Oskar Biru Arkais sorang pemuda yang berusaha mencari arti cinta Sejati,
Dan Si Mahira Elona Luis si Gadis Tomboy yang Tak Pernah Percaya akan Adanya cinta Sejati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
"Satu satunya langit yang tak bisa kulukis dan hanya bisa kukagumi ialah langit dikedua bola matamu"
KEBENARAN YANG TERUNGKAP DAN PERJANJIAN DARI KEJAUHAN
DI RUANG KEPALA SEKOLAH
Sinar matahari pagi menerangi ruang kepala sekolah yang biasanya sunyi. Kepala sekolah, Bapak Supriyo, sedang duduk di meja kerjanya dengan wajah yang penuh kesedihan. Di depannya, layar komputer menampilkan rekaman CCTV yang baru saja ditemukan.
“Begitulah kebenaran yang sebenarnya,” ujar Bapak Supriyo dengan suara yang tegas namun penuh kesusahan. “Semua yang terjadi bukanlah kesalahan Elona, melainkan ada tangan yang jelas di balik semua ini.”
Di depan meja itu, Luna berdiri bersama Narumi dan Anindya dengan wajah yang penuh rasa malu dan ketakutan. Mereka tidak bisa melihat ke arah mana pun, hanya menunduk dengan wajah yang memerah karena kemarahan dan kesalahan yang mereka akui.
“Kita sudah melihat semua rekaman CCTV dari ruangan pramuka dan sekitarnya,” lanjut Bapak Supriyo dengan nada yang semakin keras. “Kalian tidak hanya mengambil uang kas dan alat pramuka yang penting, tetapi juga berusaha untuk menyalahkan orang yang tidak bersalah! Ini adalah pelanggaran yang sangat serius terhadap peraturan sekolah!”
Luna akhirnya tidak bisa menahan air matanya lagi dan mulai menangis teresak-esak. “Maafkan kami, Pak Kepala,” ujarnya dengan suara yang bergetar. “Kami hanya ingin membuktikan bahwa Elona tidak layak berada di sekolah.
Narumi dan Anindya juga ikut menangis dan meminta maaf dengan sungguh-sungguh. Mereka menyadari bahwa apa yang mereka lakukan adalah salah dan harus menerima konsekuensi dari tindakan mereka.
Setelah beberapa saat membahas konsekuensi yang akan diberikan – mulai dari surat peringatan keras hingga tugas masyarakat sebagai bentuk pembenaran kesalahan – Bapak Supriyo mengizinkan mereka untuk pergi dengan harapan bahwa mereka akan benar-benar berubah dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi.
DI HALAMAN SEKOLAH
Berita tentang pengungkapan kebenaran segera menyebar ke seluruh sekolah. Siswa-siswi yang tadinya menyalahkan Elona kini merasa sangat menyesal dan memberikan dukungan penuh padanya. Rekai dan Kalash segera mendekat dengan wajah yang penuh lega.
" akhirnya kebenaran terungkap ya Elona!” ujar Rekai dengan suara penuh kegembiraan. “Kita sudah tahu dari awal bahwa kamu tidak akan pernah melakukan hal seperti itu!”
Elona hanya bisa tersenyum lembut sambil mengangguk. “Terima kasih banyak atas dukungan kalian semua. Tanpa kalian, aku tidak akan bisa melewati semua ini dengan baik.”
Kalash kemudian menambahkan dengan suara yang lebih rendah. “Kamu harus berbicara dengan Pak Ketua juga dong Elona. Dia sudah sangat khawatir tentangmu dan bahkan rela melakukan apa saja untuk membuktikan kebenaran.”
Elona terdiam sejenak sebelum mengangguk perlahan. “Aku akan berbicara dengannya nanti. Ada beberapa hal yang perlu aku katakan padanya secara terbuka.”
DI DEKAT TAMAN SEKOLAH
Sore itu, setelah semua pelajaran selesai, Elona mencari Biru yang sedang duduk di bangku taman dengan wajah yang penuh pikiran. Dia mendekat dengan langkah yang hati-hati dan berdiri di depan Biru dengan ekspresi yang serius.
“Pak Ketua, ada yang ingin saya bicarkan sebentar?” tanya Elona dengan suara lembut namun jelas.
Biru segera berdiri dengan wajah yang sedikit terkejut namun senang. “ Elona. Ada apa ?”
Mereka berdua duduk bersama di bangku taman dengan jarak yang cukup jauh. Elona mengambil napas dalam-dalam sebelum mulai berbicara dengan suara yang penuh tekad.
“Terima kasih banyak atas semua yang kamu lakukan untukkuselama ini, Pak Ketua,” ujar Elona . “Kamu telah menunjukkan bahwa kamu adalah orang yang baik dan selalu siap membantu orang lain tanpa pamrih.”
Biru hanya bisa mengangguk dengan senyum lembut. “Itu adalah hal yang seharusnya aku lakukan, Elona. Kamu adalah teman yang baik dan pantas mendapatkan dukungan yang layak.”
Namun kemudian, ekspresi Elona menjadi semakin serius. “Namun aku ingin kamu mengerti sesuatu, Pak Ketua,” lanjutnya dengan suara yang lebih tegas. “Setelah semua yang terjadi – dari konflik dengan Luna hingga masalah uang kas yang hilang – merasa bahwa lebih baik jika kita menjaga jarak yang sesuai saja.”
Biru melihatnya dengan wajah yang penuh kesedihan. “Mengapa harus seperti itu, Elona? ada yang salah denganku atau apa yang harus saya lakukan?”
“Tidak ada yang salah denganmu, Pak Ketua,” jawab Elona dengan lembut. “Saya hanya merasa bahwa hubungan kita yang terlalu dekat hanya akan menimbulkan masalah lebih banyak lagi. Luna dan beberapa orang lain sudah menunjukkan bahwa mereka tidak akan tinggal diam jika kita terus dekat seperti ini. Saya tidak ingin ada orang lain yang terluka lagi karena masalah saya.”
Dia melanjutkan dengan suara yang semakin lembut. “Saya tidak punya masalah lagi dengan semua yang terjadi. Semua sudah teratasi dengan baik berkat bantuan kamu ,Rekai dan Kalash. Tapi untuk kebaikan kita semua, saya merasa lebih baik jika kita menjaga hubungan yang profesional saja.”
Biru terdiam sejenak, mencoba memproses apa yang baru saja dia dengar. Meskipun hatinya merasa sangat sakit dan sedih, dia juga memahami alasan yang diberikan oleh Elona.
“Baiklah, Elona,” ujarnya dengan suara yang sedikit bergetar namun tetap tegas. “Jika itu yang membuat kamu merasa nyaman dan aman, saya akan menghormatinya sepenuhnya. Saya tidak akan pernah memaksakan diri pada kamu atau membuatmu merasa tidak nyaman.”
Dia kemudian melihat ke arah Elona dengan mata yang cinta tersembunyi. “Namun didalam hati Biru dia berjanji akan menjaga Elona dari kejauhan biarlah saat ini ia menjauh.
Elona hanya bisa mengangguk ."Terima kasih banyak, Pak Ketua. Saya sangat menghargainya.”
Setelah itu, mereka berdiri dan berjalan kembali ke arah gerbang sekolah dengan jarak yang cukup jauh. Biru merasa hati nya sangat sakit karena harus menjaga jarak dengan orang yang dia cintai, namun dia juga merasa lega karena bisa memberikan jaminan bahwa dia akan selalu melindungi Elona dari kejauhan.
Di dalam hatinya, dia berjanji bahwa suatu hari nanti, ketika semua masalah sudah teratasi dan semua orang sudah siap menerima kebenaran, dia akan kembali untuk mengungkapkan perasaannya dengan jelas dan penuh keyakinan. Namun untuk saat ini, dia akan menghormati keputusan Elona dan menjadi pelindung yang selalu ada untuknya dari jauh.
" Sebagai manusia biasa perasaan adalah hal hal yang tak bisa dikontrol."