"Sentuhan kakak-kakakku adalah napasku, tapi sentuhannya... adalah hidupku."
Shine terlahir dengan mata yang bisa melihat melampaui waktu. Namun, setiap penglihatan tentang masa lalu yang kelam dan masa depan yang berdarah menuntut bayaran mahal: energi hidupnya. Ia rapuh, tersiksa, dan bergantung pada pelukan dua kakak laki-lakinya yang posesif, Jin dan Suga.
Hingga ia melangkah masuk ke restoran Euphoria.
Jeon Jungkook adalah koki jenius yang selalu memimpikan gadis yang sama selama bertahun-tahun. Saat mereka bersentuhan, Shine menyadari satu hal: Jungkook bukan sekadar manusia, dia adalah 'baterai' abadi yang bisa memulihkan kekuatannya secara instan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Sweet Posessiveness
Pagi itu, paviliun keluarga Kim tidak lagi terasa dingin. Sejak Jungkook resmi memindahkan beberapa koper dan peralatan pisaunya ke sana, udara di rumah itu seolah berubah. Ada aroma roti panggang yang manis, kopi yang baru digiling, dan satu hal yang paling terasa: ketegangan yang memicu adrenalin di antara para pria penghuninya.
Sesuai dengan kesepakatan medis yang dipaksakan Suga, Jungkook kini memiliki akses eksklusif untuk melayani kebutuhan gizi Shine. Namun, Jungkook mengartikan kata "melayani" dengan standar yang jauh lebih intim daripada yang dibayangkan Jin.
Di ruang makan pagi yang bermandikan cahaya matahari, Shine duduk di kursi kebesarannya. Di hadapannya, bukan piring porselen dingin yang menunggu, melainkan Jungkook yang berdiri dengan celemek hitam, memegang sebuah mangkuk porselen kecil berisi soufflé omelet yang sangat lembut.
"Ini masih panas, pelan-pelan," bisik Jungkook. Suaranya rendah, hanya ditujukan untuk telinga Shine.
Jungkook tidak meletakkan mangkuk itu di meja. Ia justru menarik kursi kecil dan duduk tepat di samping Shine. Tangannya yang besar, yang dihiasi tato-tato estetik itu, dengan sangat telaten menyendok potongan kecil omelet. Ia meniupnya sebentar dengan bibir yang mengerucut—sebuah pemandangan yang membuat jantung Shine berdegup tidak keruan—lalu mengarahkannya ke depan mulut Shine.
"Buka mulutmu, Shine," pintanya lembut.
Shine melirik ke arah ujung meja. Di sana, Jin sedang duduk dengan iPad di tangannya, namun matanya sama sekali tidak membaca grafik saham. Mata Jin melotot tajam, menatap sendok yang perlahan masuk ke mulut adiknya.
"Jungkook," suara Jin menginterupsi, berat dan penuh penekanan. "Shine punya tangan yang berfungsi sempurna. Dia bisa makan sendiri."
Jungkook menoleh sedikit, memberikan senyum tipis yang tampak sopan tapi sebenarnya sangat provokatif. "Tangan Nona Shine mungkin berfungsi, Tuan Jin, tapi energinya masih fluktuatif pagi ini. Saya hanya memastikan dia tidak membuang sisa energinya hanya untuk memegang sendok yang berat. Benar kan, Dokter Suga?"
Suga, yang duduk di seberang mereka sambil mengunyah roti lapisnya dengan malas, hanya bergumam tidak jelas. Sebagai dokter, ia tahu kontak fisik sedekat itu membantu stabilisasi energi Shine, tapi sebagai kakak, ia ingin sekali melemparkan pisau rotinya ke arah Jungkook.
Shine menelan omelet itu. Rasanya luar biasa enak, tapi rasa hangat yang menjalar di pipinya jauh lebih mendominasi. "Enak sekali, Jungkook. Terima kasih."
"Sama-sama," jawab Jungkook. Tiba-tiba, jempol Jungkook bergerak maju. Tanpa peringatan, ia menyentuh sudut bibir Shine, mengusap sedikit noda saus yang tertinggal di sana dengan sangat perlahan. Gerakannya sangat intim, seolah dunia hanya milik mereka berdua.
Brak!
Jin meletakkan cangkir kopinya ke atas meja dengan bantingan yang cukup keras. "Oke, cukup! Namjoon, berikan aku tisu. Dan kau, Koki Jeon, ada tisu di atas meja. Gunakan benda itu, bukan tanganmu!"
"Tangan saya lebih bersih dan lebih hangat, Tuan Jin," balas Jungkook tenang, tanpa melepaskan tatapannya dari mata Shine. "Tisu hanya akan membuat bibir Nona Shine kering."
V, yang baru saja masuk ke ruang makan dengan piyama sutra mahalnya, langsung tertawa melihat pemandangan itu. "Wah, wah. Sepertinya aku melewatkan pertunjukan drama pagi. Hyung, wajahmu sudah merah seperti kepiting rebus. Hati-hati, tekanan darahmu bisa naik."
"Diam kau, Taehyung!" bentak Jin. Ia berdiri, berjalan mendekati Jungkook. Ia berdiri di belakang kursi Shine, seolah ingin menegaskan wilayah kekuasaannya. "Dengar, Jeon Jungkook. Aku mengizinkanmu di sini karena Suga bilang kau 'obat' bagi Shine. Tapi bukan berarti kau bisa bertindak seenaknya seperti ini."
Jungkook ikut berdiri. Meski ia lebih muda, tinggi badannya dan aura yang ia pancarkan tidak kalah kuat dari sang CEO. "Saya tidak bertindak seenaknya. Saya melakukan apa yang perlu dilakukan untuk 'pasien' saya. Bukankah Anda ingin Shine cepat pulih?"
"Aku ingin dia pulih, bukan ingin dia jatuh cinta padamu!" Jin melepaskan kata-kata itu tanpa sadar.
Suasana ruang makan mendadak hening. Shine menunduk dalam-dalam, mencoba menyembunyikan wajahnya yang merah padam. V bersiul nakal, sementara Suga hanya memutar bola matanya.
Jungkook tidak membantah. Ia justru mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Jin, lalu berbisik pelan namun cukup jelas untuk didengar semua orang. "Jika dia jatuh cinta pada saya, bukankah itu berarti energinya akan selalu penuh selamanya? Tidakkah itu tujuan akhir Anda?"
Jin tertegun. Ia kehilangan kata-kata. Logika bisnisnya selalu mengatakan bahwa hasil akhir adalah yang terpenting, tapi hatinya sebagai seorang kakak yang mengidap sister complex menolak mentah-mentah ide itu.
"Keluar," ucap Jin lirih namun tajam. "Bawa piring-piring ini kembali ke dapur. Sekarang!"
Jungkook mengangguk dengan tenang. Sebelum ia pergi, ia membungkuk sedikit di depan Shine, membisikkan sesuatu yang membuat Shine gemetar. "Aku akan membuatkanmu cokelat panas di paviliun nanti. Datanglah jika kau sudah merasa bosan dengan omelan kakakmu."
Begitu Jungkook menghilang di balik pintu dapur, Jin langsung berbalik pada Shine. "Jangan dengarkan dia, Shine! Dia itu... dia itu rubah bertato! Dia hanya ingin merayumu!"
"Tapi cokelat panasnya enak, Kak," gumam Shine pelan.
"Shine!" teriak Jin frustrasi. Ia menoleh pada Suga dan V. "Kenapa kalian diam saja?! Bantu aku mengusir pengaruh pria itu!"
V menggedikkan bahu. "Aku sih setuju saja selama musikku masih didengar. Lagipula, Jungkook itu tampan. Kalau aku jadi perempuan, aku juga mungkin akan jatuh cinta padanya."
Suga berdiri, membereskan alat makannya. "Biarkan saja, Hyung. Secara medis, hormon kebahagiaan Shine sedang berada di puncaknya. Dan sayangnya, penyebabnya adalah pria itu. Kita hanya perlu mengawasinya agar dia tidak melangkah terlalu jauh."
Jin terduduk kembali di kursinya, merasa dunianya sedang dijajah oleh seorang koki. Ia tidak menyadari bahwa di dapur, Jungkook sedang tersenyum puas sambil mencuci piring. Sifat posesifnya baru saja bangun, dan ia sama sekali tidak berencana untuk kalah dari kakak-kakak Kim yang menyebalkan itu.
Bagi Jungkook, Shine bukan sekadar Oracle yang butuh energi. Shine adalah gadis yang menghuni mimpinya selama bertahun-tahun, dan sekarang ia sudah menemukannya, ia akan memastikan tidak ada satu orang pun—bahkan kakaknya sendiri—yang bisa menghalangi jalannya.
Malam itu, Shine benar-benar datang ke paviliun. Bukan karena ia lapar, tapi karena tarikan energi itu terlalu kuat untuk ditahan. Dan di sana, di bawah lampu remang-remang dapur paviliun, Jungkook menyambutnya bukan dengan cokelat panas, melainkan dengan pelukan hangat yang membuat Shine merasa bahwa dunia luar yang kejam bukan lagi masalah besar.
"Kau datang," bisik Jungkook, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Shine. "Aku merindukanmu, meskipun kita baru bertemu tiga jam yang lalu."
Shine membalas pelukan itu, menyerap setiap tetes energi matahari dari Jungkook. "Aku juga, Jungkook. Aku juga."
...****************...