Seorang wanita bernama Eun Chae hampir memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang membosankan setelah mendapatkan diagnosa mengidap penyakit linglung atau amnesia di usianya yang baru 30 tahun. Terlebih parahnya, Eun Chae tidak ingat bagaimana dirinya telah kehilangan kedua orang tuanya setahun yang lalu, dalam sebuah kecelakaan saat berlibur ke luar negeri. Siapa sangka pria yang menolongnya ternyata seorang chef terkenal di media sosial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon originalbychani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 33 : Hidangan Spesial
(*Fiksi, karya author Chani*)
Pada dasarnya, menjadi seorang chef berarti harus bermental baja bak tentara. Dalam sebuah tim kuliner atau kitchen brigade dalam bahasa Inggris, terdapat hirarki dan peran-peran yang saling melengkapi.
"Meski sekarang aku belum memiliki restoranku sendiri, ada banyak pekerjaan yang mampu kugarap sebagai seorang chef, sekaligus meningkatkan kemampuan dan mengajari orang lain," terang Chef Do kepada Eun Chae.
"Ya, Chef. Aku akan menjalankan peranku dengan baik," jawab Eun Chae.
"Kurasa, kita juga perlu menjaga jarak saat bekerja, agar lebih profesional," imbuh Chef Do.
"Uhm.. Ok, Chef. Aku akan berusaha," kata Eun Chae jujur.
"Aku tahu itu sulit, karena kita saling menyukai dan selalu memperhatikan satu sama lain. Namun, hanya kesuksesan yang dapat meniadakan segala hal mustahil dalam hubungan kita," tegas Chef Do.
Mendengar kalimat Chef Do, semangat mulai menyala dalam hati Eun Chae.
"Berarti, kita akan terus bersama?" tanya Eun Chae, memastikan dengan malu-malu.
"Tentu saja. Jika kamu akan terus memilihku," ujar Chef Do, dibalas dengan rengekan khas Eun Chae.
"Jangan bilang begitu, oppa! Mana mungkin aku akan mengkhianatimu? Sebaliknya, apa oppa akan selalu memilihku?" protes Eun Chae.
"Untuk saat ini, memang tidak ada yang lain bagiku, selain kamu," balas Chef Do, tanpa berpikir panjang.
"Aku juga sama," geram Eun Chae, jelas-jelas kurang puas dengan jawaban Chef Do.
Chef Do hanya tersenyum karena belum mencapai level tertinggi dalam memahami pasangannya. Sedangkan, Eun Chae belum memiliki impian sebesar Chef Do untuk menata masa depan.
Setidaknya, memang ada peningkatan dalam hubungan Chef Do dan Eun Chae, sehingga prinsip keduanya tidak mudah tergoyahkan.
"Jadi, kita akan pergi kemana dalam cuaca sedingin ini?" tanya Eun Chae, saat Chef Do menggandeng tangannya sambil berjalan menuju mobil pria itu.
"Masuklah. Kau akan tahu setelah kita tiba," ajak Chef Do, lalu menempati kursi pengemudi.
Walau sedikit bimbang, Eun Chae menuruti keinginan Chef Do dan bersiap melihat sesuatu yang baru.
Chef Do mengemudikan mobilnya menuju pusat kota, lalu tiba dalam waktu singkat.
"Apa kita sudah sampai? Sepertinya, belum 10 menit berlalu," tanya Eun Chae ragu.
"Benar, tempat tujuan kita adalah salah satu restoran ternama di Han-namdong," jawab Chef Do, lalu turun dari mobil dan membukakan pintu untuk kekasihnya.
Eun Chae pun turun dari mobil, kemudian berjalan mengikuti Chef Do hingga tiba di depan pintu restoran yang ramai pengunjung.
"Selamat datang di La Parilla House. Untuk berapa orang?" sambut pelayan restoran, seketika Chef Do dan Eun Chae memasuki tempat itu.
"Dua orang. Namun, aku akan langsung ke dapur, karena sudah membuat janji temu dengan Chef Alberto. Tolong layani wanita yang datang bersamaku," ujar Chef Do, lalu beranjak sebelum Eun Chae berkata-kata.
Mau tidak mau, Eun Chae dituntun oleh pelayan restoran hingga menempati meja kosong. Sementara, matanya sesekali mengamati sosok Chef Do yang sedang berbicara dengan seorang pria berwajah tak asing.
"Siapa pria paruh baya itu? Kurasa, dia juga seorang chef sekaligus pemilik tempat ini," selidik Eun Chae, lalu mengecek secara daring pada ponselnya.
Chef Alberto Rodriquez. Pemilik dan Head Chef La Parilla House, Han-namdong, Yongsan-gu. Selain itu, Chef Alberto merupakan pendiri Mexi-taly Cafe di Itaewon, serta beberapa restoran franchise lainnya.
"Wow.. Dia benar-benar seorang chef warga negara asing yang hebat. Ah, benar juga! Dia salah seorang juri yang kutonton sewaktu babak penyisihan lomba," desah Eun Chae kagum, dengan suara sepelan mungkin.
"Chef Nate, bantulah chef muda yang akan turut berpartisipasi dalam persiapan menu acara hari ini. Namanya Chef Do. Kau akan terkejut seketika melihat bakatnya," panggil Chef Alberto kepada Sous Chefnya.
Oui, Chef. Mari, Chef Do, ikut aku ke sebelah sini," arah Chef Nathan, yang akrab dipanggil Nate atau Chef Nate di tempat itu.
Dalam sekejap, Chef Do telah mengenakan seragam chef yang serupa dengan tim dapur, memilah bahan dasar, dan mengikuti arahan Chef Nate.
"Inilah jenis ikan yang paling banyak digunakan di restoran kami," kata Chef Nate, seraya memunculkan bahan-bahan lain pada sisi ujung meja yang memanjang di tengah dapur luas itu.
"Ikan tuna sirip biru, ikan salmon, ikan halibut, ikan haring, dan belut laut," simak Chef Do.
"Tepat sekali. Selain itu, kita juga menggunakan gurita, abalone, dan berbagai jenis tiram. Bagaimana menurutmu, Chef?" lanjut Chef Nate.
"Berdasarkan tema santapan laut mewah, tidak sulit menetapkan menu dengan bahan-bahan berkualitas ini," balas Chef Do, diikuti dengan anggukan setuju Chef Nate, lalu keduanya mulai bekerja sama.
"Kemarilah semua. Hari ini, menu utama kita adalah steak belut laut, menu appetizer berupa sajian ikan mentah, menu penutup es sorbet. Pembuatannya akan dipimpin oleh chef tampan di sebelahku ini," jelas Chef Nate kepada anggota tim.
"Uwaa, dia benar-benar Chef Do yang terkenal itu! Benarkah kita akan memasak secara perorangan di bawah perintahnya? Aku bisa pingsan karena kharisma dan ketampanannya," bisik para juru masak wanita kegirangan.
"Sebelum dimulai, mohon tidak bersikap heboh. Kalian dapat meyakinkanku melalui kesempurnaan kerja sama hari ini," sanggah Chef Do, hingga suasana berubah sunyi dan profesional.
Dengan sendirinya, Chef Do mengambil beberapa macam pisau dan peralatan dapur. Lalu, membersihkan sisik dan duri ikan dengan cara direndam, disiram, serta dikuliti. Setelahnya, bagian-bagian ikan tersebut diiris dan dipisahkan. Gerakan tangan pria itu sungguh ahli, teliti, dan efisien.
Tanpa disadari oleh Chef Do, baik Chef Nate maupun setiap asisten dapur yang lain terpukau oleh keterampilan istimewanya.
Sekitar 7 menit kemudian, sebuah hidangan pembuka disajikan berserta sepucuk surat untuk Eun Chae. Wanita itu pun membuka amplop surat dan membaca kalimat yang tertulis.
Terima kasih untukmu, wanita yang senantiasa berpihak dan berada di sisiku. Berkatmu, aku semakin pantang menyerah dan mampu melihat peluang di masa depan. Aku akan selalu terpikat padamu, Eun Chae-ya. - dari Chef Do.
"Ada apa ini? Kenapa oppa memperlakukanku seperti Tuan Putri?" ucapnya heran, walau sebenarnya sangat terharu.
"Selamat siang, agassi. Saya Se Hun dari La Parilla House, yang akan melayani Anda untuk acara fine dining buffet hari ini," sapa seorang pelayan dengan hormat, lalu menuangkan masing-masing anggur putih dan anggur merah pada dua gelas yang tersedia di hadapan Eun Chae.
Eun Chae yang sedikit terperangah hanya merespon dengan senyuman canggung. Pikirannya masih tertuju pada surat menyentuh yang dipegangnya.
"Kupikir, oppa ingin melatihku dengan keras dan disiplin di suatu tempat rahasia. Aku jadi keliru menafsirkan sikapnya. Bagaimana jika oppa masih bermaksud mengejutkanku lagi?" gumam Eun Chae gugup, sambil memegangi kedua pipinya yang merona.
- Bersambung -