NovelToon NovelToon
Dinikahi Komandan Galak: Istriku Legenda Forensik

Dinikahi Komandan Galak: Istriku Legenda Forensik

Status: tamat
Genre:Dijodohkan Orang Tua / CEO / Penyelamat / Tamat
Popularitas:3.5M
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

Pernikahan Zoya Ravendra dan Kalandra Dirgantara adalah perjodohan mutlak tanpa tanggal kadaluarsa. Bagi Kalandra, Kepala Unit Reskrim yang ditakuti, Zoya hanyalah istri pendiam yang membebani karena selalu mengurung diri di kamar.

​Namun, pandangan itu hancur saat kasus pembunuhan berantai "The Puppeteer" menemui jalan buntu. Zoya tiba-tiba muncul di TKP, menerobos garis polisi dengan tatapan datar dan berkata:

​"Singkirkan tangan kotormu dari leher korban, Komandan. Dia tidak dicekik. Ada residu sianida di kuku jari manisnya dan lebam mayat ini dimanipulasi."


​Hanya dalam lima menit, Zoya memecahkan teka-teki itu. Kalandra terlambat menyadari bahwa istri yang ia abaikan ternyata adalah "The Scalpel," legenda forensik dunia. Kini, Kalandra tidak hanya harus memburu pembunuh, tapi juga mengejar cinta istrinya yang hatinya lebih sulit diotopsi daripada mayat manapun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Bab 22: Dokter Pribadi Suami

​"Duduk di situ. Jangan banyak gerak, darahnya netes ke lantai mahal aku nanti."

​Zoya menunjuk meja periksa stainless steel di tengah "ruang rahasia"-nya dengan dagu. Dia melempar kotak P3K taktis yang tadi diambil Raka ke atas meja troli dengan bunyi brak yang cukup keras, melampiaskan kekesalan.

​Kalandra menurut. Dia duduk di tepi meja besi yang dingin itu sambil meringis, memegangi lengan kirinya yang sudah dibebat asal-asalan dengan sisa kemeja. 

Wajahnya masih pucat, keringat dingin membasahi pelipis, tapi matanya terus mengikuti setiap gerakan istrinya.

​Zoya bergerak cepat. Dia menyalakan lampu sorot bedah di atas kepala Kalandra, lalu mencuci tangannya di wastafel sudut dengan sabun antiseptik.

​"Buka bajunya, Mas," perintah Zoya tanpa menoleh.

​Kalandra mencoba membuka kancing kemejanya dengan satu tangan kanan. Susah payah. Jari-jarinya kaku sisa adrenalin.

​"Ck, lama," decak Zoya tidak sabar.

​Dia menghampiri Kalandra, menepis tangan suaminya, lalu dengan cekatan membuka kancing kemeja yang sudah koyak dan penuh darah itu. Dalam hitungan detik, dada bidang Kalandra terekspos di bawah cahaya lampu bedah yang terang benderang.

​Zoya tidak punya waktu untuk mengagumi otot perut suaminya. Matanya terkunci pada luka sayat menganga di lengan kiri atas. Darah masih merembes keluar, meski tidak sederas tadi.

​"Ini dalam," gumam Zoya, suaranya berubah serius. Dia mengambil kapas alkohol. "Akan perih sedikit. Tahan."

​Zoya menempelkan kapas itu ke luka.

​"Ssshh!" Kalandra mendesis panjang, rahangnya mengeras menahan sengatan alkohol yang membakar jaringan lukanya. Kakinya refleks menendang udara.

​"Diam. Jangan cengeng. Katanya Komandan," omel Zoya, tapi tangannya bergerak sangat hati-hati membersihkan sisa darah beku.

​Setelah luka bersih, Zoya membuka kotak P3K yang dibawa Raka. Dia mengaduk isinya, mencari botol kecil yang berisi obat bius. 

​Kening Zoya berkerut dalam. Dia membolak-balik isi kotak itu. Kosong.

​"Sialan Raka," umpat Zoya pelan. "Dia bawa perban satu gudang, tapi lupa bawa biusnya. Dasar amatir."

​Zoya menoleh ke lemari kaca miliknya sendiri di sudut ruangan. "Stok pribadiku juga habis bulan lalu buat praktek jahit di kulit kucing. Belum beli lagi."

​Zoya berbalik menghadap Kalandra dengan wajah menyesal. Dia meletakkan jarum jahit melengkung dan benang medis di nampan perak.

​"Kabar buruk, Mas," ucap Zoya pelan. "Biusnya nggak ada. Raka lupa bawa, stokku kosong."

​Kalandra menatap jarum perak yang berkilau tajam itu, lalu menatap luka di lengannya yang menganga lebar.

​"Terus?" tanya Kalandra serak.

​"Terus aku harus jahit hidup-hidup," jelas Zoya ngeri sendiri. "Dua puluh jahitan menembus kulit dan sedikit otot. Tanpa bius. Rasanya bakal kayak ditusuk api berulang-ulang."

​Kalandra menarik napas panjang, lalu menghembuskannya kasar. Dia menatap mata Zoya lekat-lekat.

​"Lakukan saja," perintah Kalandra mantap. "Aku pernah ketembak di kaki. Luka gores begini doang nggak bakal bikin aku mati."

​"Jangan sok kuat. Nanti Mas pingsan, aku yang repot gotongnya," cibir Zoya, padahal tangannya gemetar karena tidak tega.

​"Zoya, jahit sekarang. Sebelum darahnya keluar lagi," desak Kalandra. Dia mencengkram pinggiran meja besi dengan tangan kanannya kuat-kuat, menyiapkan diri.

​Zoya mengangguk. Dia mengambil needle holder (pemegang jarum), menjepit jarum itu.

​"Tarik napas, Mas," aba-aba Zoya.

​Tusuk.

​Jarum menembus kulit Kalandra.

​"Argh!" Kalandra mengerang tertahan, urat lehernya timbul semua. Giginya bergemeretuk menahan teriak. Rasanya bukan main. Besi dingin menembus daging sensitif tanpa pelindung apa pun.

​Zoya tidak berhenti. Dia menarik benang, membuat simpul pertama dengan cepat. Tangannya yang biasanya dingin kini terasa hangat di kulit Kalandra. Gerakannya sangat stabil, sangat lembut, seolah dia sedang menyulam sutra, bukan menjahit kulit manusia.

​"Satu," hitung Zoya pelan, mencoba mengalihkan fokus suaminya.

​Zoya menusuk lagi.

​Kalandra memejamkan mata rapat-rapat, keringat mengucur deras dari dahinya. Tapi anehnya, di tengah rasa sakit yang menyiksa itu, dia merasa tenang. Dia tahu tangan yang memegang jarum itu tidak akan menyakitinya lebih dari yang diperlukan.

​Kalandra membuka matanya sedikit. Dia melihat wajah Zoya dari jarak sangat dekat.

​Istrinya begitu fokus. Alisnya bertaut, bibirnya sedikit mengerucut—kebiasaan Zoya saat sedang konsentrasi penuh. Ada percikan darah Kalandra yang menempel di pipi putih Zoya, tapi wanita itu tidak peduli.

​"Lima... Enam..." Zoya terus menghitung, suaranya lembut seperti sedang meninabobokan anak kecil. Sesekali dia meniup pelan luka itu, memberikan sensasi dingin yang sedikit meredakan panas.

​Kalandra terpaku. Dia melihat sisi lain dari "The Scalpel". Wanita ini bukan monster bedah mayat. Dia wanita yang telaten, yang merawat suaminya dengan kehati-hatian luar biasa. Setiap kali Kalandra tersentak kesakitan, Zoya akan berhenti sejenak, mengusap bahu Kalandra, lalu meminta maaf dengan tatapan matanya.

​Rasa sakit di lengan Kalandra perlahan terdistraksi oleh detak jantungnya sendiri yang semakin kencang—bukan karena takut, tapi karena perasaan hangat yang meletup-letup di dada.

​Dia jatuh cinta.

​Sialan. Dia benar-benar jatuh cinta pada wanita yang sedang menjahit dagingnya ini.

​"Sembilan belas... Dua puluh. Selesai," Zoya menggunting benang terakhir. Dia menghela napas lega, meletakkan alat jahitnya di nampan.

​Kalandra melemaskan tubuhnya yang tegang. Rasanya seperti baru lari maraton sepuluh kilometer. Lengannya berdenyut nyeri, tapi lukanya sudah tertutup rapi. Sangat rapi, nyaris seperti karya seni.

​Zoya mengambil kasa steril dan plester, menutup luka jahitan itu dengan telaten. Dia membersihkan sisa darah di sekitar lengan Kalandra dengan kain basah yang hangat.

​"Maaf ya, Mas. Pasti sakit banget," gumam Zoya tulus, masih menunduk membereskan perban. "Nanti aku mintakan obat pereda nyeri ke dokter Rudi besok pagi. Malam ini Mas minum paracetamol biasa dulu."

​Kalandra tidak menjawab. Dia hanya menatap puncak kepala istrinya. Tanpa sadar, tangan kanan Kalandra terulur, meraih tangan kiri Zoya yang baru saja selesai memplester lukanya.

​Zoya mendongak kaget. "Kenapa, Mas? Masih sakit?"

​Kalandra menggenggam tangan itu. Dia mengangkatnya perlahan, mengamati jari-jari lentik Zoya yang bersih dan terawat, meski baru saja berlumuran darah. Dia mengusap punggung tangan itu dengan jempolnya yang kasar.

​Mata Kalandra sayu, setengah karena lelah, setengah karena mabuk perasaan.

​"Tanganmu cantik, Zoya," bisik Kalandra serak, tatapannya lembut memuja. "Sayang banget kalau tangan sehalus ini cuma dipakai buat bedah mayat dingin."

​Zoya terpaku. Pipinya memanas seketika. Jantungnya melompat kaget mendengar kalimat yang terdengar sangat... intim dan tulus itu.

​Zoya menarik tangannya cepat-cepat, salah tingkah. Dia mundur selangkah, menatap suaminya dengan mata membulat.

​"Mas ngelindur?" tanya Zoya panik, menempelkan punggung tangannya ke dahi Kalandra. "Mas demam? Apa racun pisau Hanggara udah naik ke otak? Kok omongannya jadi ngaco begini?"

1
Kristina NellaWara
lucu yah mereka ini🤣 msih sempat sempatnya bercanda😄
Sri Laila
bikiin penasaran.aja👍
Yati Jenal
buzet lgi tegang bca jdi ngakak gegara broot prettt tuuuut😂😂😂
Rahma Inayah
mkn menegangkan
Kristina NellaWara
astaga ketawa sampai air mata keluar 😂😂😂😂😂😂😂😂😂
Yanrina Savitri
Ayo ngungsi dulu kemana kek. Ga aman lg diapaetmen itu
Kusmi Rahayu
novelnya luar biasa..lucu,tegang...kereen 👍👍
LENY
KEREN ZOYA👍👍
Rahma Inayah
moga ja Zoya BS tau gerak gerik si peneror
Rahma Inayah
ceritanya SPT nyata bgus .sya suka .raskan km Sinta akibat dr ulah mu sendri hrs nya dr awal km tau klu Zoya punya otak yg cerdas dan GK mudah tertipu krn dia dktr forensik
Rahma Inayah
tu nmnya senjata mkn tuan raskan km Sinta
Rahmat Zakaria
wah asik banget ini ceritanya tegang lucu 💪
Rahma Inayah
good Zoya .mati kutu km Sinta dan pakpol sok tau
Beni Putri
Sangat luar biasa dan dibuat kita seolah ikut dlm ceritanya 😍
mety
bukan komandan ....ntar anaknya jadi Hulk 🤣🤣🤣
mety
hedehhhh pak komandan..kecebong sendiri di bilang cacing pita 😂😂😂🤣
LENY
NAH LO JALANDRA MATI KUTU APALAGI KL SINTA YG DENGAR SI SOMBONG WANITA ULAR
LENY
DASAR SINTA WANITA GATAL MURAHAN JIJIK LIHAT TINGKAHNYA BELUM TAHU SIAPA ZOYA 😡
Julys Saidhy Kansay
😄😄
LENY
PAPA NYA KETERLALUAN JUGA MASAK DEMI MAKAN MALAM NINGGALIN KASUS YG LAGI GAWAT🙈
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!