Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.
Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.
Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.
Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.
"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Kanvas Putih dan Warna Baru
Perjalanan pulang ke Adhitama Estate terasa jauh lebih hening daripada saat keberangkatan, namun keheningan kali ini memiliki rasa yang berbeda.
Jika sebelumnya udara di dalam mobil Rolls-Royce itu terasa berat oleh ketakutan dan kecemasan Nala, kini udara itu terasa ringan, seolah partikel-partikel debu masa lalu yang menyesakkan telah tersedot keluar begitu pintu mobil tertutup.
Nala menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi kulit yang empuk. Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan aroma kulit mahal dan pendingin udara yang sejuk menenangkan saraf-sarafnya yang masih bergetar sisa adrenalin. Ia baru saja memutuskan hubungan dengan keluarga kandungnya. Ia baru saja berdiri tegak melawan orang-orang yang selama dua puluh satu tahun menginjak kepalanya.
Dan anehnya, ia tidak merasa sedih. Ia justru merasa seperti seseorang yang baru saja sembuh dari penyakit panjang yang melelahkan.
"Kau tidak menyesal?"
Suara berat di sampingnya membuat Nala membuka mata.
Raga duduk dengan postur santai, satu kakinya disilangkan di atas lutut yang lain. Ia sudah melepas jas formalnya, menyisakan kemeja putih yang dua kancing teratasnya dibuka, memperlihatkan sedikit kulit dadanya yang bidang. Topeng peraknya masih terpasang, namun di bawah cahaya lampu baca mobil yang temaram, topeng itu tidak lagi terlihat menakutkan bagi Nala. Topeng itu mulai terlihat seperti bagian dari wajah Raga yang wajar.
Nala menegakkan duduknya, menatap suaminya dengan sorot mata lembut.
"Menyesal untuk apa, Tuan?" tanya Nala balik.
"Mereka tetap keluargamu," jawab Raga datar, memutar-mutar cincin kawin di jarinya. "Darah lebih kental daripada air. Begitu kata orang-orang bodoh di luar sana. Biasanya, wanita akan menangis histeris setelah memutus hubungan dengan ayah kandungnya."
Nala tersenyum tipis. Ia menoleh ke luar jendela, menatap pepohonan yang bergerak cepat seperti bayangan hijau yang kabur.
"Darah memang kental, Tuan. Tapi darah juga bisa beracun," ucap Nala pelan. "Selama ini saya berpikir bahwa jika saya terus berbakti, jika saya terus mengalah, suatu hari nanti mereka akan melihat saya. Mereka akan menyayangi saya seperti mereka menyayangi Bella. Tapi hari ini Tuan menyadarkan saya. Cinta tidak bisa dibeli dengan pengorbanan. Mereka tidak pernah mencintai saya. Mereka hanya mencintai kegunaan saya."
Raga terdiam mendengar jawaban itu. Ia menatap profil samping wajah Nala. Gadis ini memiliki kedewasaan yang dipaksakan oleh keadaan. Luka batin Nala mungkin tidak terlihat di kulit seperti luka bakar Raga, namun luka itu ada, menganga dan dalam.
"Kau benar," gumam Raga. "Cinta yang menuntut imbalan bukanlah cinta. Itu transaksi bisnis."
Raga merogoh saku di sisi pintu mobil, mengeluarkan sebuah kotak kecil berlapis beludru hitam. Ia melemparkannya pelan ke pangkuan Nala.
Nala menangkapnya dengan kikuk. "Apa ini, Tuan?"
"Buka saja," perintah Raga.
Nala membuka kotak itu. Di dalamnya, tergeletak sebuah ponsel pintar keluaran terbaru. Warnanya putih mutiara, terlihat sangat elegan dan mahal.
"Ponsel lama milikmu itu rongsokan," kata Raga tanpa menatap Nala, kembali pura-pura sibuk melihat jalanan. "Layarnya retak. Baterainya bocor. Aku tidak bisa menghubungimu kalau kau memakai barang sampah seperti itu. Di dalamnya sudah ada nomor baruku, nomor Pak Hadi, dan nomor darurat. Jangan berikan nomor itu ke keluargamu."
Nala mengusap layar ponsel baru itu dengan ujung jarinya. Benda ini mungkin hal sepele bagi Raga, namun bagi Nala, ini adalah simbol kemerdekaan. Ponsel lamanya adalah bekas pakai Bella yang sudah rusak, alat yang digunakan ibu tirinya untuk memantau dan memarahinya setiap saat. Ponsel baru ini bersih. Tidak ada jejak masa lalu.
"Terima kasih, Tuan," ucap Nala tulus. "Saya akan menjaganya baik-baik."
"Hm," Raga hanya bergumam singkat.
Mobil mulai memasuki gerbang Adhitama Estate. Langit sore mulai berubah warna menjadi jingga keunguan, membiaskan cahaya yang dramatis ke dinding batu kastil tua itu. Untuk pertama kalinya, saat melihat bangunan megah yang menyeramkan itu, Nala tidak merasa takut.
Ia merasa sedang pulang.
Kedatangan mereka disambut oleh barisan pelayan yang dipimpin oleh Pak Hadi. Namun ada yang berbeda dari tatapan mereka.
Jika kemarin mereka menatap Nala dengan pandangan curiga, meremehkan, atau sekadar kasihan, hari ini tatapan mereka penuh dengan rasa hormat yang segan. Berita tentang Raga Adhitama yang keluar dari pertapaannya demi menemani istrinya pasti sudah menyebar di kalangan staf rumah tangga.
Di rumah ini, kekuasaan Raga adalah hukum mutlak. Jika Raga menghargai seseorang, maka seluruh isi rumah harus bersujud pada orang tersebut.
Pak Hadi membukakan pintu mobil. Raga turun dengan kursi rodanya dibantu sopir, sementara Nala turun dari sisi lain.
"Selamat datang kembali, Tuan Muda, Nyonya Muda," sapa Pak Hadi sambil membungkuk dalam, lebih dalam dari biasanya saat menyapa Nala.
"Siapkan teh hangat di ruang kerja," perintah Raga sambil menjalankan kursi rodanya masuk ke lobi utama. "Dan Nala, ikut aku."
Nala mengangguk dan mengikuti Raga. Namun, Raga tidak menuju lift yang mengarah ke kamar tidur atau ruang kerja. Pria itu berbelok ke koridor sayap timur, area yang belum pernah Nala jelajahi.
Koridor ini memiliki jendela-jendela kaca yang sangat besar, membiarkan cahaya matahari sore masuk dengan leluasa. Dindingnya dicat warna krem hangat, berbeda dengan bagian lain rumah yang didominasi warna gelap.
Mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu ek yang kokoh.
Raga membuka pintu itu dan memberi isyarat agar Nala masuk lebih dulu.
Nala melangkah masuk, dan napasnya tertahan di tenggorokan.
Ruangan itu luas dan beraroma cat minyak serta terpentin. Lantainya terbuat dari kayu parket yang mengkilap. Tiga sisi dindingnya adalah jendela kaca yang menghadap langsung ke danau buatan di belakang mansion, memberikan pemandangan yang menakjubkan dan pencahayaan alami yang sempurna.
Di tengah ruangan, berdiri sebuah easel (penyangga kanvas) kayu yang kokoh. Di sebelahnya, ada meja panjang yang dipenuhi oleh perlengkapan melukis kualitas terbaik. Cat minyak berbagai warna, kuas-kuas bulu halus dengan berbagai ukuran, palet kayu, kanvas-kanvas kosong yang masih terbungkus plastik, hingga buku-buku referensi seni tebal.
Ini adalah studio lukis.
Studio impian yang bahkan tidak berani Nala mimpikan dalam tidurnya.
"Tuan..." suara Nala bergetar hebat. Ia berputar menatap Raga yang berhenti di ambang pintu. "Ini... semua ini..."
"Aku melihat sketsamu di kamar kemarin," potong Raga santai. "Gambar bunga layu di taman itu. Teknik arsirmu lumayan, tapi kertasmu murahan. Bakat tidak boleh disia-siakan dengan alat yang buruk."
Nala berjalan mendekati meja itu, menyentuh tabung cat minyak bermerek Winsor & Newton yang harganya selangit. Tangannya gemetar. Ayahnya tidak pernah mau membelikan cat air termurah sekalipun, mengatakan bahwa melukis hanya membuang waktu dan tidak menghasilkan uang.
Tapi Raga... pria yang baru dikenalnya beberapa hari, pria yang ia kira monster, justru memberikan ini semua tanpa diminta.
"Kenapa?" tanya Nala lirih, air mata haru menggenang di pelupuk matanya. "Kenapa Tuan melakukan ini untuk saya? Saya sudah cukup dengan pakaian dan makanan. Ini... ini terlalu banyak."
Raga menjalankan kursi rodanya masuk sedikit. Wajahnya terlihat serius.
"Karena kau butuh suara, Nala," jawab Raga.
Nala mengerutkan kening, tidak mengerti.
"Selama dua puluh satu tahun, kau dibungkam," lanjut Raga, matanya menatap deretan kanvas kosong itu. "Kau tidak boleh bicara, kau tidak boleh mengeluh, kau tidak boleh marah. Orang yang tidak bisa bicara dengan mulutnya, harus bicara dengan cara lain. Lukisan adalah suaramu. Tumpahkan semua kemarahanmu di sini. Tumpahkan rasa sakitmu di atas kanvas itu. Jangan simpan di dalam hati, atau itu akan menjadi racun yang membunuhmu pelan-pelan."
Nala tertegun. Raga tidak hanya memberinya fasilitas. Raga memberinya terapi. Raga mengerti bahwa di balik sikap tenang Nala, ada jiwa yang terluka yang butuh pelepasan.
Air mata Nala akhirnya jatuh. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kelegaan yang luar biasa. Ia merasa dilihat. Benar-benar dilihat sampai ke dasar jiwanya.
"Terima kasih," bisik Nala. Ia tidak tahu kata lain yang bisa mewakili perasaannya. Ia ingin memeluk Raga, tapi ia takut itu melanggar batas.
"Jangan menangis," tegur Raga, meski nadanya tidak kasar. Ia merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sapu tangan kain berwarna abu-abu, dan menyodorkannya pada Nala. "Hapus air matamu. Nyonya Adhitama tidak boleh cengeng. Mulai sekarang, ruangan ini adalah wilayah kekuasaanmu. Kau boleh menghabiskan waktu di sini kapan pun kau mau. Kunci pintunya jika kau tidak ingin diganggu, bahkan olehku."
Nala menerima sapu tangan itu. Aroma parfum Raga tercium kuat dari kain itu, aroma yang kini menjadi aroma favoritnya.
"Saya akan melukis sesuatu yang indah untuk Tuan," janji Nala sambil menghapus pipinya.
"Terserah kau," Raga memutar kursi rodanya berbalik arah. "Makan malam jam tujuh. Jangan terlambat karena keasyikan main cat."
Setelah Raga pergi, Nala berdiri sendirian di tengah studio itu. Cahaya matahari sore menyinari wajahnya. Ia merasa seperti kanvas kosong yang ada di depannya. Masa lalunya yang kelam sudah terhapus, dan kini ia memiliki kesempatan untuk melukis masa depannya sendiri dengan warna-warna baru yang cerah.
Malam itu, setelah makan malam yang tenang, Nala kembali ke kamar utama.
Raga sudah ada di sana, duduk di tempat tidur dengan laptop di pangkuannya. Ia memakai kacamata baca berbingkai tipis yang membuatnya terlihat lebih intelektual dan tidak terlalu mengintimidasi. Kaki kirinya tertutup selimut tebal.
Nala baru saja selesai mandi. Ia mengenakan piyama sutra panjang yang sopan. Ia berjalan menuju meja rias, menyisir rambutnya yang basah.
Suasana di kamar itu terasa intim namun nyaman. Tidak ada lagi ketegangan yang mencekik seperti malam pertama.
"Tuan," panggil Nala pelan.
Raga tidak mengalihkan pandangan dari layar laptopnya, jari-jarinya menari cepat di atas keyboard. "Apa?"
"Boleh saya bertanya sesuatu?"
"Kau sudah bertanya," jawab Raga sarkas, tapi tidak melarang.
Nala meletakkan sisirnya. Ia memutar kursi riasnya menghadap Raga.
"Kenapa Tuan selalu memakai topeng itu? Bahkan saat tidur?"
Gerakan jari Raga terhenti. Pertanyaan itu adalah tabu. Tapi malam ini, setelah semua yang terjadi, setelah Nala memijat kakinya yang cacat, setelah mereka menghadapi keluarga Aristha bersama, Raga merasa benteng pertahanannya sedikit menurun.
Raga menutup laptopnya perlahan. Ia meletakkannya di meja nakas. Tangannya kemudian menyentuh permukaan dingin topeng peraknya.
"Karena ini pengingat," jawab Raga, suaranya rendah.
"Pengingat untuk apa?"
"Bahwa satu kesalahan kecil bisa menghancurkan segalanya," Raga menatap Nala lurus. "Lima tahun lalu, aku merasa aku adalah raja dunia. Aku muda, tampan, kaya, dan sombong. Aku mengemudi terlalu cepat di tengah hujan. Aku mengabaikan peringatan. Dan dalam satu detik... boom. Semuanya hilang. Wajahku, kakiku, tunanganku, harga diriku."
Raga mengetuk topeng itu dengan kuku jarinya. Tik. Tik.
"Topeng ini mengingatkanku untuk tidak pernah lengah lagi. Dan juga..." Raga diam sejenak, ragu untuk melanjutkan. "...untuk melindungi orang lain dari rasa jijik melihat wajah aslinya."
Nala berdiri. Ia berjalan perlahan mendekati tempat tidur, lalu duduk di tepi kasur di sisi Raga.
"Tuan," ucap Nala lembut. "Boleh saya melihatnya lagi?"
Raga menegang. "Untuk apa?"
"Saya ingin terbiasa," jawab Nala jujur. "Tuan bilang kita adalah partner. Partner tidak boleh menyembunyikan wajah satu sama lain. Saya ingin melihat suami saya, bukan topeng perak ini."
Permintaan itu sederhana tapi berat. Raga menatap mata Nala, mencari keraguan atau kebohongan, tapi ia tidak menemukannya. Gadis ini keras kepala dengan cara yang lembut.
Dengan helaan napas panjang, Raga mengulurkan tangannya ke belakang kepala. Terdengar bunyi klik kecil. Topeng itu terlepas.
Raga meletakkannya di meja. Ia memalingkan wajah ke arah lampu, membiarkan cahaya menerangi seluruh wajahnya tanpa penghalang. Luka bakar itu terlihat jelas. Kulit yang merah, jaringan parut yang menarik sudut matanya, tekstur yang kasar.
Nala tidak memalingkan wajah. Ia justru mencondongkan tubuhnya sedikit, mengamati dengan seksama.
"Sakit?" tanya Nala pelan.
"Kadang-kadang. Kalau cuaca panas atau terlalu dingin," jawab Raga jujur.
Nala mengangkat tangannya. Dengan sangat hati-hati, ujung jarinya menyentuh batas antara kulit sehat dan kulit yang terluka di pipi Raga.
Raga menahan napas. Sentuhan itu terasa menyengat seperti listrik.
"Ini tanda bahwa Tuan selamat," bisik Nala. "Ini bukan tanda kehancuran. Ini tanda kemenangan. Tuan bertarung melawan maut dan Tuan menang."
Nala tersenyum manis. "Bagi saya, Tuan terlihat gagah."
Jantung Raga berdegup kencang, memukul-mukul rongga dadanya dengan keras. Tidak ada yang pernah mengatakan itu padanya. Dokter hanya bilang 'sayang sekali', keluarga bilang 'kasihan', musuh bilang 'mengerikan'. Tapi Nala bilang 'gagah'.
Raga menangkap pergelangan tangan Nala, menghentikan sentuhan itu sebelum ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
"Cukup," ucap Raga, suaranya parau. "Tidurlah. Besok aku harus ke kantor pagi-pagi sekali."
Nala menarik tangannya kembali. "Baik, Tuan. Selamat malam."
Nala naik ke tempat tidur, menarik selimut sebatas dada, dan memunggungi Raga. Dalam hitungan menit, napasnya mulai teratur, menandakan ia sudah terlelap karena kelelahan emosional hari ini.
Raga masih duduk terjaga. Ia menatap punggung Nala. Ia menatap tangannya sendiri yang tadi disentuh gadis itu.
Lalu, ia menoleh ke arah cermin di seberang ruangan. Ia melihat wajahnya yang hancur. Dulu, ia membenci bayangan itu. Ia ingin menghancurkan semua cermin.
Tapi malam ini, saat ia melihat bayangannya, ia teringat kata-kata Nala. Tanda kemenangan.
Raga mematikan lampu utama, membiarkan kamar itu gelap. Ia berbaring, menatap langit-langit. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, Raga tidur tanpa memakai topengnya. Ia membiarkan kulit wajahnya bernapas, dan membiarkan hatinya sedikit terbuka untuk kemungkinan bahwa mungkin, hanya mungkin, sumpah pernikahan palsu ini bisa menjadi sesuatu yang nyata.
Dan di dalam kegelapan itu, sebuah benih perasaan baru mulai tumbuh di antara puing-puing hati mereka yang retak, menunggu waktu untuk mekar menjadi sesuatu yang tak terduga.
ceritanya bagu😍