Tio tidak pernah meminta untuk mati—apalagi tereinkarnasi dan bangun di dunia kultivasi brutal sebagai Ci Lung di Benua Tianlong.
Dengan tekad sederhana untuk hidup tenang di Lembah Sunyi, ia mencoba menjauh dari sekte, perang, dan orang-orang yang bisa membelah gunung hanya dengan bersin. Sayangnya, sebuah sistem misterius muncul, memberinya kekuatan… sekaligus hutang yang terus bertambah.
Lebih sial lagi, dunia mulai salah paham dan menganggapnya sebagai ahli tersembunyi yang menakutkan—padahal tingkat kultivasinya sebenarnya masih pas-pasan.
Di belakangnya berdiri Gu Shentian, guru di puncak Void Realm yang terlalu kuat untuk dijelaskan. Di sampingnya ada Yan Yu, murid kecil yang terlalu percaya bahwa gurunya adalah legenda hidup.
Ci Lung hanya ingin hidup normal.
Masalahnya…
Setiap kali ia mencoba, langit justru retak duluan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Paham Pemicu Perang
Perang tidak selalu dimulai oleh pedang.
Kadang, ia dimulai oleh satu kalimat pendek yang diucapkan pada waktu yang salah.
Itu terjadi di perbatasan antara Sekte Pedang Selatan dan Sekte Gunung Besi. Kedua sekte itu sudah lama bersaing—bukan musuh bebuyutan, tapi cukup dekat untuk saling mencurigai.
Dan di tengah kecurigaan itu, muncul satu topik yang tidak bisa mereka abaikan:
Lembah Sunyi.
Sekte Pedang Selatan percaya bahwa eksistensi di lembah adalah penjaga keseimbangan dunia. Mereka menganggapnya sebagai entitas netral yang tidak boleh diganggu.
Sekte Gunung Besi berpikir sebaliknya.
“Tidak ada makhluk yang benar-benar netral,” kata pemimpin mereka. “Jika dia cukup kuat untuk mengabaikan dunia, maka dia juga cukup kuat untuk menghancurkannya. Kita harus memahami posisinya.”
Perdebatan itu memanas selama berminggu-minggu. Utusan bolak-balik. Kata-kata semakin tajam.
Dan akhirnya, kedua sekte melakukan hal yang sama tanpa saling tahu:
Mereka mengirim pengamat ke tepi lembah.
Aku adalah bagian dari rombongan Sekte Pedang Selatan.
Kami tidak berniat masuk jauh. Hanya mengamati dari perbatasan, seperti yang sudah disepakati oleh sekte-sekte besar sebelumnya.
Saat kami tiba, kami melihat sesuatu yang tidak kami duga.
Seorang anak kecil sedang mengumpulkan kayu bakar di pinggir lembah.
Dia sendirian.
Rombongan kami saling pandang.
“Apakah itu… muridnya?” bisik seseorang.
Tidak ada aura mengancam di sekitar anak itu. Dia tampak seperti bocah biasa, meskipun setiap gerakannya terasa terlalu teratur untuk usianya.
Pemimpin rombongan kami melangkah maju perlahan.
“Kami tidak bermaksud jahat,” katanya lembut. “Kami hanya ingin bertanya.”
Anak itu menoleh. Matanya jernih, tanpa rasa takut.
“Iya?”
Pemimpin kami ragu sejenak, lalu bertanya, “Guru kamu… apakah dia memihak salah satu sekte?”
Anak itu berkedip.
Pertanyaan itu terlalu besar untuknya. Dalam pikirannya yang sederhana, dia memikirkan satu hal:
Guru selalu bilang untuk tidak ikut campur urusan orang.
“Guru tidak peduli,” jawabnya jujur.
“Selama tidak mengganggu rumah.”
Rombongan kami menghela napas lega.
Tidak peduli. Netral. Seperti yang kami yakini.
Kami berterima kasih pada anak itu dan mundur dengan perasaan ringan.
Namun kami tidak tahu bahwa di sisi lain perbatasan, Sekte Gunung Besi juga bertemu dengan anak yang sama—hanya beberapa jam kemudian.
Kali ini, anak itu sedang duduk di batu, mengamati air sungai.
Utusan Sekte Gunung Besi mendekat dengan hati-hati.
“Kami ingin bertanya tentang guru kamu,” kata mereka.
Anak itu mengangguk.
“Jika terjadi perang antar sekte,” lanjut utusan itu, “apakah guru kamu akan menghentikannya?”
Anak itu mengingat bagaimana Ci Lung pernah mengusir binatang yang berisik di dekat rumah mereka.
Guru tidak suka keributan.
“Kalau berisik,” katanya polos,
“Guru pasti menghentikannya.”
Utusan Sekte Gunung Besi saling pandang.
Menghentikan.
Bagi mereka, kata itu berarti campur tangan.
Berarti posisi.
Berarti ancaman.
Mereka membungkuk singkat pada anak itu lalu pergi dengan wajah tegang.
Dua jawaban.
Keduanya jujur.
Keduanya sederhana.
Dan ketika dibawa kembali ke sekte masing-masing, keduanya berubah menjadi bahan bakar.
Sekte Pedang Selatan mengumumkan, “Penunggu Lembah netral. Dia tidak peduli urusan dunia.”
Sekte Gunung Besi membalas, “Penunggu Lembah akan campur tangan jika terjadi perang. Dia tidak mengizinkan konflik.”
Kata-kata itu bertabrakan.
Tuduhan mulai muncul.
“Kalian memutarbalikkan fakta!”
“Kalian yang berbohong!”
Ketegangan yang sudah lama terpendam akhirnya pecah.
Bentrok pertama terjadi di perbatasan—kecil, tapi cukup untuk menyalakan api.
Dalam hitungan hari, dua sekte besar itu resmi berperang.
Gelombang energi dari pertempuran merambat jauh.
Sampai ke lembah.
Ci Lung sedang mencoba memperbaiki kursi yang goyah ketika tanah bergetar halus.
Dia berhenti.
“Apa itu?” gumamnya.
Muridnya menoleh. “Seperti guntur jauh, Guru.”
Getaran itu datang lagi, lebih kuat. Udara membawa sisa-sisa aura benturan kultivator tingkat tinggi.
Ci Lung mengerutkan kening.
Berisik.
Dia berdiri perlahan, rasa kesal muncul lebih dulu daripada rasa takut.
“Jangan keluar rumah,” katanya pada muridnya.
“Aku lihat sebentar.”
Dia melangkah keluar dari batas lembah.
Di medan perang, langit dipenuhi kilatan energi. Pedang bertabrakan dengan palu raksasa. Teriakan memenuhi udara.
Lalu—semuanya berhenti.
Bukan karena perintah.
Bukan karena teknik.
Tetapi karena sebuah tekanan turun tanpa suara.
Tidak menghancurkan. Tidak menyerang.
Hanya… hadir.
Para kultivator dari kedua sekte merasakan lutut mereka melemah. Energi mereka bergetar, bukan karena dipaksa, tapi seolah-olah dunia sendiri meminta mereka diam.
Di kejauhan, seorang pria berjubah sederhana berdiri di tepi medan.
Ci Lung menatap kerusakan di sekitarnya dengan ekspresi tidak senang.
“Apa kalian harus ribut di dekat rumah orang?” katanya keras.
Suaranya tidak diperkuat qi. Tidak bergema secara mistis.
Namun setiap orang mendengarnya dengan jelas.
Dan dalam benak mereka, satu pikiran muncul serempak:
Dia marah.
Kepanikan menyebar lebih cepat daripada api.
Para pemimpin sekte saling pandang, wajah mereka pucat.
Tanpa perlu kata-kata, mereka tahu apa yang harus dilakukan.
Senjata diturunkan.
Energi mereda.
“Kita… gencatan senjata,” kata salah satu pemimpin dengan suara kering.
“Setuju,” jawab yang lain cepat.
Tidak ada negosiasi panjang. Tidak ada syarat rumit.
Hanya satu tujuan bersama:
Menghentikan perang sebelum eksistensi di depan mereka memutuskan untuk melakukan lebih dari sekadar berbicara.
Ci Lung memandang mereka beberapa detik lagi, lalu mendengus pelan.
“Bagus.”
Dia berbalik dan berjalan kembali ke lembah, tidak menyadari bahwa langkah sederhananya baru saja mengakhiri perang antar sekte.
Di belakangnya, ratusan kultivator berdiri diam dalam keheningan.
Dan di hari itu, sebuah legenda baru lahir di benua Tianlong:
Bukan hanya bahwa Penunggu Lembah kuat.
Tetapi bahwa kemarahannya cukup untuk menghentikan perang.
Dan kalo boleh jujur,
Kalau authornya konsisten pakai gaya ini, ini bisa jadi ciri khas yang beda dari pasar murim mainstream, aku bakal lanjut baca.
Inget thor aku bakal jadi salah satu pembaca yang marah kalo Yan yuu kenapa-kenapa😠