Kirana Yudhoyono, aktris kelas bawah yang hampir kehilangan segalanya, tak sengaja menyelamatkan seorang anak trauma bernama Kael dari insiden berbahaya di sebuah gudang bar. Tindakannya menarik perhatian ayah Kael—Bryan Santoso, CEO SantoPrime yang dingin dan berkuasa. Terpesona oleh kedekatan Kirana dengan putranya, Bryan menawarkan balas budi yang tak masuk akal: pernikahan kontrak.
"Aku menyelamatkan putramu bukan untuk menikahimu, Tuan Bryan!"
"Tapi Kael membutuhkanmu, dan aku... hanya menerima hubungan dengan pernikahan sebagai syaratnya."
*saya baru mencoba untuk menulis genre seperti ini, semoga anda sekalian menyukainya ☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demene156, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Serangan Penuh Fitnah
Suasana kamar yang sunyi terasa makin mencekam bagi Kirana. Detak jantungnya belum sepenuhnya stabil setelah kejadian impulsif barusan.
Dengan tangan sedikit gemetar, ia meraih ponselnya di atas nakas.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung mencari kontak Arion dan meneleponnya melalui panggilan suara WhatsApp.
Panggilan itu hanya berdering dua kali—nada singkat yang terasa seperti selamanya—sebelum akhirnya diangkat.
" Halo, Kakak Ipar! Wah! Kau benar-benar meneleponku jam segini! Ada apa? Ada kejadian seru? Ceritakan padaku!" Suara Arion terdengar sangat keras dan bersemangat, nyaris seperti teriakan kegirangan.
Awalnya Kirana khawatir teleponnya akan mengganggu tidur Arion. Namun dentuman musik keras di latar langsung membuktikan kekhawatirannya sia-sia.
'Sepertinya playboy ini memang sedang pesta semalaman,' batin Kirana sambil menghela napas.
"Arion, tolong kecilkan suara di sekitarmu! Aku ingin menanyakan sesuatu yang sangat penting," ujarnya tertahan, berusaha agar suaranya tak terdengar oleh pria di sampingnya.
"Tanyakan saja, Kakak Ipar! Apa pun itu pasti kujawab jujur!" sahut Arion riang.
Suaranya agak serak—jelas efek alkohol—tetapi kesadarannya masih cukup stabil.
"Bryan..." ujar Kirana ragu, memastikan volumenya tetap pelan.
"Abangku kenapa? Dia berbuat nakal padamu?" goda Arion tanpa dosa.
"..."
'Apakah orang ini mesin perekam? Dia selalu mengulang kalimatnya!' gerutu Kirana dalam hati.
Ia menarik napas panjang, menenangkan diri, lalu bertanya pelan namun tegas,
"Apakah abangmu... punya gangguan sleepwalking?"
Karena terlalu fokus menelepon, Kirana tidak menyadari pria yang terbaring di sampingnya sempat menegang sesaat.
Bryan sebenarnya sama sekali tidak tidur. Ia hanya berakting mati-matian demi menyelamatkan harga dirinya dari kejadian memalukan tadi.
'Kalau si idiot Arion itu sampai membocorkan sesuatu yang tidak perlu...' batin Bryan. 'Besok pagi kakinya benar-benar kupatahkan.'
Di ujung telepon, Arion tiba-tiba diam beberapa detik. Keheningan itu membuat Kirana makin gelisah.
"Arion! Jawab aku sekarang! Abangmu memang punya gangguan berjalan dalam tidur atau tidak?" desaknya.
Pikiran Kirana mulai kacau. Jika ini hanya sleepwalking biasa, mungkin tidak serius. Tetapi jika ini gejala gangguan saraf lain, ia harus segera membawa Bryan ke rumah sakit.
'Tiba-tiba jadi agresif seperti vampir, lalu sedetik kemudian langsung tertidur pulas... itu menakutkan kalau terjadi lagi,' batinnya ngeri sambil melirik Bryan.
"Oh... maaf. Aku cuma kaget kau tiba-tiba tanya begitu. Tapi ya, dia memang punya masalah itu sejak lama," jawab Arion akhirnya.
Entah kenapa nadanya terdengar seperti orang yang baru lolos dari bahaya.
"Tapi tunggu—bagaimana kau tahu dia sedang sleepwalking malam ini?" lanjutnya penasaran.
Kirana mengembuskan napas lega panjang. Ketegangannya mereda.
"Bukan apa-apa. Tadi aku turun ke bawah karena haus, lalu melihatnya berdiri kaku seperti patung di ruang tamu," bohongnya lancar.
"Itu benar-benar membuatku takut, makanya aku meneleponmu."
"Benarkah begitu?" Arion sempat tertawa kecil, lalu nadanya mendadak serius. "Yah, itu bukan hal baru bagi Bang Bryan. Kalau kau melihatnya begitu lagi, biarkan saja. Jangan diganggu."
"Maksudmu?"
"Maksudku, apa pun yang sedang dia lakukan, biarkan saja. Yang penting jangan pernah membangunkannya secara paksa," jelas Arion.
"Nanti dia akan sadar sendiri atau kembali ke kamarnya tanpa bantuan siapa pun."
"Ah... jadi dibiarkan saja dan tidak boleh dibangunkan? Oke, aku mengerti. Terima kasih, Arion!" ujar Kirana cepat, lalu buru-buru menutup telepon.
Ia khawatir jika percakapan berlanjut, Arion bisa mendengar napas Bryan di dekatnya atau menyadari sesuatu yang janggal.
Setelah sambungan terputus, Kirana menatap pria yang masih terbaring kaku di sampingnya. Perasaannya campur aduk.
"Jangan dibangunkan... berarti aku harus membiarkannya tidur di sini sampai pagi? Bagaimana kalau dia tiba-tiba berjalan lagi dan melakukan hal lebih aneh?" gumamnya cemas.
Ia benar-benar merasa tidak tenang.
Namun anehnya, perubahan situasi ini justru menghapus sisa-sisa ketakutan dari trauma masa lalu yang tadi hampir menenggelamkannya.
Kini seluruh fokusnya tertuju pada pria yang ia kira sedang "sakit" itu.
Ia menatap wajah Bryan yang tertidur dengan ekspresi damai di sebelahnya.
Semakin lama menatap, rasa kesalnya perlahan muncul lagi.
Pria ini sudah membuatnya hampir kena serangan jantung, tapi sekarang malah tidur senyenyak bayi tanpa beban.
Dengan gemas, Kirana mencubit pipi Bryan cukup keras—pelampiasan sisa emosi yang mengendap di dadanya.
"Dasar menyebalkan... kau tadi hampir membuatku mati ketakutan, dan sekarang bisa tidur setenang ini tanpa rasa bersalah..." bisiknya kesal di dekat telinga pria itu.
Bryan tidak bereaksi sama sekali. Ia tetap mempertahankan “tidurnya” dengan sempurna.
Wajah tegasnya kini terlihat jauh lebih lembut. Tanpa sorot tajam dan aura dominan yang biasa ia pancarkan, ia tampak sama sekali tidak berbahaya.
Melihat tidak ada respons, Kirana malah semakin gemas.
Ia mencubit pipinya lagi. Dan lagi.
Kulit wajah Bryan yang biasanya bersih itu mulai memerah akibat ulahnya.
"Kapan lagi aku punya kesempatan emas seperti ini? Mencubit pipi pria yang ditakuti hampir seluruh industri hiburan?" gumamnya pelan.
Baru setelah itu ia merasa sedikit puas.
"Siapa sangka Bos Besar SantoPrime bisa terlihat selugu ini saat tidur," bisiknya sambil tersenyum tipis—senyum yang kali ini benar-benar tulus.
Sepertinya satu-satunya yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah menunggu sampai Bryan pergi sendiri, seperti yang Arion katakan lewat telepon tadi.
"Padahal jelas-jelas aku yang hampir kena serangan jantung gara-gara ulahmu…" gumamnya lagi sambil menarik selimut menutupi tubuhnya yang mulai kedinginan.
Awalnya ia berniat bertahan melek semalaman, memastikan pria itu benar-benar pergi lebih dulu.
Namun kelelahan emosional sepanjang hari, ditambah irama napas Bryan yang teratur dan menenangkan di dekatnya, perlahan menggerogoti pertahanannya.
Tanpa sadar, kelopak matanya terpejam.
Ia akhirnya tertidur lelap di samping pria yang selama ini selalu berusaha ia jauhi.
Beberapa saat kemudian, setelah memastikan napas Kirana benar-benar stabil, pria di sebelahnya perlahan membuka mata.
Hitam pekat. Jernih. Sama sekali tidak mengantuk.
Ia mengembuskan napas panjang, lega.
'Kalau terus dicubit begitu, bisa-bisa pipiku bengkak besok pagi…'
Namun alih-alih marah, sudut bibirnya justru bergerak tipis.
Pandangan Bryan beralih pada wajah Kirana. Dengan gerakan hati-hati, ia mengulurkan tangan dan menyentuh lembut kerutan samar di dahi gadis itu, seolah ingin meratakan beban yang masih tersisa di sana.
Ekspresinya rumit.
Ada rasa bersalah yang belum sepenuhnya reda. Ada sisa hasrat yang masih tertahan. Tetapi yang paling jelas adalah rasa sayang yang dalam—tenang, tidak meledak-ledak, namun nyata.
Di ruangan yang sunyi itu, hanya napas mereka yang terdengar bersahutan pelan.
Keesokan paginya, Kirana terbangun dalam keadaan linglung. Kesadarannya masih samar ketika suara ponselnya terus berdering di atas nakas.
Refleks pertamanya bukan mengangkat telepon, melainkan menoleh ke sisi tempat tidur.
Kosong.
Seprai di sampingnya rapi, seolah tak pernah ada siapa pun di sana semalam.
"Sepertinya Bryan sudah kembali ke kamarnya saat aku masih tidur..." gumamnya lega.
Namun jauh di dalam hati, ada rasa hampa tipis yang sulit ia jelaskan.
Dengan gerakan malas sisa kantuk, ia meraba nakas hingga menemukan ponselnya, lalu mengangkat panggilan itu.
Belum sempat ia menyapa, suara Merry langsung meledak dari seberang.
"Kirana Yudhoyono! Kamu benar-benar sudah keterlaluan kali ini! Dari awal aku sudah memperingatkanmu berkali-kali supaya jaga sikap dan jangan mempermalukan nama perusahaan!"
"Tapi lihat apa yang sudah kamu lakukan sekarang! Reputasi agensi kita sedang dipertaruhkan gara-gara kecerobohanmu!" bentaknya tanpa jeda.
Kesadaran Kirana langsung terkumpul penuh. Kantuknya lenyap seketika.
"Tunggu dulu, Kak Merry... sebenarnya ada apa? Kenapa Kakak marah?" tanyanya bingung.
Ia baru bangun tidur, dan tiba-tiba sudah dimaki habis-habisan tanpa tahu sebabnya.
Dengan nada makin tajam, Merry menjawab singkat,
"Cek Instagram-mu sekarang kalau kau masih punya otak!"
Jantung Kirana langsung berdegup kencang. Dengan tangan sedikit gemetar, ia membuka aplikasi itu.
Dan di situlah ia melihat mimpi buruk setiap publik figur.
Akunnya viral.
Dalam satu malam.
Biasanya akun artis dikelola tim profesional. Namun Kirana—yang tak pernah dianggap prioritas di agensi Starlight—selalu mengurus akunnya sendiri.
Ia tak pernah membeli pengikut palsu, tak pernah promosi berlebihan. Jumlah pengikutnya selama ini hanya sedikit di atas tiga puluh ribu—bahkan kalah dari selebgram baru.
Unggahannya pun sederhana. Potongan kehidupan sehari-hari. Biasanya satu foto bahkan tak sampai seratus tanda suka.
Tapi sekarang layar ponselnya dipenuhi ribuan notifikasi.
Tagar bermunculan. Sebutan membanjir. Komentar pedas membludak seperti jamur di musim hujan—semuanya hanya dalam semalam.
Tangannya makin gemetar saat menelusuri postingan yang menandai namanya.
Dan akhirnya ia mengerti.
Ia difitnah.
Tengah malam tadi, sebuah akun gosip anonim yang sedang naik daun mengunggah tulisan panjang berjudul:
"Cara Kirana Si Licik Naik ke Puncak — Belum Pernah Ada Artis Setidak Tahu Malu Ini."
Isinya menuduh Kirana mendapatkan semua peran film dengan tidur bersama banyak sutradara.
Ia juga dituduh menjalin hubungan gelap dengan pria kaya demi hadiah mahal.
Bahkan fitnah itu menyeret nama Yono Barsa, menuduh Kirana sengaja memanfaatkan popularitas sang aktor saat syuting demi mendongkrak kariernya.
Postingan itu juga mengklaim bahwa selama masa produksi film, Kirana sengaja membiarkan pintu kamar hotel terbuka agar pria mana pun bisa masuk.
Narasi itu dibingkai rapi agar ia tampak seperti perempuan tanpa harga diri.
Padahal tak ada satu pun bukti foto atau video.
Namun netizen—terutama penggemar fanatik Yono Barsa—langsung meledak.
Tanpa butuh bukti, mereka menyerbu.
Kolom komentar akun resmi tim produksi film dipenuhi tuntutan agar pemeran wanita kedua, Kirana, segera diganti karena dianggap mencoreng nama aktor utama.
Akun pribadi Kirana pun dibanjiri makian.
Semua komentar berisi tuntutan yang sama:
"Kirana harus keluar dari industri hiburan!"
"Sudah jelas semuanya, kan?" suara Merry kembali terdengar tajam. "Segera siapkan video permintaan maaf publik untuk menyelamatkan citra perusahaan!"
Kirana justru tertawa dingin.
"Permintaan maaf publik? Kakak ingin aku melakukan itu?" tanyanya menantang.
Biasanya jika artis terkena skandal, agensi akan mengaktifkan tim humas untuk mengendalikan situasi. Mereka akan melindungi artisnya dari konflik terbuka.
Namun sikap Merry sekarang berbeda.
Seolah ia ingin Kirana mengorbankan diri demi perusahaan.
Padahal Kirana tahu, Merry sebenarnya ingin menghancurkannya secara halus.
Jika ia meminta maaf, itu sama saja mengakui semua tuduhan.
"Ya! Aku mau video permintaan maaf itu sudah diunggah sebelum jam delapan malam ini!" perintah Merry tegas.
"Dalam bentuk video. Itu akan terlihat lebih tulus. Kalau tidak, silakan tunggu sampai namamu dikeluarkan dari daftar pemain film ini!"
"Dan saat itu terjadi, jangan harap perusahaan akan melindungimu!" ancamnya.
Sambungan telepon langsung diputus.
Kirana tak lagi mengantuk sedikit pun.
Serangan ini terlalu cepat. Terlalu rapi. Terlalu masif.
Ia memang tahu dunia hiburan penuh persaingan kejam.
Tapi ia tak menyangka serangan akan datang secepat ini.
Sepertinya Qiana Putri benar-benar sudah tak sabar menghancurkannya.
Ditambah Aruna Yudhoyono yang pasti ikut mengipasi api kebencian di balik layar, Kirana kini merasa dirinya benar-benar terseret ke pusat badai hanya dalam satu malam.
"Baiklah," gumamnya pelan, sorot matanya mengeras. "Kalau memang begini permainan kalian, aku akan hadapi sampai akhir."
Ia bangkit dari tempat tidur.
Langsung menuju kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, ia sudah duduk di depan cermin besar, mulai merias wajahnya.
Setelah menghabiskan sekitar setengah jam, Kirana kembali menatap pantulan dirinya di cermin.
Ia mengangguk puas.
Riasan tangannya berhasil mengubah wajah segarnya menjadi pucat, lesu, dan tampak rapuh—seolah ia sedang memikul beban dunia sendirian.
Tepat saat ia selesai merapikan meja rias, terdengar ketukan pintu yang tegas dari luar.
Kirana segera berdiri dan membuka pintu.
Ia sedikit terkejut.
Sosok di depannya adalah "manusia vampir" yang semalam sempat membuatnya ketakutan.
Bryan.
'Setelah kejadian memalukan semalam, rasanya canggung sekali harus bertemu sekarang,' batin Kirana, berusaha menjaga ekspresi.
Ekspresi Bryan langsung berubah sedingin es ketika melihat wajah Kirana yang pucat tak sehat.
Tanpa menyapa, ia mengeluarkan ponselnya dan dengan gerakan cepat mencari kontak.
Dari sudut mata, Kirana melihat jelas nama yang berhenti di layar:
"Darren Saputra."
Darren Saputra adalah Direktur Hubungan Masyarakat di Glory World, agensi saingan raksasa.
Pria itu terkenal di industri sebagai sosok yang mampu membalikkan skandal sebesar apa pun. Berkali-kali ia menyelamatkan citra artis yang sudah hancur total hingga kembali bersih.
Bisa dibilang, ia legenda hidup di dunia humas.
Menyadari maksud Bryan, Kirana langsung bergerak.
Ia menerjang maju seperti harimau dan merebut ponsel itu dari tangannya.
"Apa yang kau lakukan, Bryan?"
"Aku ingin memperbaiki masalahmu."
Ekspresi Bryan buruk. Amarah tertahan jelas terlihat.
Ia pasti sudah tahu situasi panas yang sedang viral.
Kirana terdiam, menatapnya dalam-dalam.
Pria di depannya ini tidak banyak bicara, tapi langsung ingin menolong.
Sedangkan agensinya sendiri justru lepas tangan.
'Sebenarnya aku ini di bawah naungan Starlight atau Glory World?' batinnya bingung.
Terakhir kali Bryan ikut campur—saat ia memanggil penata gaya pribadi milik Diana Anggraeni untuk menolongnya—itu saja sudah cukup membuatnya panik, meski beruntung tak ada yang melihat.
Jika sekarang Glory World terang-terangan terlibat, ia pasti dituduh pengkhianat. Dicap berpihak ke dua kubu.
Ia tidak sanggup menghadapi itu lagi.
Maka Kirana menarik napas pelan dan berkata santai,
"Bryan, kalau aku bahkan tidak sanggup menerima pukulan kecil seperti ini sendirian, bagaimana aku bisa bertahan di industri hiburan?"
"Bukankah kau sendiri pernah bilang kau percaya padaku?"
"Tapi kau sama sekali tidak terlihat meyakinkan."
Nada Bryan serius. Menuntut.
Kirana sempat bingung, lalu teringat riasannya.
"Oh, ini?" Ia menunjuk wajahnya. "Pucat dan lingkaran hitam ini cuma efek makeup yang kubuat sendiri."
"Aku tidak sedang pura-pura tegar. Kalau kau tidak percaya, aku bisa hapus sekarang juga—"
Kalimatnya terhenti.
Bryan tiba-tiba mengangkat tangan dan menyentuh pipi serta bawah matanya dengan lembut.
Sentuhan itu ringan.
Tapi tubuh Kirana langsung bergetar seperti tersengat listrik.
Reaksi itu justru membuat Bryan makin khawatir. Ia segera menarik tangannya.
"Jangan pernah sok tangguh di depanku."
Nada suaranya singkat. Tegas.
Kirana malah tertawa kecil.
"Aku tidak akan begitu. Kalau nanti aku benar-benar tidak kuat, aku pasti langsung terbang ke arahmu dan berlindung di belakang punggungmu."
Janji itu membuat kegelisahan di mata Bryan perlahan mereda.
"Bagus."
Suasana mencair.
Kirana menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tampak ragu ingin mengatakan sesuatu.
"Ada yang ingin kau katakan?" tanya Bryan, nadanya kini lembut—sangat berbeda dari tadi malam.
Kirana menatapnya lama.
Lalu akhirnya berkata,
"Hm… Bryan, pernahkah kau berpikir serius mencari wanita sungguhan untuk menemanimu?"
Ekspresi Bryan langsung membeku.
"Maksudmu?"
"Jangan salah paham. Aku cuma berpikir saja…"
Kirana menepuk bahunya hati-hati.
"Menurutku kau benar-benar butuh wanita dalam… beberapa hal biologis. Menahannya terlalu lama itu tidak baik untuk kesehatan mental dan fisikmu."
Perhatian yang sangat salah sasaran.
Bukankah ada pepatah lama yang bilang kalau sesuatu sampai terbawa mimpi, berarti siangnya memang kepikiran terus?
Bryan memang tipe pria yang menjaga jarak dari perempuan.
Tapi dari kejadian semalam…
'Jelas sekali dia sebenarnya sangat membutuhkannya,' batin Kirana yakin.
Wajah Bryan kini jauh lebih muram. Dingin. Menekan.
Tatapan matanya tenang.
Justru ketenangan itu terasa lebih berbahaya daripada kemarahan.
'Sialan. Perempuan ini benar-benar tidak punya perasaan. Menurutmu siapa yang membuatku jadi begini?' batin Bryan.
'Siapa yang meninggalkanku dalam posisi memalukan setelah aku sempat merasakan "dagingmu" di mulutku semalam?'
Melihat ekspresinya makin buruk, Kirana berdeham pelan.
Ia mundur selangkah.
"A-aku hampir terlambat! Aku harus pergi sekarang! Aku mau pamit dulu sama Kael, habis itu langsung ke lokasi syuting! Sampai jumpa, Bryan!"
Dan ia kabur.
Lokasi syuting film kali ini berada di pinggiran kota, kawasan yang dipenuhi pepohonan rindang.
Namun saat Kirana muncul, sekelompok penggemar fanatik Yono Barsa yang tampaknya sudah lama menunggu langsung menyerbu ke arahnya dengan histeris.
"Kirana! Lihat! Dia di sini! Pelacur licik itu akhirnya muncul juga! Aku tidak percaya dia masih berani menunjukkan wajahnya!"
"Dasar jalang menjijikkan! Jangan dekati Yono kesayangan kami! Cepat pergi dari lokasi syuting ini!"
"Kirana keluar dari produksi film ini! Keluar dari industri hiburan! Pergi!"
Suasana langsung kacau.
Beberapa petugas keamanan berusaha melindungi Kirana sambil mendorong jalan menembus kerumunan.
Sementara itu, sebagian kru produksi dan aktor figuran hanya berdiri menonton. Ada yang bahkan menunjuk-nunjuk sambil mencibir, seolah ini sekadar hiburan gratis.
Kebencian yang tertuju padanya terasa seperti ribuan pisau menusuk kulitnya sedikit demi sedikit.
Tatapan mereka bagaikan ular berbisa—dingin, mematikan, menunggu saat yang tepat untuk menyerang.
Tiba-tiba Kirana teringat sebuah berita tahun lalu.
Seorang aktris terkenal, yang saat itu sedang berada di puncak popularitas, memilih mengakhiri hidupnya karena tidak sanggup menghadapi rumor jahat.
Dalam surat wasiatnya hanya ada satu kalimat:
"Rumor benar-benar mematikan."
Kerumunan di depannya terus melemparkan benda—telur busuk, sayuran layu, apa saja yang ada di tangan.
Lalu—
Sebuah batu besar meluncur cepat ke arahnya.
Namun arah lemparannya ternyata melenceng.
Batu itu justru mengarah ke Amy, penata gaya yang sedang berdiri di samping tanpa menyadari bahaya.
Ekspresi Kirana berubah.
Tanpa ragu ia melompat maju dan menangkis batu itu dengan lengannya.
Benturan keras.
Perih menyambar.
Kulitnya langsung robek, darah mengalir deras membasahi lengan baju.
Kerumunan mendadak terdiam.
Amy gemetar hebat setelah menyadari apa yang baru saja terjadi.
Dengan wajah semakin pucat, Kirana mengangkat pandangan dan menyapu kerumunan itu dengan tatapan dingin.
"Kalau kalian ingin membuat masalah, serang aku saja. Jangan pernah menyakiti orang yang tidak bersalah."
Suaranya bergetar.
Namun tegas.
"Kamu—berhenti sok munafik di depan kami!" teriak seseorang, meski nadanya tidak lagi sekeras tadi.
"Ya! Jangan pura-pura jadi orang baik! Kau itu rubah betina tak tahu malu!"
Tatapan Kirana menajam.
"Apa yang kalian pakai sebagai tolok ukur untuk menilai aku baik atau buruk?"
Ia menatap mereka satu per satu.
"Hanya unggahan anonim di Instagram tanpa bukti? Atau rumor murahan yang bahkan tidak jelas asalnya?"
Tak ada rasa takut di wajahnya.
"Kalian masih muda. Aku harap kalian belajar berpikir jernih sebelum bertindak bodoh."
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih berat.
"Seorang idola adalah pihak pertama yang harus menanggung akibat dari perilaku penggemarnya. Apa pun yang kalian lakukan di sini, itu mencerminkan kepribadian idolamu sendiri."
Ia sengaja menyebut Yono sebagai tekanan psikologis.
"Jangan biarkan orang tak bertanggung jawab memanfaatkan emosi kalian. Kalau kalian terus begini, kalian justru mencoreng nama baik idola kalian sendiri."
Kerumunan mulai saling berpandangan.
"Bagaimana bisa dia malah ceramahin kita?"
"Tapi… sebenarnya dia ada benarnya juga."
"Heh, siapa tadi yang lempar batu? Keluar dan ngaku!"
"Bukannya kita sepakat tidak boleh pakai kekerasan? Paling jauh cuma telur?"
"Benar! Siapa yang lempar batu?! Kita datang buat menegakkan keadilan, bukan merusak nama Yono!"
Suasana yang tadinya ricuh perlahan mereda.
Untuk sementara.
Kirana akhirnya berhasil menemukan celah untuk menyelinap masuk ke area lokasi syuting dengan bantuan petugas keamanan.
Saat Sutradara Galang melihatnya datang, ia langsung memanggilnya masuk ke tenda sutradara utama.
"Kirana, syukurlah kau sudah sampai! Ayo, duduk dulu," ujar Galang ramah.
"Sutradara Galang, saya benar-benar minta maaf sebesar-besarnya karena masalah pribadi saya telah merepotkan seluruh tim produksi..."
Wajah Kirana dipenuhi rasa bersalah. Ia membungkuk dalam-dalam.
Melihat gadis di depannya tampak pucat dan rapuh, Galang segera mencoba menenangkannya.
"Kirana, yang membuat masalah di sini bukan kamu, melainkan seseorang yang sama sekali tidak mengerti siapa dirimu sebenarnya. Aku yakin itu."
Ia menatap Kirana dengan keyakinan tenang.
"Kalau ada yang bilang kau tidak bisa berakting, itu omong kosong. Soal tuduhan bahwa kau tidur dengan anggota tim produksi demi peran..."
Ia berhenti sejenak.
"...sebagai sutradara yang terlibat langsung, bagaimana mungkin aku tidak tahu kebenarannya?"
Nada suaranya berubah tegas.
"Aku sudah terlalu lama melihat drama seperti ini di industri. Aku tahu siapa yang benar dan siapa yang salah."
"Terima kasih atas kepercayaannya, Pak Sutradara," jawab Kirana tulus.
Di tengah dunia yang seolah menghakiminya, dukungan itu terasa jauh lebih berarti daripada yang bisa ia ungkapkan.
"Tapi jujur saja, masalah ini terlihat sangat berat bagimu. Kau tampak kelelahan. Bagaimana kalau kau cuti beberapa hari untuk beristirahat?" saran Galang.
Kirana langsung menggeleng.
"Tidak perlu, Pak. Saya ingin tetap melanjutkan syuting hari ini."
"Kru drama ini sudah terlalu banyak mengalami kerugian karena masalah saya. Kalau syuting terhambat lagi hanya karena ego saya, saya tidak akan bisa memaafkan diri sendiri—bahkan kalau saya mati seribu kali pun."
Tatapannya penuh tekad.
Baginya, mundur sekarang berarti kalah telak dari penyebar rumor.
Melihat sikap profesional itu, Galang mengangguk puas.
"Baiklah kalau itu maumu. Tapi kalau kau merasa tidak sanggup, kau harus langsung memberitahuku."
"Baik, Pak."
Setelah berpamitan, Kirana berjalan menuju area belakang.
Tiba-tiba—
Tubuhnya ditarik ke sudut kosong.
Ia mendongak dan mendapati wajah seorang pria yang tampak sangat cemas. Bahkan rambut pirang khasnya terlihat seolah ikut murung.
"Kirana, lenganmu baik-baik saja? Aku melihat kejadian tadi!" ujar pria itu.
Yono Barsa.
"Ini hanya cedera ringan. Sudah kutangani. Kau tidak perlu khawatir," jawab Kirana datar.
Yono terlihat semakin kesal melihat reaksinya.
"Aku tadi hampir saja membuat pernyataan resmi untuk menjelaskan semuanya ke publik!"
"Tapi Bang Fahri malah mengganti kata sandi Instagram-ku diam-diam supaya aku tidak bisa masuk!" lanjutnya frustrasi.
"Dia bilang kalau aku bicara sekarang, aku justru akan membuat situasimu makin buruk..."
Mendengar itu, Kirana malah menepuk pundaknya pelan.
"Untungnya Bang Fahri orang yang cerdas," katanya lega.
Ia tahu betul, jika Yono membelanya saat situasi sedang panas, tidak ada yang akan percaya. Justru penyebar rumor akan mendapat bahan baru untuk memelintir keadaan.
Dalam badai opini publik, menyerang balik bukan langkah bijak.
'Kalau badai bertiup kencang, jangan melawan angin. Tunggu sampai reda, baru bergerak,' pikirnya.
Diam bukan berarti kalah.
Diam adalah strategi.
Di permukaan ia tampak tak berdaya, tapi di balik layar ia bisa mengumpulkan bukti, menyusun langkah, dan menunggu momen tepat untuk berbicara.
Di industri hiburan, kemenangan bukan milik suara paling keras.
Melainkan milik pihak yang tahu kapan harus melepaskan panah kebenaran.
Yono tampak tersinggung.
"Hei! Aku niat membantu, kenapa kau malah bicara begitu?"
"Yono," ujar Kirana tenang, "kalau kau benar-benar ingin membantuku, dengarkan ini."
"Nanti di depan kamera aku akan berpura-pura menjadi gadis polos yang teraniaya. Jadi kau harus bekerja sama denganku."
"Jangan bersikap berlebihan. Kalau tidak, jangan salahkan aku kalau aku benar-benar memutuskan persahabatan kita selamanya."
Yono memiringkan kepala, ekspresinya penuh curiga.
"Kau bilang kau mau berpura-pura jadi apa tadi?"
"Gadis polos. Memangnya ada masalah?" tanya Kirana dengan tatapan tajam.
"Kau yakin bisa? Gadis galak keras kepala sepertimu biasanya gagal total kalau harus berperan selembut itu," goda Yono.
"Enyah kau," balas Kirana sambil mendorongnya menjauh.
Bersambung...