NovelToon NovelToon
The Silent Muse: Gilded Chains

The Silent Muse: Gilded Chains

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Duniahiburan / Romansa Fantasi / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Model
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Di dunia yang penuh dengan kilatan kamera, Alice Vane adalah satu-satunya hal yang nyata bagi Julian Reed. Namun, bagi Julian, mencintai Alice berarti harus mengawasinya dari kejauhan—sambil membenci setiap pria yang berani bernapas di dekatnya.
Alice adalah magnet. Dari penyanyi manis Sean Miller hingga rapper tangguh D-Rock, semua menginginkannya. Alice tidak pernah sadar bahwa setiap tawa yang ia bagikan dengan pria lain akan dibalas oleh Julian dengan lirik lagu yang menghujatnya di radio keesokan harinya.
Saat Julian mulai menggunakan diva pop Ellena Breeze untuk memancing cemburu Alice, permainan pun berubah. Di antara lagu sindiran, rumor palsu, dan kepemilikan yang menyesakkan, Alice harus bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ia benar-benar pelabuhan bagi Julian, atau hanya sekadar inspirasi yang ingin dipenjara dalam sangkar emas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. The Confession: Redemption Over Reputation

Pagi itu, New York seolah menahan napas. Di sebuah studio kecil milik firma hukum Samuel Vane, Julian duduk di depan sebuah lensa kamera tunggal. Tidak ada tim makeup profesional, tidak ada pengarah gaya. Julian hanya mengenakan kemeja putih polos, rambutnya disisir rapi ke belakang, dan wajahnya menunjukkan ketenangan yang lahir dari kepasrahan total.

​Di sampingnya, Alice Vane duduk menggenggam tangannya erat. Samuel berdiri di balik kamera, memberikan isyarat bahwa siaran langsung akan dimulai dalam hitungan detik.

​"Tarik napas, Julian," bisik Alice. "Tuhan bersamamu."

​Lampu merah menyala. Jutaan orang di seluruh dunia, dari fans setia hingga pembenci yang haus skandal, langsung terhubung. Angka penonton di layar melonjak drastis, memecahkan rekor siaran langsung mana pun tahun itu.

​"Selamat pagi semuanya," suara Julian terdengar stabil, meski ada getaran emosi di dalamnya. "Aku berdiri di sini bukan sebagai seorang musisi yang mencari simpati, tapi sebagai pria yang ingin meruntuhkan tembok kebohongan yang telah memenjarakanku selama sepuluh tahun."

​Julian menarik napas panjang, menatap lurus ke kamera. "Selama beberapa hari terakhir, ada pihak-pihak yang mencoba memeras dan mengancam akan merilis rekaman masa laluku. Mereka ingin dunia melihatku sebagai monster. Dan hari ini, sebelum mereka melakukannya, aku sendiri yang akan mengatakannya pada kalian."

​Julian mulai bercerita. Dialognya mengalir seperti air mata yang tertahan. Ia menceritakan tentang The Blood Covenant, tentang bagaimana ia—anak berusia 19 tahun yang haus kasih sayang—dijebak dalam lingkaran setan kaum elit industri.

​"Ada video di mana aku terlihat melakukan hal-hal yang menghujat Tuhan. Video di mana aku terlihat kehilangan kemanusiaanku," Julian berhenti sejenak, matanya berkaca-kaca. "Aku ingin kalian tahu, pria di video itu memang aku. Tubuhnya adalah tubuhku. Tapi jiwaku saat itu sedang mati. Aku berada di bawah pengaruh zat kimia yang disuntikkan paksa oleh mereka yang menyebut diri mereka 'pelindung karierku'."

​Komentar di layar bergerak begitu cepat hingga tak terbaca. Ada yang mencaci, namun banyak yang mulai menangis.

​"Aku melakukan kesalahan besar. Aku menyakiti banyak orang, termasuk diriku sendiri. Dan yang paling menyakitkan..." Julian melirik Alice, "Aku pernah merasa begitu kotor hingga aku pikir aku tidak pantas dicintai oleh wanita suci seperti istriku, atau dimaafkan oleh Tuhan."

​Alice mendekat, ikut berbicara ke arah kamera. "Aku tahu apa yang ada di video itu. Julian sudah menceritakan semuanya padaku sebelum kalian tahu. Dan aku berdiri di sini untuk mengatakan bahwa pria yang kalian lihat di masa lalu itu telah mati. Pria yang ada di sampingku sekarang adalah pria yang berlutut setiap malam untuk memohon ampunan. Dia adalah suamiku, dan aku bangga padanya."

​Di saat yang sama, di apartemen mewahnya, Sean Miller berteriak histeris. Ia membanting laptopnya ke lantai. "Bajingan! Dia mencuri langkahku! Dia membongkarnya sendiri!"

​Sean segera menelepon pimpinan agensi lama Julian. "Keluarkan video aslinya sekarang! Jangan dipotong! Tunjukkan pada mereka bagian di mana dia menginjak salib! Hancurkan dia sebelum publik mulai bersimpati!"

​Namun, serangan Sean justru menjadi bumerang. Karena Julian sudah mengaku terlebih dahulu, saat video itu akhirnya bocor ke internet satu jam kemudian, narasi publik sudah berubah. Masyarakat tidak lagi melihatnya sebagai "skandal yang terungkap", melainkan sebagai "bukti kekejaman industri terhadap anak muda".

​Malam harinya, Julian dan Alice kembali ke rumah Samuel. Julian duduk di ruang perpustakaan, merasa sangat lelah namun lega. Ia membuka ponselnya dan melihat sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

​Pesan itu berisi: "I’m proud of you, brother. Speaking the truth is the only way to be truly free. Keep walking with God. - J.B."

​Julian tertegun. Ia menunjukkan pesan itu pada Alice. "Al... lihat ini. Pesan dari seseorang yang pernah melalui badai yang sama."

​"Justin?" bisik Alice tidak percaya.

​"Dia tahu rasanya dihujat seluruh dunia saat mencoba berubah. Dia tahu rasanya dituduh 'palsu' hanya karena kita mencoba menjadi lebih baik," Julian tersenyum tipis. "Dia bilang aku harus tetap berjalan bersama Tuhan."

​Samuel masuk ke ruangan membawa setumpuk dokumen hukum. "Strategi kita berhasil, Julian. Pengakuanmu membuat video dari Sean kehilangan daya ledaknya. Sekarang, publik justru menuntut agensimu untuk diselidiki atas tuduhan eksploitasi dan pemberian zat terlarang. Kita baru saja mengubah pertahanan menjadi serangan balik yang mematikan."

​Namun, Samuel menatap Julian dengan serius. "Tapi ingat, Julian. Ellena masih di rumah sakit. Dan dia adalah saksi kunci. Jika Sean bisa memanipulasinya untuk memberikan kesaksian palsu bahwa kau melakukannya secara sukarela tanpa tekanan zat kimia, kita masih dalam bahaya besar."

​Julian berdiri, menggenggam tangan Alice. "Aku akan menemuinya, Pa. Aku akan menemui Ellena. Bukan sebagai mantan kekasih, tapi sebagai sesama korban yang ingin dia juga bebas dari jeratan Sean."

​Alice menatap suaminya dengan cemas. "Kau yakin, Julian? Itu sangat berisiko."

​"Aku harus melakukannya, Al. Ini adalah bagian dari pertobatanku. Aku tidak bisa benar-benar bersih jika masih ada dendam yang belum terselesaikan."

1
Ariska Kamisa
/Coffee//Coffee//Coffee/
umie chaby_ba
Ellena kepedean amat sih lo/Panic/
umie chaby_ba
Perkara gelang geh Jule Jule ..
cemburu bilang /CoolGuy/
umie chaby_ba
Julian nih... ngeselin ! /Speechless/
umie chaby_ba
Mulai merambah ke internasional nih ceritanya.../Doubt//Doubt//Doubt/
umie chaby_ba
wow internasional latarnya nih...
markicob baca...
se inter apa ya thor... /Tongue/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!