NovelToon NovelToon
Aku Menyerah!

Aku Menyerah!

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Pelakor jahat / Penyesalan Suami / CEO / Selingkuh / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:51.9k
Nilai: 5
Nama Author: Brilliante Brillia

Ayra menjalani pernikahan yang tidak pernah benar-benar ia inginkan. Menikah karena perjodohan, ia berusaha menjalani perannya sebagai istri dengan sebaik mungkin. Dan kehamilan yang datang kemudian, justru membuatnya berusaha lebih kuat, meski pernikahan itu perlahan menunjukkan sisi gelapnya.

Saat mengetahui Rayyan mendua, Ayra tidak mendapat pembelaan apa pun. Suaminya justru lebih memilih wanita itu dibandingkan dirinya yang sedang mengandung. Tekanan batin yang berat membuat Ayra mengalami keguguran. Kehilangan anaknya menjadi pukulan terbesar dalam hidupnya.

Dikhianati, disudutkan, dan tidak lagi dihargai, Ayra akhirnya sampai pada titik lelah. Ia menyerah, bukan karena kalah, tetapi karena tak ingin menyia-nyiakan hidupnya untuk bertahan dalam hubungan toxic.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Superwoman

Suasana lobi kantor polisi terasa dingin dan kaku. Aroma karbol dari lantai yang baru saja dipel, menyambut kedatangan mereka saat pintu kaca terbuka. Zavian melangkah dengan tegap, sementara Ayra berjalan sedikit tertinggal di belakangnya, jemarinya saling meremas untuk menutupi gejolak perasaan yang masih belum pulih sepenuhnya.

Tapi kali ini bukan hanya karena rasa takutnya, melainkan rasa khawatir tak bisa mengontrol emosinya saat melihat lagi wajah si bajingan itu.

Tanpa membuang waktu, Zavian menghampiri petugas di meja piket. Setelah menunjukkan kartu identitas dan menjelaskan tujuannya, mereka diarahkan ke sebuah ruang interogasi khusus.

"Tunggu di sini," perintah Zavian pada Stella dan Bryan saat mereka tiba di depan sebuah ruangan dengan pintu besi yang kokoh.

Zavian menoleh pada Ayra. Sorot matanya sedikit melembut, namun tetap tegas.

"Kamu ikut saya masuk. Kamu harus mengonfirmasi apakah dia orangnya."

Ayra menelan ludah dengan susah payah. Kakinya terasa berat, namun ia mengangguk pelan. Begitu pintu dibuka, di balik meja kayu yang kaku, duduk seorang laki-laki dengan tangan terborgol. Wajahnya kusut, rambutnya berantakan, dan ada memar kecil di sudut bibirnya, sisa dari kemarahan Bryan semalam.

Laki-laki itu mendongak. Detik saat matanya bertemu dengan mata Ayra, pria itu langsung cengengesan memuakkan.

Zavian tidak duduk. Ia berdiri di hadapan pria itu, menumpukan kedua tangannya di atas meja, lalu condong ke depan hingga jarak mereka hanya terpaut beberapa senti.

"Jadi kamu laki-laki bajingan menjijikkan itu?" tanya Zavian. Suaranya tidak keras, namun terasa sangat dingin seperti seorang eksekutor yang akan mengeksekusi musuhnya.

"Siapa yang memberimu akses untuk bisa masuk ke dalam ruangan pesta?"

Laki-laki itu bungkam. Ia hanya menatap lantai, enggan membuka mulut.

"Saya tidak punya kesabaran untuk menunggu kamu bicara. Cepat katakan!"

Zavian mengetukkan jemarinya di meja dengan tempo yang menekan.

"Siapa yang menyuruhmu menyusup ke pesta itu dan berani melecehkan seorang wanita? Kamu bukan tamu undangan, dan pemilik pesta tak kenal kamu. Siapa orang dalam yang membantumu?"

Laki-laki itu tetap diam, namun sudut matanya tampak berkedut gelisah. Ia teringat orang yang menyuruhnya tutup mulut dengan ancaman, melalui telepon tadi. Kalau sampai ia berani buka mulut, dia dan keluarganya akan habis!

Zavian menyadari kegelisahan itu. Ia tersenyum miring. Sebuah senyuman yang mengirimkan sinyal ancaman lain.

"Kamu pikir orang yang menjamin keselamatanmu di luar sana benar-benar bisa melindungimu dari hukuman yang akan kamu terima?"

Zavian berdiri tegak, matanya yang tajam seolah ingin menguliti setiap inci wajah laki-laki di hadapannya.

"Dia akan bebas berkeliaran, menghirup udara bebas dan menikmati hidup. Sementara kamu terkurung sendirian, tidur di lantai yang dingin dan makan pun seadanya. Hebat sekali pengorbananmu. Demi apa? Demi uang yang tidak seberapa? Tapi labelmu sebagai narapidana akan tersemat di dirimu, seumur hidupmu!" ejek Zavian.

Laki-laki itu mendongak perlahan. Alih-alih merasa takut setelah diintimidasi, ia justru menyeringai tipis, membuat luka di sudut bibirnya bekas pukulan Bryan semalam, kembali berdarah.

Tatapan lelaki itu beralih dari Zavian, lalu jatuh pada Ayra yang berdiri gemetar karena sekuat tenaga menahan amarahnya.

"Akses?" laki-laki itu tertawa parau, sebuah tawa yang terdengar sangat merendahkan. "Gue nggak butuh akses! Apapun bisa gue lakukan. Apalagi kalau untuk bertemu cewek-cewek cantik dan menggairahkan seperti dia." Ocehnya dengan seringai dan tatapan menjijikkan pada Ayra.

Rahang Zavian langsung mengeras. Tangannya yang bertumpu di meja perlahan mengepal hingga buku-bukunya memutih.

"Tadinya gue cuma pengen menikmati pemandangan yang indah-indah. Tapi saat melihat dia naduk ke toilet sendirian dan kebetulan sepi gak ada orang, tiba-tiba saja hadrat gue muncul untuk menik mati cewek afuhai ini. Gue kira fia bakalan oke diajak bersenang-senang. Tapi ternyata jual mahal juga, hehehe..." lanjut laki-laki itu dengan kalimat seenak jidatnya. Dan terang-terangan melayangkan tatapan cabul, memindai tubuh Ayra.

"Dilihat dari penampilannya malam itu... yah, gue kira dia bukan cewek baik-baik. Gue pikir dia memang sengaja nunggu di sana buat diajak senang-senang. Hasrat gue nggak bisa ditahan. Cewek kayak dia biasanya nggak akan nolak kalau diajak enak-enak, kan?"

Tanpa ampun Zavian langsung melayangkan tinjunya yang kokoh ke rahang lelaki itu. Seketika lelaki itu meraung kesakitan. Kemudian Zavian menyambar kerah baju laki-laki itu dan menariknya hingga wajah mereka hampir bersentuhan.

"Ulangi sekali lagi apa yang kamu katakan tentang dia," desis Zavian, suaranya kini terdengar sangat mematikan.

Dia kembali mengangkat tangannya, siap melayangkan hantaman yang jauh lebih brutal daripada yang barusan. Ia tidak peduli lagi kini sedang berada di mana.

"Pak Zavian! Cukup!" Seorang polisi yang berjaga di situ segera menghalangi dan memegang bahu Zavian dengan tegas. "Jangan main hakim sendiri di sini. Biarkan kami yang menanganinya."

Napas Zavian memburu, dadanya kembang kempis menahan emosi yang nyaris meledak tak terkendali. Ia menatap laki-laki itu dengan kebencian yang mendalam, sementara si pelaku justru terlihat puas karena berhasil memancing amarahnya.

Di sisi lain, Ayra ysng sudah tidak bisa menahan emosi, tanpa pikir panjang langsun menendangkan kakinya ke tulang kering kelaki itu. Sekali lagi tanpa rasa malu dia meraung. Tapi Ayra srperti hilang kendali. Ia menampar lelaki itu sekuat tenaga sampai dua kali. Zavian sendiri sampai kaget melihatnya. Ia tak menduga jika Ayra mampu bertindak beringas.

"Cukup Ay, kendalikan dirimu." Ucap Zavian dengan suara lembut. Ia menahan tubuh Ayra dengan mencekal bawah ketiaknya. Tapi justru cekala Zavian dijadikan tumpuan oleh Ayra, hingga kedua kakinya terangat dan dihantamkan ke dada lelaki itu, sangat telak dan bertenaga, sambil berteriak, "Kurang ajar kau bajingan!"

Seperti Zavian, dada wanita itu naik turun. Merasa puas sudah melampiaskan amarahnya.

Untuk menghindari kemungkinan yang lebih buruk, petugas segera memnyeret Lelaki itu kembali ke tahanan.

Sementara Ayra yang sudah melampiaskan amarahnya, kini menangis sesenggukkan di dada Zavian. Lelaki itu memeluknya erat sambil menciumi puncak lepalanya.

"Kok jadi nangis? Barusan kamu sudah seperti Superwoman yang keren, loh." Zavian mencoba memberikan candaan, hingga perempuan itu merengek karena malu. Tapi membuat Zavian terkekeh.

***

Sore tadi Elly baru saja sampai di Jakarta atas permintaan Rayyan, sang putra. Dengan senang hati wanita itu datang mengajak Anika, putri keduanya. Sebenarnya, tanpa diminta pun, ingin sekali dia tinggal di Jakarta, bergaul dengan ibu-ibu sosialita yang menurutnya keren, jika saja diizinkan suami dan putranya.

"Ada apa sih Rayyan, pakai panggil Ibu segala?" tanya Elly pura-pura protes.

"Aku putus sama Liztha, Bu," ucap Rayyan dengan mimik wajah kesal.

"Loh, kok bisa? Bukannya kamu menceraikan si Ayra karena ingin kembali padanya?" tanya Elly heran. Begitu juga dengan Anika yang duduk di samping ibunya.

"Iya sih, tapi aku kesal sama dia. Mentang-mentang uangku sekarang habis gara-gara dirampok Ayra, Liztha malah menjauh dariku. Dia sekarang sedang mencoba menggoda bos kami."

Anika langsung tertawa mengejek.

"Ya iyalah, Bang! Liztha juga mikir kali, mending deketin pohon duit daripada deketin Bang Rayyan yang dompetnya lagi sariawan. Ya jelas bos Abang lebih segalanya, uangnya aja nggak berseri. Duh, bang Rayyan gimana sih, masa gitu aja nggak paham?"

Rayyan mendelik tajam pada adiknya.

"Kamu tidak usah memperjelas nasib Abang yang tragis ini, bisa tidak?" semprot Rayyan pada adiknya yang masih terpingkal.

Sementara Elly mendengus karena merasa tidak suka mendengar kelakuan Liztha.

"Dasar wanita gila harta. Baru tahu Ibu kalau Liztha serendah itu. Padahal dulu Ibu pikir dia lebih kaya dari Ayra."

"Memang begitu kenyataannya, Bu. Dia hanya memandang uangku saja. Sekarang saat aku sedang sulit, dia malah mencari sasaran yang lebih empuk," Rayyan mengacak rambutnya frustrasi.

"Bosku itu muda, tampan, kaya raya, dan pemilik perusahaan. Wanita manapun pasti bermimpi bisa bersanding dengannya."

Mendengar penjelasan Rayyan, mata Elly tiba-tiba berbinar. Sebuah ide konyol muncul begitu saja di kepalanya. Ia menoleh ke arah Anika, lalu kembali menatap Rayyan dengan senyum penuh arti.

"Rayyan, kalau Liztha saja berani melakukan itu, kenapa kita tidak pakai cara yang sama saja?" Elly berbisik penuh semangat.

Rayyan mengerutkan kening. "Maksud Ibu apa?"

"Maksud Ibu, daripada bos kamu itu jatuh ke pelukan si ular Liztha, kenapa tidak kamu perkenalkan saja dia dengan adikmu, Anika? Siapa tahu bos kalian tertarik pada Anika."

Anika langsung melotot, namun sedetik kemudian ia merapikan rambutnya dengan percaya diri.

"Eh, ide Ibu oke juga. Daripada buat Liztha, mending buat aku, kan? Aku kan lebih muda dan lebih cantik."

Bukannya bersemangat, Rayyan justru mendengus kasar dan menyandarkan punggungnya ke sofa.

"Kalian jangan ngaco! Jangan samakan Pak Zavian dengan laki-laki sembarangan yang bisa langsung luluh cuma lihat cewek cantik."

"Loh, kenapa memangnya? Adikmu ini kurang apa coba? Cantik dan juga sudah jadi sarjana." sahut Elly tidak terima.

"Masalahnya bukan di Anika, Bu. Tapi di Pak Zavian. Dia itu orangnya dingin, disiplinnya tinggi dan tidak kenal toleransi jika kami melakukan kesalahan. Apalagi ini soal pribadi. Buang jauh-jauh deh pikiran seperti utu dari kepala kalian! Salah sedikit saja, dia tidak akan segan-segan mendepak orang, Bu. Liztha yang sudah dandan habis-habisan sampai sekarang cuma dianggap angin lalu sama dia. Kalau aku tiba-tiba bawa Anika ke kantor tanpa alasan jelas, yang ada aku malah bisa dipecat karena dianggap tidak profesional," urai Rayyan dengan wajah serius. Ia tahu betul betapa mengerikannya seorang Zavian.

Elly terdiam sejenak, sedikit gentar mendengar penjelasan putranya. Namun, ambisinya untuk menjadi orang kaya dan terhormat tampaknya lebih besar daripada rasa takutnya.

"Ya makanya, kamu cari alasan yang masuk akal. Masa tidak ada celah sedikit pun?"

Rayyan terdiam, meski logikanya menolak, hatinya yang sedang dendam pada Liztha mulai terusik. Ia membayangkan betapa puasnya jika ia bisa membalas Liztha melalui adiknya sendiri, meski ia tahu risikonya sangat besar.

1
Ma Em
Thor jgn sampai Marissa mengganggu ketentraman rumah tangga Zavian dgn Ayra yg baru saja dimulai , jauhkan godaan atau kejahatan orang2 yg iri pada kebahagiaan Ayra .
Dini Yulianti
ooo ternyata hanya anak pungut to
Yul Kin
lanjut kak
Anonymous
ENTAH KENAPA SAYA INGIN MEMBUNUH ORANG INI SI LITZHA
Ummi Rafie
jangan² Monalisa yg maksa masuk di pernikahan ayra
Dini Yulianti
akhirnya sah jg
Cookies
lanjut thor
Dini Yulianti
musuh terberat ayra hanya si sasa marisa, psyco dia, kalo semacam elly sama lizta mah hanya kelas teri
Ramlah Ibrahim
kna sambungan nya kenpa tiba2 kerlur cerita lain
Ma Em
Bu Elly sok soan mau manas2 in Zavian agar TDK jadi menikah dgn Ayra kalau Zavian tdk dengar Rayyan ngancam mau keluar dari perusahaan Zavian lah emang kalian siapa samapi Zavian mau mendengar omongan Rayyan dasar orang tdk tau malu , semoga Ayra bahagia bersama Zavian .
Yul Kin
pecat Rayyan dan lita kak, gedeg aku sama mereka, klg mak Lampir jg
Ma Em
Elly ,Anika dan Serly sombong didepan nyonya Euginia , Elly kamu itu tdk ada apapa nya kalau dibandingkan dgn nyonya Euginia dasar norak pake perhiasan kayak toko emas berjalan , Elly ,Ayra itu bkn jadi pengasuh tapi calon istri orang kaya .
Dini Yulianti
nah gitu ay jangan egois, zavian jadi leluasa lindungin kamu, kuliah masih bisa jalan meski udh nikah, zavian beda sama rayyan
Anonymous
Pantau terus si marissa van.. Gunakan semua aksea yg dikau punya
Anonymous
Please zavian.. Jgn butek2 banget... Gunakan kekuasaan keluarga loe..
Ma Em
Demi keamanan dan perlindungan penuh dari Zavian Ayra tentu hrs mau cepat menikah dgn Zavian jgn ditunda lagi karena Marissa sangat berbahaya .
Ma Em
Zavian seorang pengusaha yg berkuasa masa kalah oleh kelicikan Marissa .
Anonymous
AWOKAWOK dibutuhkan Spy seperti Loid
Ma Em
Rayyan sekarang Ayra berada diatas mu dan sebentar lagi akan menjadi istri bosmu , jgn sampai kamu cari masalah dgn Ayra kalau Elzian tau kamu pasti dipecat Rayyan .
Retno Harningsih
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!