Hanya satu persen dari populasi global, manusia yang memiliki warna mata heterochromia. Lunar salah satunya.
Memiliki warna mata hijau dan biru, Lunar menyembunyikannya ketika hidup di luar Silvanwood yang terisolasi dari teknologi.
Untuk menyambung hidup, Lunar tak menduga menjadi aktris di perusahaan entertainment milik Jackson Adiwangsa dan menjadi kesayangannya.
Hingga kejadian tak terduga membuat apa yang disembunyikan Lunar terkuak. Bagaimana kehidupan Lunar, apakah dia akan tetap tinggal atau kembali ke Silvanwood?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Introvert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sembilan belas
"Cinta? Apa yang diperjuangkan? Aku harus apa, sementara gadis yang kucintai tidak mencintaiku," Aaron berkata setelah lama membisu.
Dari suaranya terdengar putus asa. Lunar memejamkan mata sekejap, tak tega melihat pria itu begitu menderita karena mencintainya.
"Sudah cukup, Alice! Selama ini aku selalu berbuat apapun untuk kebahagiaanmu bahkan sampai menyakiti orang lain. Sekarang tidak lagi," lanjut Aaron.
"Om Aaron, kenapa kau jadi lemah seperti ini? Hanya karena Lunar kau berubah dari macan buas menjadi seekor kucing!" Alice meledek.
Aaron mengusap sudut matanya yang membasah. Pria itu mencoba tersenyum pada awak media lalu berjalan mendekati Jackson.
Aaron mengatakan dengan getir, bahwa dia iri pada Jackson. Tapi, sampai kapan pun Aaron takkan bisa menyamai Jackson. Dengan pilu Aaron menceritakan saat masa kecil, kini semua orang tahu bahwa Jackson selalu membagi apa pun dengan Aaron.
"Kalian tahu, kenapa aku ingin menjadi dokter? Papaku satpam dari keluarga Erina. Aku tak ada ikatan darah dengan Alice dan keluarganya. Aku dipungut karena belas kasihan dan papaku meninggal dunia setelah menahan sakit gagal ginjal selama bertahun-tahun. Sebagai orang miskin, jangankan untuk cuci darah untuk makan pun sudah tahu diuntung. Untuk keseharian kami, papaku meminjam uang dari keluarga Alice tapi gak sampai tiga bulan dia sudah tidak bisa lagi bekerja. Aku yang menggantikan papaku menjadi satpam, sehingga kakek Alice mengadopsiku sebagai anak. Tapi itu tidak gratis! Aku harus membayarnya dengan menjadi seorang dokter," jelas Aaron tersenyum hambar.
Alice mengerucutkan bibir sebal karena tanpa dia duga Aaron malah adu nasib. Jackson menghela napas kemudian menepuk-nepuk bahu Aaron. Sebenarnya untuk mempertanyakan hubungannya dengan Lunar, pada saat itu sang ceo AHP mendatangi Aaron dan terbongkarlah kebusukan Alice.
Lunar tak kuat menahan tangis. Gadis itu melempar pandang ke arah lain ketika Aaron sengaja menatapnya.
"Sejak kita mengenal, apakah pernah aku merebut apa yang kau punya? Walau hanya sebuah pensil ketika sekolah, aku tak berani mengambilnya darimu walau butuh. Aku sudah terbiasa menerima belas kasihan dari orang lain, Jackson. Oh ya, aku ingin katakan sesuatu padamu Lunar," Aaron melangkah mendekati Lunar.
"Tu-tuan Aaron," Lunar berbicara lebih dulu.
Pria itu tersenyum seraya manggut-manggut. Lunar menatap semua orang, gadis itu mengatakan tidak ada hubungan apa pun dengan Aaron maupun Jackson.
Di konferensi pers Naomi, siapa sangka semua kebenaran terkuak. Alice tak betah mendapat pertanyaan menohok dari para wartawan.
Aaron mengatupkan kedua tangan pada semua orang untuk meminta maaf. Segera pria itu menarik Alice untuk pergi.
Sorakan pada Alice membuat wajah gadis itu merah padam. Ini pertama kalinya Alice dipermalukan. Sepanjang jalan Alice menepis tangan Aaron yang terus memaksanya untuk pergi.
"Kau beruntung tak dilaporkan pada polisi atas pencemaran nama baik!" Aaron melotot.
Gadis itu dipaksa masuk ke dalam mobil. Aaron mengatupkan kedua tangan pada wartawan yang mendekat. Saat pria itu hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba datang dua orang pria mendekat padanya.
"Tuan Aaron, ikut kami!" ujar salah satunya menunjukan police ID card.
......................
Bak senjata makan tuan, Alice yang tadinya mempermalukan Lunar berbalik ke arahnya. Gadis itu rela mengeluarkan uang untuk buzzer menyerang Lunar.
Akan tetapi, orang yang waras bisa melihat kebenaran. Lunar pun diacungi jempol karena tidak sebelas dua belas dengan Alice. Setidaknya, Lunar bisa bernapas lega karena fitnah pada dirinya tidak terbukti.
Satu hal yang membuat Lunar frustasi saat ini. Aaron, pria itu mengusik benak Lunar. Dokter muda itu ditahan polisi yang kesalahannya pun belum diberitakan.
Jackson pun tak tinggal diam. Pria itu berusaha menjamin Aaron apapun kasusnya, bahkan menyewa pengacara termahal.
Lunar manggut-manggut. Jackson menjelaskan harus sesuai prosedur apalagi tuduhan pada Aaron bukan kasus ecek-ecek.
Lunar paham, meski Jackson termasuk orang berpengaruh dia tak punya wewenang membebaskan Aaron begitu saja.
"Tapi, kenapa kau sangat memikirkan Aaron?" selidik Jackson tak suka.
Lunar mengernyit pada Jackson. Terserah saja jika Lunar mengkuatirkan Aaron saat ini.
"Apa aku tidak boleh risau padanya?" Lunar balik bertanya.
Jackson berdecak. Dia sendiri tidak tahu kenapa bisa sensi padahal hak Lunar ingin bersimpati pada siapa pun.
Pria itu tak ingin melakukan kontak mata dengan Lunar. Jackson takut ketahuan, bukankah mata itu jendela hati? Dengan cepat Jackson pergi dari makeup room meninggalkan Lunar sembari bersiul.
"Pria aneh! Kenapa aku menyukainya." Gumam Lunar.
Lunar menatap cermin besar. Gadis itu menilik-nilik penampilannya yang sudah cantik paripurna. Lunar mengenakan dress rose tali tanpa lengan berwarna pink. Panjangnya semata kaki dan rambut Lunar dibiarkan tergerai panjang.
"Tuan mengajak nona berkencan?" goda staf.
Lunar gelagapan. Pipinya bersemu merah tapi secepatnya Lunar menggeleng.
Gadis itu meninggalkan make up room. Staf saling berbisik membicarakan Jackson dan Lunar. Siapapun setuju mereka pasangan serasi.
Akan tetapi, Jackson maupun Lunar tetap membantah dengan mengatakan tak punya hubungan.
Berbeda dengan Lunar yang semakin bersinar. Alice malah kena mental dan tak lagi muncul di publik. Apalagi, setelah Lunar memenangkan ajang kecantikan dunia.
Selain cantik rupa, perangai Lunar pun sama cantiknya. Jawaban bijak Lunar mampu membuat semua orang terpana.
Gadis itu tengah hadir untuk wawancara eksklusif sebagai bintang spesial.
"Oke, oke. Tapi, apa Anda sosok yang open minded? Dan bagaimana pendapatmu dalam kebebasan berekspresi serta dogma yang mengikat Anda?"
Lunar nampak berpikir sesaat.
"Open minded? Saya terbuka dengan gagasan apapun, tapi untuk pribadi saya hidup butuh kontrol. Emm, btw saya lihat ketika di jalan raya tadi banyak pengendara berbagai ras, berbagai profesi dan saya mengendari BMW, di depan saya Toyota sementara di samping saya Hyundai. Tapi apapun itu semuanya patuh pada rambu lalu lintas. Hahaha! Saya menarik kesimpulan, kita memang punya kendali memegang setir tapi kita tidak bisa menyetir semaunya. Tapi ini bukan soal menyetir, tuan Samuel!" Lunar tertawa pelan.
Pembawa acara tak bisa berkata-kata, tawanya malah lebih kencang dari Lunar.
"Nona sudah kaya dan terkenal. Katanya, jika wanita banyak uang para wanita tak butuh laki-laki. Apa nona Lunar seperti itu?"
"Oh my God. Untuk kalian para perempuan yang mengatakan tidak membutuhkan laki-laki, sorry saya tidak ikutan dulu ya. Soalnya saya gak bisa benerin mobil mogok, emm saya amati mayoritas pekerja kasar kaum pria. Hahaha! Ini memang fakta tuan Samuel, wanita memang merubah peradaban tapi tanpa laki-laki bagaimana dengan infrastruktur di dunia ini? Opini saya, ketika wanita dan pria menjalani hidup sesuai perannya akan sangat menyenangkan." Jelas Lunar.
Sang pembawa acara termenung sesaat.
"Sebentar lagi Anda ulang tahun, apa keinginan Anda nona Lunar Kaelix?"