Tasya tidak pernah memilih takdirnya. Dijual oleh keluarga pamannya demi menyelamatkan perusahaan yang hampir bangkrut, ia melarikan diri dari sebuah kamar hotel mewah, tanpa tahu bahwa pria asing yang ia tinggalkan malam itu adalah Alex Roman Vasillo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa di Jerman.
Tujuh tahun berlalu, setelah dia melarikan diri dari Berlin menuju Indonesia, tanah kelahiran Kakeknya.
Tasya hidup tenang di Indonesia bersama dua anak kembarnya, Kenzo dan Kenzi, yang tak pernah tahu siapa ayah mereka sebenarnya.
Sampai suatu hari, di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta yang berada di bawah naungan keluarga Vasillo, seorang bocah enam tahun dengan percaya diri memanggil seorang pria berjas mahal, pria itu Alex Roman Vasillo.
“Daddy!”
"Hah?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Di dalam penthouse miliknya, suasana terasa sangat sunyi. Hanya suara halus angin malam yang terdengar dari jendela kaca besar yang menghadap ke seluruh kota.
Alex berdiri di dekat meja bar.
Di tangannya ada sebuah gelas kristal berisi minuman yang hampir tidak ia sentuh. Tatapannya kosong, namun pikirannya bekerja tanpa henti.
Bayangan wajah seseorang terus muncul di kepalanya. Pria tua di kursi roda, tatapan tajam itu. Cara pria itu menyempitkan mata saat melihatnya di rumah sakit.
Dan tiba-tiba, sebuah nama muncul jelas di benaknya. Alex bergumam pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
“Tuan Rockhi.” Matanya langsung menajam. Ingatan lama yang terkubur dalam pikirannya mulai muncul satu per satu.
"Jika pria tua itu benar-benar Tuan Rockhi … maka hanya ada satu kemungkinan." Alex menegakkan tubuhnya perlahan. “Dan ternyata kakek Tasya adalah Tuan Rockhi.” Ia menghela napas pelan, lalu rahangnya mengeras.
“Itu artinya…” Tatapannya menjadi jauh lebih gelap. “Tasya adalah anak dari Tuan Morin.”
Gelas kristal di tangannya tiba-tiba tercengkram kuat. Urat di tangannya menegang, nama itu bukan nama yang asing bagi Alex.
Morin, salah satu orang yang pernah memiliki hubungan rumit dengan keluarga Vasillo di masa lalu. Seseorang yang seharusnya tidak pernah lagi bersinggungan dengan hidupnya.
Namun, sekarang anak dari Morin justru melahirkan anak-anaknya. Emosi yang selama ini ia tahan tiba-tiba memuncak.
Gelas kristal di tangannya pecah karena tekanan yang terlalu kuat. Pecahan kaca jatuh ke lantai, beberapa serpihan bahkan melukai telapak tangannya. Darah langsung mengalir di sela-sela jarinya. Namun, Alex tidak bergerak, dia bahkan tidak terlihat merasakan sakit.
Tatapannya hanya menatap darah yang menetes perlahan ke lantai marmer. Napasnya berat, situasi ini jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.
"Ternyata anakku ada hubungan darah dengan keluarga Morin!" Masalah lama antara dua keluarga yang seharusnya sudah selesai akan kembali terbuka. Alex mengangkat tangannya yang berdarah perlahan.
“Jadi … ini bukan kebetulan.” Suara Alex rendah. “Takdir benar-benar suka bermain denganku.”
Di dalam pikirannya hanya ada satu hal sekarang, Kenzo dan Kenzi.
"Aku harus merebut keduanya, membuat cucu Tuan Rockhi menderita," gumam Alex. Tidak peduli siapa yang akan menghalangi. Ia tidak akan pernah membiarkan anak-anaknya jauh darinya lagi.
Sementara itu, di rumah kecil mereka, suasana di kamar Kenzo dan Kenzi jauh lebih tenang dibandingkan kekacauan yang terjadi sejak pagi tadi. Kamar itu tidak terlalu besar, namun rapi.
Di atas meja kecil dekat jendela, sebuah laptop menyala.
Di depannya duduk Kenzi, bocah kecil itu terlihat sangat serius menatap layar. Jemarinya bergerak cepat menekan tombol keyboard, seolah sedang mengerjakan sesuatu yang sangat penting.
Beberapa baris kode dan grafik muncul di layar.
Di sisi lain kamar, Kenzo sedang duduk bersandar di tempat tidur sambil membaca sesuatu di tablet kecilnya.
Suasana kamar cukup sunyi, hanya suara ketikan keyboard dari Kenzi yang terdengar. Namun, setelah beberapa menit, Kenzi akhirnya berhenti mengetik.
Ia menoleh ke arah kakaknya.
“Kenzo…”
Kenzo tidak langsung menjawab.
“Iya?”
Kenzi menggigit bibirnya sebentar sebelum bertanya.
“Menurut kamu … Tuan Alex itu benar-benar Daddy kita?”
Pertanyaan itu membuat Kenzo akhirnya mengalihkan pandangannya dari tablet. Ia menatap adiknya beberapa detik. Tatapannya terlihat jauh lebih dewasa dari anak seusianya. Kenzo kemudian berkata dengan tenang,
“Aku percaya.”
Kenzi sedikit terkejut.
“Kenapa?”
Kenzo menurunkan tabletnya.
“Karena Tuan Alex bukan orang bodoh.” Ia menyilangkan tangan di dadanya.
“Orang seperti dia tidak mungkin sembarangan mengaku seseorang sebagai anaknya.”
Kenzi mendengarkan dengan serius, Kenzo melanjutkan,
“Apalagi … sebagai pewaris keluarga Vasillo.” Ia menatap adiknya dengan tajam.
“Itu artinya … kita memang anaknya.”
Kenzi terdiam beberapa detik setelah mendengar itu. Ia kembali menatap layar laptopnya, namun kali ini pikirannya terlihat jauh lebih sibuk.
Beberapa detik kemudian ia berkata pelan,
“Kalau begitu … apa kita harus pergi bersama dia?”
Kenzo langsung menggeleng.
“Tidak.”
Jawabannya tegas.
“Kenapa?”
Kenzo menatap pintu kamar sebentar, memastikan tidak ada yang mendengar. Lalu ia menatap Kenzi lagi.
“Karena Mommy tidak mau.” Nada suaranya terdengar dingin.
“Dan selama Mommy tidak mau … kita tidak akan pergi ke mana pun.”
Kenzo lalu kembali menatap layar tabletnya. Namun, jauh di dalam pikirannya dia tahu satu hal. Pria bernama Alex Roman Vasillo itu tidak akan menyerah begitu saja.
'Aku harus cari tahu seperti apa Tuan Alex itu. Apa mungkin dia layak dipanggil Daddy atau tidak?! Aku tidak akan membiarkan mommy atau Kenzi jatuh ke orang yang salah.' batin Kenzo menatap adiknya yang kembali sibuk dengan laptop di atas meja.
'Kalau Tuan Alex, Daddy kami ... Dia pasti bisa jadi orang yang baik dan ngelindungi Mommy! Aku ingin keluarga yang sempurna, supaya ada orang dewasa yang akan lindungi Mommy. Kakek sudah sangat tua untuk terus bisa menjaga Mommy,' Kenzi tersenyum dan mencoba membuka profil perusahaan Alex kembali.
Aseli penasaran 👍👍👍
kalau itu pamannya Tasya, bisa jadi Tasya malah dalam bahaya
ga mungkin putranya kan putranya arlad udah meninggal