NovelToon NovelToon
Dinikahi Komandan Galak: Istriku Legenda Forensik

Dinikahi Komandan Galak: Istriku Legenda Forensik

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pelakor jahat / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Duda / Berbaikan
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

Pernikahan Zoya Ravendra dan Kalandra Dirgantara adalah perjodohan mutlak tanpa tanggal kadaluarsa. Bagi Kalandra, Kepala Unit Reskrim yang ditakuti, Zoya hanyalah istri pendiam yang membebani karena selalu mengurung diri di kamar.

​Namun, pandangan itu hancur saat kasus pembunuhan berantai "The Puppeteer" menemui jalan buntu. Zoya tiba-tiba muncul di TKP, menerobos garis polisi dengan tatapan datar dan berkata:

​"Singkirkan tangan kotormu dari leher korban, Komandan. Dia tidak dicekik. Ada residu sianida di kuku jari manisnya dan lebam mayat ini dimanipulasi."


​Hanya dalam lima menit, Zoya memecahkan teka-teki itu. Kalandra terlambat menyadari bahwa istri yang ia abaikan ternyata adalah "The Scalpel," legenda forensik dunia. Kini, Kalandra tidak hanya harus memburu pembunuh, tapi juga mengejar cinta istrinya yang hatinya lebih sulit diotopsi daripada mayat manapun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Lolos dari Maut

​​"Pilihan yang sulit, bukan? Menembak saya dan kita meledak bersama, atau menyerah dan membiarkan saya menyuntik istri cantikmu ini."

​Dr. Hanggara tersenyum lebar, memainkan jarum suntik di tangannya seolah itu adalah baton konduktor orkestra. Cairan bening di dalamnya berkilauan di bawah lampu lorong yang remang-remang. Dia berdiri santai tepat di samping tabung oksigen cair raksasa yang katupnya sudah dia sambungkan dengan pemicu sederhana. Satu guncangan, satu tembakan meleset, dan boom.

​Kalandra merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya. Tangannya yang memegang pistol masih terarah lurus ke dada Hanggara, tapi telunjuknya kaku di pelatuk. Dia tidak bisa mengambil risiko. Ledakan oksigen cair di ruang tertutup akan membakar paru-paru mereka dalam sekejap mata.

​"Lepaskan suntikan itu, Hanggara. Kamu sudah terkepung," gertak Kalandra, suaranya berat, berusaha menutupi sisa kepanikan akibat serangan claustrophobia di lift tadi.

​"Terkepung? Oleh siapa? Anak buahmu yang lamban itu?" Hanggara tertawa mengejek. Dia melangkah maju satu langkah. "Saya tahu setiap inci lorong ini, Komandan. Saya tahu ventilasi mana yang busuk, pintu mana yang macet, dan CCTV mana yang buta. Kalian yang terperangkap di sini bersama saya."

​Zoya, yang berdiri di belakang Kalandra, mencengkram trench coat suaminya erat-erat. Matanya yang tajam menyapu sekeliling, mencari celah. Dia melihat tabung pemadam kebakaran (APAR) berwarna merah yang tergantung di dinding, sekitar dua meter di sebelah kirinya.

​"Mas," bisik Zoya sangat pelan. "Arah jam sembilan."

​Kalandra melirik sekilas, paham kode istrinya. Tapi Hanggara terlalu waspada.

​"Jangan berbisik, Dokter Zoya. Tidak sopan," tegur Hanggara. Tiba-tiba, wajah ramahnya lenyap, digantikan oleh ekspresi predator. "Waktu habis."

​Tanpa peringatan, Hanggara melempar suntikan itu ke arah wajah Kalandra sebagai pengalih perhatian.

​"Awas!" teriak Zoya.

​Kalandra refleks menghindar ke samping. Suntikan itu melesat, menancap di dinding kayu lift di belakang mereka. Cairan beningnya muncrat keluar.

​Hanggara memanfaatkan detik itu. Dia tidak lari, dia justru menerjang maju. Bukan dengan tangan kosong, tapi dengan kilatan perak di tangan kirinya. Pisau bedah.

​"Kalan!" Zoya menjerit.

​Kalandra tidak sempat menembak karena jarak mereka sudah terlalu dekat—dan risiko tabung oksigen itu masih ada. Dia menjatuhkan pistolnya dan menangkis serangan Hanggara dengan lengan kirinya.

​Sreet!

​Pisau bedah yang sangat tajam itu merobek lengan kemeja Kalandra, menggores kulitnya.

​"Gerakanmu lambat, Komandan. Ototmu kaku karena panik," ejek Hanggara. Dia bergerak lincah, menari di sekitar Kalandra seperti penari balet maut. Hanggara bukan petarung jalanan, dia petarung anatomi. Dia tidak memukul sembarangan, dia mengincar arteri.

​Kalandra mengerang, melayangkan tinju kanannya ke rahang Hanggara.

​Bugh!

​Pukulan itu telak, membuat Hanggara terhuyung mundur. Darah segar mengalir dari sudut bibir sang dokter psikopat. Tapi Hanggara justru tertawa, meludahkan darah ke lantai.

​"Pukulan yang bagus. Tapi kurang mematikan." Hanggara kembali menyerang, kali ini mengincar leher Kalandra dengan pisau bedahnya.

​Kalandra menangkap pergelangan tangan Hanggara. Mereka bergulat. Tenaga Kalandra jauh lebih besar, tapi Hanggara licin dan tahu titik lemah. Jempol Hanggara menekan titik saraf di pangkal lengan Kalandra.

​"Argh!" Kalandra refleks melemaskan cengkramannya karena nyeri hebat yang menyengat sarafnya.

​Hanggara memutar pisau bedahnya, siap menyayat arteri brachialis di lengan dalam Kalandra.

​"Mati kau," desis Hanggara.

​Zoya tidak tinggal diam. Dia bukan petarung, dia tidak bisa karate atau judo. Tapi dia tahu fisika. Massa kali percepatan sama dengan gaya.

​Zoya menyambar tabung pemadam kebakaran seberat lima kilogram dari dinding. Dia tidak menarik pinnya. Dia mengangkat tabung besi merah itu tinggi-tinggi dengan kedua tangannya.

​"Jauhkan tanganmu dari suamiku, Bajingan!" teriak Zoya.

​Zoya mengayunkan tabung itu sekuat tenaga.

​GONG!

​Suara benturan logam bertemu tulang tengkorak terdengar nyaring dan ngilu. Tabung itu menghantam telak bagian belakang kepala Hanggara.

​Mata Hanggara mendelik ke atas. Tubuhnya kaku sejenak, lalu ambruk ke lantai beton seperti karung beras. Pisau bedah terlepas dari genggamannya, berdenting jatuh di dekat kaki Kalandra.

​"Hah... hah..." Zoya menjatuhkan tabung pemadam itu, napasnya memburu. Tangannya gemetar hebat. Dia baru saja memukul orang.

​Kalandra mundur, memegangi lengan kirinya yang terus meneteskan darah. "Zoya... kamu..."

​Namun, Hanggara belum tamat.

​Meskipun darah mengucur deras dari kepalanya, pria itu masih sadar. Adrenalin gila membuatnya merangkak cepat, lalu menendang kaki Kalandra hingga jatuh terduduk.

​Hanggara tidak melanjutkan serangan. Dia tahu dia kalah jumlah sekarang. Dia merogoh saku jas labnya, melempar bom asap kecil ke lantai.

​Poof!

​Asap putih tebal langsung memenuhi lorong sempit itu, membuat mata perih dan pandangan buta total.

​"Sampai jumpa lagi, sayangku!" suara Hanggara terdengar menjauh, diikuti bunyi pintu darurat yang dibanting.

​"Kejar! Dia lari ke tangga darurat!" teriak Kalandra, mencoba bangkit dan menembus asap.

​"Mas, berhenti!" Zoya menarik bahu suaminya kuat-kuat. "Jangan dikejar! Jarak pandang nol. Dia bisa pasang jebakan di tangga. Kita tunggu asap hilang!"

​Kalandra mau membantah, tapi rasa perih di lengannya makin menjadi-jadi. Darah hangat membasahi kemejanya sampai ke ujung jari.

​Semenit kemudian, asap mulai menipis berkat sistem ventilasi lorong yang akhirnya menyala. Raka dan satu peleton tim taktis menyerbu masuk dari arah lift barang, senjata lengkap dan wajah panik.

​"Komandan! Aman?!" Raka berlari menghampiri mereka.

​"Telat, Raka! Dia kabur lewat pintu utara! Blokir semua jalan raya radius dua kilometer!" perintah Kalandra sambil meringis menahan sakit.

​Raka mengangguk, lalu matanya terbelalak melihat lengan Kalandra. "Ndan, tangan Komandan... darahnya banyak banget!"

​Zoya langsung berlutut di samping Kalandra. Wajahnya yang tadi garang saat memukul Hanggara kini pucat ketakutan.

​"Sini aku lihat," Zoya menarik lengan Kalandra, merobek sisa kemeja yang sudah koyak.

​Mata Zoya menyipit menganalisis luka itu. Sayatan sepanjang sepuluh sentimeter, cukup dalam hingga menembus lapisan dermis dan menyenggol otot. Darah merah segar mengucur deras, tapi untungnya tidak menyembur—artinya arteri utama aman.

​"Luka sayat tepi rata. Kedalaman sekitar satu setengah sentimeter. Ini butuh dua puluh jahitan, Mas," diagnosa Zoya cepat. Dia menoleh ke Raka. "Raka, pegang dia. Kita ke IGD rumah sakit sekarang. Dia butuh jahit lapis."

​"Siap, Bu!" Raka hendak berbalik.

​"Tunggu!" bentak Kalandra. "Nggak usah ke IGD."

​Zoya menatap suaminya tak percaya. "Mas gila ya? Ini darahnya nggak berhenti! Mas mau kena infeksi? Pisau itu kotor, Mas!"

​"Aku bilang nggak usah," tolak Kalandra keras kepala. Dia berdiri sempoyongan, menekan lukanya dengan sapu tangan yang sudah merah total. "Kita pulang. Jahit di rumah."

​"Mas!" Zoya ikut berdiri, emosinya meledak. "Ini bukan waktunya sok jagoan! Kita lagi di rumah sakit, IGD cuma lima lantai di atas kita! Kenapa harus pulang?!"

​Kalandra menatap mata Zoya tajam. Ada kilatan paranoid di sana—sisa trauma yang belum hilang.

​"Kamu lihat Suster Mita tadi? Dia Kepala Perawat, Zoya. Dan dia jadi kaki tangan Hanggara," desis Kalandra, suaranya penuh ketidakpercayaan. "Hanggara kerja di sini bertahun-tahun. Dia punya akses ke mana-mana. Siapa yang jamin dokter jaga di IGD bukan temannya? Siapa yang jamin jarum suntik di IGD steril dan nggak diisi racun lagi?"

​Zoya terdiam. Dia menangkap ketakutan Kalandra. Suaminya tidak takut jarum, dia takut dikhianati lagi. Dia takut ada "boneka" Hanggara lain yang bersembunyi di balik jas putih dokter.

​"Aku nggak percaya siapapun di gedung ini," lanjut Kalandra tegas, mencengkram bahu Zoya dengan tangan kanannya yang bersih. "Satu-satunya dokter yang boleh pegang badan aku, yang boleh nyuntik aku, yang boleh jahit aku... cuma kamu. Cuma kamu, Zoya."

​Raka dan anggota tim lain membuang muka, merasa canggung melihat momen itu.

​Zoya menggigit bibir bawahnya. Hatinya mencelos mendengar pengakuan itu. Kalandra menyerahkan nyawanya bulat-bulat ke tangan Zoya.

​"Tapi alat di rumah nggak lengkap, Mas..." bantah Zoya lemah.

​"Kamu punya 'ruang rahasia' itu kan? Aku lihat ada set bedah minor di sana waktu aku ngintip," tembak Kalandra.

​Zoya menghela napas panjang, menyerah. Dia tidak bisa mendebat orang yang sedang paranoid akut begini.

​"Raka," panggil Zoya.

​"Siap, Bu."

​"Ambilkan kotak P3K taktis dari mobil patroli. Bawa alkohol, perban, dan lidocaine kalau ada. Sisanya aku pakai alatku di rumah," perintah Zoya tegas. Dia menatap Kalandra dengan tatapan memperingatkan. "Kalau sampai Mas pingsan di jalan, aku nggak akan maafin Mas."

​Kalandra menyeringai tipis, meski wajahnya makin pucat. "Nggak bakal. Istriku kan dokter paling hebat sedunia. Ayo pulang."

​Kalandra merangkul bahu Zoya, menggunakan tubuh istrinya sebagai tumpuan saat berjalan terpincang-pincang menuju pintu keluar, meninggalkan jejak darah dan kekacauan di belakang mereka.

1
olyv
🤣🤭 pak komandan fall in love bu dok
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
olyv
hahah dadah ulat bulu 🤣
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
olyv
🤣🤣🤣🤣 ngakak...senjata makan tuan
Savana Liora: tau rasa dia
total 1 replies
olyv
👍👍
Yensi Juniarti
mulai posesif mas pol ini 🤣🤣🤣
Savana Liora: hahaha iya
total 1 replies
Warni
Wah sdh di teror gais
Savana Liora: mulai ya
total 1 replies
Warni
🤣
Warni
😫
Warni
🥰😂
Warni
😂
tutiana
hadir Thor⚘️⚘️⚘️
Savana Liora: selamat baca kk
total 1 replies
Warni
😂
Warni
Di sentil
Warni
🥰
Warni
Wauuu🥰
Warni
😱
Warni
🥰
olyv
wokeh thor... semangat 👍👍💪💪💪
Savana Liora: siap kk
total 1 replies
Warni
Akur🤣
Warni
Wau
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!