NovelToon NovelToon
SEBELUM AKU LUPA SEGALANYA

SEBELUM AKU LUPA SEGALANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Trauma masa lalu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Arka terbangun dari tidur panjang selama tiga tahun tanpa membawa satu pun kepingan memori tentang siapa dirinya. Ia hidup dalam raga yang sehat, namun jiwanya terasa asing, terjebak dalam rasa bersalah yang tak bernama dan duka yang bukan miliknya. Di sisi lain, Arunika baru saja menyerah pada penantiannya. Selama tiga tahun, ia menunggu seorang pria dari aplikasi bernama Senja yang menghilang tepat di hari janji temu mereka di Jalan Braga. Pencarian Arunika berakhir di sebuah nisan yang ia yakini sebagai peristirahat terakhir kekasihnya.

Namun, takdir memiliki cara yang ganjil untuk mempertemukan mereka kembali. Di sebuah halte yang lembap dan kafe tua di sudut Braga, Arka dan Arunika duduk bersisian sebagai dua orang asing yang berbagi rasa sakit yang sama. Arka dihantui oleh bayangan janji yang ia lupakan, sementara Arunika terombang-ambing antara kesetiaan pada masa lalu dan debaran aneh yang ia rasakan pada pria bernama Arka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BUKAN KAMU YANG PERGI HANYA MEMORIMU YANG TERCURI

Malam itu, Arunika berangkat menuju Stasiun Lempuyangan, menembus dinginnya malam Yogyakarta. Di saat yang sama, di Bandung, Arka sedang duduk di meja belajarnya, menatap sebuah sketsa lama yang ia temukan terselip di buku catatannya—sketsa wajah seorang gadis yang sedang tertawa, dan di pojok bawah sketsa itu, ada tulisan tangan yang masih sangat jelas: "Menunggu Senja di Braga - A".

Arka tidak tahu siapa yang menggambar itu, tapi ia tahu, besok sore ia harus berada di halte itu, apapun risikonya.

Pagi di Bandung terasa begitu magis bagi Arunika. Tanpa sempat meletakkan tasnya ke kosan tempat ia biasa tinggal dulu, ia langsung melangkahkan kaki menuju Jalan Braga. Jantungnya berdegup kencang, seirama dengan langkah kakinya yang terburu-buru di atas trotoar batu yang masih lembap oleh sisa embun. Baginya, setiap detik sangatlah berharga; ia tidak ingin kehilangan jejak pria itu lagi.

Dari kejauhan, matanya menangkap siluet seorang pria yang sedang duduk termenung di salah satu kursi taman besi berwarna hijau tua. Pria itu tampak menunduk, menatap ke arah jalanan dengan bahu yang sedikit jatuh, persis seperti bayangan "Senja" yang selama ini bersemayam dalam ingatannya. Cahaya matahari pagi yang menerobos celah bangunan tua memberikan garis cahaya pada sosok itu, membuatnya tampak seperti ilusi yang keluar dari buku diary-nya.

"Entah siapapun kamu... apa mungkin kamu kembali?" bisik Arunika dalam hati.

Harapannya meledak begitu saja. Logika yang kemarin ditanamkan Erlina mendadak luntur. Ia sedikit berlari, tak peduli dengan tas yang terasa berat di bahunya. Baginya, jarak beberapa meter itu terasa seperti perjalanan ribuan kilometer yang harus segera ia tuntaskan. Ia ingin segera berada di depan sosok itu, ingin memastikan bahwa kehadiran pria itu bukan sekadar fatamorgana.

Namun, tepat saat jarak mereka hanya tinggal beberapa langkah, suara gesekan sepatu Arunika di atas trotoar membuat pria itu tersentak. Ia menoleh perlahan ke arah sumber suara.

Mata mereka bertemu.

Arunika mendadak terpaku. Napasnya tertahan di kerongkongan. Itu bukan "Senja" dengan wajah yang ia lihat di nisan kemarin. Itu adalah pria yang sama yang ia temui di halte tempo hari—pria yang membuatnya menangis tanpa sebab, pria yang memiliki tatapan mata yang seolah-olah mengenali seluruh jiwanya.

"Eh, kamu..." ucap pria itu spontan.

Suaranya rendah namun hangat, ada nada keterkejutan sekaligus kelegaan dalam intonasinya. Pria itu segera berdiri dari kursi taman, menatap Arunika dengan tatapan yang sulit diartikan—perpaduan antara rindu yang tak sampai dan kebingungan yang mendalam.

Arunika berdiri mematung, dadanya naik turun karena napas yang belum teratur. Ia menatap pria di depannya, mencari-cari jawaban di balik wajah asing itu. Pria ini belum ia ketahui namanya, ia belum tahu apakah pria ini adalah "Arka" yang tulisannya pudar di bukunya, ataukah ia hanya orang asing yang terjebak dalam takdir yang sama.

"Kamu... datang lagi ke sini?" tanya pria itu perlahan, mencoba memecah keheningan yang menyesakkan di antara mereka.

Arunika hanya bisa mengangguk pelan, lidahnya terasa kelu. Di dalam kepalanya, suara Erlina terngiang: "Bertindaklah senormalnya." Tapi bagaimana bisa ia bertindak normal jika setiap sel di tubuhnya berteriak bahwa pria di depannya ini adalah alasan mengapa ia masih bernapas hingga hari ini?

Arunika melangkah satu pijakan lebih dekat, menatap pria itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Tas yang ia sampirkan di bahunya terasa semakin berat, namun ia tak peduli. Kata-kata Erlina tentang "bertindak normal" seketika menguap, digantikan oleh dorongan batin yang tak terbendung.

"Iya... aku ngerasa ada janji," ucap Arunika lirih. Suaranya sedikit bergetar, seolah setiap kata yang keluar membawa beban rindu yang sudah ia simpan selama tiga tahun. "Janji yang belum selesai. Janji yang bikin aku tertahan di kota ini, meskipun aku sudah mencoba lari berkali-kali."

Pria itu tertegun. Ia menatap Arunika dengan tatapan yang sangat dalam, seolah sedang mencoba mencocokkan suara gadis itu dengan melodi yang sering muncul dalam mimpinya selama koma. Ia tersenyum getir, lalu menunduk menatap ujung sepatunya yang berdebu.

"Ternyata janji itu jahat, ya..." ucap pria itu dengan nada yang sangat emosional. Ia menarik napas panjang, seolah dadanya sesak oleh udara Bandung yang tiba-tiba terasa begitu padat. "Aku juga lagi rasain sakitnya janji. Sakit karena aku tahu ada janji yang aku buat, tapi aku nggak ingat apa itu. Aku tahu aku sudah mengecewakan seseorang, tapi aku nggak punya cara untuk minta maaf karena memori itu dicuri dariku."

Pria itu kembali menatap Arunika, kali ini dengan mata yang memerah. "Aku berdiri di sini, di kafe sana, di halte kemarin... semuanya terasa seperti luka lama yang dipaksa terbuka lagi. Aku merasa seperti orang paling jahat karena membiarkan seseorang menunggu di tengah badai, sementara aku sedang tertidur panjang."

Arunika merasakan jantungnya seolah diremas. Kalimat "tertidur panjang" itu menghantamnya. Ia ingin sekali bertanya, siapa namamu? atau apakah kamu Arka?. Namun, melihat pria itu begitu rapuh di depannya, Arunika justru merasa sangat kasihan. Mereka adalah dua manusia yang sama-sama hancur karena satu hal yang sama: waktu yang terenggut.

"Mungkin janji itu nggak jahat," bisik Arunika sambil mendekat sedikit lagi. "Mungkin janjinya cuma lagi cari jalan pulang. Dan mungkin... kita dipertemukan lagi di sini supaya janji itu nggak perlu menyakiti siapa-siapa lagi."

Pria itu menatap tangan Arunika yang gemetar di sisi tubuhnya. Ia ingin sekali meraih tangan itu, merasakan kehangatan yang ia rasa pernah ia miliki dulu. Namun, ia masih terhalang oleh kenyataan bahwa ia belum tahu siapa gadis ini sebenarnya.

"Nama aku... Arka," ucap pria itu tiba-tiba, seolah-olah nama itu adalah kunci yang selama ini ia sembunyikan. "Apa nama itu... ada di dalam janjimu?"

Arunika tertegun mendengar nama itu. Arka. Sebuah nama yang dimulai dengan huruf yang sama dengan sisa tinta pudar di buku diary-nya. Namun, peringatan Erlina kembali terngiang di kepalanya seperti alarm.

"Di dunia ini nama berawalan A itu ada jutaan, Run. Dan orang yang patah hati atau merasa punya janji yang belum selesai juga banyak," pikir Arunika dalam hati. Ia mencoba menekan egonya, berusaha agar tidak terlihat terlalu berharap pada sebuah kebetulan yang mungkin saja semu. Ia tidak ingin jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya, lalu mengulurkan tangannya dengan ragu namun sopan.

"Aku Arunika," ucapnya pelan.

Arka menyambut tangan itu. Sentuhan kulit mereka mengirimkan sengatan familiar yang membuat Arka mematung sesaat. Nama itu—Arunika—terasa seperti melodi yang sangat indah namun memilukan di telinganya. Baginya, nama itu bukan sekadar nama; itu adalah kata yang terasa seperti rumah, tempat yang sudah lama ia tinggalkan dan hampir ia lupakan jalannya.

"Arunika..." Arka mengulang nama itu, seolah ingin meresapi setiap suku katanya ke dalam ingatannya. "Nama yang bagus. Seperti matahari terbit."

Arunika tersenyum tipis, sebuah senyum yang getir. "Tapi matahari itu sempat tenggelam sangat lama di Bandung, Arka. Sampai aku nggak yakin apa dia bakal muncul lagi atau nggak."

Mereka berdua terdiam dalam kecanggungan yang penuh makna di tengah keramaian Jalan Braga yang mulai berdenyut. Arka masih memegang tangan Arunika sedikit lebih lama dari biasanya, seolah takut jika ia melepasnya, gadis itu akan menghilang lagi ke dalam kerumunan seperti tiga tahun lalu.

"Arunika," panggil Arka lagi, suaranya kini lebih mantap. "Aku tahu kita baru kenal—maksudku, secara resmi baru sekarang. Tapi, boleh nggak kita duduk sebentar? Aku ngerasa... kalau aku nggak bicara sama kamu sekarang, aku bakal kehilangan kesempatan seumur hidupku."

Arunika menatap bangku taman itu, lalu menatap Arka. Ada ketulusan yang luar biasa di mata pria itu, sebuah kejujuran yang tidak bisa dimanipulasi oleh siapa pun. Ia mengangguk pelan.

Angin pagi di Jalan Braga berembus pelan, membawa aroma kopi dari kedai-kedai tua dan wangi aspal yang masih basah. Di bangku taman itu, Arka dan Arunika duduk bersisihan, namun ada jarak yang tak kasat mata di antara mereka—sebuah jurang bernama memori yang hilang. Arka menautkan jemarinya, menunduk dalam-dalam seolah beban di kepalanya terlalu berat untuk ditopang oleh lehernya sendiri.

"Arunika... menurutmu kalau aku merasa bersalah sama orang, apa itu wajar?" tanya Arka tiba-tiba. Suaranya pecah, tersangkut di tenggorokan yang terasa kering.

Arunika menoleh, menatap profil samping wajah Arka. Garis wajah pria itu tampak tegas namun menyimpan kelelahan yang luar biasa. "Rasa bersalah adalah tanda bahwa nuranimu masih bekerja, Arka. Tapi kenapa kamu bertanya begitu?"

Arka menghela napas panjang, sebuah desahan yang terdengar seperti rintihan. "Masalahnya adalah... aku bahkan nggak tahu kenapa aku ngerasa bersalah, dan aku nggak tahu dia siapa. Selama aku koma, lalu bangun dengan kepala kosong, perasaan ini satu-satunya hal yang nggak ikut hilang. Kayak ada utang yang belum aku bayar, tapi aku lupa di mana alamat penagihnya."

Arka menatap kerumunan orang yang mulai memadati trotoar Braga. "Setiap kali aku lewat halte itu, atau duduk di kafe pojok sana, dadaku sesak. Aku merasa seperti seorang pengkhianat yang meninggalkan seseorang di tengah badai, tapi aku nggak punya wajah untuk diingat, nggak punya nama untuk dipanggil. Kamu tahu betapa menyakitkannya itu? Membenci diri sendiri karena sesuatu yang bahkan nggak kamu ingat?"

Arunika terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu persis siapa orang yang ditinggalkan di tengah badai itu. Ia adalah orangnya. Ia adalah gadis yang menunggu di Jalan Braga tiga tahun lalu hingga toko-toko tutup dan lampu jalan mulai meredup, berharap pria dari aplikasi itu muncul. Namun, melihat penderitaan Arka sekarang, amarah yang dulu sempat ia simpan perlahan luntur menjadi rasa iba yang mendalam.

"Mungkin karena kamu lupa, itulah cara semesta melindungimu dari rasa sakit yang lebih besar," ucap Arunika lembut, matanya menerawang ke arah gedung-gedung tua peninggalan Belanda. "Tapi Arka, mungkin kalau kalian bertemu lagi, itu bisa kamu jelasin. Mungkin orang itu nggak butuh permintaan maaf yang puitis. Mungkin dia cuma butuh tahu kalau kamu nggak sengaja ninggalin dia."

Arka memutar tubuhnya menghadap Arunika, matanya mencari kepastian. "Ketemu lagi? Gimana caranya kalau aku sendiri nggak tahu siapa yang aku cari? Bandung ini luas, Arunika. Dan waktu tiga tahun itu bisa mengubah segalanya. Mungkin dia sudah membenciku. Mungkin dia sudah bahagia dengan orang lain yang nggak pernah lupa janji."

Arunika tersenyum getir, menahan air mata yang mendesak keluar. "Kadang, orang yang menunggu itu nggak pernah benar-benar pergi, Arka. Mereka cuma bersembunyi di balik luka mereka sendiri. Kalau takdir memang ingin kalian bertemu, semesta punya cara yang sangat aneh untuk mendekatkan kalian kembali. Seperti... pertemuan kita sekarang."

Obrolan mereka mengalir lebih jauh, melintasi batas-batas logika. Arka mulai bercerita tentang pecahan-pecahan mimpi yang ia alami saat jiwanya berada di antara hidup dan mati. Ia bercerita tentang suara tawa seorang gadis yang sering menggambar di bawah pohon, dan bagaimana suara itu menjadi satu-satunya kompas yang menuntunnya untuk bangun dari tidur panjangnya.

Sementara itu, Arunika hanya mendengarkan dengan hati yang terkoyak. Ia sadar, Arka sedang menceritakan tentang dirinya, namun pria itu tidak tahu bahwa objek dari ceritanya sedang duduk tepat di sampingnya. Arunika teringat ucapan Erlina; ia harus tetap normal. Ia tidak boleh egois dengan langsung mengklaim bahwa "Akulah orangnya". Ia ingin Arka mengingatnya bukan karena dipaksa, tapi karena jiwanya yang memanggil kembali nama itu.

"Kamu tahu, Arka," lanjut Arunika setelah keheningan yang cukup lama. "Aku juga pernah menunggu seseorang. Sangat lama. Sampai aku menganggap orang itu sudah mati. Aku bahkan sempat mendatangi sebuah makam dan menangis di sana, mengira itulah akhir dari ceritaku. Tapi setelah aku bertemu kamu... aku mulai ragu. Apakah aku menangisi orang yang benar, ataukah aku hanya menangisi bayanganku sendiri?"

Arka tertegun. Ia merasakan ada benang merah yang sangat kuat antara cerita Arunika dan penderitaannya sendiri. "Kalau orang yang kamu tunggu itu tiba-tiba ada di depanmu sekarang, tapi dia nggak ingat siapa kamu... apa yang bakal kamu lakukan?"

Arunika menatap mata Arka dalam-dalam. Ada keheningan panjang di antara mereka, di mana hanya suara mesin kendaraan dan percakapan orang lewat yang terdengar.

"Aku bakal ajak dia duduk," jawab Arunika lirih. "Lalu aku bakal bilang: 'Nggak apa-apa kalau kamu lupa. Aku punya cukup banyak kenangan untuk kita bagi berdua, sampai kamu bisa ingat kembali dengan caramu sendiri.' Karena cinta yang tulus itu bukan cuma soal mengingat nama, Arka. Tapi soal merasa nyaman saat berada di sampingnya, meski ingatanmu sudah dihapus paksa oleh waktu."

Mata Arka memerah. Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun dari koma, rasa bersalah yang mencekiknya selama ini perlahan mulai melonggar. Ia merasa seolah Arunika adalah penawar dari racun yang selama ini ia telan sendirian. Meskipun ia belum yakin 100% bahwa Arunika adalah gadis yang ia cari, ia merasa jiwanya telah menemukan dermaga untuk bersandar.

"Terima kasih, Arunika," bisik Arka. "Terima kasih karena nggak menganggap rasa bersalahku ini sebagai kegilaan."

1
Ira Indrayani
/Rose//Heart/
Dinaneka
Ceritanya bagus..
mampir juga yaa Thor di cerita aku "My Dangerous Kenzo"🙏👍
Dinna Wullan: terimakasih dukungannya kak dina, siap meluncur
total 1 replies
Ros Ani
mampir lagi Thor karya barumu,semangat berkarya & sukses 💪
Dinna Wullan: terimakasih kak semoga suka, itunggu kritik dan sarannya ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!