Mei Lin yang seorang agen mata mata terpaksa harus bunuh diri ketika tertangkap oleh Wang Yu, seorang Jenderal polisi negara x.
Namun , bukan nya mati, Mei Lin justru terperangkap ke dalam tubuh milik Bai Hua. Bai Hua adalah gadis lemah yang membutuhkan kursi roda untuk berjalan. Ia diejek oleh seluruh keluarga nya karena menjadi sampah. Bai Hua juga harus menikah dengan Pangeran Idiot!
Bagaimana jika jiwa Mei Lin yang mengambil alih tubuh Bai Hua untuk menikah dengan Pangeran itu? Dan bagaimana jika jiwa pangeran itu juga telah dirasuki entitas dari abad 21?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2 : Transmigrasi
CETAR!
Suara cambukan itu menggema di seluruh ruangan, membentuk sebuah dengingan yang amat mengerikan.
Seorang wanita paruh baya dengan konde tinggi dan hanfu merah terus melayangkan cambukan pada tubuh gadis lumpuh di depan nya. Gadis itu duduk dikursi roda yang terbuat dari kayu murahan dengan posisi pasrah saat punggung nya dihujani cambukan yang merobek kain sutra tipisnya. Darah mulai merembes, mengubah warna hanfu putih yang ia pakai menjadi merah pekat. Bai Hua---gadis malang itu menunduk lesu. Wajah nya sudah dipenuhi genangan air sejak tadi.
"Kau berani menolak calon suamimu?!" teriak Nyonya Besar Bai Yun.
"Ingat posisimu, sampah! Kau harus balas budi karena aku sudah membesarkanmu! Jika bukan karena kemurahan hati ku, keluarga Bai sudah membuangmu ke jalanan! Siapa juga yang akan menikahi putri cacat sepertimu!
CETAR!
"Mereka menawarkan ratusan ribu tael jika kau menikahi Pangeran idiot itu!"
"Nyonya, hamba mohon, hentikan..." Seorang pelayan berlari dari arah pintu gudang pengap itu dan berlutut di hadapan kaki besar milik Nyonya Bai Yun. Tangan pelayan berusia empat puluh tahun itu memegang kaki majikan nya dengan sangat erat.
"Minggir!" Hardik Nyonya Bai Yun. Ia menendang pelayan itu hingga tersungkur, lalu kembali mengangkat cambuknya tinggi-tinggi. "Hari ini, aku akan memastikan kau tahu cara menjadi istri yang patuh sebelum kereta pengantin datang menjemputmu!"
Cambuk itu melesat di udara, membelah angin dengan suara mendesis. Namun, kali ini suara yang mengerikan itu tidak terdengar.
Tangan kurus dan pucat milik Bai Hua bergerak secepat kilat. Ia menangkap ujung cambuk itu dengan tangan kosong. Darah mengalir dari telapak tangannya yang teriris, tapi ekspresi wajahnya berubah total. Mata sayu itu kini menatap tajam, sedingin es, dan penuh aura membunuh.
Bai Hua merasakan denyut sakit di sekujur tubuhnya. Ia menyentakkan cambuk itu dengan teknik pengungkit, membuat Nyonya Bai Yun terhuyung ke depan.
"Siapa yang kau sebut sampah?" tanya Bai Hua dengan suara serak namun menekan.
Nyonya Bai Yun terbelalak. "Kau... kau berani melawan?!"
Bai Hua menyeringai tipis, "Aku tidak suka suara berisik. Dan aku paling benci dicambuk."
Dengan satu gerakan terukur, Bai Hua memutar sisa cambuk di tangannya dan menjerat leher Nyonya Bai Yun, menariknya hingga wajah wanita tua itu memerah kebiruan. Para pengawal di pintu terpaku, tak percaya melihat si gadis kursi roda bisa bergerak secepat itu.
"Lepaskan! Kau... kau sudah gila, Bai Hua?!" Nyonya Bai Yun tercekik, tangannya mencakar udara berusaha melonggarkan jeratan cambuk di lehernya. Matanya melotot ngeri melihat aura mematikan yang terpancar dari gadis yang biasanya hanya bisa menunduk ketakutan itu.
Bai Hua menatap wanita di depannya dengan pandangan kosong. Pikirannya sempat berdenyut hebat.
Meledak. Bukankah aku baru saja meledakkan diri di lantai 45?
Kilatan memori asing masuk ke kepalanya seperti arus listrik. Ia melihat potongan kehidupan gadis bernama Bai Hua yang disiksa, dihina dan diludahi. Ayah nya yang seorang Menteri Keuangan yang selalu memandang Bai Hua dengan jijik. Ibu kandung Bai Hua meninggal saat melahirkannya.
Posisi istri Menteri pun dengan cepat digantikan oleh Bai Yun---ibu tiri yang kejam. Ia melahirkan seorang putri cantik yang hobi berhias diri dan sifat nya tidak beda jauh dengan Bai Yun.
Anak Bai Yun bernama Bai Rui, dikenal sebagai Bunga Peony yang mekar karena kecantikan dan bakat nya dalam segala bidang, sangat berbanding terbalik dengan Bai Hua. Bai Rui tengah menjalin asmara dengan Pangeran Kedua yang secara fisik sempurna dan tampan , berbeda dengan Pangeran Pertama yang memiliki keterbelakangan mental.
Perasaan sedih dan amarah milik pemilik tubuh asli menyatu dengan insting pembunuh sang agen mata-mata.
"Nona... Nona Muda..." pelayan yang tadi ditendang---Bibi Pong---menatap dengan mulut ternganga.
"Diam," desis Bai Hua. Suaranya tidak lagi gemetar. Ia menarik cambuk itu sedikit lebih kencang, memaksa wajah Nyonya Bai Yun mendekat ke wajahnya. "Dengarkan aku, wanita tua. Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan soal utang budi, tapi mulai detik ini, satu goresan di tubuhku berarti satu nyawa melayang di keluarga ini."
"Pengawal! Serang dia! Cepat!" teriak Nyonya Bai Yun dengan suara parau yang tersisa.
Dua pengawal yang berjaga di pintu segera menghunuskan pedang dan menerjang maju. Bai Hua mendengus meremehkan. Meski duduk di kursi roda, kecepatan tangannya adalah hasil latihan bertahun-tahun sebagai agen elit.
Ia melepaskan jeratan leher Nyonya Bai Yun, lalu menggunakan gagang cambuk itu sebagai senjata penangkis. Brak! Dengan satu gerakan putaran kursi roda yang tepat, ia menghindari tebasan pedang, lalu menghantamkan siku tangannya tepat ke jakun salah satu pengawal hingga pria itu tumbang tak bisa bernapas.
Satu pengawal lainnya mencoba menusuk, namun Bai Hua menangkap pergelangan tangannya, memutarnya hingga terdengar suara krak yang memilukan, dan merebut pedang tersebut.
Kini, Bai Hua memegang pedang panjang dengan ujung yang menempel tepat di bawah dagu Nyonya Bai Yun yang gemetar di lantai.
"Tadi kau bilang... aku akan menikah dengan Pangeran Idiot demi ratusan ribu tael?" Bai Hua menyeringai kejam. Darah yang mengalir dari punggungnya seolah tidak terasa. "Bagus. Aku akan pergi. Bukan karena aku patuh, tapi karena aku ingin melihat seberapa hancur keluarga ini tanpa uang jaminan dariku."
Ia melemparkan pedang itu ke lantai hingga menimbulkan suara denting yang nyaring.
"Bibi Pong, bersihkan lukaku," perintah Bai Hua dingin. "Siapkan gaun pengantin itu. Aku ingin bertemu dengan 'suamiku' yang katanya bodoh itu. Aku penasaran, siapa yang lebih gila di antara kami berdua."
Nyonya Bai Yun jatuh terduduk, lemas. Ia menatap punggung Bai Hua dengan ngeri. "Sampah itu.."
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih❤️
definisi sebel tapi rindu
benci tapi butuh🤣🤣
ya elah mati aja ga mau ngalah lu bang
ok Leh yuk lah bareng "🫣🤣
jadi bayangin visual merekanya bertarung
anak kan cuman niru orang tuannya yaa
jgn salahin kalau jadi anak durhaka
tih punya orang tua durhaka
mang disini pada ngeluh masalah retensinya
banyak othor yg juga akhirnya nyerah dan banyak pindah ke berbagai platform 🥹🥹.
semangat ya Thor...
aku mah dukung aja
karena terkadang penghargaan itu ga butuh cuman pengakuan,tapi cuan yg menentukan 🤣🤣
lu pikir bisa mengendalikan seluruh permainan
hei..masa depan itu lebih menakutkan dr yg dilihat
dimana ga ada binatang buas di hutan belantara
tapi manusia yg punya nafsu buas di antara hutan sesungguhnya.
beginilah realita di masa depan.
sebenarnya siapa yg jebak siapa.🫣
hayooo kau berhadapan dengan polisi dan mata mata dr masa depan lu bang
siap siap aja yaa