NovelToon NovelToon
Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

‼️MC BERSIFAT IBLIS‼️

Langit memberinya takdir kejam, dibenci Oleh Qi, tidak memiliki dantian, bahkan tidak memiliki meridian.

Dibuang oleh ayahnya sendiri.
Sifat lembut Lu Daimeng hilang tak tersisa, digantikan oleh sifat iblis yang mengerikan.

Dia adalah anti dao, sebuah jalan yang tercipta karena perlawanan kepada langit.

Dia tidak di takdirkan untuk naik menuju puncak.
Dia di takdirkan untuk menghancurkan puncak itu sendiri.

Ini adalah kisah dari apa yang mereka sebut

ANTI DAO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tetua Daratan Tengah

Kota Jinting – Kediaman Utama Keluarga Lu.

Aula Transmisi Spasial Keluarga Lu adalah sebuah mahakarya arsitektur yang dibangun dari marmer putih dan dihiasi dengan pilar-pilar giok. Tempat ini biasanya memancarkan aura ketenangan yang agung, dijaga oleh barisan pengawal elit berpakaian zirah perak.

Namun, pada siang hari itu, ketenangan yang telah bertahan selama ratusan tahun hancur berkeping-keping.

VWOOOOOOM!

Sebuah getaran keras mengguncang fondasi aula. Rune-rune emas yang terukir di lantai menyala membutakan, berkedip liar seolah dipaksa menelan sesuatu yang melebihi kapasitasnya.

Saat pilar cahaya spasial meredup, bau anyir darah yang pekat dan ozon yang terbakar langsung memenuhi udara.

Dua tetua Keluarga Lu jatuh tertelungkup ke lantai. Tubuh mereka kurus kering, kulit menempel pada tulang akibat mengorbankan esensi darah demi memaksa teleportasi darurat melintasi ruang yang tidak stabil. Mereka terengah-engah, memuntahkan darah hitam, nyaris tak bernyawa.

Di tengah mereka, berlutut sosok raksasa yang kehilangan seluruh arogansinya.

Lu Huang, sang jenius, sang putra sulung kebanggaan.

Zirah emasnya telah hancur menjadi rongsokan besi. Tubuhnya dipenuhi memar biru kehitaman dan sayatan, memamerkan Fisik Berlian Kristal-nya yang retak. Di pelukannya, terbaring sesosok wanita muda yang jubah ungunya telah basah kuyup oleh darah.

Lu Zhuxin.

Wajahnya yang selalu memancarkan keangkuhan kini seputih kertas kosong. Di sisi kiri kepalanya, terdapat retakan luka mengerikan akibat hantaman tumpul yang brutal. Tengkoraknya retak parah, napasnya nyaris tidak ada.

"Tabib..." suara Lu Huang serak, parau, dan bergetar hebat. Matanya yang merah menatap liar ke arah para pengawal yang membeku. "PANGGIL SEMUA TABIB DI KOTA INI! SEKARANG!"

Hanya dalam waktu kurang dari setengah batang dupa, pintu aula didobrak terbuka.

Seorang wanita paruh baya bergegas masuk dengan langkah tersandung. Dia adalah Su Zhi, istri pertama Patriark Lu Daihong, ibu kandung dari Lu Zhuxin dan Lu Huang. Wanita yang mengendalikan jalur perdagangan Kota Jinting itu kini matanya membelalak dalam teror murni.

"Xin-er..." Su Zhi berbisik, suaranya pecah. Dia menjatuhkan dirinya ke genangan darah, menyentuh pipi putrinya yang sedingin es.

"Apa yang terjadi?!" Su Zhi menjerit, menatap putra sulungnya. "Kalian pergi ke Lembah Kematian dengan pasukan penuh! Siapa yang berani melakukan ini pada putriku?!"

Lu Huang menggertakkan giginya. Rasa malu dan horor masih menari-nari di retinanya. "Ini... ini ulahnya, Ibu. Iblis itu..."

Di sudut ruangan, Paman Lu Gubo yang baru tiba melihat kondisi keponakannya. Saat dia melihat jenis luka hantaman mentah yang menghancurkan tengkorak Zhuxin, dan sisa energi hitam yang menguar dari luka itu, wajah Lu Gubo menjadi abu-abu. Dia pernah melihat energi itu.

Tanpa banyak bicara, Lu Gubo segera berbalik dan berlari menuju Paviliun Komunikasi. Dia membakar Blood Talisman tingkat tertinggi untuk mengirim pesan langsung ke sekte utama di Daratan Tengah.

Selama tiga jam berikutnya, Kediaman Utama Keluarga Lu berubah menjadi rumah sakit darurat paling elit di seluruh wilayah.

Puluhan tabib dan alkemis tingkat tinggi—pria dan wanita tua yang biasanya sangat sombong dan sulit ditemui—kini berbaris dengan wajah tegang di depan kamar penyembuhan Lu Zhuxin.

Satu per satu mereka masuk, dan satu per satu mereka keluar sambil menggelengkan kepala, keringat dingin membasahi dahi mereka.

"Lapor, Nyonya Besar," seorang Alkemis Kelas Lima berlutut di hadapan Su Zhi yang mondar-mandir di lorong. "Kami telah menstabilkan retak di tengkoraknya dengan Pil Penyambung Tulang Giok. Namun..."

"Namun apa?!" bentak Su Zhi, matanya memerah. "Aku membayar kalian dengan gunung emas, jangan beri aku alasan!"

Alkemis itu menelan ludah. "Bukan luka fisiknya yang mematikan, Nyonya. Ada... ada sisa energi asing yang tertinggal di dalam lukanya. Energi itu berwarna hitam pekat, dan sama sekali tidak memiliki sifat Qi. Energi itu terus melahap Qi... . Setiap kali kami mencoba mengalirkan Qi penyembuh ke otaknya, energi hitam itu memakannya. Energi itu menolak hukum pemulihan."

Su Zhi terhuyung mundur, ditangkap oleh para pelayannya. "Maksudmu... putriku tidak bisa diselamatkan?"

"Hanya seorang ahli dengan kultivasi Mental tingkat tinggi yang bisa secara paksa mencabut energi aneh itu dari lautan kesadarannya," Alkemis itu menunduk dalam-dalam. "Kemampuan kami di kota ini... tidak cukup nyonya."

Aula Takhta Keluarga Lu - Rapat Darurat.

Satu jam kemudian, sementara para tabib berjuang menahan nyawa Lu Zhuxin di ruang perawatan, sebuah sidang pengadilan tak resmi dilangsungkan di aula utama.

Atmosfer di dalam ruangan raksasa itu begitu berat. Di atas takhta giok, duduk sang Patriark, Lu Daihong. Wajahnya keras, dingin, dan dipahat dari rasionalitas mutlak.

Di tengah aula, Lu Huang berlutut. Di sisi kiri dan kanan, duduk puluhan tetua keluarga, serta saudara-saudara Lu Daimeng dari berbagai ibu selir. Anak Ketiga, Anak Keempat dan Lu Tian (Anak ke enam)—mereka yang dulu paling sering membully Lu Daimeng.

"Katakan," suara Lu Daihong menggema, menekan seluruh ruangan. "Apa yang terjadi di Lembah Kematian? Siapa yang berani menyentuh Zhuxin—"

Sebelum Lu Huang sempat membuka mulutnya untuk menjawab, hukum fisika di dalam aula itu berhenti bekerja.

Lilin-lilin yang menyala membeku. Udara menjadi sangat berat hingga bernapas pun terasa menyakitkan. Gravitasi berlipat ganda, memaksa para tetua yang duduk untuk merosot jatuh ke lutut mereka.

Di udara, tepat di depan singgasana Patriark, ruang tidak sekadar retak. Ruang itu terbelah dengan mulus seperti tirai sutra.

Sebuah lorong spasial yang memancarkan cahaya bintang keperakan terbuka.

"Dimana muridku?"

Suara itu merdu, sejuk seperti kristal, namun membawa tekanan yang membuat tulang belulang semua orang berderit.

Dari dalam lorong itu, melangkah keluar seorang wanita bergaun putih polos. Wajahnya adalah definisi kecantikan tak tersentuh, dengan mata yang menyimpan kebijaksanaan berabad-abad. Di punggungnya, melayang 5 buah pedang transparan membentuk setengah lingkaran.

Dia adalah Lu Yuelin. Penatua sekte pusat Keluarga Lu di Daratan Tengah. Guru mutlak dari Lu Zhuxin. Dan seorang ahli Ranah Primordial Suci (Saint Primordial Realm).

Lu Daihong, sang penguasa Kota Jinting, seketika turun dari takhtanya dan menjatuhkan diri ke lantai, bersujud bersama seluruh isi aula.

"Kami menyambut kedatangan Tetua Lu Yuelin dari Keluarga Pusat!" seru Lu Daihong gemetar.

Lu Yuelin tidak meliriknya. Dia melayang turun, berdiri tepat di depan Lu Huang yang bersimbah darah.

"Aku telah melihat kondisi muridku," kata Lu Yuelin dingin melalui penglihatan kesadaran. "Lautan kesadarannya digerogoti oleh energi yang menolak disembuhkan. Ceritakan apa yang terjadi. Jangan ada satu ayunan pedang pun yang kau lewatkan."

Lu Huang menelan ludah. Di bawah tekanan seorang Saint, dia tidak berani berbohong.

"Itu... itu ulah Lu Daimeng, Tetua," kata Lu Huang dengan suara serak.

Seketika, aula itu meledak dalam bisikan panik.

"Daimeng?!" Suara terkejut anak Ketiga memekik dari barisannya, wajahnya sepucat mayat.

"Siapa Daimeng? Ini?" Tanya Lu Yuelin

Lu Huang menelan ludah di tenggorokannya. "Dia anak haram ayah, karena tidak bisa berkultivasi, dia dibuang oleh Ayah ke Hutan Kabut kematian?! Dan Sekarang...."

"Diam!" bentak Lu Daihong. Dia menatap Lu Huang tajam.

"Lanjutkan!" Ucap Lu Yuelin

Lu Huang menarik napas panjang nada suaranya kini gemetaran. "Kami bertemu dengannya di Zona Dalam. Dia tidak mati. Penampilannya berubah... dahulu dia kurus dan hanya memiliki tinggi 1,7 meter dan kini tingginya sama dengan saya dan kulitnya sekeras logam, dan matanya... matanya memiliki tiga pupil ganda dengan tampilan reptile."

"Tiga pupil ganda?" Tetua Pertama menyela, matanya membelalak. "Salah satu mata Surgawi! Tapi mata itu bermutasi! Lanjutkan!"

Lu Huang menggeleng. "Bukan hanya itu. Kami tiba di Pohon Darah Bodhi yang memiliki Ranah Kuno. Formasi penekan di sana melumpuhkan Qi kami semua. Kami hanya bisa merangkak. Tapi dia... dia bisa berjalan dengan normal seolah formasi itu tidak menganggapnya ada. Dia berjalan santai, memanjat pohon itu, dan memakan buahnya."

"M-memakan? Berapa banyak?"

"Sepuluh buah," jawab Lu Huang getir. "Dia memakannya mentah-mentah, mengunyahnya bulat-bulat, tanpa meledak."

"Omong kosong! Apa kau tidak berbohong kakak?" Ucap Lu Tian berdiri, menunjuk Lu Huang. "Energi satu Buah Bodhi cukup untuk membakar meridian ahli Ranah Roh! Bagaimana mungkin manusia itu—"

"Aku bilang, DIAM!" Lu Yuelin tidak meninggikan suaranya, tapi satu kata itu membuat Lu Tian terhempas ke kursinya, memuntahkan darah.

Lu Yuelin menyipitkan matanya, menatap Lu Huang dengan fokus yang mengerikan. "Dia menelan energi Ranah Kuno tanpa meledak? Lalu apa yang terjadi?"

"Di dalam perutnya... aku melihatnya, seolah ada beberapa lubang hitam," cerita Lu Huang, mengingat kengerian itu. "Dia memuntahkan energi, lalu menyedotnya kembali. Auranya melesat seketika, setara dengan Puncak Ranah Jiwa. Saat kami keluar dari zona itu... dia menyerangku tiba-tiba, mungkin karena dia dendam telah dibuang."

"Dan saat melawannya." Lu Huang menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Aku membakar tiga Jimat penambah Esensi. Aku mendorong kultivasiku secara artifisial hingga Ranah Roh Tahap 8. Aku menghantamnya dengan pukulan terkuatku."

"Bagus," ucap seorang tetua mengangguk. "Serangan Tahap 8 pasti mengubahnya menjadi debu."

"Tidak!!," suara Lu Huang pecah. "Dia tidak mati. Dia memanggil sebuah manifestasi Roh miliknya yang berwujud hitam legam setinggi tiga meter. Manifestasi itu... juga menghisap sedikit energi seranganku. Lalu dia memadatkan energinya sendiri, mengubah tangannya menjadi sarung tangan naga hitam, dan meninju perisaiku."

Lu Huang mengangkat lengan kanannya yang patah dan dibalut perban. "Dia menghancurkan Manifestasi Roh Kura-kuraku. Dia mementalkanku menembus gunung batu."

Seorang kultivator ranah jiwa yang dapat memanifestasikan jiwanya menciptakan roh di luar tubuh.

Kesunyian di aula itu kini berubah menjadi teror murni. Beberapa saudara tiri Lu Daimeng mulai gemetar hebat hingga gigi mereka bergemeretak. Sampah yang dulu mereka jadikan samsak, menembus zirah Ranah Roh dengan kekuatannya?

"Dan Zhuxin... Zhuxin yang mengakhirinya saat Lu Daimeng mencoba kabur," lanjut Lu Huang dengan air mata mengalir. "Saat dia lengah dan kelelahan, Zhuxin menyergapnya dari belakang. Pedang Zhuxin menembus dadanya. Tepat di jantungnya."

"Hahahah..Syukurlah..." tawa Tetua Logistik yang baru menghela napas panjang.

"DAN SAAT JANTUNGNYA DI TUSUK DIA TIDAK LANGSUNG MATI!" raung Lu Huang, tidak bisa lagi menahan traumanya. "dia malah memajukan tubuhnya untuk memperdalam tusukan, hanya agar dia bisa berbalik dan memukul kepala Zhuxin! Satu pukulan! Setelah itu, dia jatuh ke dalam Jurang Hitam Lembah Kematian!"

Aula itu kembali hening. Cerita itu melampaui batas nalar. Seseorang yang tetap bertarung setelah jantungnya hancur bukanlah manusia.

"Jadi dia sudah mati," simpul Patriark Lu Daihong dingin, mencoba mempertahankan wibawanya. "Jantung hancur, jatuh ke jurang tanpa Qi untuk terbang. Itu kematian yang pasti. Anomali itu telah berakhir."

Para tetua mulai mengangguk setuju, mencoba menghibur diri mereka sendiri.

Namun, mereka salah menilai orang yang berdiri di tengah ruangan.

Lu Yuelin, sang Tetua dari sekte pusat Ranah Primordial Suci, tidak menatap mereka dengan tatapan lega. Matanya yang indah kini memancarkan rasa jijik dan kemarahan yang begitu pekat hingga udara di sekitarnya mulai membeku.

Lu Yuelin adalah seorang jenius dari Daratan Tengah. Tapi lebih dari kultivasinya, dia dikenal karena satu hal: Dia memuja bakat murni, dan dia sangat membenci orang-orang idiot yang menyia-nyiakan bakat tersebut karena ketololan politik picik atau kebodohan.

Dia menatap Lu Daihong yang masih berlutut setengah menunduk.

Slaash!

Lu Yuelin bahkan tidak mengangkat tangannya. Dia hanya menjentikkan lengan jubahnya.

Sebuah gelombang energi spasial melesat tak terlihat, menghantam Lu Daihong dengan kekuatan badai.

"URGH!"

Lu Daihong, sang Patriark, terpental sejauh lima belas meter, menghancurkan singgasana naganya sendiri. Dia terjerembap di lantai, memuntahkan darah bercampur serpihan organ dalam. Tulang rusuknya remuk.

"Patriark!" jerit para tetua, tapi tak satupun berani melangkah maju. Su Zhi, sang nyonya besar, hanya bisa menutup mulutnya, menangis ketakutan melihat suaminya dipukul dengan satu kibasan jubah.

Lu Yuelin melayang mendekati Lu Daihong yang mengerang di lantai.

"Daihong..." suara Lu Yuelin mendesis penuh racun. "Kau adalah anjing buta paling tolol yang pernah kami biarkan memimpin, tidak pernah ada orang setolol dirimu di cabang manapun keluarga ini."

"Seharusnya jika kau punya otak, kau bisa menghubungi kami karena keanehannya."

Lu Daihong bangun dari tempatnya dan kembali berlutut. "Maafkan saya, Tetua Yuelin.. saya tidak ingin mengganggu kediaman pusat hanya karena—"

"Kerana apa? Karena kebodohanmu itu kau membahayakan semua orang disini." Ucap Lu Yuelin wajahnya datar dan dingin, sorot matanya terasa ingin menghantam Lu Daihong sekali lagi.

Lu Daihong mendongak dengan susah payah, darah mengalir dari hidungnya. "Lu Daihong menerima kesalahan, tapi Iblis itu yang melukai muridmu..."

"IBLIS?!"

Ledakan suara Lu Yuelin meretakkan setiap pilar giok di aula itu.

"Kau menyebutnya iblis karena otak kerdil kalian di kota pinggiran ini terlalu dungu untuk mengenali Fisik Mutasi! Tidak memiliki Qi tapi bisa menelan energi? Memakan buah Ranah Kuno mentah-mentah saat masih di tanah jiwa? Memanggil Avatar eksternal di tingkat Ranah Jiwa? Melawan ahli Roh tahap 8 dengan ranah jiwa? Apa ada dari kalian yang bisa melakukan itu?"

Lu Yuelin menunjuk dengan marah ke arah para tetua yang gemetar.

"Aku tidak bisa mentoleransi kebodohan kalian, dasar orang-orang bodoh! Itu adalah bakat Anti Dao yang hanya muncul sekali dalam sepuluh ribu tahun! Fisik yang bisa meniadakan hukum alam! Dan apa yang kalian lakukan dengan harta karun tingkat tinggi itu?!"

Mata Lu Yuelin berkilat membunuh.

"Kalian menyiksanya. Kalian memanggilnya sampah. Kalian membuangnya ke hutan untuk dimakan kelinci, hanya demi menjaga ego murahan putra-putri kalian yang kemampuannya tidak lebih dari cacing tanah ini!"

"Dahulu kalah Dewa Leluhur kita yang namanya tidak boleh sembarangan disebut, menerima bawahan bernama Lord Tian Nie, dia adalah budak yang fisiknya sama dengan Lu Daimeng. Namun itu adalah bakat yang mengerikan. Mungkin Lu Daimeng adalah keturunan campuran dari keluarga Lu dan keluarga Lord Tian Nie."

"Keluarga Lu Kita dahulu telah banyak melahirkan God Creator dan mereka kembali ke dunia Lu (dunia para keturunan Lu), namun dalam beberapa Ratus ribu tahun ini jalan menuju alam itu terputus, dan keluarga Lu di dunia ini terus mencari cara dengan mencari bakat yang sangat tinggi untuk membuka kembali jalan menuju alam dewa, dan kalian membuang sosok yang mungkin akan membuka jalan tersebut."

Lu Huang dan saudara-saudaranya yang lain menunduk dalam-dalam, jiwa mereka serasa dicambuk. Mereka mengira Lu Yuelin akan marah pada Lu Daimeng. Mereka salah besar. Di mata Daratan Tengah, moralitas atau dendam keluarga tidak ada harganya dibandingkan dengan bakat.

"Muridku sekarat karena dia memang punya alasan melakukan itu," kata Lu Yuelin, suaranya merendah tapi jauh lebih mengancam. "Dan Muridku sekarat karena kesombongan yang kalian tanamkan kepadanya!"

"Dan kalian yang membuat naga itu bangun dan membenci keluarganya sendiri!"

Tidak ada yang berani bernapas. Fakta bahwa mereka telah membuang sosok yang bisa mengangkat Keluarga Lu ke puncak dunia kultivasi menghantam ego para tetua lebih keras daripada pedang.

Lu Yuelin menurunkan tangannya, menatap sisa-sisa keluarga cabang itu dengan pandangan jijik.

"Dengarkan titahku. Aku akan membawa Zhuxin ke Daratan Tengah untuk menyelamatkan nyawanya. Dan untuk kalian..."

Lu Yuelin memberikan jeda, perintahnya mutlak.

"Cari anak itu."

Lu Daihong terbatuk, "Tapi Tetua... dia jatuh ke Jurang Hitam—"

"Aku tidak peduli. Kuras kabutnya jika perlu!" potong Lu Yuelin tajam. "Balikkan setiap batu, belah setiap monster di Hutan Kabut Kematian! Jika dia masih hidup, temukan dia. Bawa dia kembali dengan utuh. Dan pastikan kalian untuk meminta maaf padanya. Keluarga Lu dibenua pusat sangat menginginkan bakat itu."

"Dan mungkin dia dapat membuat keluarga cabang 6 ini naik ke peringkat 2 atau menjadi salah satu keluarga pusat."

"Dan jika..." suara Lu Tian bergetar di sudut ruangan, "...jika dia menolak kembali? Jika dia masih ingin membunuh kami semua?"

Lu Yuelin tersenyum. Senyum yang membuat darah setiap anggota Keluarga Lu Jinting membeku.

"Jika dia menginginkan nyawa kalian sebagai syarat kepulangannya ke Keluarga Inti..." jawab Lu Yuelin lembut. "...maka aku sendiri yang akan memenggal kepala kalian semua."

Lu Yuelin berbalik, melangkah kembali ke dalam lorong spasial.

"Berdoalah agar dia masih hidup. Karena jika dia mati, kalian semua akan mendapat hukuman."

Lorong spasial tertutup seketika.

Aula takhta itu kini sunyi senyap, menyisakan Patriark yang terluka, para tetua yang putus asa, dan saudara-saudara yang baru menyadari bahwa mereka telah menggali kuburan mereka sendiri di masa lalu.

Karena di hadapan kekuatan dan pragmatisme absolut dari keluarga Lu di Daratan Tengah, Keluarga Lu di kota Jinting hanyalah bidak pion rendahan yang dengan senang hati akan tumbalkan demi kepentingan besar.

Bersambung...

1
M Rijal
😍💪 semangat thor
EGGY ARIYA WINANDA: Siap😁
total 1 replies
M Rijal
gw tunggu up nya thor
EGGY ARIYA WINANDA: Sipp 😂😂
total 1 replies
M Rijal
ini benar2 novel yang menarik. 👹😈
EGGY ARIYA WINANDA: Thank u😈👍
total 1 replies
EGGY ARIYA WINANDA
Ini bukan cerita tentang protagonis yang menyelamatkan dunia, ini adalah kisah villain yang berhasil melahap dunia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!