Adven Mahardhika Alkhatiri, seorang lelaki yang penuh rahasia dalam hidupnya. Bahkan keberadaan anaknya juga menjadi rahasia dan teka teki tersendiri untuk keluarga Alkhatiri yang begitu terpandang.
Rahasia besar apakah yang selama ini dia simpan? dan mampukah dia mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya terhadap seorang perempuan bernama Sukma Paramitha?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 ( Berbohong )
Kedatangan Monica pagi itu di sambut seperti biasanya oleh Adven, hanya saja sekarang dia lebih waspada, dia tidak mau semua rencana yang dia buat akan hancur nantinya.
"Kenapa Axel sekarang bersekolah dengan Tante Jocelyn dan Tsania?" tanya Monica terlihat tidak senang.
"Mau bagaimana lagi, kamu tahu kan mommy bagaimana, kalau dia sudah memutuskan, aku tidak bisa menolaknya" jawab Adven
"Lalu dia.. Adven, aku takut dia nanti mempengaruhi kamu dan kehidupan kamu" ucap Monica akan memegang tangan Adven tapi Adven menghindar.
"Aku sudah pernah di khianati sekali Monica dan aku tidak akan goyah lagi, lagipula dia bukan Paramitha, dia Sukma" jawab Adven tepat tenang.
"Kamu yakin? tidak akan tergoda oleh dia? aku yakin dia datang ke sini dan mendekati Axel karena dia ingin menggoda mu" ucap Monica
"Bagaimana dia akan menggodaku, kalau aku saja tidak terlalu suka di sentuh orang lain, bahkan kamu yang jadi tunanganku saja harus membawa cairan anti kuman kemana mana" ucap Adven
"Iya, kamu aneh sejak dulu, bahkan orang orang mengatai kamu kotak P3K karena kemana mana selalu bawa semprotan Anti kuman dan memintaku membersihkan tanganku kalau aku ingin memegang mu, hanya aku temanmu dulu" ungkap Monica
"Iya, dan aku harap kamu akan tetap seperti itu, jangan kecewakan aku Monica" ucap Adven dengan tatapan kosong.
"Aku tidak akan berubah Adven, aku akan tetap jadi pelindung untuk kamu, kamu adalah milikku yang harus aku jaga dan lindungi" jawab Monica tersenyum manis.
Adven juga tersenyum, tapi senyumnya sama sekali tidak tulus, hanya senyuman paksa supaya Monica tidak menaruh curiga padanya.
"Adven, mommy berangkat dulu ya, kamu juga segera kerja jangan pacaran terus, itu sekertaris kamu sepertinya sudah siap karena Axel tadi dia yang mandikan" ucap Jocelyn terlihat ketus
Jocelyn memang tidak pernah menyukai Monica, bukan karena dia tidak merestui hubungan keduanya dulu, itu karena Jocelyn pernah melihat Monica menendang seorang pengemis di jalan sampai keningnya berdarah dan sejak saat itu respect nya pada Monica jadi hilang.
"Iya mom"
"Daddy, Axel berangkat sekolah dulu ya, Axel titip kakak cantik, jangan marahi dia terus kasihan kakinya belum sembuh, tadi kakak cantik hampir jatuh saat gendong Axel" ucap Axel
"Dia jatuh di mana?" tanya Adven khawatir tapi sebisa mungkin mendatarkan wajahnya.
"Tidak sampai jatuh, tapi kan sekertaris kamu itu pendek, dia tersandung karpet bulu di kamar Axel, sandal yang dia pakai kebesaran jadi jalannya sedikit kesulitan" jawab Jocelyn
"Iya Daddy, kakak cantik pakai sandal Oma saja masih kebesaran, kaki Oma raksasa" celetuk Axel.
"Eh.. kaki Oma ini cantik dan lentik, Opa kamu saja suka" protes Jocelyn
"Opa makan kaki Oma?" tanya Axel dan Adven terkekeh
"Astagaa... ayo berangkat" gemas Jocelyn meminta Axel mencium tangan Adven tapi tidak dengan Monica.
"Lihat tuh Axel, padahal dulu dia senang sekali sekolah denganku" Keluh Monica
"Yang sabar, kamu ada kegiatan apa hari ini?" tanya Adven
"Aku harus ke butik, setelah itu mau ke rumah sakit memeriksa beberapa dokumen" jawab Monica
"Maaf ya aku tidak bisa lama lama menemani kamu" ungkap Adven saat melihat Sukma sudah turun dengan tas kerja Adven dan beberapa berkas di tangannya.
"Iya tidak apa apa, aku boleh sarapan di sini kan?" tanya Monica menatap sinis Sukma.
"Tentu saja, tadi bi Ijah buat sandwich, ada nasi goreng juga" jawab Adven tersenyum lalu pamit setelah meminta Sukma Pergi lebih dulu ke depan.
Setelah kepergian Adven dan Sukma, Monica tidak langsung sarapan, dia ke ruang keamanan untuk bertemu dengan anak buahnya yang sudah tiga tahun bekerja di sana.
"Apa ada sesuatu yang mencurigakan dengan perempuan itu atau sikap Adven padanya?" tanya Monica
"Tidak ada nyonya, pak Adven selalu ketus dan perempuan itu juga hanya dekat dengan Axel saja" jawab penjaga
"Bagus, awasi Adven saat di rumah, jangan sampai dia bisa dekat dengan Paramitha, seharusnya aku tidak mendengarkan kedua orang tua payah itu saat aku ingin melenyapkan dia lima tahun lalu, tapi mereka bilang Paramitha tidak akan menemui Adven lagi!"
"Empat tahun berlalu, kedua orang tua itu mulai sombong dengan posisi mereka dan mengancam akan membongkar kejahatan ku pada Adven, tapi mereka lupa dengan siapa mereka berurusan, hingga akhirnya mereka berakhir mati mengenaskan setelah aku tabrak" sinis Monica menyeringai.
"Apa perlu saya menghabisi perempuan itu sekarang nyonya?" tanya penjaga
"Tidak perlu, dia itu amnesia permanen, dia tidak akan ingat apapun di masa lalunya, bahkan aku tidak yakin dia akan ingat anak yang dia kandung juga" jawab Monica.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kenapa pakai rok?" tanya Adven
"Pakaian saya yang di lemari rok semua pak" jawab Sukma
"Jangan pakai yang di belikan mommy saya, pakai yang ada di lemari pakaian saya, dengan begitu kamu akan aman, kalau seperti ini, kamu mirip anak SMP yang ikut Daddy nya ke kantor, orang tidak akan percaya kalau kamu itu sekertaris saya!" ucap Adven menghela nafasnya karena Jocelyn hanya menyediakan pakaian untuk remaja di lemari Sukma.
"Tapi pak, saya tidak mungkin masuk ke kamar bapak, kenapa tidak di simpan di kamar saya saja?" tanya Sukma heran
"Itu pakaian istri saya, kamu bisa memakainya tapi hanya di kamar saya kamu bisa mengambilnya" jawab Adven
"Tapi ini juga bagus pak, sopan juga ko"
"Kamu baru tinggal di rumah saya tiga hari tapi sudah berani menjawab semua omongan saya, kalau saya bilang tidak boleh ya tidak boleh, kamu pakai pakaian dari mommy saya itu di rumah saja, kalau ke kantor, pakai pakaian di lemari saya, dan harus sama warnanya dengan yang saya pakai, mengerti?" tanya Adven dan Sukma mengangguk polos dengan tatapan takut.
Adven memalingkan wajahnya, dia sudah mulai tidak bisa menahan diri setelah dia yakin Sukma adalah Paramitha, di tambah mereka bertemu setiap hari sekarang dan pastinya kerinduan yang selama ini dia tahan sudah semakin besar. hasratnya juga sudah mulai muncul setiap kali melihat Sukma menatapnya dengan wajah polosnya dan juga tubuh pendeknya yang dulu di kira Adven akan meninggi, ternyata sama saja, tidak ada perubahan.
"Pak, sudah sampai di kantor" panggil Sukma karena Adven melamun.
"Ayo turun" jawab Adven merasa lega karena sekarang dia bisa sedikit menghindar dari Sukma.
"Selamat pagi pak"
Sapa para karyawan yang hanya di balas anggukan saja oleh Adven, Sukma bejalan perlahan di belakangnya karena kakinya masih terasa sedikit ngilu jika di gunakan untuk berjalan cepat. senyumnya sempat terbit saat dia melihat Diana dan juga Afandi tersenyum pada Sukma sambil melambaikan tangan mereka.
"Stop tebar pesona, meskipun bagi Axel kamu cantik tapi tidak bagi saya" kesal Adven karena melihat Sukma tersenyum pada Afandi.
"Saya menyapa teman saya pak"
"Teman kuliah?"
"Bukan, teman pas saya wawancara di perusahaan ini, kan dulu saya melamar jadi office girl" jawab Sukma membuat Adven langsung menarik Sukma ke dalam pelukannya saat lift sudah tertutup.
"Pak.. apa liftnya rusak?" tanya Sukma mulai panik dan memeluk Adven
"Iya, kamu tetap begini supaya kita tidak jatuh" jawab Adven
"Pak tekan tombol darurat pak"
"Tidak perlu, nanti malah kabelnya putus dan kita jatuh" jawab Adven menahan tawanya karena Sukma benar benar ketakutan, itu bisa Adven rasakan dari tubuhnya yang gemetar.
"Pak, handphone bapak sepertinya gerak gerak"
"Handphone apa?"
"Ini yang nempel di perut saya pak, ada yang keras dan gerak gerak, itu pasti handphone bapak ada yang telepon"
"Shit!"