NovelToon NovelToon
MY HIJABI FIGHTER : Menikah Dengan Duda ES

MY HIJABI FIGHTER : Menikah Dengan Duda ES

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:25.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Nayla Safira Hanin adalah siswi jenius yang lebih suka tidur di atap sekolah daripada di kelas. Namun di balik hijabnya, ia adalah petarung jalanan tak terkalahkan yang sanggup melumpuhkan lawan dalam hitungan detik. Kebebasannya terenggut saat dosa masa lalu sang ayah terungkap: setahun lalu, ayahnya tak sengaja menabrak istri seorang konglomerat hingga tewas.
Keluarga Hasyim datang bukan untuk meminta ganti rugi uang, melainkan "hutang nyawa". Nayla dipaksa menikah dengan Adnan Hasyim, pria dingin yang membenci keluarga Nayla sedalam cintanya pada mendiang istrinya. Adnan hanya butuh pengasuh untuk putrinya, Adiva, yang berhenti bicara sejak kecelakaan tragis itu.
Kini, Nayla terjebak sebagai istri dari pria yang menganggapnya beban sekaligus musuh. Adnan tak menyadari bahwa istri "kecil" yang tengil ini adalah satu-satunya pelindung yang akan mempertaruhkan nyawa saat musuh bisnis mulai mengincar keluarganya. Mampukah kepalan tangan Nayla meruntuhkan tembok kebencian Adnan,?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

WEJANGAN DARI KAKEK.

Sinar matahari pagi menembus celah jendela kayu vila di Puncak, membawa kehangatan yang kontras dengan dinginnya udara pegunungan. Adnan dan Nayla sebenarnya berencana untuk segera kembali ke Jakarta, namun langkah mereka tertahan oleh cekalan lembut sang nenek yang bersikeras agar mereka sarapan terlebih dahulu.

Di meja makan kayu jati yang antik, kepulan asap dari nasi uduk hangat menggoda selera. Namun, suasana sarapan kali ini terasa berbeda karena kehadiran sang kakek yang duduk di ujung meja dengan tatapan bijak. Beliau berdehem pelan sebelum memulai wejangannya.

"Adnan, Nayla, dengarkan kakek. Rumah tangga itu adalah ibadah terpanjang dalam hidup seorang manusia. Pahalanya mengalir di setiap senyum, setiap kesabaran, dan setiap peluh yang kalian keluarkan untuk satu sama lain," ucap Kakek dengan suara yang tenang namun berwibawa.

Nayla menghentikan kunyahannya, ia menyimak dengan saksama.

"Untuk apa mencari pahala jauh-jauh di luar sana, kalau di depan mata kalian ada ladang pahala yang melimpah? Jalani hubungan ini dengan hati yang ikhlas. Saling menjaga rahasia, saling menghormati, dan yang paling penting, niatkan semua karena Allah Ta'ala. Jika fondasinya karena Sang Pencipta, maka badai setinggi apa pun tidak akan mampu merobohkan bangunan kalian. Insya Allah, kalian akan bahagia dunia dan akhirat," lanjut Kakek sambil tersenyum tipis.

Hati Nayla terenyuh. Kalimat kakek seolah menyentuh sisi kedewasaannya yang selama ini tertutup oleh topeng ketengilan. Adnan pun merasakan hal yang sama. Ia melirik Nayla, berharap istrinya itu benar-benar meresapi setiap kata yang diucapkan kakeknya.

"Terima kasih, Kek. Nasehat ini sangat berarti bagi kami. Saya akan berusaha menjaga Nayla dan menjadi imam yang lebih baik lagi," jawab Adnan tulus.

Setelah berpamitan dengan janji akan membawa Adiva berkunjung di lain waktu, keduanya pun memulai perjalanan pulang. Sepanjang jalan menyusuri perbukitan Bogor, Nayla tampak lebih diam. Tidak ada ocehan soal makanan atau candaan garing yang biasanya keluar dari mulutnya.

"Kenapa diam saja? Kamu tidak suka dengan nasehat kakek tadi?" tanya Adnan memecah keheningan.

Nayla menggeleng pelan, matanya menatap ke arah luar jendela. "Bukan begitu, By. Saya suka kok. Hanya saja, selama ini tidak ada yang menasehati saya sedetail itu. Guru ngaji di panti memang sering menasehati, tapi biasanya sebatas kewajiban sholat dan mengaji saja. Baru kali ini saya paham kalau menjalani rumah tangga dengan ikhlas itu pahalanya luar biasa."

Nayla menoleh ke arah Adnan, matanya nampak tulus. "Terima kasih sudah membawa saya ke sini, By."

Adnan tersenyum, hatinya menghangat. Ia memberanikan diri menggenggam tangan Nayla di atas tuas transmisi. "Nayla, apakah kamu bersedia menjalankan ibadah ini bersama saya, sampai maut memisahkan kita nanti?"

Nayla tertegun sejenak, lalu ia mengangguk pelan. "Insya Allah, By," jawabnya lirih namun pasti.

Kebahagiaan itu sayangnya hanya bertahan sementara. Begitu mobil mewah Adnan memasuki gerbang mansion di Jakarta, pemandangan yang menyambut mereka sangat jauh dari kata tenang. Bi Sum berlari keluar dari pintu depan dengan wajah sembab dan tangis yang pecah.

"Tuan! Neng Nayla! Neng Adiva hilang!" teriak Bi Sum sambil terisak di samping pintu mobil yang baru terbuka.

"Apa?! Hilang bagaimana, Bi?" terharu Nayla seketika berubah panik. Jantungnya berdegup kencang membayangkan putri sambungnya yang baru saja mulai berani bicara itu dalam bahaya.

Adnan tidak membuang waktu. Ia segera menghubungi Dion dengan raut wajah yang mengeras. "Dion! Lacak GPS Adiva sekarang juga! Gunakan semua sumber daya yang ada!"

Sejak kejadian penculikan sebelumnya, Adnan memang sudah memerintahkan Dion untuk memasang pelacak GPS super kecil di dalam kalung yang selalu dipakai Adiva. Baru saja Adnan menutup teleponnya, sebuah panggilan dari nomor tidak dikenal muncul di layar handphone-nya.

Adnan mengangkatnya dan menyalakan speaker. Suara yang terdengar sangat aneh, berat, dan serak, seolah menggunakan alat pengubah suara untuk menutupi identitas asli.

"Adnan Hasyim. Jika anakmu ingin tetap hidup, serahkan istrimu sebagai gantinya. Jangan melibatkan polisi atau siapa pun. Dalam dua puluh empat jam, jika kesepakatan tidak terjadi, anakmu akan kembali ke rumah dalam keadaan menjadi mayat," ucap suara itu dingin sebelum sambungan terputus.

"Keparat!" umpat Adnan sambil memukul stir mobil dengan keras.

Nayla yang mendengar jelas ancaman itu langsung berdiri tegak. Ketakutannya berubah menjadi keberanian yang nekad. "Berikan alamatnya mereka, By! Saya setuju! Saya yang akan pergi!"

"Jangan gila, Nayla! Ini jebakan! Mereka mengincarmu karena kamu adalah kunci bisnis dan kelemahan saya sekarang!" bentak Adnan dengan nada tinggi karena khawatir.

"Saya tidak peduli! Adiva adalah nyawa kita sekarang! Biby jangan coba-coba melarang saya!" Nayla berbalik dan berlari menuju garasi tempat motor sport kesayangannya terparkir.

"Nayla! Kembali!" teriak Adnan berusaha mengejar dengan kakinya yang belum pulih seratus persen.

Namun Nayla tidak mendengar. Ia sudah mengenakan helm, menyalakan mesin motor yang menderu keras, dan melambaikan tangan tanpa menoleh lagi. Motor itu melesat keluar gerbang dengan kecepatan tinggi, meninggalkan debu yang berterbangan.

Adnan segera menghubungi Dion kembali sambil masuk ke dalam mobilnya yang lain. "Dion! Nayla menuju titik buta! Dia nekat mendatangi mereka sendirian! Ikuti sinyal GPS dari motornya dan koordinasikan dengan tim lapangan. Jangan sampai ada satu rambut pun dari mereka yang terluka, atau saya sendiri yang akan menghabisi kalian!"

Di atas motornya, Nayla memacu kendaraan dengan mata yang fokus ke depan. Ia tidak takut, karena baginya, keselamatan Adiva adalah harga mati. Ia tahu musuhnya kali ini licik, namun mereka lupa satu hal: Nayla bukan sekadar gadis biasa, ia adalah petarung yang lahir dari kerasnya kehidupan jalanan dan kasih sayang dari Ayahnya.

"Tunggu Myma, Adiva. Siapa pun yang menyentuhmu, mereka harus melewati mayatku dulu," gumam Nayla di balik helmnya sambil menambah kecepatan motornya hingga maksimal.

Di sebuah bangunan tua di pinggiran kota, Arifin tersenyum puas melihat layar monitor yang menunjukkan pergerakan motor Nayla. Di sudut ruangan, Adiva tampak terikat di kursi dengan mulut dilakban, matanya basah karena tangis namun ia tetap diam karena ketakutan.

"Gadis itu memang bodoh. Dia datang menyerahkan nyawanya demi anak yang bahkan bukan darah dagingnya," ucap Arifin pada asistennya.

"Tapi Tuan, Adnan Hasyim pasti tidak akan tinggal diam. Pasukan keamanannya sangat kuat," asisten itu memperingatkan.

"Biarkan saja. Begitu Nayla masuk ke sini, dia akan menjadi sandera utama kita untuk mendapatkan aset perusahaan. Adnan akan memberikan apa pun untuk istrinya. Dan jika perlu, kita habiskan mereka semua di sini," jawab Arifin dengan tawa yang mengerikan.

Tanpa mereka sadari, Nayla sudah semakin dekat. Dan di belakangnya, bayangan maut dari tim keamanan Adnan yang dipimpin Dion mulai mengepung dari berbagai arah. Pertempuran besar untuk menyelamatkan nyawa Adiva akan segera pecah di malam yang mencekam ini.

1
Muhammad Syafi'i
lanjut kan bu😍
Ayesha Almira
ceritanya bgus,seru bnyk ketawa ...
Ayesha Almira
bcanya sambil 😄,
Sri Murtini
adiva jarang diajak bicara sm ayahnya kan????
mknya diam melulu
Mira Hastati
bagus
Mira Hastati
bagus
Ayu
Lg seru2 nya tunggu update lg ya thor💪🙏
Tasmiyati Yati
penguntit tiap hari memang gak ada kerjaan
Tasmiyati Yati
memang tadi Farah tidak ikut sekoalh
Tasmiyati Yati
kalau pakai dalaman lejing copot saja rok plis Ket nya biar gampang nyerang preman
Mineaa
waaahhh lope lope sekebon Nayla.......
kuueeeereeeeennnnn..........🌹🔥🔥🔥🔥🔥
Tasmiyati Yati
masih susah banget sih
Tasmiyati Yati
maaf kak author dari tadi gak bisa like gagal terus
Tasmiyati Yati
sak karepmu lah gagal terus bikin esmosi😡
Tasmiyati Yati
ini jaringan lagi main kemana sih kok susah banget sinyal nya
Tasmiyati Yati
kemana adiva jarang nongol biar tambah seru
Tasmiyati Yati
mulai suka tuh si bos
Sunaryati
Makin tersepona kan, Byby
Tasmiyati Yati
baru beberapa hari jadi istri sdh mulai luluh
Tasmiyati Yati
nanti jadi bucin malu sendiri Adnan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!