NovelToon NovelToon
Dead As A Human, Reborn As The Heir

Dead As A Human, Reborn As The Heir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Kelahiran kembali menjadi kuat / Perperangan / Summon / Dunia Lain / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: ANWAR MUTAQIN

aku tak pernah menyangka memiliki kesempatan kedua untuk kembali hidup

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWAR MUTAQIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Volume II — The Weight of Survival Chapter 3 — Shadows in the Ruins

Matahari pagi menembus reruntuhan dengan warna pucat dan redup, seperti dunia itu sendiri masih setengah mati. Daniel berdiri di tepi zona operasi, katana di tangan, napasnya stabil namun hati menegang.

Misi kali ini bukan sekadar pembersihan. Ini adalah pengintaian dan penyergapan bersyarat. Intel dari asosiasi menyebutkan bahwa iblis tingkat menengah sedang menyiapkan gerakan besar. Jika mereka gagal, korban sipil akan meningkat drastis.

Di depannya, Raven berdiri seperti bayangan. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi—tetapi mata itu menyimpan perhitungan yang menakutkan. Daniel tahu, di medan ini, satu langkah salah saja bisa membunuh mereka berdua.

“Fokus,” kata Raven singkat. “Kau punya pedang, bukan alasan untuk mati.”

Daniel mengangguk, menekan genggaman katana. Pedang itu terasa berat, namun seolah menghubungkan setiap bagian tubuhnya menjadi satu. Segel pertama berdenyut pelan, menenangkan ritme jantungnya. Ia sadar: kekuatan sejatinya masih terbatas, tetapi ketekunan dan insting adalah alat yang paling ampuh sekarang.

Pertemuan dengan Bayangan Pertama

Mereka memasuki distrik barat, sebuah kota yang dulu ramai, kini hanya menjadi labirin reruntuhan. Jalan sempit, puing berserakan, dan bau logam hangus memenuhi udara. Debu tipis menempel di wajah Daniel, membuatnya batuk.

Dari bayangan, makhluk bergerak—iblis pertama muncul. Tubuhnya pendek, kulit gelap, cakar panjang. Namun berbeda dari yang pernah Daniel lawan sebelumnya, makhluk ini bergerak bersamaan, berkolaborasi dengan bayangan lain yang tak terlihat jelas.

Daniel menarik napas dalam, menekankan katana. Segel pertama menstabilkan pergerakannya, namun ia tahu: ini bukan pertarungan biasa. Ini adalah ujian insting, koordinasi, dan kemampuan membaca pola serangan.

Dengan gerakan cepat, ia menebas salah satu cakar iblis, menciptakan percikan asap hitam. Iblis itu mundur, tapi tidak lenyap. Bayangan lain mulai mengepung dari sisi kanan. Daniel berputar, mengayunkan pedangnya, memotong reruntuhan yang menghalangi jalannya. Setiap tebasan adalah kombinasi insting dan teknik dasar—belum ada kekuatan segel kedua, hanya refleks manusia yang diperkuat stabilitas segel pertama.

Raven menembak dari belakang, menjaga flank Daniel. “Cepat! Jangan biarkan mereka mengepungmu!”

Daniel mengangguk, gerakan pedangnya seperti tarian gelap, setiap langkah menahan serangan yang terlalu cepat untuk dilihat. Namun, di sela-sela pertempuran, ia menyadari sesuatu: makhluk ini bukan hanya ganas, tapi cerdas. Mereka tahu kapan menyerang, kapan mengundurkan diri, bahkan menyesuaikan posisi mengikuti pergerakannya.

Jalan Buntu dan Pilihan Berat

Setelah melewati lorong sempit, Daniel dan Raven menemukan jalan buntu—bangunan runtuh menutup akses keluar. Dari atas, bayangan iblis lain menunggu.

“Ini jebakan,” kata Raven singkat. “Mereka ingin kita masuk ke sini.”

Daniel menatap reruntuhan, mencari celah. Ia tahu, pedang dan instingnya mungkin cukup untuk menghadapi iblis yang muncul, tetapi tidak cukup untuk seluruh kelompok yang menunggu di atas.

Napaknya berat. Ia mengingat wajah Aurelia—mengingat bahwa hidup yang diselamatkannya selalu membawa tanggung jawab.

“Raven… jika aku maju, aku bisa menarik perhatian mereka,” katanya pelan. “Tapi aku tidak bisa menjamin kau aman.”

Raven tersenyum tipis, seolah mengerti keputusan yang akan diambil. “Aku tahu kau akan melakukan itu,” katanya. “Kau manusia yang keras kepala. Gunakan pedangmu, jangan hati nuranimu.”

Daniel menelan ludah, menatap katana yang kini terasa lebih dari sekadar senjata. Ia melangkah maju, menebas bayangan iblis yang mulai turun dari atap runtuh. Percikan darah hitam menghujani reruntuhan, namun setiap tebasan membuat jalan terbuka sedikit demi sedikit.

Konsekuensi Pertarungan

Pertarungan itu tidak singkat. Bayangan iblis semakin banyak, menyesuaikan pola. Daniel kelelahan, kakinya gemetar, namun setiap gerakan tetap presisi—tidak sempurna, tapi cukup untuk bertahan. Segel pertama memompa stabilitas, mengurangi rasa sakit, namun tidak memberinya kekuatan ekstra.

Di satu titik, ia terpaksa melompat dari atap runtuh, pedang diarahkan ke iblis yang mencoba mengejar warga sipil yang tersisa. Ia berhasil menyelamatkan satu keluarga—tetapi bagian lain dari reruntuhan jatuh, menutup jalannya.

Napaknya tersengal. Ia menatap Raven yang membantu menarik puing berat. “Kita harus pergi,” kata Raven. “Ini belum berakhir, tapi kita… berhasil bertahan.”

Daniel menunduk, matanya menatap pedang. Ia menyadari sesuatu yang lebih berat daripada setiap pertarungan sebelumnya: hidup dan mati bukan soal kekuatan, tapi pilihan yang kau buat di saat kritis.

Akhir Misi dan Refleksi

Setelah evakuasi selesai, mereka kembali ke pos. Kota barat masih penuh reruntuhan, tetapi warga sipil yang selamat telah dikumpulkan. Daniel duduk di tanah, katana di pangkuannya. Segel pertama berdenyut pelan, menenangkan tubuhnya yang kelelahan.

Raven berdiri di depannya, suara lembut namun tegas. “Kau berhasil… tapi ini baru permulaan. Iblis mulai belajar, dan mereka tidak akan memberi kita ruang lagi.”

Daniel mengangguk, menatap pedang katana yang kini terasa berat dengan tanggung jawab. Ia menyadari: setiap nyawa yang diselamatkannya, setiap keputusan yang ia buat, adalah ujian yang lebih besar daripada pedang atau kekuatan.

Dan di kejauhan, dari bayangan reruntuhan, sepasang mata merah menyala—menyadari keberadaan manusia yang masih bisa bertahan, manusia yang bisa menjadi simbol harapan atau ancaman bagi rencana Kaisar Iblis.

Volume II, Chapter 3, berakhir dengan satu kesadaran:

Hidup Daniel bukan lagi sekadar bertahan.

Itu adalah pertaruhan terus-menerus antara kemanusiaan dan kehancuran.

Kalau mau, selanjutnya kita bisa:

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!