NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Penguasa Langit

Reinkarnasi Penguasa Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Fantasi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Ranu Wara lahir di tengah kemiskinan Kerajaan Durja sebagai reinkarnasi Dewa Tertinggi, ditandai dengan mata putih perak dan tanda lahir rasi bintang di punggungnya. Sejak bayi, ia telah menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memukul mundur gerombolan bandit kejam hanya melalui tekanan aura.

Menginjak usia tujuh tahun, Ranu mulai menyadari jati dirinya dan menggunakan kekuatan batinnya untuk melindungi orang tuanya dari penindasan pendekar asing. Pertemuannya dengan Ki Sastro, seorang pendekar tua misterius, mengungkap nubuat bahwa Kerajaan Durja berada di ambang kehancuran akibat konspirasi racun dan ancaman invasi. Kini, Ranu harus memilih: tetap hidup tenang sebagai anak saudagar miskin atau bangkit memimpin perjuangan demi melindungi keluarga dan tanah kelahirannya dari lautan api peperangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Ujian Sang Naga Langit dan Rahasia Tinta Kehidupan

Udara di lereng Puncak Meru tidak lagi berbau sihir busuk seperti di Hutan Maladewa, melainkan tercium aroma dupa purba dan kesunyian yang menekan.

Setiap langkah kaki Ranu, Nara, dan Lingga bergema di antara ribuan patung manusia yang membeku dengan ekspresi wajah yang beragam, ada yang ketakutan, ada yang penuh ambisi, dan ada yang tampak sedang memohon ampun.

Mereka bukan sekadar batu; mereka adalah para pahlawan dan jenius dari berbagai era yang gagal membuktikan kelayakan mereka di hadapan Sang Naga Langit.

"Den Ranu, kenapa mereka semua jadi pajangan taman begini?" bisik Sastro sambil merapatkan jaket bulunya. "Hamba merasa jika hamba bersin terlalu keras, hamba juga bakal jadi patung penjaga di sini."

Ranu berhenti sejenak, matanya menatap sebuah patung pendekar yang memegang pedang besar.

"Mereka tidak diubah menjadi batu oleh kekuatan sihir, Sastro. Mereka membeku karena jiwa mereka tidak mampu menahan beratnya kebenaran yang ditunjukkan oleh Sang Naga. Di gunung ini, jika hatimu memiliki satu saja retakan kebohongan, tubuhmu akan mengikuti jejak jiwamu yang membatu."

Langkah mereka terhenti saat jalan setapak itu berakhir di sebuah pelataran luas yang menggantung di atas awan.

Di tengah pelataran tersebut, melingkar seekor makhluk raksasa dengan sisik berwarna putih mutiara yang memancarkan cahaya keemasan.

Kepalanya yang agung memiliki tanduk seperti cabang pohon cemara perak, dan matanya adalah dua bola kristal yang menampung seluruh pengetahuan jagat raya.

Inilah Naga Langit, sang penjaga hukum purba sekaligus mantan guru Ranu di masa keemasan Sembilan Langit.

"Wira Candra," suara Sang Naga tidak keluar dari mulutnya, melainkan bergema langsung di dalam sumsum tulang mereka. "Kau kembali ke puncak ini dengan tubuh fana yang lemah dan teman-teman yang penuh dengan noda bumi. Apakah kau datang untuk menambah koleksi patung di lereng gunungku?"

Ranu melangkah maju sendirian, meninggalkan tongkat bambu kuningnya di dekat Sastro. Ia bersujud dengan hormat yang tulus, sebuah pemandangan yang jarang terlihat dari sosok Ranu yang biasanya selengean.

"Hamba datang bukan sebagai Wira Candra sang penguasa, Guru. Hamba datang sebagai Ranu, seorang manusia yang ingin meminta setetes Tinta Kehidupan untuk memadamkan api kehampaan yang sedang membakar dunia."

Sang Naga perlahan membuka lingkaran tubuhnya, menciptakan getaran yang membuat awan di bawah mereka tersibak.

"Tinta Kehidupan bukan sekadar cairan, Ranu. Ia adalah darah dari keteraturan itu sendiri. Untuk mendapatkannya, kau harus membuktikan bahwa dunia yang ingin kau selamatkan itu memang layak untuk dipertahankan. Manusia adalah makhluk yang penuh dengan pengkhianatan, keserakahan, dan kehancuran. Kenapa aku harus memboroskan esensi alam semesta untuk spesies yang terus-menerus merusak rumah mereka sendiri?"

Ranu mendongak, matanya bertemu dengan mata raksasa sang guru.

"Manusia memang melakukan banyak kesalahan, Guru. Mereka serakah, mereka berperang, dan mereka seringkali bodoh. Tapi di tengah semua kegelapan itu, mereka memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh dewa maupun naga: kemampuan untuk berubah dan berkorban demi sesuatu yang bukan milik mereka. Prabu Siliwastu memberikan jiwanya untuk bumi, dan teman-temanku ini mempertaruhkan nyawa mereka untuk pemuda pengangguran seperti aku. Bukankah itu sebuah keajaiban?"

Sang Naga Langit mendengus, menciptakan embusan angin yang hampir melempar Sastro ke jurang.

"Kata-kata adalah angin. Mari kita lihat kenyataannya. Aku akan memberikan satu ujian. Di depanmu ada tiga cawan kosong. Tinta Kehidupan akan muncul hanya jika kau bisa mengisi cawan-cawan itu dengan tiga hal: Air Mata Penyesalan Sejati, Darah Keberanian Tanpa Pamrih, dan Debu Harapan yang Tak Terpatahkan."

Sang Naga menatap ke arah Lingga dan Nara.

"Ujian ini bukan untukmu, Wira Candra. Ujian ini untuk mereka. Jika mereka gagal, kalian bertiga akan menjadi patung permanen di puncak ini."

Lingga melangkah maju tanpa ragu, tangannya menggenggam pedang Candra Kirana.

"Aku akan memberikan Darah Keberanian itu. Aku telah bersumpah untuk melindungi dunia ini, bukan karena aku seorang pangeran, tapi karena aku ingin melihat senyum rakyatku kembali."

Lingga menggores telapak tangannya sendiri. Namun, darah yang menetes ke cawan bukan berwarna merah, melainkan cahaya perak yang jernih. Begitu darah itu menyentuh dasar cawan, ia berubah menjadi api yang tidak panas, melambangkan tekad yang murni.

Nara kemudian maju, ia menatap Sang Naga dengan pandangan yang dalam.

"Aku membawa Air Mata Penyesalan. Bukan hanya untuk kesalahanku, tapi untuk sukuku yang selama ini hanya bersembunyi dalam keheningan saat dunia menderita. Kami adalah penjaga yang tertidur, dan aku menyesali setiap detik yang kami lewatkan tanpa bertindak."

Air mata Nara jatuh ke cawan kedua, dan seketika air itu berubah menjadi mutiara-mutiara kecil yang berkilau.

Kini tinggal cawan terakhir: Debu Harapan. Ketiganya terdiam. Bagaimana cara mendapatkan debu dari sesuatu yang abstrak seperti harapan?

Sastro, yang sejak tadi gemetar di belakang, tiba-tiba merogoh sakunya. Ia mengeluarkan sebuah kantong kecil yang berisi remah-remah nasi jagung yang sudah kering dan hancur.

"Mungkin ini yang dicari?" ucap Sastro ragu-ragu. "Ini adalah bekal terakhir dari Nyai Sumi untuk Den Ranu. Beliau bilang, selama masih ada nasi di piring, masih ada hari esok untuk berjuang. Bagi hamba, harapan itu bentuknya bukan cahaya muluk-muluk, tapi perut yang kenyang dan keluarga yang berkumpul di meja makan."

Sastro menaburkan remah-remah nasi itu ke cawan ketiga. Tiba-tiba, cawan itu bersinar dengan warna emas yang paling hangat yang pernah mereka lihat. Remah-remah itu berubah menjadi serbuk bintang yang beterbangan, menyelimuti seluruh pelataran.

Sang Naga Langit tertegun. Ia menatap Sastro, seorang manusia yang paling tidak memiliki kekuatan sihir di antara mereka, namun memiliki pemahaman yang paling mendalam tentang kehidupan.

"Nasi jagung..." gumam Sang Naga. "Dewa-dewa di langit bertarung demi kekekalan, sementara manusia bertarung demi sebungkus nasi. Mungkin... memang ada harapan di sana."

Sang Naga mengangkat cakarnya, dan dari udara kosong, muncul sebuah botol kristal kecil berisi cairan hitam pekat yang berpendar dengan jutaan warna di dalamnya. Itulah Tinta Kehidupan.

"Ambillah, Ranu. Kau telah memenangkan ujian ini, bukan dengan kekuatan dewa, tapi dengan kerendahan hati teman-temanmu. Tinta ini akan memusnahkan Nadir, namun ingatlah: Tinta ini hanya bekerja jika dituliskan oleh tangan seseorang yang siap memikul seluruh penderitaan dunia."

Ranu menerima botol itu dengan tangan gemetar.

"Terima kasih, Guru. Hamba akan memikulnya."

Namun, saat Ranu hendak berbalik, Puncak Meru tiba-tiba berguncang hebat. Dari langit barat yang seharusnya bersih, muncul sebuah bayangan raksasa berbentuk burung gagak dengan satu mata merah yang besar. Suara Nadir kembali bergema, namun kali ini lebih kuat.

"Kau pikir aku akan membiarkanmu mengambil tinta itu begitu saja, Wira Candra? Segel bambumu di Galuh Pakuan sudah retak lebih cepat dari perkiraanmu!"

Burung gagak itu menukik tajam, membawa ribuan Manusia Kerak yang terbang dengan sayap hitam. Naga Langit meraung, bersiap untuk pertempuran besar.

"Pergilah, Ranu! Turun dari gunung ini sekarang! Aku akan menahan mereka di sini!" perintah Sang Naga.

"Tapi Guru—"

"Tidak ada tapi! Jika tinta itu hancur di sini, semua pengorbanan ini sia-sia! Lari ke arah Danau Kedamaian, di sana kau harus menuliskan segel akhirnya!"

Ranu menatap gurunya untuk terakhir kalinya, lalu memberi isyarat pada Lingga, Nara, dan Sastro untuk segera berlari menuruni lereng gunung di sisi yang lain. Saat mereka meluncur turun, mereka bisa mendengar dentuman dahsyat di puncak, di mana naga dan kehampaan sedang beradu kekuatan.

......................

1
JUNG KARYA
bantu supportnya kak 🙏
JUNG KARYA
Komentarnya dong kak, juga satu like kalian sangat berarti untuk semangat author ini lho, apalagi kalau mau beri rating di novel ini 😁...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!