Sinopsis: Penyesalan Sang Penguasa
Aku terbangun di masa mudaku yang miskin tepat setelah Seeula pergi selamanya dalam penyesalan. Berbekal memori masa depan, aku bertekad membangun kembali kekaisaran bisnisku dari titik nol. Bukan sekadar harta, tujuanku adalah menjadi pria paling layak untuk melindungi istri yang dulu kusia-siakan. Sebelum menjemput cintaku, aku harus memenangkan perang bisnis yang kejam dan menghancurkan para musuh lama. Perjalanan penebusan dosaku dimulai sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Runtuhnya Langit Sang Konstelasi
Suara sirine kepolisian menderu dari kejauhan, membelah kebisingan kota yang sedang diguncang agitasi berita fitnah tentangku. Di dalam ruang kerja yang kedap suara ini, Seeula masih mencengkeram lengan jas hitamku. Jemarinya gemetar hebat. Sepasang matanya yang sembab menatapku dengan sorot ketakutan yang begitu murni, seolah seluruh fondasi dunia yang baru saja kami rintis akan runtuh dalam hitungan detik.
"Yansya, tolong dengarkan aku kali ini! Kita harus pergi lewat jalur evakuasi bawah tanah! Ayahku dulu membangun rute rahasia di gedung ini!" Seeula berseru dengan nada yang pecah karena kepanikan.
Aku memegang kedua bahunya dengan mantap, memaksa dia untuk menemukan titik gravitasi di tengah badai ini. Kekuatanku saat ini tidak terletak pada moncong senjata atau ledakan otot, melainkan pada chip mikroskopis yang baru saja selesai dipindai oleh Rian.
"Lihat mataku, Seeula. Aku tidak akan lari. Pria yang melarikan diri adalah pria yang bersalah, dan hari ini, aku adalah pemegang otoritas tunggal atas kebenaran," tandasku dengan nada bicara yang sangat stabil.
Aku menoleh ke arah Rian yang masih bertarung dengan barisan kode di monitor raksasa. Wajah Rian tampak kaku, namun jemarinya menari di atas keyboard dengan kecepatan yang melampaui batas kewajaran. Dia sedang menyuntikkan protokol Skakmat yang telah kami matangkan sejak liontin pemberian ibuku ditemukan. Protokol ini bukan sekadar data, melainkan bom digital yang akan menghancurkan hirarki Konstelasi secara sistematis.
"Rian, eksekusi siaran global sekarang. Tembus setiap frekuensi satelit, saluran televisi, hingga papan iklan digital di seluruh penjuru kota ini," perintahku dengan otoritas yang mutlak.
"Sistem terhubung, Bos! Dalam hitungan tiga, dua, satu, dunia akan berlutut pada data kita!" seru Rian dengan nada penuh kemenangan.
Layar televisi di sudut ruangan yang tadinya memajang wajahku sebagai tersangka utama, mendadak berubah statis. Detik berikutnya, muncul dokumen otentik tentang sabotase rem mobil orang tuaku dua dekade silam. Foto tanda tangan Tuan Lukman terpampang nyata, diikuti rekaman audio rahasia tentang aliran dana ilegal Konstelasi yang tersimpan rapi di dalam chip tersebut. Nama besar Lukman kini terseret ke dasar jurang terdalam.
Aku melihat Seeula terpaku. Isak tangisnya terhenti saat menyadari bahwa pahlawan kota yang selama ini dipuji, Tuan Lukman, hanyalah monster yang bersembunyi di balik jas mahal. Narasi yang dia bangun untuk menghancurkanku justru berbalik menjadi tali gantung bagi lehernya sendiri.
"Sambungkan jalur komunikasi ke Markas Besar Kepolisian sekarang, Rian. Pastikan Inspektur tahu bahwa data yang sedang mengudara adalah bukti hukum yang tak bisa diganggu gugat," instruksiku sembari merapikan letak dasi hitam.
Tepat saat itu, pintu ruang kerjaku didobrak paksa. Lima petugas berseragam lengkap merangsek masuk dengan senjata yang mengunci pergerakanku. Pemimpin tim mereka, pria berahang tegas dengan tatapan tajam, melangkah maju membawa surat perintah penangkapan.
"Tuan Yansya, Anda resmi ditahan atas tuduhan manipulasi data panti asuhan dan spionase industri!" seru petugas itu dengan volume suara yang memenuhi ruangan.
Aku tidak mengangkat tangan. Aku justru melangkah perlahan mendekati pria itu, membiarkan ujung senjatanya berada hanya beberapa sentimeter dari jantungku. Aku menyodorkan ponsel yang menampilkan siaran langsung dari kantor Tuan Lukman yang sedang dikepung unit taktis kepolisian pusat.
"Saran dariku, segera periksa kembali frekuensi radio komunikasi Anda, Inspektur. Surat perintah yang Anda pegang itu baru saja berubah menjadi sampah tak berguna," ucapku dengan senyuman yang sangat dominan.
"Orang yang menandatangani perintah penangkapan itu sedang dipaksa memakai borgol di kantornya sendiri," tambahku tanpa ragu sedikit pun.
Petugas itu tertegun. Dia menempelkan tangan pada alat komunikasi di telinganya. Wajah garangnya mendadak luntur menjadi keraguan yang amat sangat. Sinkronisasi data pusat kepolisian mengonfirmasi ucapanku. Perlahan, dia menurunkan senjatanya dan memberikan hormat singkat kepadaku sebelum menginstruksikan timnya untuk segera keluar. Kekuasaan Lukman telah menguap dalam hitungan detik.
Seeula jatuh terduduk di sofa, menutupi wajah dengan kedua telapak tangan. Aku segera menghampiri dan merangkul pundaknya, memberikan proteksi penuh terhadap sisa-sisa trauma yang dia rasakan.
"Semuanya sudah berakhir, Seeula. Lukman tidak akan pernah bisa menyentuhmu lagi," bisikku dengan nada yang sarat akan perlindungan.
"Bagaimana kau bisa memprediksi segalanya, Yansya? Kau seolah sudah menyiapkan skenario ini sejak bertahun-tahun yang lalu," tanya Seeula dengan suara yang masih agak goyah.
Aku memilih untuk diam. Rahasia tentang reinkarnasiku adalah beban yang akan aku bawa ke liang lahat. Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang boleh mengetahui dari mana asal pengetahuanku yang melampaui zaman ini. Aku hanya perlu memastikan masa depannya jauh lebih cerah daripada garis waktu yang pernah aku lewati sebelumnya.
Rian menghampiri aku membawa tablet yang menampilkan statistik kehancuran ekonomi pihak lawan. Nilai aset Konstelasi merosot tajam hingga sembilan puluh persen hanya dalam waktu belasan menit sejak kebenaran disiarkan.
"Bos, ada satu panggilan masuk dari nomor pribadi yang kita kenal. Tuan Lukman ingin bicara denganmu," lapor Rian dengan ekspresi wajah yang sangat serius.
Aku menekan tombol pengeras suara. Suara napas yang tersengal dan penuh kemarahan meledak dari seberang sambungan. Agitasi kemarahan itu terdengar jelas dari nada suaranya yang parau.
"Yansya! Kau pikir bisa menang dengan cara kotor ini?! Konstelasi adalah ideologi yang tak bisa kau bunuh! Aku akan menyeretmu ikut jatuh ke neraka!" teriak Lukman dengan suara dipenuhi keputusasaan.
"Neraka sudah terlalu sesak oleh orang-orang sepertimu, Lukman. Aku hanya sedang memandu jalanmu pulang ke tempat yang paling layak bagi seorang pengkhianat," balasku dengan nada bicara yang sangat tajam dan dingin.
Aku memutus panggilan tanpa memberikan kesempatan baginya untuk membalas. Pandangan aku terlempar ke jendela kaca besar yang memperlihatkan cakrawala kota. Takhta penguasa ekonomi kota ini baru saja dikosongkan secara paksa, dan aku adalah satu-satunya orang yang tahu cara mengisinya kembali.
"Rian, siapkan mobil lapis baja sekarang. Kita menuju kantor pusat Konstelasi untuk melakukan pengambilalihan aset sebelum organisasi lain mencoba mencium bau bangkai mereka," perintahku dengan nada yang mutlak.
"Yansya, kau tidak akan meninggalkanku sendirian di gedung ini, kan?" Seeula memegang tanganku, sorot matanya kini menyimpan keinginan kuat untuk ikut bertarung di sampingku.
Aku memandangnya sebentar, menghitung probabilitas risiko yang ada. Membiarkan Seeula di sini hanya akan membuatnya menjadi target empuk bagi sisa-sisa pengikut setia Lukman yang masih berkeliaran di jalanan.
"Ikutlah bersamaku, Seeula. Mulai malam ini, kau akan menjadi saksi bagaimana Widowati Group melahap seluruh hegemoni di pesisir utara tanpa ada yang berani menghalangi," ajak aku sembari menggandeng tangannya keluar dari ruangan.
Kami keluar melalui lobi gedung dengan kawalan ketat dua puluh orang unit keamanan terpilih. Kerumunan wartawan yang tadinya ingin menghujat aku, kini justru memberi jalan dengan wajah yang dipenuhi rasa segan. Mereka tahu bahwa singa yang baru saja bangkit telah menelan serigala tua yang selama ini memerintah mereka. Kekuatan baru telah lahir di tengah kekacauan ini.
Saat kami sudah berada di dalam mobil yang melaju tenang, Rian menunjukkan data pergerakan target di layar monitor dasbor. Data ini bersifat eksklusif dari jaringan satelit yang kami sewa secara privat.
"Bos, ada satu helikopter yang terdeteksi lepas landas dari kediaman Tuan Lukman. Sinyal GPS menunjukkan pergerakan ke arah wilayah perbatasan sektor barat!" lapor Rian dengan nada bicara yang mendesak.
Rahang aku mengeras seketika. Lukman mencoba melarikan diri dengan membawa aset fisik dan dokumen krusial yang tersisa. Aku tidak akan membiarkan tikus itu lolos meski hanya satu milimeter dari jangkauanku.
"Aktifkan protokol unit pencegat udara, Rian! Paksa helikopter itu mendarat di jalan tol utama dalam waktu kurang dari sepuluh menit!" seru aku sembari menginjak dalam pedal gas.
"Yansya, lihat di depan kita!" jerit Seeula sembari menunjuk ke arah barisan truk hitam yang mendadak berhenti melintang, menutup seluruh akses jalan raya.
Rupanya, Lukman masih memiliki anjing penjaga yang bersedia mati demi melindunginya. Puluhan truk itu membentuk blokade yang mustahil ditembus kendaraan biasa. Aku mengepalkan tangan kuat-kuat. Aku menyadari bahwa penuntasan dendam ini akan menjadi jauh lebih berdarah dari dugaanku semula. Dominasi ini tidak boleh terhenti oleh rintangan pengecut seperti ini.