Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.
Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.
Sudah cukup!
Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
"STOP, RANI!" sahut Danish meninggikan suaranya. Dua langkah lebih dekat, kini tatapan Danish lebih kuat dari sebelumnya. Suaranya melemah seakan sudah lelah menjalani rumah tangga 2 tahun belakangan itu. "Sekarang katakan, apa maumu?"
Dengan mantab dan gamblang, Rani menjawab, "Aku ingin keluar dari rumah ini. Aku ingin bebas tanpa tuntutan apapun lagi. Dan... Dan aku tidak ingin makhluk kecil itu tahu, jika aku ini Ibunya! Aku masih ingin meraih mimpi-mimpi besarku, Danish!" tekanya.
Kedua mata Danish bahkan sampai berkaca-kaca. Wajahnya menegak, menatap lurus tanpa bantahan. "Oke! Silahkan kamu keluar! Tapi ingat satu pesanku, Rani... Jangan sampai kamu menyesal meninggalkan Keira! Dan... Tidak akan ada kesempatan ke-2 bagimu untuk masuk kembali!"
Rani mengusap kasar air matanya yang terjatuh. Setelah itu, ia segera mengemasi barang-barangnya, dan berlalu keluar begitu saja.
Tes!
Air mata itu akhirnya terjatuh ketika Danish menundukan wajahnya sekilas. Entah mengapa dadanya terasa sesak. Padahal, sebagai suami ia selalu memberikan kehidupan layak dan sebisa mungkin menerima Rani, meskipun pernikahan mereka hasil perjodohan.
Setelah itu, Danish juga bergegas keluar dari kamarnya. Ia berjalan menuju taman belakang dekat kolam.
Sebelum benar-benar melangkah kedepan, Danish tatap sejenak dekorasi yang membingkai dinner romantis buatanya. Danish sengaja membuat kejutan hari Anniversary pernikahannya ditaman belakang, sebab Keira masih kecil, jadi mereka masih bisa memantau Keira dari dekat.
Dibawah siluet lilin membentuk hati itu, Danish melihat keretakan yang tak berdasar. Disisi kolam, lampu kerlap kelip yang ia sangka akan mampu menghidupkan cinta Rani, namun nyatanya gemerlapnya kecil, tak mampu mencakup luasnya dunia luar sang Istri.
Langkah kaki jenjang itu membawa Danish melangkah lebih mantab, hingga....
Arghhhhh!!!!!
Srek!
Pyar!
Danish yang emosinya sudah meledak, langsung saja menarik alas meja dengan cepat, hingga beberapa suguhan hangat dan minuman semuanya hancur berserakan dibawah.
Tak hanya itu, Danish juga mendekat kearah lilin tadi, dan menendang semua lilin-lilin itu kearah kolam. Beberapa kelopak bunga mawar yang bertaburan membentuk ucapan Anniversary pun, tak luput dari tendangan kaki Danish.
"KAMU BENAR-BENAR TEGA, RANIIIIIII......!!!!" Teriak Danish hingga otot pada lehernya membiru.
Napas pria tampan itu naik turun, dan lagi-lagi matanya berair. Danish yang sudah lelah, menjatuhkan tubuhnya, berlutut diatas rerumputan.
Dan semenjak itu, Danish yang memiliki sifat hangat, kini berubah menjadi sosok dingin tak terbantah.
"Den... Nggak boleh ngalamun kaya gitu!" Bik Inem segera menepuk lengan putra Majikannya, lalu duduk menyerong berjarak 1 bangku.
Danish menunduk sekilas, tersenyum getir membayangkan betapa hancur rumah tangganya waktu itu.
"Saya hanya teringat sama Rani saja, Bik," kata Danish menatap lurus kedepan. Dan tidak dapat Danish pungkiri, bulan-bulan terakhir sebelum Rani memutuskan keluar rumah, Danish sudah begitu mencintai Istrinya.
Bik Inem hanya mampu bersimpati melalui tatapanya. Sebagai pelayan yang setiap harinya ikut merasakan kualahan dengan sikap menantu Majikannya itu, Bik Inem akui, Danish adalah sosok suami penyabar.
"Den, yang sabar ya! Bibi juga ikut prihatin dengan rumah tangga Aden. Ya... Semoga saja Non Rani sadar, dan secepatnya pulang," lirihnya sambil menepuk pundak Danish.
Danish mengangkat pandanganya, berkali-kali membuang napas berat. Namun, hati pria itu sudah teramat sakit hanya untuk meng'iyakan' doa sang pelayan.
"Saya sudah tidak dapat lagi menerimanya, Bi! Dia bahkan tidak menganggap Keira sebagai putrinya. Saya ingin melupakan wanita itu. Saya ingin hidup bahagia dengan Keira, Bi."
Bik Inem sudah tak mampu lagi menjawab. Namun ia semakin teratur mengusapkan tanganya pada punggung sang Majikan, seolah melalui usapan itu, dirinya bersikap simpati.
Sementara di dalam, Hana menyudahi aktivitasnya, kala melihat Baby Keira sudah melepaskan sumber makananya itu. Bayi 2 bulan itu terpejam kembali, hingga dengkuran halus terdengar menyamai.
Wajah Keira begitu damai, meskipun kehadirannya tak begitu di harapkan oleh Ibunya.
Hana sontak bangkit. Menidurkan kembali Keira diatas ranjang dengan hati-hati. Sementara Bu Ana, wanita itu tengah memasangkan kembali infus sang cucu.
Ceklek!
Pintu terbuka membuat kedua wanita beda generasi itu menoleh. Seorang wanita setengah baya, memakai jas Dokter, di ikuti satu suster di belakangnya, kini masuk dengan senyum mengembang.
"Sudah tidur, si Inces?" tanya Dokter Ama.
Hana agak menyingkir, sementara Bu Ana menjawab, "Sepertinya kekenyangan yang nenen, Dok," katanya sambil mengusap kepala Keira yang berkeringat.
Dokter tadi menatap Hana sekilas. Dahinya berkerut tipis, seolah mengingat wanita yang ia temui waktu lalu. Namun tak lama itu, Dokter Ama mulai memasang stetoskopnya.
"Sebentar ya, Bu... Saya periksa dulu. Mumpung lagi bobok. Kalau nggak ya, nggak jadi di periksa," kekeh kecilnya.
Bu Ana memberi ruang. Menggeser tubuhnya kearah Hana, menatap Dokter Ama sedang menjalankan pekerjaanya.
Stetoskop sudah di turunkan. Suster tadi juga sudah mengecek infus Keira.
"Bagaimana, Dok?" Bu Ana menatap antusias.
Dokter Ama kembali kembali tersenyum lembut. Tangan kirinya mengusap pipi kemerahan Keira. "Kondisinya semakin membaik. Cairannya juga sudah stabil. Sepertinya, si Inces cocok sama Asi barunya," goda Dokter Ama, menatap Hana.
Hana hanya mampu tersenyum lega.
"Syukurlah, Dok! Ini berkat Hana. Dia sekarang saya kontrak menjadi Ibu susu untuk Keira," sahut Bu Ana menegaskan.
Dokter Ama hanya mengangguk paham. "Saya turut bahagia mendengarnya, Bu! Ya sudah, saya permisi dulu. Mari, Hana...."
Hana tertunduk sopan, "Mari, Dokter...."
Selepas kepergian Dokter tadi, kini Danish masuk bersama Bik Inem. Pria itu berjalan mendekat kearah ranjang sang putri, lalu mendaratkan kecupan hangat di sudut dahi Keira.
Cup!
"Bobok yang nyenyak, sayang! Papah pasti akan lakukan yang terbaik untuk tumbuh kembangmu," bisik Danish.
Setelah menegakan badanya, ia menatap Hana sekilas, lalu berganti kearah Ibunya. "Mamahc bilang apa, Dan... Putrimu menyukai Asi barunya," kekeh Bu Ana.
Danish yang merasa malu, sontak saja membuang muka kesamping. "Mah, malu di denger Hana," bisiknya.
Bu Ana h anya mengangkat acuh pundaknya. Lalu dirinya beralih mendekat kearah ranjang sebelah kanan. Ia tepuk pundak Hana, "Hana... Kamu pasti belum makan siang 'kan?"
"Nggak papa, Bu... Nanti biar saya cari ke bawah. Saya masih ingin menemani Keira," jawab Hana tersenyum.
Bu Ana menatap Putranya, matanya memberi kode, agar Danish segera mengajak Hana untuk keluar makan siang.
"Dan... Cepetan... Mumpung Keira tidur!" perintahnya.
Danish lagi-lagi menghembuskan napas dalam. Meskipun masih terlihat kaku, namun ia cukup menghargai keberadaan Hana sebagai Ibu susu putrinya.
"Hana... Kita cari makan sekarang! Saya tunggu di depan!" ucap kaku Danish. Tanpa menunggu jawaban Hana, pria itu lebih dulu melangkah keluar.
Hana kembali menatap Bu Ana. Sorot matanya seolah menolak, namun Majikannya itu kembali menepuk lenganya. "Nggak papa, Hana... Ikut saja. Nanti kalau Keira kebangun, Ibu telfon Danish."
Perut Hana yang sudah terlanjut lapar, mau tidak mau akhirnya ia berpamitan untuk menemui Majikannya di luar.
Pintu terbuka dari dalam.