Tiga tahun lalu, Caliandra Adiyaksa memilih pergi.
Bukan karena ia tak lagi mencintai Arka Wiryamanta,
tapi karena cinta mereka berdiri di atas luka dan darah masa lalu.
Kini ia kembali, bukan sebagai gadis yang rapuh.
Ia hadir sebagai wanita mandiri dengan kerajaan bisnisnya sendiri.
Arka mengira waktu akan menghapus namanya.
Nyatanya, tidak ada satu hari pun ia berhenti mencintainya.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali dalam dunia bisnis,
gengsi, dendam lama, dan seorang pria bernama Kenzy Maheswara
berdiri di antara mereka.
Arka hanya tahu satu hal,
dari semua perempuan yang datang dan pergi,
hanya satu yang mampu mengacaukan hatinya.
Still you.
Tapi kali ini…
apakah Caliandra masih memilihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Hati yang Mulai Luluh
2 bulan berlalu....
Tender lain membawa mereka ke kota kecil di dataran tinggi. Kota dengan udara dingin, kabut tipis di pagi hari, dan hujan yang turun hampir setiap sore seperti ritual rahasia.
Arka sebenarnya bisa saja mengirim tim lain.
Tapi entah kenapa… ia memilih datang sendiri.
Dan lebih aneh lagi.......ia membawa Aurora.
“Kenapa aku yang harus ikut?” tanya Aurora saat di mobil, memeluk map proposal di dadanya.
Arka tidak menoleh. “Karena kamu yang paling cerewet waktu presentasi pada tender kemarin. Nanti mereka akan suka tipe begitu.”
Aurora melotot. “Saya bukan cerewet. Saya komunikatif.”
“Definisi yang terlalu percaya diri.” ucap arka
“Dan kamu, sok cool.” sahut aurora
Arka akhirnya meliriknya sekilas. “Kalau saya hangat nanti kamu meleleh.”
Aurora terdiam dua detik.
Lalu pipinya memerah.
“GR sekali.”celetuk ara
Arka tersenyum tipis.
Ia menang.
Sore pertama di kota itu, hujan turun deras saat mereka keluar dari lokasi proyek.
Aurora lupa membawa payung.
Arka tentu saja tidak lupa—tapi ia sengaja berjalan sedikit lebih cepat.
“Astaga!” Aurora berlari kecil menyusulnya. “Arka! Tunggu!”
Arka berhenti di bawah kanopi toko tua. Ia menoleh santai.
“Kenapa?”
“Hujan.”
“Saya tahu.”
“Saya basah.”
“Sepertinya iya.”
Aurora menatapnya tajam. “Kamu ini manusia atau kulkas dua pintu?”
Arka hampir tertawa.
Hampir.
Ia membuka jas hujannya, lalu tanpa aba-aba menyampirkannya ke tubuh Aurora.
Jaketnya terlalu besar. Lengannya kepanjangan.
Aurora terlihat seperti anak kecil memakai pakaian orang dewasa.
Arka membeku sesaat.
Bayangan samar.
Seorang gadis kecil tertawa di bawah hujan.
Menggunakan jaket yang kebesaran.
Memanggil namanya dengan suara riang.
Ia mengerjap.
Kenangan itu hilang secepat datangnya.
Aurora mengibaskan tangan di depan wajahnya.
“ Arka? Halo? Jangan bengong, kesambet lho”.
Arka mengalihkan pandangan. “Cepat jalan. Nanti demam.”
Aurora tersenyum kecil.
Hangat.
Untuk pertama kalinya… Arka merasa hujan tidak sedingin biasanya.
Hotel mereka hanya memiliki dua kamar tersisa. Kamar berdampingan.
Aurora masuk lebih dulu ke kamarnya.
Beberapa menit kemudian....
“ Arkaaaa!”Ara mengetuk pintu kamar arka
Arka membuka pintu dengan santai.”Ada apa?”
“AC-nya terlalu dingin!”gerutu ara
“Turunkan.”
“Remote-nya error!”
Arka menghela napas lalu pergi ke kamar ara.
Ia mencoba memperbaiki. Aurora berdiri di belakangnya sambil mengomel pelan.
“Kenapa sih hotel mahal tapi remote-nya begini… kayak mantan nggak jelas…”
Arka menoleh cepat. “Kamu punya mantan?”
Aurora tersedak. “Eh—nggak! Maksudnya itu cuma perumpamaan!”
Arka mendekat selangkah. “Perumpamaan biasanya berasal dari pengalaman.”
Aurora mundur selangkah.
Dan—
BRUK.
Ia tersandung koper sendiri dan jatuh ke atas kasur.
Arka refleks menahan tubuhnya.
Kini posisi mereka… terlalu dekat.
Aurora bisa melihat jelas garis rahang Arka.
Dan Arka bisa merasakan napas Aurora yang hangat.
Detik terasa lambat.
Sangat lambat.
Lalu—
Aurora mengambil bantal dan memukul wajah Arka.
“Jangan natap begitu!”
Arka terdiam satu detik.
Lalu mengambil bantal lainnya.
Dan membalas.
Perang bantal pecah begitu saja.
Tawa Aurora memenuhi kamar.
Arka tertawa.
Tertawa sungguhan.
Suara yang sudah lama tak keluar dari dirinya.
Dan untuk sesaat… mereka bukan dua orang dewasa penuh rahasia.
Mereka seperti dua anak kecil yang tak punya beban dunia.
Malam itu listrik padam karena badai.
Aurora duduk di balkon, memeluk lututnya.
Arka keluar membawa dua cangkir kopi.
Ia duduk di sebelahnya tanpa bicara.
Hening.
Angin dingin.
Aurora menatap hujan.
“ Arka…”
“Hm.”
“Pernah nggak sih… merasa kayak kenal seseorang tapi nggak tahu dari mana?”
Arka menegang sedikit.
“Maksudnya?”
Aurora mengerutkan dahi. “Aku kadang mimpi… ada anak laki-laki kecil yang selalu marah kalau aku nakal, mengajak ku bermain, berlari-lari, tertawa, menggandeng tanganku agar aku tidak terjatuh”.
Arka membeku.
Aurora melanjutkan pelan.
“Ada juga… om-om yang suka gendong aku. Aku ingat hangatnya. Tapi wajahnya kabur.”
Arka menatapnya.
Hatinya bergetar tanpa alasan jelas.
Aurora memejamkan mata.
“Terus… ada suara benturan keras. Lampu mobil. Aku menangis. Setelah itu… gelap.”
Arka merasakan dadanya sesak.
“Kenangan masa kecil sering menipu,” katanya pelan.
Aurora tersenyum samar. “Mungkin.”
Ia menoleh menatap Arka.
“Kalau dulu kita saling mengenal… kamu kira kita teman atau musuh?”
Arka menatapnya lama.
Sangat lama.
“Aku tidak pernah membenci wajah itu.”
Aurora terdiam.
Wajah itu!!!
Kalimat itu membuat sesuatu di dadanya hangat.
Tanpa sadar… bahu Aurora menyentuh bahu Arka.
Dan tidak ada yang menjauh....
Hari presentasi tiba.
Aurora tampil memukau.
Arka memperhatikannya sepanjang waktu.
Cara Aurora tersenyum.
Cara ia menggerakkan tangan saat menjelaskan.
Cara ia mengerutkan dahi saat serius.
Dan tiba-tiba Arka menyadari...
Ia tidak lagi menyelidiki Aurora.
Ia… mengaguminya.
Setelah rapat selesai dan tender hampir pasti dimenangkan.
Aurora melompat kecil kegirangan.
“Kita berhasil!”
Tanpa sadar ia memeluk Arka.
Tubuhnya membeku.
Aurora baru sadar beberapa detik kemudian.
Ia hendak melepaskan diri—
Tapi Arka menahan tangannya.
Tidak erat.
Tapi cukup untuk membuat jantung Aurora berdetak tak teratur.
“Jangan terlalu dekat,” bisik Aurora gugup.
Arka menunduk sedikit. “Kamu yang mulai.”
Aurora menelan ludah.
“Kalau begitu… aku minta maaf.”
Arka tersenyum tipis.
“Maaf diterima.”
“Tapi?”
“Tapi jangan ulangi.”
Aurora cemberut. “Kenapa?”
Arka menatapnya dalam.
“Karena aku mungkin tidak akan bisa berhenti.”
Jantung Aurora seperti jatuh dari langit.
Dan untuk pertama kalinya… ia merasa aman.
Padahal seharusnya ia adalah alat balas dendam.
Dan Arka adalah pewaris keluarga yang mungkin menghancurkan masa lalunya.
Tapi malam itu...
Dendam terasa jauh.
Yang ada hanya dua hati yang mulai saling menemukan kembali.
Tanpa tahu…
Takdir sedang perlahan membuka luka lama.
Dan ketika semua kebenaran terungkap—
Apakah cinta ini akan tetap berdiri?
Atau justru menjadi korban berikutnya?
😭😭😭