NovelToon NovelToon
SANG PENDAKI RERUNTUHAN: MELAMPAUI MANUSIA KERTAS

SANG PENDAKI RERUNTUHAN: MELAMPAUI MANUSIA KERTAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Sistem / Fantasi
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: MUXDHIS

Demi kebebasan sejati, Abimanyu, Sang Profesor, membakar masa lalunya dan meninggalkan peradaban "Manusia Kertas" di Lembah Nama. Dengan mendaki Gunung Kehendak, ia bertransformasi dari pemikul beban menjadi pencipta nilai dalam sebuah pencarian filosofis untuk melampaui batas kemanusiaan dan menjadi arsitek atas nasibnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 BAYANGAN SANG PENGUASA KERTAS

Keheningan yang ditinggalkan Abimanyu di kafe pusat pasar bukanlah keheningan perdamaian, melainkan keheningan mencekam sesaat sebelum sebuah mesin raksasa mulai menggerakkan roda-roda giginya yang berkarat. Di Lembah Nama, setiap tindakan yang tidak dapat dihitung oleh statistik dianggap sebagai anomali, dan setiap anomali adalah ancaman yang harus segera dikarantina. Abimanyu telah melampaui batas; ia bukan lagi sekadar profesor yang mengalami gangguan saraf, ia telah menjadi "virus" yang mengancam integritas selulosa dari peradaban kertas.

Di dalam gedung administrasi yang menjulang tinggi—sebuah menara beton yang dibangun untuk memenjarakan cakrawala—suasana sangat tegang. Profesor Danu berdiri di balik jendela kaca besar, menatap ke arah alun-alun tempat Abimanyu dulu membakar dunianya. Di belakangnya, berkumpul para "Arsitek Ketertiban": kepala keamanan universitas, perwakilan dewan kurator, dan seorang pria berpakaian jas hitam tanpa ekspresi yang mewakili "Monster Dingin"—Sang Negara.

"Dia tidak hanya gila," Danu memulai, suaranya bergetar karena campuran antara amarah dan ketakutan yang berusaha ia sembunyikan di balik retika birokrasi. "Dia adalah penghinaan hidup bagi setiap inci kemajuan yang kita bangun. Dia menari di atas meja-meja transaksi kita dan menyebut madu kita sebagai racun. Jika kita membiarkan dia berkeliaran, dia akan membakar pikiran para mahasiswa lebih efektif daripada api yang ia gunakan untuk membakar bukunya sendiri".

Pria dari Negara itu mengangguk pelan. Baginya, manusia bukanlah jiwa yang merdeka, melainkan unit-unit dalam tabel distribusi tenaga kerja. Abimanyu, dengan penolakannya terhadap segala bentuk akreditasi dan identitas sosial, telah menghapus dirinya sendiri dari peta operasional mereka.

"Dalam pandangan kami," suara pria itu dingin, seperti logam yang membeku, "Abimanyu bukan lagi seorang warga negara. Dia adalah 'entitas yang tidak terpetakan'. Dia tidak memiliki nomor induk, tidak memiliki jadwal, dan tidak memiliki alamat tetap. Seseorang yang tidak bisa dihitung adalah seseorang yang tidak bisa dikendalikan. Dan apa yang tidak bisa dikendalikan oleh Monster Dingin harus dianggap sebagai gangguan ketertiban umum".

Mereka mulai menyusun rencana "Bayangan Sang Penguasa Kertas". Ini bukan lagi tentang diskusi intelektual—karena mereka telah kalah di hadapan tawa Abimanyu yang menghancurkan. Ini adalah tentang pemulihan struktur. Mereka akan menggunakan "papan hukum" yang selama ini mereka puja: prosedur operasional standar, pasal-pasal perusakan properti, dan protokol kesehatan mental yang kaku.

Sementara itu, Abimanyu berjalan menyusuri lorong-lorong universitas yang terasa semakin sempit. Ia melihat "Manusia Kertas" di sekelilingnya bergerak dengan ketakutan yang terkoordinasi. Mereka menutup pintu kantor mereka saat ia lewat; mereka memalingkan wajah seolah-olah melihatnya akan membuat "ijazah" mereka terbakar spontan.

Ia sampai di depan gedung perpustakaan pusat. Di sana, ia melihat bayangan-bayangan penjaga malam yang kini telah berganti menjadi pasukan keamanan berseragam lengkap. Mereka membawa "jaring" birokrasi. Mereka tidak datang dengan argumen, karena mereka tahu argumen mereka akan hancur oleh kilat di mata Abimanyu. Mereka datang dengan perintah penahanan.

"Profesor Abimanyu," kepala keamanan itu bicara melalui pengeras suara, menciptakan gema yang menyakitkan telinga di antara gedung-gedung batu. "Berdasarkan instruksi Rektorat dan demi keamanan nasional, Anda diminta untuk menyerahkan diri secara sukarela untuk menjalani pemeriksaan psikologis komprehensif. Tindakan Anda telah mengganggu stabilitas ekosistem akademik".

Abimanyu berdiri diam di tengah kepungan itu. Ia melihat ke sekeliling, pada wajah-wajah yang tersembunyi di balik helm dan tameng. Ia tidak melihat manusia; ia melihat "Bayangan" yang menganggap dirinya adalah cahaya.

"Kalian membawa tembok untuk menangkap angin!" teriak Abimanyu, dan suaranya membelah kebisingan mesin patroli. "Kalian membawa belenggu kertas untuk mengikat kilat! Apakah kalian tidak lelah menjadi penjaga makam bagi pikiran kalian sendiri?".

Sistem tidak hanya menggunakan kekerasan fisik. Di layar-layar besar di seluruh kampus, "Penguasa Kertas" mulai menayangkan narasi rehabilitasi. Mereka menampilkan foto lama Abimanyu saat masih mengenakan jas tweed, tersenyum kaku di depan rak buku. Mereka menyebutnya sebagai "aset berharga yang sedang sakit," sebuah upaya halus untuk mengebiri keberaniannya menjadi sekadar gangguan medis.

"Jangan tertipu oleh tawa itu," suara narator di layar-layar itu memperingatkan. "Itu adalah tanda dari nervous breakdown yang akut. Kembalilah pada ketertiban. Percayalah pada proses akreditasi. Percayalah pada jaminan masa depan yang kami sediakan dalam kotak-kotak RPS kalian".

Abimanyu merasakan "Roh Gravitasi" mencoba menarik pundaknya lagi melalui suara-suara di layar itu. Sistem sedang mencoba menariknya kembali ke dalam "kotak" melalui rasa kasihan publik. Mereka ingin mengubah "Tarian Übermensch"-nya menjadi "Kasus Klinis" yang bisa didiskusikan dalam seminar kesehatan mental.

Pengepungan semakin rapat. Abimanyu terpojok di alun-alun, tempat di mana perjalanannya bermula. Para petugas maju dengan hati-hati, seolah-olah ia bisa meledak kapan saja. Mereka menembakkan gas air mata—asap putih yang menyesakkan, yang bagi Abimanyu terasa seperti "Badai Kertas" yang kembali dalam wujud kimiawi.

Namun, di tengah asap itu, Abimanyu tidak lari. Ia justru duduk bersila, persis seperti yang ia lakukan di puncak Gunung Kehendak. Ia menutup matanya, memasuki "Keheningan Paling Sunyi" di mana tidak ada lagi suara birokrasi yang bisa menjangkaunya.

"Kalian bisa memenjarakan daging ini," bisiknya pada diri sendiri, "tapi kalian tidak bisa memenjarakan 'Ya' yang abadi. Kalian bisa menghapus namaku dari daftar pegawai, tapi kalian tidak bisa menghapus fajar yang sudah terbit di dalam dadaku".

Saat tangan-tangan petugas itu mencengkeram pundaknya, Abimanyu tidak melawan. Ia membiarkan dirinya dibawa menuju "kotak beton" yang mereka sebut ruang interogasi. Ia tahu bahwa penjara yang sesungguhnya bukan di sana; penjara yang sesungguhnya adalah rasa takut yang ada di dalam hati para penangkapnya. Ia telah melampaui "Manusia Kertas", dan kini, bahkan di dalam sel yang paling gelap sekalipun, ia tetaplah seorang "Anak Kecil" yang sedang bermain dengan takdirnya.

1
Amiera Syaqilla
hello author 😄
MUXDHIS: Hallo 😄
total 1 replies
anggita
Abimanyu.... top👍
anggita
dukung like👍, bunga🌹, iklan👆 buat novel ini.
MUXDHIS: Thanks. 😍😍😍🙏
total 1 replies
Aisyah Suyuti
menarik
MUXDHIS: Thanks.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!