NovelToon NovelToon
Married To My Enemy

Married To My Enemy

Status: tamat
Genre:Menikah dengan Musuhku / Enemy to Lovers / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Seorang penguntit telah dua kali menyusup ke rumah Stella. Ia merasa membutuhkan bantuan profesional. Karena itu, Kayson Sheridan, musuh bebuyutannya semasa kecil sekaligus pendiri Sheridan Securities, pun hadir untuk membantunya.

Kayson berjanji akan melindunginya serta menugaskan penyelidik terbaik untuk menangani kasus tersebut.

Mungkin Kayson tidak seburuk yang selama ini ia kira. Semakin lama bersama pria itu, Stella menyadari bahwa perasaannya jauh menjadi lebih rumit daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya.

Namun, di sisi lain, seseorang telah mengincar Stella dan bertekad bahwa jika tidak dapat memilikinya, maka ia akan menghancurkannya.

୨ৎ SHERIDAN SECURITIES SEASON I ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penusukkan

"Serius?"

Desisan rendah itu memenuhi telinga Riggs saat dia berjuang untuk tetap sadar.

Bajingan itu menyerangnya dari belakang, dengan sesuatu yang besar dan berat. Saat Riggs jatuh, pria itu mencengkeram kepalanya dan membenturkan wajahnya ke lantai berulang kali.

Riggs curiga hidungnya patah. Tapi dia tidak terlalu peduli. Yang penting sekarang menghentikan bajingan di belakangnya.

Dia sempat pingsan sekali. Kepalanya terasa panas dan basah oleh darah. Dia tahu kalau sampai pingsan lagi, semuanya selesai sudah.

"Lo selingkuhannya Stella?"

Jadi benar, penguntit itu yang menyerangnya. Ada sesuatu dalam suara pria itu yang terasa familiar.

"B—bukan."

Dia sahabatnya.

Keluarganya.

"Pernah jadian?"

Sesuatu yang tajam menekan punggung Riggs.

Pisau.

Tunggu.

Riggs juga punya. Tapi pisaunya terlepas saat dia terjatuh. Jarinya meraba lantai, mencari senjatanya.

"Enggak ...."

Pisau itu menggoresnya. Rasa panas menyebar, membuatnya terengah.

"Satu."

Satu?

Satu apa?

"Kakak lo selingkuhannya?"

Riggs pun menggeleng. Dia berhasil menemukan gagang pisaunya. Senjatanya.

"Kakak lo bilang dia selingkuhannya."

Pisau si penyerang kembali menghujam. Kali ini mengiris sisi tubuhnya.

"Dua."

Riggs mengatupkan rahang.

"Kenapa dia bohong? Kenapa dia ...."

Dengan sisa tenaga yang ada, Riggs berguling menghadap penyerangnya.

Rasa perih di sisinya tubuhnya, tapi dia mengabaikannya. "Dia bohong buat ngejebak lo! Buat lindungin gue!" teriak Riggs sambil menusukkan pisaunya, membidik dada pria itu.

Bajingan itu memakai topeng. Kaos hitam longgar dan semacam rompi tebal. Celana hitam.

Apa dia kira dirinya ninja?

Pria itu berteriak saat pisau Riggs menancap di dadanya, lalu bajingan itu meloncat mundur.

"Kayaknya lo gak suka ditusuk!" ejek Riggs.

Orang itu balik badan dan menjauh. Riggs berlutut, berniat mengejar si berengsek itu. "Berhenti!"

Tak lama, si bajingan pun kembali. Lalu Riggs dihantamnya sampai tersungkur lagi, wajahnya menghantam lantai. Tapi kali ini dia tetap menggenggam pisaunya. Tetap memegangnya erat.

...────୨ৎ────...

"Gue habisin adik lo. Bilang ke Stella gue bakal bunuh selingkuhannya sekarang."

Kata-kata itu membuat darah Kayson terasa membeku. Suara pria itu kasar, dan bajingan itu menelepon dari HP Riggs.

Mereka melaju cepat ke lokasi, dan Kayson membawa Stella bersamanya. Bisa saja pria itu cuma menggertak. Mungkin ini trik untuk menjauhkannya dari Stella. Memisahkan mereka.

Sampai Kayson tahu apa yang sebenarnya terjadi, dia tidak akan membiarkan Stella jauh darinya.

Vanylla dan Wallen menyusul tepat di belakang mereka. "Dia nelepon dari HP Riggs."

Itu belum tentu berarti apa-apa. Bisa saja pria itu merampas HP adiknya. Tapi Kayson merasa mendengar suara Riggs di latar belakang.

Mereka berbelok di tikungan terakhir menuju rumah Riggs. Dan Kayson sudah mendengar sirene. Dia menyuruh Joel memerintahkan polisi masuk dengan senjata siap tembak, dan dari suaranya, itulah yang terjadi.

Mereka masuk dengan cepat. Kilatan lampu patroli menerangi bagian depan rumah Riggs.

Petugas berseragam berlari masuk. Ambulans sudah terparkir tak jauh dari sana. Pintu belakangnya terbuka.

Kayson menginjak rem. Mobilnya berhenti mendadak.

"Lo tetap di samping gue, ngerti?" Kayson tidak memberi Stella waktu menjawab sebelum mereka keluar dari mobil. Kayson menggenggam tangannya, memastikan dia tetap dekat.

Wallen langsung menyusul, wajahnya lebih keras dari biasanya saat cahaya biru menyorotinya. Vanylla pun bergegas di belakang mereka, dan Joel?

Dia malah sudah berlari keluar dari rumah itu. Paramedis melewatinya sambil mendorong tandu masuk ke dalam.

Kayson berlari menghampiri temannya. "Joel!"

Joel menoleh ke arahnya.

Dan Kayson melihat sesuatu di kemeja Joel. Sesuatu yang gelap. Lampu biru menyinarinya sekilas.

Gelap dan merah.

Darah?

"Dia hidup!" Joel berlari menuruni tangga, mendorong beberapa petugas. "Lo denger gue, Kayson? Riggs masih hidup!"

Kayson melepaskan tangan Stella dan mencengkeram bahu Joel. "Itu darah dia?"

Joel meringis. "Dia kena tusuk, tapi dia bakal baik-baik aja. Lo cuma harus tetap tenang selama—"

Kayson langsung mendorongnya ke samping. "Anjing!"

"Lo gak bisa masuk! Paramedis harus bawa dia keluar!" Joel menarik Kayson kembali. "Tenang, bro. Dia hidup. Denger gue? Dia hidup!"

Jantung Kayson berdentum keras di dadanya. Tatapannya yang panik menyapu sekitar. Para tetangga yang terpaku. Polisi-polisi yang berhamburan. Stella yang ketakutan.

Stella.

Wallen berdiri tepat di samping Stella. Sementara itu, tatapan Vanylla menyapu kerumunan, bergerak curiga dari satu orang ke orang lainnya. Dia mencari pelakunya.

"Dia kabur," kata Joel, suaranya lebih rendah dan terkendali. "Riggs masih sadar waktu gue nemuin dia. Detektif Hamizah dan gue yang pertama kali sampai. Dia lagi nyoba merangkak keluar kamar. Riggs bilang dia sempat nusuk orang itu. Sumpah, waktu kami masuk, dia masih genggam pisaunya kuat banget. Dari yang kami lihat, pelaku baru aja kabur beberapa menit sebelumnya."

Paramedis sudah kembali. Dan Riggs terbaring di atas tandu.

Napas Stella tercekat saat dia berlari menghampirinya. "Riggs!"

Kepala Riggs menoleh ke arahnya.

Ya Tuhan.

Wajah Riggs berlumuran darah. Darah mengalir dari hidungnya. Pasti patah. Ada luka sobek besar di dahinya. Kemejanya sudah digunting paramedis, dan Kayson pun bisa melihat balutan di sisi tubuhnya.

Riggs mengulurkan tangan ke arah Stella. "Lo gak apa-apa?"

Paramedis tidak memperlambat langkah. Mereka tetap mendorong tandu menuju ambulans yang menunggu.

Kayson dan Stella berlari mengikutinya.

Petugas medis menaikkan Riggs ke dalam ambulans dalam hitungan detik.

Sirene pun langsung meraung.

Riggs mengerang pelan. "Dia kabur, Stella. Maaf!"

Hati Kayson terasa diremas. "Lo gak perlu minta maaf."

"Kita harus bawa dia ke rumah sakit sekarang," kata paramedis perempuan yang berdiri paling dekat dengan Riggs. Seorang wanita muda berambut hitam pendek. Ia menatap Kayson yang tak sabar. "Cuma buat jaga-jaga."

Adiknya terluka. Kayson tidak ingin Riggs pergi sendirian ke mana pun.

"Dia adik gue."

"Yaudah naik sana!" gumam paramedis pria yang botak, berjanggut tipis, dan berkulit sangat pucat. "Tapi cuma muat satu orang."

Kayson ingin ikut dengan adiknya. Seharusnya dia yang menjaga Riggs. Selalu begitu.

Bukankah seorang kakak memang harus melindungi adiknya?

Tapi sial, dia sudah gagal.

Kayson menyimpan rahasia. Dia berulang kali berbohong pada Riggs soal Stella.

Paramedis perempuan itu mendesak, "Cepaaaat!"

Riggs menggeleng pelan. Tatapannya yang liar menyapu sekitar. "Stella? Stella!"

"Lo ikut dia," kata Kayson pada Stella. "Gue nyusul."

Stella naik ke ambulans. Riggs langsung menggenggam tangannya erat. Dan dia tampak sedikit lebih tenang.

Kayson mundur. Seseorang menutup salah satu pintu belakang ambulans. Lalu pintu yang lain.

Kayson menatap ambulans itu melaju pergi dan sadar dua orang terpenting dalam hidupnya ada di dalam kendaraan itu.

Bukan.

Seluruh dunianya ada di ambulans itu.

Dia seharusnya melindungi Riggs dan Stella. Dan dia gagal pada keduanya.

"Dia pikir ... kita itu selingkuhan!" kata-kata Riggs terdengar lemah.

Para paramedis bergerak cepat di sekelilingnya, menangani luka-lukanya dan memasang infus.

"Makanya dia ... ngejar ...."

Ya Tuhan. Ucapannya berakhir dalam gumaman, tetapi Stella tahu persis apa yang ingin Riggs katakan.

Penyerangnya datang memburu Riggs karena mengira Riggs adalah selingkuhannya.

Bajingan yang sama juga pernah memburu mantannya, Stevanus Igor. Dia membunuh Igor.

Kalau saja tadi Riggs tidak mampu melawan, apa yang akan terjadi?

Stella menggenggam tangan pria itu lebih erat. Selama ini dia dan Kayson salah melihat semuanya.

Mereka mengira para mantan kekasih stella mungkin adalah pelakunya. Ternyata tidak. Mereka justru calon korban.

Pria-pria yang pernah Stella kencani, yang pernah menjalin hubungan dengannya, semuanya berada dalam bahaya.

Kayson juga dalam bahaya.

Stella masih bisa mengingat suara Kayson di kepalanya, jelas sekali. Kata-kata yang dia lontarkan pada bajingan itu di telepon.

Kayson sudah mengorbankan dirinya sendiri untuk sasaran berikutnya.

1
Rita
like seru tegang
DityaR: Maacii kak
total 1 replies
Rita
bagus biarpun awal2 bingung ma obrolan nya ceritanya seru tebak2an siapa penjahaty semangat terus
Rita
sdh g sabar nervous
Rita
hhhmmmmmmm👀
Rita
😂😂😂😂saking kuaty
Rita
tegang,trauma,kecewa,sedih takut jadi satu kmu sdh bener
Rita
buruan mumpung lengah
Rita
seru g diduga
Rita
nah lho👀👀👀👀
Rita
😂😂😂😂
Rita
ini diluar pengamanan 🥰🥰🥰
Rita
👍👍👍👍👍👍bener
Rita
Mudah2n beneran selesai
DityaR: pembunuhnya aja belum ketemu, selesai gimana wkwkwk
total 1 replies
Rita
akhirnya
Rita
bikin deg2an Kayson
Rita
nikahin lah
Rita
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Rita
😂😂😂😂😂
Rita
hhmmm bnr2 sdh selesai blm?
Rita
🥰🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!