(Bukan Novel yang awalnya benci jadi cinta ya, alur sesuai imajinasi Mimin)
Rania, seorang perantau dari Indonesia, datang ke negeri asing hanya untuk bertahan hidup. Ia tidak pernah menyangka langkah nekatnya akan mempertemukannya dengan Marco seorang mafia besar, dingin, berbahaya, dan bucin tingkat dewa.
Pertemuan mereka menyeret Rania ke dunia gelap penuh kekuasaan, obsesi, dan perlindungan berlebihan. Cinta yang salah, pria yang salah... tapi terlalu sulit untuk ditolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog
Langkahnya kaki saling bersautan di hutan yang luas.
Ranting patah, daun-daun kering terinjak tanpa ampun. Seorang gadis berlari sekencang-kencangnya, napasnya tersengal, dadanya terasa sakit seolah paru-parunya terbakar. Gaun pengantin putih yang ia kenakan kini tak lagi putih, lumpur melekat di ujung kain, robekan kasar menghiasi sisi rok, dan noda darah samar tercetak di bagian belakang.
Ia tidak menoleh. Ia tahu apa yang ada di belakangnya.
Beberapa sosok berpakaian hitam mengejar dari kejauhan, bayangan mereka menyatu dengan gelapnya pepohonan. Suara langkah mereka berat, teratur terlatih. Bukan orang biasa. Setiap detik terasa seperti hitungan mundur menuju sesuatu yang tak ingin ia bayangkan.
“Jangan berhenti… jangan berhenti…” bisiknya lirih, pada dirinya sendiri.
Akar pohon mencuat dari tanah basah. Kakinya tersandung. Ia terjatuh keras, telapak tangannya tergores batu tajam. Rasa sakit menyambar, tapi ketakutan jauh lebih menyakitkan. Dengan gemetar ia bangkit lagi, memaksa kakinya bergerak meski tubuhnya menjerit minta menyerah.
Beberapa jam lalu, ia berdiri di altar. Musik lembut, bunga-bunga putih, senyum palsu yang dipaksakan. Sekarang, ia berlari di hutan, diburu seperti mangsa.
Sebuah cahaya samar muncul di kejauhan entah itu jalan keluar, atau hanya harapan palsu. Ia memilih percaya pada yang pertama. Karena jika ia berhenti sekarang, maka segalanya akan berakhir di sini.
Dan ia belum siap mati sebagai pengantin yang melarikan diri.
Cahaya itu semakin terang, menembus celah-celah pepohonan seperti janji keselamatan. Jantungnya berdetak liar, hampir pecah. Kakinya gemetar, tapi ia terus berlari, memaksa tubuhnya bergerak meski tenaga nyaris habis.
Tanah di bawah kakinya berubah. Tidak lagi lembap dan penuh akar melainkan keras dan rata.
Ia keluar dari hutan.
Seketika itu juga, harapan runtuh.
Sorot lampu mobil menyala terang, menghantam wajahnya tanpa ampun. Ia refleks menutup mata, tangan terangkat melindungi diri. Pandangannya buram, air mata bercampur keringat mengalir di pipinya. Napasnya terputus-putus, dada naik turun tak beraturan.
Di hadapannya, sebuah mobil hitam terparkir tenang terlalu tenang untuk situasi sekejam ini.
Pintu mobil terbuka.
Langkah sepatu kulit terdengar pelan namun jelas, menghantam aspal dengan ritme yang membuat bulu kuduknya berdiri. Ia membuka mata perlahan.
Seorang pria berdiri di bawah sorot lampu mobil.
Jas pengantin hitam melekat sempurna di tubuhnya, rapi tanpa satu lipatan pun, seolah malam ini berjalan persis sesuai rencana kecuali satu detail kecil pengantinnya berlumur lumpur dan darah, berdiri gemetar di hadapannya.
Wajah pria itu dingin. Tegas. Tampan dengan cara yang menakutkan. Tatapannya datar, kosong, tak ada amarah, tak ada kecemasan hanya ketenangan yang membuat siapa pun ingin lari lebih jauh.
Itu wajah yang sangat ia kenal.
Wajah pria yang beberapa jam lalu mengucap janji suci di altar.
Calon suaminya.
“Sudah puas larinya, Sayang?”
Suaranya rendah, tenang, hampir lembut.
Tubuh gadis itu bergetar hebat. Kata Sayang terasa seperti racun di telinganya. Ia mundur satu langkah, lalu satu langkah lagi, sampai tumitnya menyentuh batas hutan. Tidak ada jalan lagi.
Di belakangnya, suara langkah kaki kembali terdengar. Orang-orang berpakaian hitam keluar dari balik pepohonan, satu per satu, membentuk barisan sunyi. Wajah mereka tak jelas, tapi kehadiran mereka cukup untuk menghancurkan sisa keberaniannya.
Ia terjebak.
Pria itu melangkah mendekat. Cahaya lampu menyorot wajah gadis itu sepenuhnya mata merah karena menangis, bibir pecah-pecah, dan gaun pengantin yang kini lebih mirip kain kafan.
Ia berhenti tepat satu langkah di depannya.
“Kenapa kamu selalu membuat segalanya jadi sulit?” katanya pelan, nada suaranya nyaris seperti keluhan penuh kasih. Tangannya terangkat, jemarinya menyentuh pipi gadis itu, dingin terlalu dingin untuk sebuah sentuhan pengantin.
Gadis itu menepis tangannya dengan sisa tenaga yang ia miliki.
“Aku… aku tidak mau,” ucapnya gemetar. “Lepaskan aku. Tolong.”
Untuk pertama kalinya, sudut bibir pria itu terangkat. Bukan senyum lebih tapi lebih menyeramkan dari itu
“Kamu sudah menjadi milikku sejak kamu mengatakan ya dulu,” balasnya tenang. “Lari sejauh apa pun, akhir ceritanya tetap sama.”
Ia memberi isyarat kecil dengan tangannya.
Dua pria berbaju hitam melangkah maju.
Gadis itu menutup mata, air matanya jatuh tanpa suara. Di dalam hatinya, satu kalimat berulang seperti mantra terakhir.
Ini belum berakhir… aku harus bertahan.
Lampu mobil tetap menyala, menerangi jalan gelap di depan mereka jalan yang akan membawanya pada takdir yang belum ia pahami sepenuhnya.
Cinta bisa berubah menjadi penjara paling indah dan paling mematikan.
----
Bismillah, Novel baru karya asli ya, dari otak Mimin langsung.😀