Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.
Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.
Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 - Penguntit
Gerard melangkah keluar dari bank dengan senyuman tipis yang tak bisa ia sembunyikan. Di tangannya, sebuah map hijau tergenggam erat—terlalu erat, sampai buku-buku jarinya memutih. Bukan karena berat dokumennya, tapi karena isinya.
Sertifikat rumah.
Rumah yang dulu disita. Rumah tempat ia dibesarkan, tempat ia tertawa bersama ayah dan ibunya, tempat ia menangis saat mereka pergi satu per satu. Mungkin secara hukum rumah itu tak langsung diwariskan padanya—ada urusan administratif yang rumit, ada nama lain yang sempat tercantum.
Tapi Gerard tak peduli. Ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menebusnya. Bahkan setelah ia punya rumah baru yang lebih layak, rumah lama ini tetap punya tempat khusus di hatinya.
Maaf, Ma, Yah. Aku sudah menyia-nyiakan perjuangan kalian. Batinnya, dadanya menghangat. Sekarang, aku sudah menebusnya kembali—untuk kita.
Ia tahu itu hanya imajinasi. Orang tuanya tak akan pernah bisa melihat rumah itu lagi. Tapi setidaknya, ada satu bagian dari mereka yang masih bisa ia pertahankan.
Dengan langkah mantap, Gerard melintasi lobi bank dan menuju parkiran bawah tanah. Langkahnya bergema di ruangan yang sunyi, hanya diiringi suara mobil-mobil yang terparkir rapi. Ia membuka pintu Camry silver-nya, masuk ke kursi pengemudi, dan meletakkan map hijau itu dengan hati-hati di kursi penumpang.
Sabuk pengaman terpasang. Mesin menyala dengan dengung halus.
Tapi ia tak langsung pergi.
Tangannya masih di setir, matanya menatap map itu. Proses penebusan rumah tadi memang panjang—tanda tangan di sana-sini, konfirmasi data, pelunasan yang bikin jantung berdebar meski nominalnya tak sampai sepuluh persen dari total uangnya. Tegang. Menyesakkan. Tapi untungnya, ada Sistem yang bisa diajak mengobrol di sela-sela ketegangan itu.
"Aku harus ngecek kondisinya," gumamnya pelan, lebih ke diri sendiri. "Udah lama juga nggak liat. Apa perlu renovasi, ya?"
Mobil mulai melaju, meninggalkan parkiran bawah tanah yang redup. Menyusuri jalanan Jakarta yang sangat padat, beberapa kali ia terjebak macet, kemudian mencari berbagai jalan tikus untuk terbebas dari semua kejengkelan itu.
Namun, itu tetap sama saja.
"Aduh..." Gerard mendesah berat, tangannya sedikit menepuk setir dengan gejolak yang hampir meledak di dalam dirinya. Hanya ingin pulang, tapi susahnya minta ampun.
Saat itu pula, ia melihat sebuah mobil berbelok ke sebuah gang yang cukup besar—muat untuk satu mobil dan dua motor secara bersamaan. Mata Gerard berbinar. Tanpa basa-basi, ia langsung membelokkan setir. Rasa tak sabar untuk mengunjungi kembali rumah lamanya jauh lebih menggebu daripada harus sibuk berkutat dengan kemacetan.
...*•*•*...
Setelah setengah perjalanan, Sistem muncul.
[Hati-hati, Tuan.]
Sederhana. Tapi langsung membuat kewaspadaan Gerard memuncak seketika.
Matanya menangkap dua mobil sedan—satu di depan, satu di belakang—yang bergerak lambat, menghimpitnya dari kedua sisi. Di gang sempit ini, tak ada ruang untuk mendahului atau berputar balik. Mereka bergerak seirama, seperti predator yang menggiring mangsa.
Kekesalan atas kebodohannya sendiri ia salurkan ke setir dengan tepukan kecil. Hingga akhirnya, Gerard menghela napas berat.
"Tentu. Aku sangat bodoh." ucapnya, jelas hanya untuk dirinya sendiri.
Ia melupakan bagaimana sebelumnya Sistem pernah memperingatkan seseorang yang mungkin membuntuti dirinya—hanya seorang pria biasa dengan motor butut. Tampak normal. Tak mencurigakan. Jadi ia mengabaikan.
Tapi ia lupa. Sebuah komplotan tak akan bersikap mencolok. Mereka mengirim pemantau yang tak menarik perhatian, lalu menjebak mangsanya di tempat yang tak bisa melarikan diri.
Dan sekarang, ia sudah terjebak.
Gerard pasrah mengikuti kemana mobil-mobil itu menggiringnya—masuk lebih dalam ke gang yang tak ia kenal, menjauh dari keramaian, menuju tempat yang tak diketahui. Bahkan saat mereka sudah keluar dari gang dan memasuki jalan lain yang lebih luas, Gerard tetap tak mencoba kabur. Semuanya akan berakhir berisiko jika ia nekat.
Jalanan baru ini lebih sepi. Sepi sekali. Aspalnya mulus, tapi tak ada kendaraan lain selain mereka bertiga. Di kiri kanan, gudang-gudang tua berdiri dengan cat mengelupas—kawasan industri yang mati. Jika ia tak dalam situasi seperti ini, mungkin Gerard akan senang menemukan jalur alternatif yang lengang. Sayangnya, itu tak akan terjadi.
Mereka siapa?
Pikirannya berputar mencari berbagai spekulasi. Beberapa masuk akal. Tapi ia tetap menahan pikiran itu sampai akhirnya mereka berhenti, dan Gerard juga melakukan hal serupa. Sesaat, semuanya terlihat aman.
Begitulah, dari kedua mobil itu keluar beberapa pria dengan jaket hitam. Beberapa memegang senjata tumpul—pipa besi, kayu baseball, satu bahkan membawa linggis. Pemandangan itu mengingatkannya pada momen sebelum ia koma dulu, saat harus bertarung demi menyelamatkan Melinda. Semakin memperkuat dugaannya.
[Tuan butuh bantuan?]
Sebelum turun, Gerard kembali mendengar suara Sistem. Ia terdiam sejenak, seolah mempertimbangkan. Matanya memperhatikan ke luar—mereka sudah menunggu, dengan niat yang begitu jelas terpancar dari postur dan senjata di tangan.
"Tak perlu." balas Gerard pelan, kepercayaan diri tiba-tiba muncul entah dari mana. "Aku sudah dapat bantuan yang lebih dari cukup darimu. Sekarang giliranku memanfaatkan apa yang sudah kamu berikan."
[...]
[Baiklah.]
Gerard membuka pintu.
Sosoknya yang tinggi dan tegap keluar dengan tenang. Gerakannya santai, tanpa tergesa—seolah ia hanya turun untuk mengisi bensin, bukan menghadapi enam pria bersenjata yang mengelilinginya. Tatapannya menyapu satu per satu, menghitung, menganalisis.
Enam orang. Lebih banyak dari yang ia hadapi dulu. Dan mereka terlihat lebih terlatih—bukan preman biasa.
Tapi anehnya... Gerard sama sekali tak takut.
"Maaf, apa yang kalian butuhkan, ya?" Ia membuka percakapan dengan nada sopan, lembut. Tapi di balik senyum tipisnya, tangannya sudah mengepal siap.
Di depan sana, pria tertinggi di antara mereka—bahkan lebih tinggi dari Gerard—tersenyum meremehkan. Tangannya terlipat di dada, kacamata hitam melindungi matanya dari silau matahari. Kepala botaknya mengilap.
"Hah." Ia mendengus. "Masih bisa bersikap bodoh? Apa kami keliatan kayak rentenir di matamu?"
Beberapa anak buahnya tertawa, menganggap itu lucu. Tawa mereka bergema di kawasan industri yang sepi.
Namun Gerard hanya mengangkat bahu. "Tidak. Awalnya aku pikir kalian badut."