Karina rela melepaskan identitas dan membuang kemewahan yang dimilikinya sebagai putri tunggal keluarga Wijaya hanya untuk bersama Agus, ia jatuh cinta pada Agus karena kebaikan dan kejujurannya.
Pernikahannya tampak begitu sempurna dan bahagia, hingga Agus pun sudah menjadi pria sukses berkat dukungan dan bantuan Karina. Sayangnya dengan kesuksesannya, Agus justru terlena dan mengkhianati pernikahan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun itu.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada pernikahan Karina dan Agus? Apa yang akan dilakukan Karina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Khilaf!
Karina tertawa kecil, suara tawa yang begitu merdu namun terasa mencekam di dalam toilet yang sunyi itu, ia merapikan sedikit kerah gaunnya lalu menatap Sabrina dengan tatapan yang seolah-olah sedang melihat serangga kecil yang mengganggu.
"Jangan mengganggumu?" ulang Karina dengan nada geli.
"Sabrina, kau terlalu tinggi menilai dirimu sendiri. Bagiku, kau hanyalah kerikil kecil yang tidak sengaja terinjak saat aku sedang berjalan menuju singgasanaku. Aku tidak perlu membuang energi untuk mengganggumu, karena orang sepertimu biasanya akan menghancurkan diri sendiri karena keserakahanmu," lanjutnya.
Karina mengambil tas kecilnya lalu melangkah satu langkah lebih dekat hingga aroma parfum mahalnya mendominasi penciuman Sabrina.
"Tapi ingat, uang yang kau curi dari Agus itu... sebagian besar adalah harta yang belum dibagi secara sah dalam perceraian kami. Itu artinya, secara hukum, kau sedang memegang uang Grup Wijaya. Jika aku mau, aku bisa membuatmu mendekam di penjara dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam atas tuduhan pencucian uang dan penggelapan aset," bisik Karina tepat di telinga Sabrina.
Tubuh Sabrina bergetar hebat, ia tahu Karina tidak sedang menggertak, kekuasaan Grup Wijaya bisa menjangkaunya di lubang mana pun ia bersembunyi. "Ka-kau tidak akan melakukan itu... itu hanya uang receh bagimu!" ucap Sabrina.
"Bagiku memang receh, tapi bagimu itu adalah tiket menuju sel penjara. Jadi, saranku, pergilah. Menghilanglah dari Jakarta sebelum aku berubah pikiran, jangan pernah biarkan aku melihat wajahmu lagi di acara sosialita manapun atau aku pastikan kau akan menyesal pernah lahir ke dunia ini," ucap Karina dengan suara yang tenang namun penuh otoritas.
Tanpa menunggu jawaban, Karina berbalik dan melangkah keluar dengan anggun, meninggalkan Sabrina yang terduduk lemas di lantai marmer, menangis tersedu-sedu karena ketakutan yang luar biasa.
Saat kembali ke area VIP, Karina mendapati Faisal sedang menunggunya dengan segelas air putih dingin.
"Kamu terlihat lebih segar, sudah selesai dengan urusan di dalam?" tanya Faisal sambil memberikan gelas itu.
"Hanya membersihkan sedikit debu yang menempel," jawab Karina singkat sambil meminum airnya.
Namun, beberapa saat kemudian. Karina menatap Faisal, "Ada apa?" tanya Faisal.
"Kamu tahu apa yang terjadi didalam?" tanya Karina.
Faisal pun tertawa lalu mendekatkan dirinya pada Karina dan berbisik, "Tentu saja, apa yang tidak aku ketahui tentangmu," bisik Faisal.
"Huh sudahlah, kali ini aku membiarkan perempuan itu," ucap Karina.
"Kenapa? Bukankah menghancurkannya sangat mudah Karina? Aku bisa melakukannya, asalkan kamu yang memintanya," tanya Faisal.
"Entahlah, aku tidak berselera untuk menghancurkannya," jawab Karina.
"Tapi, kalau dia tidak dihancurkan. Kemungkinan besar, dia akan menyebabkan masalah nantinya," ucap Faisal.
"Tapi, aku harus melakukan apa pada dia?" tanya Karina.
"Tentu saja melaporkannya, dia terlibat dalam kasus yayasan yang dia buat waktu itu," jawab Faisal.
"Aku rasa dengan alasan itu, dia tidak akan dipenjara. Pasti ada cara lain, aku akan memikirkannya nanti, sekarang aku lelah, aku butuh istirahat," ucap Karina.
"Kalau begitu, ayo aku antar," ucap Faisal dan diangguki Karina.
.
Pagi harinya, suasana di kantor pusat Grup Wijaya tampak sangat tenang, Karina melangkah melewati lobi dengan setelan power suit berwarna krem, didampingi oleh Yessi dan barisan pengawal yang menjaga jarak aman. Setiap karyawan yang berpapasan dengannya membungkuk hormat, menyadari bahwa sang Putri Mahkota telah benar-benar mengambil alih kemudi.
Sepanjang hari, Karina tenggelam dalam tumpukan dokumen dan rapat strategis. Karina menandatangani pengambilalihan proyek Mega City dan memantau pergerakan harga saham, memastikan transisi vendor berjalan tanpa hambatan. Tidak ada gangguan, tidak ada telepon dari nomor tak dikenal, semuanya berjalan seperti mesin yang diminyaki dengan baik.
Namun, ketenangan itu hanyalah sebuah tabir.
Pukul lima sore, Karina memutuskan untuk pulang lebih awal demi menemani Ella dan Aisha makan malam. Karina menolak pengawalan ketat hingga ke area parkir vip bawah tanah, karena merasa bahwa privasi sejenak akan membantunya menjernihkan pikiran.
Saat langkah sepatunya bergema di jalanan parkiran yang sunyi, Karina tiba-tiba menghentikan langkahnya. Jantungnya berdesir bukan karena takut, tapi karena terkejut melihat sosok pria yang berdiri bersandar pada pintu mobil.
Pria itu mengenakan kemeja kusam yang lengannya digulung asal-asalan, wajahnya yang dulu tampak sombong kini ditumbuhi janggut tipis yang tidak terawat. Matanya cekung, menyiratkan keletihan dan keputusasaan yang mendalam, pria itu adalah Agus, mantan suami Karina.
Karina terpaku melihat mantan suami yang sudah ia hancurkan, "Agus?" bisiknya dengan nada yang tidak percaya.
Dalam laporan yang ia terima dari orang-orang Paman Andri kemarin, Agus seharusnya berada di Solo bersama Ibunya setelah tidak memiliki apapun.
'Bagaimana mungkin pria ini bisa berada di Jakarta, bahkan menembus sistem keamanan parkir VIP Grup Wijaya?' batin Karina.
Agus menegakkan tubuhnya saat melihat Karina, ia tidak lagi menatap Karina dengan hinaan seperti saat ia mengusirnya dari rumah. Kali ini, tatapannya penuh dengan keraguan, penyesalan dan sesuatu yang terlihat seperti rasa haus yang mengerikan.
"Karina... Kamu... kamu benar-benar Putri Mahkota Wijaya," ucap Agus pelan.
Karina segera menguasai dirinya, ia menarik napas panjang dan wajahnya kembali membeku menjadi topeng es yang tidak tertembus.
"Bagaimana kamu bisa ada di sini, Agus? Dan bagaimana kamu bisa masuk ke area ini?" tanya Karina.
Agus melangkah maju, tangannya gemetar ingin meraih ujung pakaian Karina, namun ia segera menariknya kembali saat melihat kilatan dingin di mata wanita di hadapannya.
"Aku... aku menyelinap masuk mengikuti mobil kurir, aku harus menemuimu, Karina. Aku tidak bisa tidur, tidak bisa makan... pikiranku penuh dengan bayanganmu," suara Agus parau, pecah oleh emosi yang tertahan.
"Karina, aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf. Aku buta, aku bodoh, aku tertutup oleh kesombongan sesaat," lanjutnya.
Karina tetap bergeming, tas mahalnya masih ia jinjing. "Maaf? Kata itu terdengar sangat asing keluar dari mulut seorang pengusaha sukses yang dulu menyebutku sampah tak berguna, Agus," ucap Karina.
"Aku khilaf! Sabrina... wanita itu telah menyihirku! Dia mencuri segalanya dariku dan sekarang dia pergi!" ucap Agus dan berlutut di atas lantai beton parkiran yang dingin, tepat di depan sepatu hak tinggi Karina.
"Tapi itu tidak penting lagi. Harta, perusahaan, semuanya bisa hilang, sekarang aku baru sadar bahwa aku kehilangan satu-satunya harta yang paling berharga... yaitu kamu dan anak-anak," lanjut Agus.
Karina tertawa hambar, sebuah suara yang memantul di dinding-dinding parkiran yang sunyi. "Anak-anak? Kamu ingat mereka sekarang? Apa kamu lupa apa yang sudah kamu lakukan pada mereka? Di mana kamu saat mereka harus mengemas baju mereka dalam kantong plastik karena kamu bahkan tidak mengizinkan kami membawa koper yang layak?" tanya Karina.
"Aku salah, Karina! Aku mengaku salah! Berikan aku satu kesempatan lagi. Demi Ella dan Aisha, mereka butuh sosok Ayah, kita bisa memulai semuanya dari awal, aku mohon Karina," mohon Agus.
.
.
.
Bersambung.....