NovelToon NovelToon
CINTA BEDA KASTA

CINTA BEDA KASTA

Status: tamat
Genre:Tamat / Nikahmuda / CEO / Hamil di luar nikah / Ibu Pengganti
Popularitas:1.9M
Nilai: 4.8
Nama Author: Five Vee

Andrea Cecilia, gadis yatim piatu berusia 22 tahun, baru saja lulus pendidikan Diploma Tiga, jurusan Tata Boga. Ia ikut dengan sang bibi bekerja di rumah keluarga Dinata, sembari menunggu panggilan kerja dari sebuah hotel ternama di ibukota.

Andrea yang memiliki kemampuan memasak, di minta menjadi perawat untuk anak perempuan nyonya Dinata yang mengalami depresi setelah di lecehkan, dan kini dalam keadaan hamil besar.

Sang nona yang selama ia jaga, hanya diam, tiba-tiba meminta Andrea menjadi Ibu pengganti untuk bayi yang akan ia lahirkan. Bahkan, di akhir hayatnya, wanita itu meminta Andrea menikah dengan sang kakak, agar bayinya memiliki orang tua lengkap.

Bagaimana kah perjalanan hidup Andrea setelah kepergian sang nona untuk selamanya?
.
.
.
Hay Teman Redears.. ketemu lagi dengan aku si Authir a.k.a Author Amatir 😁

Mohon dukungannya, ya.. jangan lupa, Like, komen, Vote dan Gift.
.
Semoga cerita ini berkenan.
.
Ingat, tidak ada hikmah yang bisa di ambil dari cerita ini, karena novel ini hanya HALU SEMATA.
.
Terima Gaji ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Perhatian Arthur.

Keesokan harinya. Masih di hari libur, seperti kemarin Arthur juga tidak pergi keluar rumah. Biasanya, pria itu akan melakukan pertemuan dengan teman-teman sejawatnya. Mulai dari rekan bisnis, teman masa sekolah, hingga teman saat kuliah.

“Tidak pergi lagi?” Tanya sang mama, yang melihat Arthur dengan tampilan basahnya setelah berolahraga pagi.

“Hmm.” Pria itu meraih gelas kaca berisi air minum di atas meja, kemudian meneguk isinya hingga tandas.

“Kamu mau sarapan sekarang?”

“Nanti saja, ma. Aku mau melihat Audrey dulu,”

“Mau melihat Audrey apa pengasuhnya?” Gurau mama Daisy.

Arthur tak menjawab, ia hanya menatap sendu wanita paruh baya itu.

“Kenapa? Apa mama salah bicara?”

“Ya.”

“Arth. Ini kesempatan kamu melakukan pendekatan dengan gadis itu. Bukannya kamu sendiri yang mengatakan jika kalian belum saling mengenal? Maka lakukanlah pendekatan lebih sering. Ajak Rea jalan berdua. Setelah itu kalian bisa segera menikah.”

Arthur membuang nafas kasar. Menjawab pun percuma.

“Kenapa? Kamu masih mengharapkan Celine? Ayolah, Arthur. Buka hati dan pikiranmu. Wanita itu tidak pernah mencintai kamu. Dari dulu dia hanya menganggap kamu teman.”

“Ma.”

“Apa? Kamu mau mengatakan jika mama salah? Jangan bodoh Arthur, Celine hanya mencintai mendiang suaminya. Mereka bahkan berpacaran sejak masa SMP. Kamu hanya sahabat untuk dia. Jika sekarang dia kembali sendiri, itu bukan berarti kamu memiliki kesempatan mendekatinya. Tuhan telah menuliskan takdir ciptaan-Nya, dan kamu, kamu telah di tentukan dengan gadis lain.”

Mama Daisy kemudian pergi begitu saja setelah berbicara panjang lebar. Ia mengeluarkan segala kesal yang menggumpal di hatinya.

Entah bagaimana cara membuka hati putranya itu. Ingin sekali, mama Daisy mencuci otak pria tiga puluh tahun itu.

“Punya anak laki satu saja keras kepalanya minta ampun. Astaga.” Gerutu wanita paruh baya itu sembari menapaki anak tangga. Ia lupa, jika sifat keras kepala sang putra, itu menurun darinya.

Arthur menatap nanar punggung wanita yang telah melahirkannya itu. Entah apa kekurangan Celine, sehingga sang mama tidak pernah mau menerima wanita itu.

🍃🍃🍃

“Kamu kenapa?” Tanya Arthur saat melihat Andrea berdiri sembari memegang kepalanya.

“Aku tidak apa-apa, tuan.”

Andrea kembali melangkah untuk menyiapkan air mandi untuk Audrey. Namun, belum jauh langkah kakinya, gadis itu limbung. Dengan sigap Arthur menangkap tubuh Andrea. Sehingga tak sampai membentur lantai.

Sesaat pandangan mereka beradu. Dan saling terkunci. Arthur tertegun. Baru kali ini ia melihat wajah Andrea dari jarak yang begitu dekat.

Wajah yang terlihat manis, tanpa polesan riasan. Bulu mata lentik, dan alis yang terbentuk sempurna.

“T-tuan.” Andrea sedikit mendorong dada pria itu.

“Kamu kenapa? Sakit?” Suara Arthur terdengar lebih lembut dari biasanya.

“A-aku sedikit pusing, tuan.” Jawab Andrea jujur. Gadis itu memang merasa pusing sejak semalam. Mungkin karena waktu tidurnya yang berkurang. Dan sering bergadang, membuat kesehatan Andrea menurun.

“Duduklah. Temani Audrey di tempat tidur. Biar aku yang menyiapkan air mandi.” Arthur menuntun gadis itu untuk duduk di tepi ranjang.

Di perlakukan seperti itu, membuat jantung Andrea kembali berdetak kencang.

Gadis itu berusaha menepis segala pikiran yang mulai terbuai karena perhatian Arthur.

“Istirahatlah.”

“Tapi, tuan?”

Arthur berdecak kesal. “Kenapa kamu suka sekali membantahku, Rea? Bisakah sekali saja kamu berkata, ‘iya’ saat pertama kali aku perintahkan?”

Suara Arthur sedikit meninggi membuat Audrey kecil menangis, karena kaget.

“Sayang.” Andrea pun mengangkat, kemudian memangku bayi itu.

“Lihatlah. Karena kamu dia menangis. Mulai sekarang, jangan pernah membantahku. Kamu mengerti?”

Dengan masih menenangkan Audrey, kepala Andrea mengangguk. Baru saja pria itu bersikap lembut padanya, sekarang sudah kembali garang.

Arthur pun pergi ke kamar mandi, kemudian menyiapkan air mandi untuk Audrey.

“Tuan yakin bisa?”

“Kamu meragukan aku?”

Ingin rasa Andrea memukul mulut pria itu. Andai saja, Arthur bukan majikannya.

‘Apa dulu nyonya Daisy mengidam cabai? Kenapa mulut pria ini pedas sekali.’

“T-tidak.”

Arthur kemudian membawa bayi mungil itu ke dalam kamar mandi.

Lima menit berlalu, Andrea pun mengintip dari pintu kamar mandi yang terbuka. Ingin sekali gadis itu masuk, ketika melihat Arthur yang begitu kaku saat membilas tubuh mungil itu. Namun ia urungkan, sudah pasti singa jantan itu akan mengaum lagi, jika ia berani mendekat.

Gadis itu pun memutuskan kembali ke atas tempat tidur, ingin menyiapkan pakaian ganti pun, ia enggan. Arthur memerintahkannya untuk diam. Berarti ia harus diam.

Tak berselang lama, Arthur dan Audrey pun keluar. Pria itu membawa tubuh mungil berbalut handuk itu ke atas tempat tidur, di samping Andrea.

Tanpa kata, Arthur mengambil segala perlengkapan bayi dari atas meja ganti. Pria itu begitu telaten, mulai dari mengolesi minyak telon, memakaikan popok, hingga baju.

“Sudah, ‘kan? Apa ada yang kurang?” Tanya Arthur meminta pendapat Andrea.

“Sudah, tuan.”

Arthur kembali menyimpan perlengkapan bayi pada meja ganti. Ia kemudian membuatkan sebotol susu untuk bayi mungil itu.

‘Andai mulutnya tidak pedas. Dia sudah sangat cocok menjadi seorang ayah.’

“Rea.”

“Ah, i-iya tuan.”

“Jangan kemana-mana. Aku turun sebentar.” Ucap Arthur sembari menyerahkan botol susu itu pada Andrea.

Andrea mengangguk paham. Biasanya juga ia tak kemana-mana setelah memandikan bayi mungil itu.

“Sayang, dia ternyata bisa manis juga ya.” Gadis itu seolah mengajak Audrey kecil mengobrol. Ia pun berbaring menyamping sembari memegang botol susu.

“Cepat besar ya, sayang. Biar bibi Rea ada temannya.”

Hampir dua puluh menit, bayi mungil itu pun terlalap. Membuat Andrea bernafas lega. Ia akhirnya bisa beristirahat juga.

Baru saja akan memejamkan mata, suara pintu terbuka mengagetkan gadis itu. Kepalanya pun mendongak. Seketika kedua matanya yang tadi mengantuk, kini terbuka sempurna.

Bagaimana tidak, Arthur kini kembali ke kamar itu dengan membawa seorang dokter, dan juga nyonya Dinata.

“T-tuan? Siapa yang sakit?” Gadis itu mendadak lupa jika dirinya sedang pusing.

“Kamu. Bukannya tadi hampir jatuh?”

“Periksa dia, Ran.” Perintah Arthur pada dokter wanita itu. Sang dokter menurut dan duduk di samping Andrea.

“Kamu kenapa, Rea?” Mama Daisy duduk di tepi ranjang lainnya.

“A-aku—.” Gadis itu meringis, saat alat pengukur tekanan darah mencengkeram lengannya.

“Bagaimana keadaannya, Ran?” Tanya Arthur saat dokter itu menyimpan kembali alat periksa.

“Tekanan darahnya menurun. Mungkin karena sering bergadang dan kurang istirahat.” Jelas dokter yang merupakan teman SMA Arthur.

Dokter bernama Rani itu, kemudian menuliskan resep obat. Lalu memberikan kepada Arthur.

“Aku hanya meresepkan vitamin saja. Dan saranku, nona melakukan istirahat yang cukup.”

“Tapi dok, nona kecil sering terbangun di tengah malam.” Andrea menjawab dokter itu.

“Jika kamu tidak terbiasa bergadang, maka tidurlah di siang hari saat bayi mungil itu tertidur.”

Andrea mengangguk paham. Dokter kemudian pamit, dan Arthur mengantarnya keluar, sembari menebus obat.

“Sudah, Rea. Kamu sekarang tidur bersama Audrey, aku akan meminta Rosi membawakan sarapanmu kemari.”

“Terimakasih, nyonya.”

Mama Daisy kemudian meninggalkan Andrea di dalam kamar bersama Audrey.

“Sepertinya, dia bukan sekedar pengasuh keponakan mu. Apa aku melewatkan sesuatu?” Tanya dokter Rani saat berada di halaman rumah keluarga Dinata.

Bukan tanpa sebab ia berkata seperti itu, karena Arthur memintanya datang dengan cepat.

“Apa yang kamu katakan? Dia sangat menyayangi Audrey kecil, sudah seharusnya aku memperhatikan kesehatannya bukan?”

Dokter Rani mencebik. Pria ini memang sangat sulit di tebak.

.

.

.

Bersambung

1
Denny Srivina Barus
Luar biasa
Rina Arie
bagus, thanks thor
Ervina T
Luar biasa
Alini Maudia
.
Nining Chili
Luar biasa
Nining Chili
Lumayan
Niechenie Cwekgemini Clalud'hti
uughhh top mommy mertua 👍👍
Niechenie Cwekgemini Clalud'hti
mantap lawan teroos pelakor
Meri Meri
Luar biasa
Ayachi
kok selalu bisa pas gitu yah, mama Daisy KLO grebekin org😭🤣
Ayachi
keren jga yah namanya thorr, jarang² loh🤣
Ayachi
sok²an ngambek lgi kmu turrr🤣
Ayachi
udah bener honeydew aja, ini malah melon😭 nona melon, vulgar bngett njirr😭🤣
Ayachi
sudut dapur?😭 Arthur arthurrr🤦
Ayachi
ini termasuk dosa kedua org tuakah? bukannya jelas Audrey korban pemerkosaan?
@arieyy
Dady,papi,papa,ayah🤣🤣🤣🦭
@arieyy
jenny ...coba bilang sama kaka author nya...daftar dulu 🤣🤣
andrana maula
Luar biasa
Ita Putri
Halah
tambah nemen Thomas sama jenny gendong" an
Ita Putri
apa mungkin yg perkosa Audrey si bryan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!