kekuatannya menyebabkan dia bisa mengendalikan boneka tapi semakin sering ia menggunakannya ia pun mulai di Kendalikan oleh kekuatan sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Merajut Kembali Jiwa
Di dalam reruntuhan kuil kuno, di atas altar batu yang berdenyut, boneka Elara memancarkan cahaya keperakan yang semakin terang. Ryo meletakkan tangannya di atas boneka itu, memejamkan mata, dan memproyeksikan benang intinya. Ia merasakan fragmen-fragmen jiwa Elara, seperti pecahan kaca yang berserakan, bergetar dalam resonansi dengan energi altar.
"Ini sangat rapuh," Ryo berbisik, suaranya tegang. "Fragmen-fragmen ini tidak memiliki jangkar yang kuat. Jika aku mencoba merajutnya secara paksa, ia akan hancur."
Lyra, Lyraea, dan Kaelen berdiri di sekeliling altar, menyalurkan energi mereka melalui Ryo, menciptakan Anyaman Perlindungan dan Harmoni. Mereka tahu betapa berisikonya ini. Benang jiwa adalah yang paling suci, dan bermain-main dengannya bisa memiliki konsekuensi yang tak terduga.
"Ada sesuatu yang hilang," Ryo melanjutkan, alisnya berkerut. "Sebuah 'benang pengikat' yang dapat menyatukan fragmen-fragmen ini menjadi satu kesatuan. Altar ini memiliki energi untuk menariknya, tapi bukan untuk mengikatnya."
Lyraea maju, matanya terfokus pada boneka Elara. "Ayah, aku merasakan sesuatu. Bukan dari Elara, tapi... dari boneka itu sendiri. Seolah ada benang yang telah Anda tanamkan di sana, lebih dari sekadar benang ingatan."
Ryo mengalihkan fokusnya ke boneka itu. Benar. Sejak lama, boneka itu telah menjadi jangkar bagi ingatannya, penyesalannya, dan akhirnya, pemahamannya. Ia telah menuangkan begitu banyak dari dirinya ke dalamnya, begitu banyak pelajaran dan pertumbuhan. Benang itu telah menjadi lebih dari sekadar objek; ia adalah perpanjangan dari benang inti Ryo sendiri.
"Benang harapan," Ryo bergumam, sebuah pemahaman menerpa dirinya. "Boneka ini telah menjadi jangkar harapan. Harapan akan penebusan, harapan akan keseimbangan."
Ia kemudian melihat jalan. Ia tidak bisa menggunakan kekuatan untuk memaksa fragmen-fragmen itu bersatu. Ia harus menggunakan sebuah benang pengikat yang fundamental: Harapan. Dan benang harapan itu telah ia tenun sendiri ke dalam boneka itu selama bertahun-tahun.
"Aku akan menggunakan boneka ini sebagai jangkar," Ryo mengumumkan, suaranya kini dipenuhi tekad. "Aku akan memproyeksikan Benang Harapan ini ke dalam fragmen jiwa Elara, dan berharap ia akan merajutnya kembali."
Kaelen menatap Ayahnya. "Ayah, itu akan membutuhkan sebagian besar dari benang intimu sendiri. Ini adalah tindakan pengorbanan."
"Elara telah mengorbankan begitu banyak untukku," Ryo membalas, senyum tipis terukir di bibirnya. "Dan pelajaran yang ia berikan adalah fondasi dari semua yang telah aku capai. Ini adalah harga yang bersedia kubayar."
Ryo memejamkan mata lagi. Ia memusatkan seluruh benang intinya, menuangkannya ke dalam boneka Elara, mengaktifkan Benang Harapan yang selama ini ia tanamkan. Benang Harapan itu, yang berdenyut dengan energi Ryo, kini memancar dari boneka, menyentuh setiap fragmen jiwa Elara.
Proses itu sangat menyakitkan. Ryo merasakan benang intinya meregang, seolah sebagian dari dirinya ditarik keluar. Ia merasakan ingatannya sendiri, pengalamannya, mengalir ke dalam fragmen-fragmen itu, memberikan konteks, memberikan fondasi bagi Benang Asal yang ia harapkan akan merajut kembali jiwa Elara.
Cahaya keperakan dari boneka Elara dan altar batu beriak hebat, kadang meredup, kadang memancar lebih kuat, seiring dengan benang-benang jiwa yang mencoba merajut diri. Di dalam kesadaran Ryo, ia merasakan fragmen-fragmen itu perlahan menyatu, membentuk kembali sebuah benang utuh.
Namun, benang itu tidak sama persis dengan yang dulu. Benang itu telah berubah, teranyam dengan Benang Harapan Ryo, dengan pelajaran yang telah ia dapatkan. Ia adalah benang Elara, ya, tetapi juga benang yang terbentuk dari evolusi Ryo sendiri.
Tiba-tiba, proses itu berhenti. Fragmen-fragmen itu telah menyatu menjadi satu benang tunggal, namun benang itu tetap berada di dalam boneka, tidak sepenuhnya lepas. Ia tidak memancar keluar, tidak mengambil bentuk fisik. Ia tetap menjadi sebuah inti, sebuah benang yang utuh, namun tetap terikat pada boneka itu.
Ryo membuka matanya, kelelahan yang luar biasa terpancar dari wajahnya. Ia merasakan benang intinya sendiri sedikit menipis, namun tidak rusak. Benang itu kini teranyam dengan sebuah kedamaian dan pemahaman yang lebih dalam.
"Dia... tidak kembali sepenuhnya?" Lyra bertanya, menatap boneka yang kini memancarkan cahaya keperakan yang stabil, namun tetap hanya sebuah boneka.
"Tidak," Ryo menjawab, suaranya lemah. "Benang jiwanya utuh kembali. Dia ada di sana, di dalam boneka ini. Tetapi dia... dia memilih untuk tidak mengambil bentuk fisik."
"Memilih?" Lyraea bertanya, bingung.
"Ya," Ryo mengangguk. "Saat Benang Asal merajut kembali jiwanya, ia merasakan semua yang telah terjadi. Ia melihat perjalananku, pelajaran yang kudapatkan, dan semua yang telah kita bangun. Dan ia memilih untuk tetap menjadi inti, sebuah kehadiran, sebuah pengingat yang hidup, daripada kembali ke dunia ini dan mengganggu keseimbangan yang telah susah payah kita ciptakan."
Ryo memegang boneka Elara. Kini, ia merasakan kehadiran Elara di dalamnya, bukan lagi gema yang menyakitkan, melainkan sebuah kehadiran yang damai, penuh pengertian, dan penuh cinta. Elara, melalui bonekanya, telah menjadi pengingat abadi tentang kehendak bebas, tentang konsekuensi pilihan, dan tentang kekuatan penebusan.
"Dia adalah penjaga," Lyra berbisik, mengerti. "Penjaga dari warisanmu."
Ryo mengangguk, mencium kening boneka itu. "Dia adalah kebenaran yang tak terucapkan, yang selalu ada di sini, membimbingku."
Ini bukanlah akhir yang mereka harapkan, bukan kebangkitan kembali yang dramatis. Tetapi itu adalah akhir yang penuh kedamaian, sebuah akhir yang menunjukkan kedewasaan Ryo sebagai Dalang. Ia tidak memaksa kehendaknya pada jiwa Elara, melainkan menghormati pilihannya.
Dengan Benang Jiwa Elara yang kini utuh dan damai di dalam bonekanya, Ryo merasakan penutupan yang sesungguhnya. Masa lalu telah diakui, dipelajari, dan akhirnya, menjadi bagian yang damai dari masa kini dan masa depan. Aethelgard akan terus berkembang, dipandu oleh Raja Kaelen dan Ratu Lyraea, yang akan selalu memiliki kebijaksanaan Ryo dan Lyra, serta kehadiran Elara, sebagai jangkar abadi dari Benang Asal dan kehendak bebas.
Kisah Ryo, Dalang Jiwa, telah melampaui perjalanan seorang pahlawan. Ini adalah kisah tentang evolusi sebuah jiwa, tentang belajar dari kesalahan, dan tentang bagaimana keseimbangan sejati terletak pada menghormati setiap benang, bahkan benang-benang yang tidak terlihat, dalam anyaman kehidupan yang tak terbatas.