SMA Harapan Bangsa—tempat di mana kemewahan dan status sosial menjadi ukuran utama. Di tengah keramaian siswa-siswi yang terlihat megah, Romi Arya Wisesa selalu jadi pusat perhatian yang tidak diinginkan: berpakaian lusuh, tas dan sepatu robek, tubuh kurus karena kurang makan. Semua menyebutnya "Bauk Kwetek" dan mengira dia anak keluarga miskin yang hanya diurus oleh orang tua sambung. Tak seorangpun tahu bahkan Romi pun tidak mengetahui bahwa di balik penampilan itu, Romi adalah cicit dari dua konglomerat paling berpengaruh di negeri ini—Pak Wisesa raja pertambangan, dan Pak Dirgantara yang menguasai sektor jasa mulai dari rumah sakit, sekolah, mall hingga dealer kendaraan.
Perjalanan hidup Romi sudah ditempa dari Kecil hingga Remaja pelajar SMA.
Dari mulai membantu Emaaknya berjualan Sayuran, Ikan, udan dan Cumi, sampai menjadi kuli panggul sayur dan berjualan Bakso Cuanki.
Ditambah lagi dengan konflik perseteruannya dengan teman perempuan di sekolahnya yang bernama Yuliana Dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ottoy Lembayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Romi Sekolah Di SMA Harapan Bangsa Part 2
"Hahahahaha... Hahahahaha! Lucu banget loe, Romi! Ternyata loe memang kenal dengan Bapak Arya Wisesa kan? Jadi kamu berpikir kalau menambahkan nama loe dibelakangnya menjadi Romi ARYA WISESA, kita akan takut dan tidak berani menyentuh loe? Coba lihat dirimu sendiri! Pakaian lusuh, tas sobek, dan sepatu yang sudah aus—mana mungkin kamu punya hubungan dengan keluarga terkaya di provinsi ini?" ucap Bowo sambil tertawa terbahak-bahak, membuat Yoga juga ikut tertawa dengan suara keras.
"Basiiii udah basiiii! Udah nggak lucu lagi deh! Jangan buat alasan bodoh seperti itu lagi ya!" kata Bowo dengan nada serius kembali, wajahnya sudah mulai menunjukkan ekspresi kebencian yang lebih dalam.
"Sekarang loe jawab dua pertanyaan penting dari gue! Pertama, kenapa loe berpakaian jelek, lusuh, dan warna kusam seperti orang yang tidak punya uang buat beli baju baru? Padahal aturan sekolah menyatakan bahwa seragam harus selalu bersih dan terawat dengan baik! Kedua, kenapa loe tidak pakai parfum atau deodoran yang sesuai standar sekolah dan malah bau kwetek amat?" tanya Bowo dengan suara menggertak, hidungnya mencium udara seperti sedang merasa jijik dengan aroma yang keluar dari tubuh Romi. "Ayooo jawab sekarang juga! Seharusnya dari rumah aja loe sudah menggunakan deodoran yang bagus, lalu semprot parfum mahal di badan loe agar tidak mengganggu orang lain!"
Romi merasa sedikit malu dan wajahnya memerah karena pertanyaan yang menyakitkan itu. Dia mengerutkan kening dan mencoba menjawab dengan jujur. "Ka... ka... karena aku tidak punya uang untuk membeli parfum atau deodoran mahal, Kak. Aku hanya bisa menggunakan sabun mandi biasa yang dibeli emaakku di pasar, dan terkadang karena aku harus membantu emaakku bekerja pagi sebelum sekolah, lalu berjalan kaki dari rumah ke sekolah dan tidak punya waktu untuk merapikan diri dengan baik," jawab Romi dengan suara terbata-bata, matanya mulai berkaca-kaca tapi dia berusaha tidak menangis.
"Hahahahaha... Hahahahaha! Dasar anak orang miskin! Pantes aja badan loe bau seperti itu! Kalau begitu, kita seharusnya plonco loe biar gosong dan tidak mengganggu orang lain di sekolah ini!" teriak Bowo dan Yoga bersama-sama sambil tertawa mengejek dengan suara keras. Beberapa siswa lain yang melihat juga ikut tertawa, membuat Romi merasa semakin malu dan tersisih. "Berarti loe sudah jelas melanggar aturan dan tata tertib sekolah ini! Kamu tidak layak bersekolah di sini!"
Bowo dan Yoga sudah sangat kesal terhadap Romi dan mulai menunjukkan niat yang tidak baik. Kedua tangan mereka mengepal erat, dan wajah mereka menunjukkan ekspresi marah yang siap melakukan kekerasan. "Baiklah Romi, ingat ya! Nanti setelah selesai belajar jam tiga sore, loe langsung temui kita di gedung kesenian yang berada di belakang ujung sebelah barat sekolah! Jangan sampai lupa atau datang terlambat! Kalau sampai lupa atau tidak datang, loe bakalan nyesel abis seumur hidup loe!" ucap Yoga dengan suara yang rendah namun mengerikan, sambil menggerakkan tangannya dekat lehernya sendiri seolah-olah sedang mengiris leher dengan pisau.
"Baiklah Kak, nanti setelah pulang sekolah aku akan datang ke gedung kesenian seperti yang Kakak katakan," jawab Romi dengan hati yang penuh kekhawatiran. Dia tidak punya pilihan lain selain mematuhi agar tidak membuat mereka semakin marah. Setelah itu, Bowo dan Yoga berjalan pergi dengan langkah yang gagah-gagahan, meninggalkan Romi yang berdiri sendirian di tengah halaman sekolah dengan wajah pucat dan badan yang sedikit menggigil.
Setelah kejadian itu, Romi segera berjalan menuju kelas 10A karena khawatir terlambat mengikuti pelajaran pertama. Dia berjalan cepat melewati lorong-lorong sekolah yang bersih dan luas, tanpa melihat kiri-kanan karena sedang terburu-buru. Tak sengaja, dia menabrak seseorang yang sedang duduk di kursi yang ditempatkan di depan kelas sambil sedang membaca buku.
"Permisi dong, loe anak gembel! Jangan jalan slonong-slonong aja kayak gedebong pisang yang jatuh dari pohon! Jalan aja harus pake permisi dulu—ini sekolah bukan kampungmu yang bisa jalan semaunya!" tanya seorang siswa laki-laki dengan rambut rapi yang disisir ke belakang dan mengenakan jam tangan merek terkenal di pergelangannya. Dia adalah Devan, salah satu siswa populer di kelas 10A karena ayahnya adalah pengusaha sukses di bidang konstruksi.
Romi segera berhenti dan membungkuk sebagai tanda maaf. "Maaf ya Kak, aku benar-benar tidak sengaja. Aku lagi terburu-buru mau mencari bangku duduk karena takut terlambat pelajaran," ucap Romi dengan penuh sopan, tangannya masih memegang tali tasnya yang kusam. "Nama aku Romi, Kak. Senang bertemu denganmu."
"Bomat lah!" ucap Devan dengan cuek, tidak mau melihat wajah Romi sama sekali. Dia masih fokus membaca bukunya seperti tidak ada orang lain di sekitarnya.
"Apa tuh 'Bomat', Kak? Aku tidak mengerti maksudnya," tanya Romi dengan wajah penuh kebingungan. Dia memang tidak tahu bahasa gaul yang digunakan oleh siswa sekolah elit seperti ini.
"Bodo amat! Begitu aja artinya! Loe gak tahu ya? Payah banget emang anak miskin selalu tidak tahu apa-apa tentang dunia yang sebenarnya!" ujar Devan dengan sinis, lalu dia bangkit dari tempat duduknya dan pergi ke bangku di pojok kelas yang terletak dekat jendela. Dia duduk di sana dan mulai menaruh buku-bukunya di atas meja dengan rapi.
Tak lama kemudian, seorang wanita cantik dengan kulit putih bersih dan wajah yang sangat menarik menghampiri mereka. Rambut panjangnya yang berwarna hitam kecoklatan diikat dengan gaya ikal mayang yang cantik, dan baunya yang wangi harum dari parfum merek terkenal segera memenuhi udara di sekitarnya. Dia adalah Shanti, teman dekat Devan sejak masa SMP yang sama-sama berasal dari keluarga kaya. "Hallo Devan, apa kabarmu hari ini? Kenapa kamu duduk sendirian di sini?" tanya Shanti dengan suara lembut dan manis, tapi wajahnya langsung berubah menjadi jijik saat melihat Romi yang masih berdiri di depan kelas.
"Sangat menyebalkan hari ini! Ada orang yang tidak pantas berada di sekolah ini dan membuat suasana menjadi tidak nyaman!" jawab Devan dengan nada menyengat, matanya tidak mau melihat ke arah Romi. Shanti segera mengejar ...Devan dan duduk di bangku sebelahnya yang sudah disiapkan khusus untuknya.
"Emang ada apa sih kamu? Kamu biasanya ceria banget di hari pertama sekolah. Ada masalah dengan keluarga kamu? Atau mungkin dengan papahmu yang baru saja pulang dari luar negeri? Atau mungkin kamu sedang tidak baik-baik saja dengan mamahmu yang baru saja membeli mobil baru?" tanya Shanti dengan penuh perhatian, kedua bola matanya yang besar dan cantik menatap bibir Devan yang sedang mengerut karena kesal. Mereka sudah berteman sejak kelas 7 SMP dan sangat akrab satu sama lain, sehingga Shanti bisa langsung merasakan jika ada sesuatu yang membuat Devan tidak senang.
"Itu si Romi yang baru saja datang yang bikin gue gak emut sama sekali! Lihat aja penampilannya yang menyebalkan! Pakaian seragamnya lusuh dan warnanya sudah mulai pudar, sepatunya yang sudah aus dan sedikit sobek di bagian tumit, bahkan tasnya yang kusam dan penuh dengan noda kotoran—semuanya bikin gue pengen muntah kalau melihatnya!" ucap Devan dengan nada menyengat, matanya melihat ke arah Romi dengan pandangan yang penuh jijik.
"Pantesan dari tadi gue merasa ada aroma yang tidak sedap di sekitar sini! Heem, ternyata si miskin itu yang jadi biang keroknya!" kata Shanti dengan marah, wajahnya yang tadinya cantik sekarang berubah menjadi kemerah-merahan karena kesal. Dia segera berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Romi dengan langkah yang gagah-gagahan, kedua tangannya menyilang di depan dadanya dan berkacak pinggang seperti seorang ratu yang sedang menghadapi orang yang tidak berhak berada di wilayahnya.
"Woooi kamu yang namanya mahluk planet Mars! Menyingkir loe dari kelas ini sekarang juga! Dirimu tidak pantas bergabung di kelas elit super eksekutif seperti kelas 10A yang hanya untuk anak-anak dari keluarga kaya dan berkualitas! Loe hanya akan merusak nama baik kelas kita dengan penampilan yang jelek dan bau yang menyebalkan itu!" ucap Shanti dengan sangat sombong, suaranya yang tinggi membuat seluruh siswa di kelas mulai memperhatikan mereka.
Romi menatapnya dengan mata penuh kelembutan dan kasih sayang. Dia tidak merasa marah, malah merasa kasihan melihat sikap sombong yang dimiliki oleh Shanti. "Mohon maaf ya Kak, aku tidak bermaksud membuat Kakak atau teman-teman sekelas menjadi tidak nyaman saat dekat denganku. Aku sudah berusaha merapikan diri sebaik mungkin sebelum datang ke sekolah," ucap Romi dengan suara lembut dan sopan, tangannya sedikit gemetar karena merasa tidak nyaman dengan banyak mata yang melihat dan menatapnya.