Leticha gadis 22 tahun harus terjebak dalam pernikahan yang dijodohkan oleh ayahnya demi menyelamatkan perusahaan. Seharusnya saudaranya yang dijodohkan, tetapi karena menurut sang ayah Leticha membutuhkan seorang pemimpin dalam keluarga, membuat sang ayah memilih untuk menjodohkannya.
Leticha berusaha dengan semampunya untuk membatalkan perjodohan dengan pria berusia 36 tahun. Pria agamis dengan segala ilmu pengetahuan, tetapi usahanya tidak berhasil yang akhirnya membuatnya menikah dengan pria tersebut.
Tidak sampai di sana, Leticha masih terus mencari cara agar bisa berpisah dari tingkah lakunya agar tidak disukai, tetapi suaminya memiliki hati dan sifat yang benar-benar sabar.
Jangan lupa terus ikuti cerita saya.
Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5 Drama Leticha
Gagal rencana Leticha ingin bertemu dengan kedua orang tua calon suaminya menggunakan pakaian yang minim. Pakaiannya sekarang jauh lebih sopan. Dengan menggunakan dress panjang di atas mata kaki lengan panjang berwarna coklat susu.
Dress tersebut tampak cocok untuknya, terlihat begitu anggun dan manis, rambutnya juga tidak hanya di gerai begitu saja diikat di bagian tengah sedikit dengan diberikan pita berwarna putih yang cukup panjang.
Penampilan Leticha benar-benar jauh lebih sopan daripada sebelumnya, kecantikan yang terpancar jelas di wajahnya, dengan keanggunan tanpa harus berpenampilan seksi bahkan terlihat begitu elegan.
"Awas jika kita sudah menikah dan mengatur cara berpakaian ku. Aku tidak akan menurutinya lagi," ucap Leticha tampak begitu cemberut berdiri di sebelah suaminya saat keduanya sudah berada di luar butik.
"Ayo masuk!" ajak Rakash masuk terlebih dahulu ke dalam mobil.
"Menyebalkan," ucapnya kemudian langsung menyusul suaminya.
****
Tidak lama akhirnya Leticha bersama dengan Rakash sudah sampai. Keduanya turun dari mobil, kepala Leticha berkeliling melihat rumah mewah tersebut yang dikelilingi dengan tanaman dan terasa udaranya begitu sangat adem dan tampak menenangkan.
Leticha melihat dari pintu rumah tersebut tampak sepasang suami istri menghampirinya dan juga terlihat Karina bersama dua putrinya dan suaminya seperti apa yang dilihat Leticha pada biografi keluarga besar tersebut sebelumnya.
"Assalamualaikum!" sapa Rakash mencium punggung tangan kedua orang tuanya dan begitu juga dengan Leticha bersifat sopan walau terlihat keterpaksaan di wajahnya.
"Kamu Leticha?" tanya Karina.
Leticha menjawab dengan anggukan kepala.
"Saya Karina kakak pertama Rakash, ini suami saya Tio dan ini putra-putri saya Lula dan Lio," ucapnya memperkenalkan keluarga kecilnya.
"Hallo Tante!" kedua anak manis itu tampak melambaikan tangan membuat Leticha tersenyum dengan menganggukkan kepala.
"Ayo kita langsung masuk saja!" ajak Edwin membuat mereka menganggukkan kepala.
Leticha saat ini duduk bersama keluarga suaminya itu dan terlihat pelayan sedang menuangkan teh di atas meja.
"Hmmm, Saya tidak suka teh, Saya lebih suka minuman bersoda," ucapnya dengan cepat-ceplos membuat semua orang tersebut melihat serius ke arahnya.
"Hahaha!" Leticha tertawa pelan, "maaf Saya memang bukan orang yang basa-basi, Saya orang yang sangat jujur," ucapnya.
Sudah pasti Leticha sengaja berbicara blak-blakan seperti itu agar keluarga suaminya itu tidak menyukainya.
"Tidak apa-apa. Bi, Kamu ambilkan minuman kaleng di kulkas," ucap Dewi membuat Bibi mengganggukan kepala.
"Leticha, kamu sama seperti papa Rakash sangat menyukai minuman bersoda, tapi harus hati-hati jika wanita memiliki lambung dan itu berbahaya untuk lambung," ucap Sulis ternyata tidak merasa hal itu aneh dan justru memberi pesan kepada calon menantunya itu.
Leticha menganggukan kepala dengan tersenyum terpaksa.
"Lalu apa Om juga menyukai alkohol?" tanya Leticha
"Saya tidak minum alkohol, alkohol haram dan juga tidak baik untuk kesehatan," jawabnya dengan tenang.
"Ohhhh kalau saya....." Leticha tidak jadi melanjutkan kalimatnya ketika calon suaminya yang duduk di depannya memperhatikannya begitu serius.
"Saya juga tidak minum," Leticha melanjutkan kalimatnya dengan senyum terpaksa.
"Astaga kenapa mulut ini sangat sulit sekali mengatakan bahwa aku minum alkohol, memang tidak meminumnya tetapi aku yakin tidak akan ada orang tua yang menyukai calon menantu mereka kecanduan dengan alkohol," batin Leticha ternyata memiliki rencana untuk membuat dirinya benar-benar jelek.
Entah mengapa hal itu tidak jadi terucap dari mulutnya dan mungkinkah karena pandangan Rakash seolah menakutkan untuknya.
"Tante sedikit mengenal kamu dari cerita Papa kamu, Tante senang bisa bertemu dengan kamu secara langsung," ucap Sulis.
"Benarkah! Wau sudah pasti papa sangat jujur dengan apa yang dia ceritakan," ucap Leticha.
Dia sangat mengetahui sang ayah tidak pernah membanggakannya dan selalu menceritakan kejelekannya kepada orang-orang, menurut Leticha merupakan keuntungan untuk keluarga calon suaminya itu agar tidak menjadikannya sebagai calon menantu.
"Hmmmm, Tante sudah memasak banyak, alangkah baiknya kita langsung makan siang saja!" ajak Sulis
"Ayo Leticha!" ajak Karin.
Letisha lagi-lagi hanya menganggukkan kepala.
Mereka menikmati makan malam di meja makan dengan hidangan yang sangat banyak. Letisha ternyata memperlihatkan sisi buruknya dengan makan tampak begitu lahap dan berantakan.
Kedua orang tua Rakash memperhatikan, siapapun sudah pasti akan ilfil melihat gadis cantik seperti itu makan tidak beraturan. Tio dan Karina juga saling melihat dengan ekspresi sedikit aneh melihat calon adik ipar mereka.
"Makanan Tante benar-benar sangat lezat, saya makannya memang banyak perut saya perut karet. Jika saya menikah dengan pak Rakash nanti, Tante harus tinggal di rumah kami untuk memaksakan saya setiap hari," ucapnya tanpa merasa malu mengatakan hal seperti itu.
"Ibunya akan secepatnya memutuskan untuk membatalkan pernikahan ini, dengan apa yang aku katakan dia pasti berpikiran bahwa ketika kami menikah maka dia akan menjadi pembantu di rumah kami," batin Leticha benar-benar sejak tadi sudah beraksi dengan sesuka hatinya.
"Tante boleh tidak saya bungkus makanannya?" tanyanya.
"Boleh silahkan, Tante senang jika kamu sangat excited menikmati makanan Tante," ucap Sulis dengan santai.
"Astaga mengapa reaksinya hanya begitu saja dan tidak ada ilfilnya sama sekali," batin Leticha sudah berusaha begitu banyak tetapi tetap saja tidak ada yang menegurnya atau justru membuat hatinya sakit.
"Tante, bagaimana setelah ini kita main bersama?" ajak Lulu.
"Boleh! Tante memang hobinya setiap hari main-main, Tante tidak memiliki pekerjaan apapun, hanya makan tidur, setelah bangun langsung keluyuran dan pulang malam hari," jawabnya benar-benar menjelekkan diri sendiri sampai membuat kedua orang tua Rakash tidak berkutik sama sekali.
"Tante sudah dewasa tetapi malas," celetuk Lula.
"Lula!" tegur Karin merasa putrinya itu tidak sopan.
"Kamu benar! Orang-orang mengatakan tante memang orang yang sangat malas, karena menurut Tante hidup itu simple untuk apa rajin-rajin, apalagi sebentar lagi Tante akan menikah dengan om kamu dan artinya hidup Tante akan jauh lebih baik, tidak perlu bekerja karena memiliki suami yang kaya raya, ada ibu mertua yang setiap hari membuat makanan, jadi hidup itu memang harus dinikmati," ucap Leticha tanpa ragu mengungkapkan semua kalimat yang sesuka hatinya sesuai dengan isi otak.
Karin dan Tio sejak tadi tidak henti-hentinya saling melihat dan mungkin banyak sekali yang di kepala Mereka ingin diucapkan.
"Jadi kamu tidak punya kegiatan atau memiliki hobi spesifik?" tanya Sulis ternyata penasaran juga dengan calon menantunya itu.
"Tidak Tante, saya memang bukan orang yang memiliki tujuan hidup, bagi saya kesenangan nomor satu dan tidak perlu memiliki hobi apapun," jawabnya.
"Tidak apa-apa Leticha, masa muda memang harus dihabiskan dengan sebaik mungkin, agar ketika sudah menjadi istri tidak akan pernah menyesal dan merasa tidak puas dengan menikmati masa muda, karena kebanyakan seseorang yang telah menikah justru menjadi pelarian," ucap Edwin dengan sampai tanpa menjudge Leticha.
"Tetapi pernikahan itu memang merupakan suatu hal untuk menjadi pelarian, jujur saja ketika berada di rumah belum tentu semua apa yang saya sukai disukai oleh Papa, tetapi ketika menikah nanti kebebasan akan bertambah 100%," jawabnya benar-benar enteng menjelekkan diri sendiri di depan keluarga calon suaminya.
Rakash sejak tadi tidak berkomentar apapun, terserah istrinya itu ingin menggambarkan dirinya seperti apa kepada kedua orang tuanya.
Bersambung.....