas
cerita nya pasti pergi ke toilet trs diculiklah...dibius lah....kaya ga ada yg lain gitu thor
Ma Em
Ayra kamu hrs percaya diri bersama Zavian jgn minder tunjukan aura dan pesonamu agar orang2 merasa kagum padamu dan tdk ada orang yg merendahkan mu .
Dini Yulianti
ayra kamu masih masa iddah mending jaga jarak dulu sama yg namanya laki laki bialng sama Zavian kalo mau jaga jarak sampe masa iddah selesai.
Brilliante Brillia: sudah slsai masa iddahnya kk🤭🙏
total 1 replies
Ma Em
Ayra jgn percaya kalau Marisa mendekatimu Ayra karena Marisa dekat dgn Ayra bkn bermaksud baik tapi mungkin ada yg akan Marisa lakukan pada Ayra , lbh baik jaga jarak jgn mau diajak untuk berteman takut nanti Marisa mencelakai atau mungkin jebak Ayra .
Erchapram
Bagus banget
kalea rizuky
sejauh ini bagus MC gk menye menye g lemah
Dede Dedeh
ulat keket mah gigih.......
Dewi Anjani
ayra perempuan yg tangguh ya,,keren
Yani
ayra jadi janda harus berkelas,jgn kayak si artis viral ,dijandakan suami malah jual diri Ama laki org,ga inget rasanya sakit diselingkuhin.tolong ya min,ayra biar bisa disandingin ama zavian yg ganteng+ CEO 🥰🥰
lanjut min ceritanya
aku
definisi cerdas bnr 👍👍👍
partini
lanjut
Brilliante Brillia
Assalamualaikum wrwb.

Tak terasa buku ini sudah hampir mencapai 20 bab. Terimakasih othor haturkan untuk para readers, semoga kedepannya novel ini akan lebih seru dan lebih diterima oleh penyuka cerita drama rumah tangga. Dan juga lebih banyak komen serta like 🙏
Yuk follow akun othor untuk bisa mengikuti cerita-cerita berikutnya yang akan launching dan tentu dengan cerita yang lebih seru lagi.
Dini Yulianti
semoga rumahnya kebakaran dan mobilnya di gondol maling
Ma Em
Semangat Ayra , semoga kamu dapatkan harta Gono gini yg Rayyan pertahankan dan menang dgn hasil yg memuaskan , hancurkan kesombongan Rayyan dan ibunya juga selingkuhan nya .
Brilliante Brillia: Doain ya🤭
total 1 replies
Ma Em
Semoga Ayra berjodoh dgn Zavian setelah cerai dgn Rayyan .
partini
wah ada bocil
Brilliante Brillia: bocilnya ganteng ky papanya 🤭
total 1 replies
partini
lebih cepat lebih baik
partini
mau menggatal lagi ni Kunti,so kita lihat MR CEO apa dia berkualitas atau Gampng kerayu Kunti
Brilliante Brillia
Bayangkan, bagaimana rasanya hamil di tengah pernikahan yang dingin?

Hanya karena alasan dijodohkan, Rayyan berhak berlaku semena-mena pada istrinya dan terang-terangan lebih memilih cinta lamanya?

Disakiti, diinjak-injak harga dirinya dan dibuang seolah Ayra adalah barang yang tidak berharga, membuat batin Ayra terguncang dan harus kehilangan bayinya.

Lalu apakah Ayra akan tahan dalam kubangan ketidak adilan yang dia terima?

Tentu saja tidak!

Tak akan ada yang tahan dalam satu hubungan toxic. Di balik kelembutannya, bagaimana Ayra bangkit dan melawan ketidak adilan yang ia terima?

Temukan jawabannya hanya di, "Aku Menyerah!"
Brilliante Brillia
Assalamualaikum, para readers yang berkesempatan singgah di cerita ini. terimakasih banyak. ini cerita pertama saya di apk NovelToon ini. semoga karya saya bisa diterima dengan baik. terimakasih🙏🫶
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!