NovelToon NovelToon
GERBANG YANG SAMA

GERBANG YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 - Two-on-Two

Malam yang singkat itu berlalu secepat kedipan mata. Alarm di ponsel Gery berbunyi tepat saat azan subuh berkumandang dari masjid di sekitar hotel. Meski matanya masih terasa berat, bayangan kecupan Vanya semalam seolah menjadi suntikan energi yang instan.

Gery bangkit, menendang pelan kaki Sammy yang masih terbungkus selimut tebal. "Woi, bangun! Katanya mau buang keringat?"

Satu per satu penghuni kamar 305 mulai menggeliat. Dion dan Adrian, meski dengan nyawa yang belum terkumpul penuh, mulai bangkit dan mencuci muka. Tak lama kemudian, empat sekawan itu sudah berada di lapangan basket hotel yang masih remang-remang, diselimuti kabut tipis sisa hujan semalam.

"Siap kalah, Pak Ketua Kelas?" tantang Sammy sambil memantulkan bola basket ke aspal lapangan.

Dion nyengir, melepas jaketnya dan hanya menyisakan kaos dalam. "Liat aja nanti. Adrian, lo jaga Gery. Biar gue yang urus si Sammy ini."

Permainan dimulai. Udara dingin Jogja perlahan memanas oleh gerakan-gerakan lincah mereka. Gery membuktikan ucapannya pada Vanya semalam; ia bergerak seperti air di lapangan basket. Dribble-nya rendah, langkahnya tak tertebak, dan setiap tembakannya seolah memiliki magnet menuju ring.

Reno, yang ternyata diam-diam menyusul ke lapangan, bersorak dari pinggir. "Gila! Gery kalau pegang bola basket auranya beda! Ini mah bukan Gery yang biasanya kalah main futsal!"

Di sela-sela permainan, Gery sesekali melirik ke arah balkon hotel, bertanya-tanya apakah Vanya atau Nadia sedang melihat dari atas sana. Hari terakhir di Jogja ini dibuka dengan semangat yang meluap, seolah mereka ingin mengubur semua kepahitan kemarin dengan tetesan keringat di bawah langit fajar yang mulai menyemburat jingga.

Lampu-lampu lobi luar hotel masih menyala remang saat empat pasang kaki dari siswi PH2 melangkah keluar menuju area balkon yang menghadap langsung ke lapangan basket. Nadia, yang matanya masih sedikit sembap namun sudah memancarkan energi yang lebih positif, menjadi yang pertama sampai di pagar balkon. Di belakangnya, Vanya, Rini, dan Yola menyusul dengan langkah yang masih agak malas karena sisa kantuk.

Namun, pemandangan di bawah sana seketika mengubah suasana pagi yang sunyi itu menjadi riuh.

Nadia menyandarkan kedua tangannya di pagar besi balkon, matanya berbinar melihat Gery yang sedang melakukan crossover lincah melewati hadangan Adrian. Tanpa ragu, Nadia mengeluarkan suara lantangnya yang khas.

"Geryyy! Semangat! Hajar terus, Ger!" teriak Nadia dengan tangan melambai-lambai ke arah lapangan.

Vanya yang awalnya tertinggal beberapa langkah langsung mempercepat jalannya. Mendengar nama Gery disebut dengan penuh semangat oleh Nadia, rasa penasarannya membuncah. Ia ingin membuktikan sendiri apakah cerita Gery tentang "keahlian basket" semalam itu fakta atau hanya bualan untuk membuatnya terkesan di taman tadi malam.

Reno, yang sedang duduk di pinggir lapangan sambil menenggak air mineral, menoleh ke arah sumber suara. Ia nyengir lebar dan menyahut dengan teriakan yang tak kalah kencang. "Woi, Nadia! Sini turun! Liat nih 'monster' basket kita lagi unjuk gigi! Ternyata selama ini kita ditipu, dia pura-pura culun pas main futsal cuma buat jaga perasaan kita!"

Vanya akhirnya sampai di samping Nadia. Matanya langsung tertuju pada satu titik: Gery. Di bawah siraman cahaya fajar yang mulai menyemburat jingga, Gery tampak sangat berbeda. Rambutnya basah oleh keringat, kaosnya menempel ketat di badan menunjukkan lekuk tubuh yang atletis, dan fokus matanya begitu tajam.

SWISH!

Bola yang dilempar Gery meluncur mulus masuk ke dalam ring tanpa menyentuh tepian besi sedikit pun. Sebuah tembakan tiga angka yang sempurna.

"Gila..." gumam Vanya tanpa sadar. Mulutnya sedikit terbuka. Ia belum pernah melihat sisi Gery yang seberwibawa ini. Gery di sekolah adalah sosok yang rapi dan terorganisir, Gery semalam adalah sosok yang hangat dan penuh rahasia, tapi Gery di lapangan basket adalah sosok yang dominan dan penuh determinasi.

Gery yang mendengar teriakan dari balkon sempat menoleh sekilas. Ia melihat Vanya berdiri di sana, menatapnya dengan pandangan takjub yang tidak bisa disembunyikan. Gery hanya memberikan senyum tipis—senyum kemenangan yang tampak sangat maskulin—lalu kembali fokus ke arah Dion yang mencoba merebut bola darinya.

"Ger, jangan sombong lo ya karena ditonton cewek-cewek!" seru Dion sambil memasang kuda-kuda bertahan.

"Fokus, Yon! Nanti malu kalau dilewatin lagi," balas Gery dengan nada menantang yang jarang ia tunjukkan.

Rini dan Yola pun ikut terbawa suasana. Mereka mulai bersorak memberikan dukungan, membuat area lapangan basket hotel itu terasa seperti arena pertandingan sungguhan. Suasana pagi itu menjadi sangat hidup; kepedihan di Malioboro seolah benar-benar telah luntur, digantikan oleh decak kagum terhadap sosok Gery yang selama ini memilih untuk "menyimpan" bakatnya di balik sikapnya yang rendah hati.

Vanya terus memperhatikan setiap gerak-gerik Gery. Di dalam hatinya, ia merasa bangga sekaligus sedikit terancam. "Ternyata lo sehebat ini ya, Ger? Pantas aja Angela dulu sampai mau nolongin lo," batin Vanya sambil terus menatap lekat ke arah laki-laki yang semalam baru saja memberikannya kecupan di pipi.

Adrian akhirnya menyerah pada napasnya yang memburu. Ia membungkuk dengan tangan bertumpu pada lutut, memberikan kode lambaian tangan ke arah Reno. "Ganti, Ren! Napas gue mau putus!" serunya terengah-engah.

Reno, yang sejak tadi sudah gatal ingin menyentuh bola, langsung melemparkan botol minumnya dan melompat masuk ke lapangan dengan gaya teatrikal. Masuknya Reno mengubah peta kekuatan secara drastis. Postur Reno yang jangkung, bahkan melampaui Sammy, menjadi tantangan fisik yang nyata. Ia memiliki jangkauan tangan yang lebar, siap menjadi tembok penghalang bagi tembakan-tembakan presisi Gery.

Melihat tensi permainan yang semakin meninggi di bawah sana, Nadia tidak tahan lagi hanya menonton dari ketinggian. "Eh, turun yuk! Nggak seru liat dari jauh!" ajaknya sambil menarik tangan Vanya. Rini dan Yola pun bergegas mengikuti. Mereka berlari menuruni anak tangga darurat dan muncul di tepi lapangan tepat saat Gery sedang melakukan dribble rendah untuk menghindari jangkauan tangan Reno yang panjang.

Suara decitan sepatu karet di atas aspal dan pantulan bola yang berirama berat menciptakan atmosfer pertandingan profesional. Sammy dan Gery menunjukkan chemistry yang luar biasa. Sammy berperan sebagai pendobrak yang berani melakukan kontak fisik dengan Reno, sementara Gery bergerak seperti bayangan—licin, cepat, dan selalu menemukan celah untuk melepaskan umpan atau melakukan lay-up.

Keramaian di pinggir lapangan ternyata memancing perhatian yang lebih besar. Beberapa guru, termasuk Pak Bambang dan Bu Ratna yang sedang berjalan santai menghirup udara pagi Yogyakarta, menghentikan langkah mereka.

"Wah, ada apa ini pagi-pagi sudah ribut sekali?" tanya Pak Bambang sambil membetulkan letak kacamatanya. Namun, begitu melihat duel antara Gery dan Reno, beliau justru ikut bersedekap di pinggir lapangan. "Lho, itu Gery? Saya baru tahu dia bisa main basket secepat itu."

Bu Ratna pun ikut tersenyum tipis. "Tontonan gratis pagi hari sebelum kita checkout, Pak. Lumayan untuk menyegarkan mata."

Vanya berdiri paling depan di antara para wanita. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena lelah berlari dari balkon, melainkan karena rasa bangga yang meletup-letup melihat Gery menjadi pusat perhatian, bahkan oleh para guru. Ia melihat bagaimana Gery berkali-kali mengecoh Dion dengan gerakan tipuannya, lalu melompat dengan anggun untuk mencetak poin.

Reno berteriak sambil tertawa, "Ayo Yon! Jangan kasih kendor! Masa lo mau malu di depan penonton sebanyak ini?"

Dion, yang sudah bermandikan keringat, mencoba melakukan blocking keras terhadap Sammy, namun Sammy dengan cerdik mengoper bola ke arah Gery yang sudah berdiri bebas di garis three-point. Gery melirik sekilas ke arah Vanya, lalu dengan satu gerakan halus, ia melepaskan bola.

SWISH!

Bola masuk dengan sempurna. Lapangan meledak oleh sorakan Nadia dan Rini, bahkan Pak Bambang sampai bertepuk tangan kecil. Gery menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju, matanya bertemu dengan mata Vanya yang memancarkan kekaguman luar biasa. Di bawah pengawasan para guru dan sorak-sorai teman-temannya, Gery baru saja menegaskan bahwa pagi terakhir di Jogja ini adalah miliknya.

1
Shintara
iya 👍
only siskaa
pertama Thor jngn lupa mmpir ke karya aku juga yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!