Kenzo Huang, pria keturunan Jepang&Cina yang terjebak dalam kasus palsu perdagangan barang ilegal, memasuki penjara dengan hati hampa dan sering diintimidasi oleh geng dalam tahanan. Sampai suatu hari, dia diselamatkan oleh Lin Dong – seorang tahanan yang ditangkap karena membela adik perempuannya, Lin Xian Mei. Meski berbeda latar belakang, mereka menjalin persahabatan yang seperti saudara kandung, berbagi cerita tentang keluarga dan harapan masa depan.
Demi membalas kebaikan Lin Dong, Kenzo Huang berjanji untuk mencari jejak dan menjaga adik serta ibu nya.
Dalam perjalanan mencari jejak sang adik Lin Dong, Kenzo Terlibat organisasi dunia bawah Shehua dan menjadikannya pembunuh bayaran yg di kenal dengan sebutan Shadow Of Death
(update setiap hari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB.34 — TAWARAN
Kenzo duduk sendirian di ruang rapat Wangguan yang luas dan sepi, hanya diterangi oleh cahaya lampu gantung di atas meja besar di hadapannya, di mana peta Bai Ma terbuka lebar menutupi hampir seluruh permukaan kayu dengan tiga warna dan tiga wilayah yang terpisah jelas seperti peta perang yang menunggu untuk ditaklukkan.
Di bagian utara tertulis dengan tanda merah tebal sebagai miliknya sendiri dengan sembilan ratus orang yang siap bergerak setiap saat memanggil, kemudian di barat berwarna kuning yang dikuasai Bhu Tao, orang besar dengan otot kekar yang memenuhi dada dan lengan namun memiliki kebiasaan buruk suka terlambat saat rapat penting, lalu di selatan ada warna biru milik Wang Lee yang sudah tua renta tapi tetap licik dan jauh dari kata bodoh dalam memainkan politik kota.
Dan di tengah semua itu, tercoret kan warna hitam pekat yang mewakili Hong Feng sang walikota, monster sejati yang menyamar dalam jas rapi dan senyum palsu, menunggu di kegelapan sambil mengintai setiap gerakan yang terjadi di wilayahnya.
Kenzo menatap peta itu dalam waktu yang lama, matanya bergerak dari satu titik ke titik lain, mencari celah yang bisa dimasuki, mencari pola yang bisa dipecahkan, mencari cara untuk menang sebelum perang besar benar-benar meletus dan menghancurkan semua yang sudah dibangunnya.
Zhao Bowen masuk ke ruangan tanpa mengetuk pintu karena di tempat ini tidak ada yang perlu izin untuk memberi kabar, dia berdiri tegak di samping meja dengan napas sedikit terengah setelah menaiki tiga lantai tangga.
"Ada kabar dari selatan yang perlu Kak Ken dengar," kata Zhao Bowen sambil menunggu perintah untuk melanjutkan.
"Apa yang terjadi di sana?" tanya Kenzo tanpa mengalihkan pandangan dari peta.
"Wang Lee terlihat sangat cemas belakangan ini, dia mengadakan rapat tertutup dengan orang-orang kepercayaannya sampai tiga kali dalam seminggu, padahal biasanya hanya sekali sebulan saja sudah cukup baginya."
Kenzo mengangguk lambat, kepalanya sedikit menunduk sambil memikirkan arti perubahan pola rapat itu, apakah Wang Lee sedang merencanakan sesuatu atau justru sedang ketakutan akan sesuatu.
"Bagaimana dengan Bhu Tao di barat, apakah ada gerakan mencurigakan?"
"Sama sekali diam, tidak ada rapat yang tercatat, tidak ada anak buah yang bergerak keluar dari markas, hanya diam di tempatnya tanpa aktivitas yang bisa kami lacak."
Kenzo bangkit perlahan dari kursinya dan berjalan ke jendela besar di sisi timur, menatap kota Bai Ma yang terbentang di bawah sana dengan gedung-gedung yang mulai padat lampu di sore hari ini, memikirkan langkah selanjutnya yang akan menentukan hidup atau mati banyak orang.
Hong Feng pasti sedang menunggu di kegelapan dengan sabar yang menakutkan, mengintai setiap gerakan yang terjadi di wilayahnya, mencari celah untuk menyerang balik dengan kejam.
Tapi Kenzo tidak akan memberinya celah sedikit pun, dia harus bergerak lebih dulu dari musuhnya, memecah belah mereka sebelum mereka sempat bersatu dan menjadi kekuatan yang tidak bisa dihentikan.
"Siapkan mobil sekarang juga," perintah Kenzo tanpa berbalik dari jendela, suaranya datar tapi tegas seperti batu.
"Mau ke mana Kak?"
"Ke selatan, langsung ke markas Wang Lee, aku harus bicara dengannya sebelum terlambat."
"Sendirian tanpa pengawal?"
"Sendirian, aku tidak butuh orang banyak untuk ini, hanya diriku sendiri yang cukup."
Zhao Bowen ragu sejenak, bibirnya bergetar ingin menolak tapi tidak berani keluarkan suara, dia tahu batasnya sebagai anak buah yang harus taat meski hati kecilnya khawatir setengah mati.
Mobil hitam keluar dari garasi Wangguan di siang hari yang terik, melaju di jalanan Bai Ma yang panas dan ramai dengan aktivitas warga yang tidak tahu apa-apa tentang perang yang akan datang.
Kenzo menyetir sendiri dengan tangan kanan di setir dan tangan kiri di tuas gigi, matanya fokus ke depan tapi pikirannya berkecamuk dengan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi.
Xiu Zhu duduk di kursi penumpang tanpa suara, tubuhnya tegak seperti biasa tapi matanya menatap jalan dengan intensitas yang menunjukkan dia siap untuk apa pun.
Dia ikut tanpa ditanya dan tanpa diundang, hanya muncul di garasi saat mobil akan berangkat dan masuk ke dalam dengan santai seolah-olah sudah dijanjikan.
Kenzo melirik ke arahnya sekali dengan cepat, hanya sekilas, tapi cukup untuk membuat ingatan muncul.
Dia ingat malam tadi dengan jelas, ranjang yang bergetar, keringat yang menetes di kulit, luka di perutnya yang berubah menjadi obat pelupa sementara.
Xiu Zhu sadar sedang dilihat tapi tidak berbalik dan tidak bertanya apa-apa, dia sudah tahu jawabannya dengan pasti bahwa Kenzo mencintai Xian Mei dan bukan dia.
Tapi malam tadi ada dan nyata, tidak bisa dihapus dengan penyesalan maupun penolakan, sudah terjadi dan akan selalu menjadi bagian dari mereka berdua.
"Kau tidak setuju dengan rencana ini?" tanya Kenzo memecah keheningan yang menggantung di dalam mobil.
"Setuju dengan apa?"
"Ke selatan, ke Wang Lee, ke semua ini."
"Aku setuju dengan tujuannya," kata Xiu Zhu dengan suara yang stabil, "tapi aku tidak percaya pada Wang Lee."
"Kenapa kau tidak percaya padanya?"
"Dia licik dalam cara yang berbeda, licik itu tidak sama dengan bodoh karena bodoh bisa diprediksi dengan mudah sedangkan licik selalu punya kartu tersembunyi."
Kenzo tidak menjawab karena dia juga merasakan hal yang sama tentang Wang Lee.
Tapi dia butuh data untuk melawan Hong Feng, butuh celah untuk masuk, butuh menang sebelum perang besar benar-benar dimulai dan menghabisi semua pihak.
Markas Wang Lee terlihat dari kejauhan sebagai gedung tua dengan tiga lantai yang sudah usang, bau rokok tebal dan ketakutan yang lebih tebal lagi menyelimuti setiap sudutnya.
Wang Lee sudah menunggu di kursi besarnya yang terbuat dari kayu jati usang tapi masih kuat menahan beban tubuhnya yang juga sama usang nya.
Seperti kursinya, Wang Lee tua dan usang tapi masih kuat bertahan di dunia yang kejam ini.
Kenzo masuk sendirian tanpa membawa senjata apapun dan tanpa anak buah yang mengikuti, hanya dirinya dengan keyakinan bahwa keberanian adalah senjatanya sekarang.
Xiu Zhu tetap di luar, berdiri di pintu seperti patung penjaga yang siap mengamuk jika ada sesuatu yang salah.
Wang Lee melihat Xiu Zhu dengan mata yang tajam, memperhatikan cara dia berdiri tegak dan cara dia melihat sekeliling dengan waspada.
Militan dan terlatih dengan sempurna, bukan pacar yang manja dan bukan sekretaris yang lemah, Wang Lee mengerti sesuatu tapi memilih untuk tidak bicara dulu.
"Kenzo," kata Wang Lee dengan suara yang bukan sambutan hangat dan bukan ancaman terbuka, hanya nama yang diucapkan datar.
"Wang Lee," balas Kenzo dengan sama datarnya, tidak ada perbedaan nada yang bisa dibaca.
Tidak ada basa-basi yang membuang waktu, tidak ada teh yang ditawarkan, tidak ada sikap sopan yang dipaksakan, hanya dua predator yang saling mengukur.
Kenzo langsung ke intinya seperti pukulan yang tidak diduga.
"Kerja sama atau musnah, pilihan ada di tanganmu sekarang."
Wang Lee tertawa pendek dan kering seperti daun gugur yang diinjak, suaranya tidak mengandung humor tapi juga tidak menunjukkan kemarahan.
"Kau datang sendirian ke markasku, itu berani atau bodoh menurutmu?"
"Berani dan bodoh, kedua-duanya benar dalam situasi ini."
Wang Lee berdiri dari kursinya dengan lambat, tulang-tulangnya berbunyi krek krek saat meregang setelah duduk terlalu lama.
Dia berjalan ke jendela dan melihat Xiu Zhu yang masih berdiri tegak di luar dengan posisi siaga.
"The Eagle," kata Wang Lee dengan keyakinan, bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban.
Kenzo tidak kaget karena Wang Lee memang tua tapi tidak buta, pengalaman mengajarinya membaca orang dengan cepat.
"Ya, dia memang The Eagle."
"Dia milik pemerintah dan kau milik bayangan, aneh rasanya melihat kalian berdua bersama."
"Tidak lebih aneh dari walikota yang menjual manusia seperti barang."
Wang Lee berbalik dengan cepat dan senyumnya hilang seketika, digantikan oleh kilatan marah yang tersembunyi.
"Kau datang untuk kerja sama atau untuk menghina integritas ku?"
"Kerja sama, tapi aku tidak akan berbohong tentang apa yang kau lakukan, Hong Feng menjual manusia dan kau tahu itu, aku tahu itu, semua orang tahu itu, hanya saja tidak ada yang berani membuka mulut."
...$ BERSAMBUNG $...