NovelToon NovelToon
DETERMINED

DETERMINED

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik / Playboy / Anak Genius / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Murid Genius
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

"Di antara dinginnya sebuah pelindung dan hangatnya sebuah tawa, ada hati yang bertekad untuk tidak lagi hancur." - Meira tidak pernah percaya bahwa tragedi yang merenggut nyawa Papanya hanyalah kecelakaan biasa. Didorong oleh rasa kehilangan yang amat dalam dan teka-teki hilangnya sang Mama tanpa jejak, Meira berangkat menuju Lampung dengan satu tekad bulat, menguak tabir gelap yang selama ini menutupi sejarah keluarganya. Namun, menginjakkan kaki di SMA Trisakti ternyata menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Jalannya tidak mudah. Meira harus berhadapan dengan tembok tinggi yang dibangun oleh rahasia yang terkubur dalam, hingga trauma yang nyaris membuatnya menyerah di setiap langkah. Setelah satu demi satu rahasia terbongkar, Meira pikir perjuangannya telah usai. Namun, kebenaran itu justru membawa badai baru. Ia kembali dihadapkan pada persoalan hati yang pelik. Antara rasa bersalah, janji masa lalu, dan jarak. Kini, Meira harus membuat keputusan tersulit dalam hidupnya. Bukan lagi tentang siapa yang bersalah atau siapa yang benar, melainkan tentang siapa yang berhak menjadi tempatnya bersandar selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua puluh Enam

"Kenapa kamu nggak jujur sama saya kalau bukan kamu yang mencuri gelang itu?" Pak Iyan menatap prihatin Meira yang terdiam di duduknya. Di sebelahnya sudah ada Giani yang menundukkan kepalanya takut.

"Maafkan saya, Pak." kalimat ini sudah keluar dua kali dari mulut Meira.

Pandangan Pak Iyan beralih pada Giani. "Dan kamu, Giani. Saya tahu alasan kamu mengambil gelang itu untuk tambahan biaya operasi Ayah kamu, tapi cara kamu dengan mencuri itu salah besar. Seharusnya kamu bicarakan baik-baik dengan wali kelas kamu, minta solusi padanya. Saya yakin teman-teman kelas kamu bisa membantu kamu." ujarnya.

"Saya menyesal, Pak. Maafkan saya." Giani berucap lirih. Ia masih menundukkan kepalanya dalam-dalam, enggan untuk menatap Pak Iyan, selaku Kepala Sekolah.

"Kali ini perbuatan kamu saya maafkan. Meski begitu, saya akan tetap memberikan kamu surat peringatan, silahkan tanda tangan." perintahnya tegas.

"Beasiswa saya..."

"Saya kasih toleransi untuk hal ini. Tapi ingat, tidak ada kesempatan kedua!" potong Pak Iyan cepat dengan nada penuh penegasan.

Giani mengangguk cepat, matanya semakin berkaca-kaca. "Baik, Pak. Terimakasih banyak." lirihnya.

Giani kemudian mengambil pulpen yang terpasang di meja dan menandatangani surat peringatan dengan tangan gemetar.

"Untuk kamu, Meira. Saya akan cabut surat peringatan yang diberikan kemarin beserta nilai kamu yang sempat saya batasi."

Meira hanya mengangguk patuh. "Terima kasih, Pak," jawab Meira pelan. Ada secercah kelegaan di hatinya, namun beban yang ia rasakan belum sepenuhnya terangkat. Ia melirik Giani yang masih tampak sangat terpukul.

"Kalian boleh kembali ke kelas. Dan Giani, setelah ini tolong sampaikan pada orang tuamu bahwa sekolah ingin bertemu untuk membicarakan perihal bantuan biaya dari yayasan. Kita tidak ingin masalah seperti ini terulang lagi." tutup Pak Iyan dengan nada yang sedikit lebih lembut.

Giani mendongak kaget, matanya yang sembab mulai berkaca-kaca kembali. "B-bantuan, Pak?"

Pak Iyan mengangguk. "Meira yang menceritakan kondisi Ayahmu secara garis besar tadi. Sekolah akan mengusahakan bantuan sosial. Sekarang, kembalilah ke kelas."

Keduanya keluar dari ruang kepala sekolah dalam keheningan. Koridor sekolah terasa begitu panjang bagi mereka berdua. Baru beberapa langkah menjauh dari ruangan, Giani tiba-tiba berhenti dan berbalik menghadap Meira.

"Kenapa lo lakuin itu, Mei?" tanya Giani dengan suara bergetar. "Lo punya kesempatan buat bikin gue dikeluarkan dari sekolah, tapi lo malah minta tolong Pak Iyan buat kasih bantuan ke gue? Setelah semua yang gue lakuin ke lo?"

Meira tersenyum tipis, tatapannya tulus. "Karena aku tahu rasanya takut kehilangan orang tua, Gi. Aku nggak mau kamu kehilangan kesempatan buat nyembuhin Ayah kamu cuma karena satu kesalahan yang kamu buat saat terdesak."

Giani terisak, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Maafin gue, Mei. Gue bener-bener minta maaf."

"Udah, jangan dibahas lagi. Sekarang lebih baik kamu fokus ke Ayah kamu." hibur Meira sambil menepuk bahu Giani perlahan.

Namun, di ujung koridor, sosok Rey berdiri bersandar pada dinding dengan kedua tangan masuk ke saku celana. Ia menyaksikan pemandangan itu dengan tatapan datar yang sulit diartikan.

"Bahkan kebaikan hati lo sama persis dengan Lyra, Mei." gumam Rey lirih.

Rey tetap bergeming di tempatnya saat Meira dan Giani berjalan mendekat. Tatapannya yang tajam sempat membuat Giani menunduk lebih dalam karena malu, lalu cewek itu segera bergegas pergi meninggalkan Meira di sana bersama Rey.

"Sikap lo terlalu berisiko, Mei." ujar Rey memecah keheningan koridor. Suaranya datar, namun ada nada peringatan yang tersirat.

Meira menghentikan langkahnya tepat di depan Rey. "Maksud kamu?"

"Nyelamatin orang yang udah nyoba ngejatuhin lo itu bukan kebaikan, tapi kebodohan." Rey menegakkan tubuhnya, menatap Meira lekat-lekat. "Gimana kalau dia nggak kapok? Gimana kalau dia malah makin benci sama lo karena merasa lo

kasihani?"

Meira menggeleng pelan. "Enggak semua orang se-skeptis kamu, Rey. Giani cuma orang yang lagi putus asa." Ia menjeda kalimatnya, teringat sesuatu. "Oh iya, soal rekaman itu.. sejak kapan kamu pasang kamera di kelas? Apa tujuannya? Jangan-jangan kamu mau mesum ya?" tuduhnya dengan memicingkan mata ke arah Rey.

Rey hanya menaikkan sudut bibirnya tipis, bukan senyuman, lebih ke arah seringai kecil. "Kalau iya, lo mau ngapain?" jawabnya santai, mengabaikan tatapan selidik Meira. Ia melangkah dua langkah lebih dekat, membuat Meira refleks mundur hingga punggungnya menyentuh pilar koridor.

Meira mendengus, berusaha menutupi kegugupannya. "Udah gila ya kamu!"

Meira mendorong tubuh Rey, berusaha menjauhkan cowok itu dari hadapannya. Ia mulai melangkah untuk pergi meninggalkan Rey yang masih diam di posisinya. Cowok itu mengamati punggung Meira yang semakin menjauh dari pandangannya.

...\~\~\~...

Meira mengedarkan pandangannya ke sekitar taman sekolah. Tidak ada Ayara yang awalnya is kira berada di taman belakang lapangan sekolah mereka. Meira berjalan menuju kantin, barangkali menemukan Ayara.

"Lan, kamu tau Ayara dimana?" tanya Meira pada Lana dan Hesty yang sedang memakan bakso di kantin.

Lana mengerutkan keningnya. "Emang di kelas nggak ada?" ia malah bertanya balik.

"Nggak, aku udah cari dia di sekitar lapangan juga gak ada."

"Kemana, ya." Hesty menyahut bingung. "Tadi sih dia bilang mau ke kelas."

"Lo udah nyari ke seluruh sekolah belum?" Lana kembali bertanya.

Meira tampak berpikir beberapa saat mendengar pertanyaan dari Lana. Sampai pada akhirnya ia teringat sesuatu.

"Sekolah ini ada rooftop nggak?"

Hesty menggangguk cepat. "Ada, Mei. Tangganya ada di sebelah gudang."

"Lo yakin Ayara disana?" Lana bertanya seolah sudah tahu isi pikiran Meira.

"Dia sering menyendiri di rooftop kalau ada masalah." jawab Meira cepat. "Aku pergi dulu, ya." pamitnya, kemudian berlari kecil menuju tangga penghubung ke atap sekolah.

Meira menghentikan langkahnya sejenak ketika sampai di tangga yang dimaksud Hesty. Ia mengamati keadaan sekitar yang lumayan gelap. Tidak ada lampu sama sekali disana, hanya cahaya matahari yang masuk dari celah-celah ventilasi di sepanjang tangga. Dengan sedikit ragu, ia meneruskan langkahnya untuk menaiki tangga satu persatu.

Meira dapat bernapas lega setelah sampai di ujung tangga. Tangannya memegang knop pintu besi di depannya dan membukanya perlahan.

Ayara yang sedang berdiri di tepi pembatas rooftop membalikkan tubuhnya refleks.

"Mau ngapain lo kesini?" tanyanya ketus.

"Kontak batin kita emang kuat, ya. Aku sampai bisa nebak dengan mudah kalau kamu ada disini." kata Meira sambil tersenyum lebar.

Ayara memutar bola matanya. Yang dikatakan Meira barusan sama sekali tidak masuk akal. "Gak ada hubungannya!"

"Jelas ada." Meira menyahut cepat. Ia berjalan beberapa langkah ke depan, tetapi tidak terlalu mendekat ke arah Ayara berdiri. "Kita, kan, saudara."

"Ngomong apa sih, lo. Gak jelas, banget." Ayara berbalik, berniat pergi dari sana. Namun, dengan cepat tangan Meira berhasil mencegahnya.

"Kamu pasti gak akan nyangka, Ayara. Waktu aku pergi ke Panti itu kemarin. Bukan informasi soal Mama yang aku dapat.." Meira menggantungkan ucapannya. "Melainkan, informasi tentang Papa."

Ayara yang awalnya berontak, ingin melepaskan tangan Meira dari tangannya kini malah terdiam. Ia menatap Meira, menunggu gadis itu melanjutkan ucapannya.

Meira menghela napas panjang, lalu melepaskan cekalannya pada tangan Ayara dengan gerakan perlahan. Gadis itu berjalan mendekati pagar pembatas rooftop. Menatap bebas hamparan lapangan sekolahnya.

"Informasi tentang Papa yang meninggal dalam insiden tujuh tahun lalu." Meira kembali membalikkan badannya, menatap Ayara dengan tatapan sendu. "Karena ditembak oleh adiknya sendiri."

"Rendy Wijaya, adik kandung dari Aditya Wijaya." Meira tersenyum getir di akhir kalimat.

...\~\~\~...

1
Zanahhan226
ups, penuh misteri sekali ini..
listia_putu
ceritanya bagus kok, udah melewati 10 bab yg aku baca. tp kenapa pembacanya sedikit??? heran....
Zanahhan226
menarik dan misterius..
Zanahhan226
halo, aku mampir, Kak..
semangat, ya..
kita saling dukung ya..
🥰🥰
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
anggita
mampir ng👍like aja☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!