"Kau pikir kau mencuri masa depanku malam itu, Nick? Tidak. Kau hanya memberi saya alasan untuk menikmati Rasa sakit di masa depan." — Nedine.
Di balik gemerlap statusnya sebagai putri dari seorang ibu tunggal yang sukses, Nadine Saville menyimpan rahasia yang menghancurkan dirinya secara perlahan. Sejak bangku SMA hingga memasuki dunia kampus yang liar di Amerika, ia terikat dalam hubungan gelap dengan Nickholes Teldford.
Bagi dunia, mereka adalah orang asing. Namun di balik pintu tertutup, Nadine adalah pelampiasan nafsu Nickholes yang tak pernah puas. Terjebak dalam kenaifan dan cinta yang buta, Nadine rela dijadikan alat pemuas demi mempertahankan pria yang ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Suasana kamar itu begitu hening, hanya terdengar suara napas Nadine yang pendek dan berat karena beban kehamilannya. Nick tidak memedulikan pengusiran itu.
Dengan telaten, ia melepaskan sepatu Nadine dan mulai memijat kaki gadis itu yang membengkak dengan gerakan yang sangat lembut, seolah-olah kulit Nadine terbuat dari kaca yang mudah pecah.
Tangannya yang dulu sering memegang bola football dengan kasar, kini bergerak penuh perasaan menyusuri betis hingga ke pinggang Nadine, mencoba meredakan ketegangan otot yang membuat kekasihnya itu menderita seharian.
"Aku tahu, Nadine. Aku tahu ini anakmu," bisik Nick serak. Ia menunduk, tidak berani menatap langsung mata Nadine yang dingin. "Kau yang membawanya, kau yang merasakan sakitnya, dan kau yang berjuang sendirian selama ini. Aku tidak punya hak apa pun."
Nick menarik napas panjang, menahan isak tangis yang mulai mendesak di tenggorokannya. Ia berpindah posisi, mendekati kepala tempat tidur, lalu mengecup pucuk kepala Nadine dengan sangat lama. Ciuman yang penuh dengan penyesalan, kerinduan, dan doa yang tak terucap.
"Maafkan aku... Maafkan aku, Sayang," gumamnya berkali-kali di antara helai rambut Nadine.
Nadine hanya mematung. Meskipun sentuhan tangan Nick memberikan kenyamanan fisik yang luar biasa pada tubuhnya yang kelelahan, hatinya tetap terasa membeku. Memori tentang Nick yang mencium Clarissa di depan ribuan orang tetap menjadi luka yang lebih perih daripada sakit di pinggangnya.
"Untuk apa kamu kemari, Nick?" tanya Nadine dengan suara yang sangat datar dan tak bernyawa. "Ini bukan anakmu. Aku sudah mengatakannya berulang kali. Ini anakku. Jadi, silakan pergi dari sini."
Nadine memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap pegunungan Alpen yang tertutup salju. "Jangan membuatku semakin stres dengan kehadiranmu. Aku butuh ketenangan untuk bayi ini, dan ketenangan itu tidak ada saat kau berada di dekatku."
Nick berhenti memijat sejenak. Ia menatap perut Nadine yang sesekali bergerak, bayi mereka sedang menendang. Melihat gerakan itu, air mata Nick jatuh mengenai sprei tempat tidur. Ia meraih tangan Nadine yang bebas dan menempelkannya ke pipinya sendiri yang basah.
"Aku tidak meminta dimaafkan hari ini, atau besok, atau bahkan selamanya," ucap Nick dengan nada yang sangat rendah namun penuh janji. "Kau bisa menganggap ku tidak ada. Kau bisa menganggap ku hanya pelayan yang memijat kakimu atau orang asing yang membawakan mu air minum. Tapi aku tidak akan pergi lagi, Nadine."
Nick menatap Nadine dengan tatapan yang sudah kehilangan semua egonya. "Kau boleh membenci ku, tapi biarkan aku berada di sini untuk memastikan kau tidak pingsan lagi di taman. Biarkan aku menanggung lelah mu, meskipun aku tidak bisa menanggung sakit mu."
Nadine tetap diam, namun ia tidak menarik tangannya yang sedang dipegang Nick. Di balik wajahnya yang cuek, ada sedikit bagian dari dirinya yang merasa aman karena Nick berada di sana. Namun, ketakutan akan disakiti lagi masih jauh lebih besar daripada rasa amannya.
Nickholes memutuskan untuk tetap berada di samping tempat tidur Nadine, duduk di lantai sambil menyandarkan kepalanya di pinggiran kasur, berjaga sepanjang malam jika Nadine membutuhkan sesuatu.
Malam di Swiss kian merayap, membawa suhu udara yang semakin menusuk tulang. Namun, di dalam kamar itu, suasana terasa begitu kontras. Cahaya lampu tidur yang temaram berwarna kuning keemasan menyelimuti sosok Nickholes Teldford yang kini tampak sangat jauh dari citra Raja Kampus New York yang angkuh.
Nick duduk di lantai yang dingin, menyandarkan punggungnya pada tepian ranjang Nadine. Tangannya yang besar dan hangat masih menempel di atas perut Nadine yang membuncit, mengelus dengan gerakan melingkar yang sangat konsisten dan lembut. Ia telah melakukannya selama berjam-jam, seolah-olah lewat sentuhan itu, ia sedang mengirimkan seluruh energi hidupnya untuk menjaga kenyamanan dua orang paling berharga dalam hidupnya.
Lama-kelamaan, ritme napas Nick mulai melambat. Kepalanya yang letih tertunduk, dagunya bersandar di dada, dan ia tertidur dalam posisi duduk yang sangat tidak nyaman. Meski begitu, tangannya tidak berpindah dari perut Nadine, seolah ada ikatan batin yang membuatnya tak ingin melepaskan kontak sedetik pun.
Nadine, yang sebenarnya hanya memejamkan mata tanpa benar-benar terlelap, perlahan menoleh. Ia menatap puncak kepala Nick yang berada tepat di samping lengannya. Ada rasa sakit yang berdenyut di dadanya melihat pria itu tidur dalam posisi menyedihkan seperti itu. Nickholes yang biasanya tidur di atas sprei sutra ribuan dolar, kini rela meringkuk di lantai kayu demi dirinya.
Di dalam perutnya, sang bayi memberikan tendangan kecil tepat di tempat tangan Nick menempel. Nadine tersenyum getir. Ia tahu, sang anak bisa merasakan kehadiran ayahnya. Ada kehangatan yang menjalar dari telapak tangan Nick, merambat masuk ke dalam rahimnya, memberikan rasa aman yang selama berbulan-bulan ini hilang dari hidupnya.
“Kau mengenali suaranya, ya, Sayang?” bisik Nadine dalam hati. “Tapi Ayahmu ini adalah pria yang sangat jahat. Jangan mudah luluh sepertiku.”
Sekitar pukul tiga pagi, Nadine merasa kandung kemihnya sudah tidak bisa diajak kompromi, masalah klasik wanita hamil tua. Ia mencoba bergeser, berniat turun dari ranjang dengan perlahan agar tidak membangunkan Nick. Namun, baru saja Nadine menggerakkan kakinya, Nick langsung tersentak bangun.
Insting pelindungnya bekerja lebih cepat dari kesadarannya.
"Nadine? Ada apa? Apa yang sakit sayang?" Nick langsung terjaga, matanya yang merah dan sedikit bengkak menatap Nadine dengan panik yang murni. Ia segera berdiri, meski kakinya sempat kram karena posisi tidur yang salah.
"Aku hanya ingin ke kamar mandi, Nick. Jangan berlebihan," sahut Nadine dingin, mencoba menahan gengsi.
"Jangan berdiri sendiri," potong Nick cepat. Ia tidak memedulikan penolakan Nadine.
Dengan gerakan yang sangat terlatih, ia menyelipkan satu tangannya di bawah punggung Nadine dan satu lagi di bawah lututnya, membantu gadis itu duduk tegak sebelum akhirnya menopang seluruh beban tubuh Nadine.
Nadine terpaksa memegang bahu Nick untuk menjaga keseimbangan. Jarak mereka begitu dekat hingga Nadine bisa mencium aroma sisa parfum maskulin yang bercampur dengan kelelahan Nick. Ia benci betapa jantungnya masih berdegup kencang hanya karena kedekatan ini.
Sambil memegangi pinggang Nadine dengan protektif, Nick perlahan menuntunnya berjalan menuju kamar mandi. Langkah mereka sangat kecil dan hati-hati.
Saat itulah, Nick menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya ke arah perut Nadine, dan mulai berbicara dengan nada yang sangat berbeda, nada yang hanya ia gunakan untuk bayi mereka.
"Hei, jagoan kecil di dalam sana... ini Ayah," bisik Nick dengan suara serak yang sengaja dibuat lucu. "Dengar ya, kau jangan terlalu menekan kandung kemih Ibumu. Kasihan dia, setiap jam harus bolak-balik ke kamar mandi gara-gara kau sedang main sepak bola di dalam sana."
Nadine tertegun, langkahnya terhenti. Ia tidak menyangka Nick akan berbicara seperti itu.
Nick terus mengoceh sambil menatap perut itu dengan binar mata yang sangat tulus. "Nanti kalau kau sudah keluar, Ayah janji akan belikan kau gawang yang besar, tapi sekarang tolong ya, kasih Ibu istirahat sebentar. Jangan bikin Ibu jadi seperti penguin yang susah jalan begini. Aduh!"
Nick meringis saat merasakan tendangan balasan yang cukup keras dari dalam. Ia tertawa kecil, sebuah tawa yang sudah lama tidak Nadine dengar.
"Wah, kau melawan, ya? Kau membela Ibu? Oke, oke, Ayah kalah. Kau memang anak Ibu, tapi setidaknya bagilah sedikit ketampanan Ayah padamu, jangan ambil sifat galak Ibumu saja," canda Nick lagi.
Nadine mencoba menahan tawa, namun sebuah senyuman tipis tak sengaja lolos dari bibirnya. Ia segera membuang muka, kembali memasang wajah datar. "Sudah selesai pidatonya? Aku sudah tidak tahan."
"Ah, maaf, bos kecil dan ratu besar," Nick menyengir, kembali menuntun Nadine. "Tapi serius, Nadine. Kalau kau nanti keluar dari kamar mandi, biarkan aku menggendong mu kembali ke tempat tidur. Kakimu sudah merah sekali karena bengkak. Kau tidak mau kan anak kita lahir dengan hobi memprotes karena Ibunya terlalu keras kepala?"
Setelah keluar dari kamar mandi, Nick benar-benar tidak memberikan pilihan. Ia menggendong Nadine kembali ke atas ranjang dengan sangat lembut. Saat Nadine sudah berbaring, Nick kembali berlutut di samping kasur. Ia mengambil minyak esensial yang ada di nakas dan kembali memijat punggung Nadine yang pegal.
"Nick, pergilah tidur di sofa atau di kamar tamu. Berhenti bertingkah seperti ini," ucap Nadine, meski suaranya tidak setegas tadi.
Nick menggeleng, tangannya terus bergerak lincah meredakan rasa sakit di punggung Nadine. "Sofa itu terlalu mewah untuk pria yang sudah menyia-nyiakan bidadari sepertimu, Nadine. Di lantai ini, aku bisa mencium aromamu dan mendengar napas mu. Itu sudah lebih dari cukup bagiku."
Ia berhenti sejenak, lalu mencium tangan Nadine yang tergeletak di sprei. "Aku tahu aku brengsek. Aku tahu satu malam di lantai tidak akan menghapus satu bulan air matamu. Tapi beri aku kesempatan untuk menjadi pelayanmu sampai anak ini lahir. Setelah itu, jika kau masih ingin aku pergi... aku akan pergi, meski hatiku harus tertinggal di sini selamanya."
Nadine terdiam. Ia merasakan ketulusan yang luar biasa dari getaran suara Nick. Suasana kamar yang sunyi, aroma lavender dari minyak pijat, dan kehadiran Nick yang begitu mengayomi membuat dinding pertahanan Nadine perlahan mulai retak.
Ia tidak menjawab, namun ia membiarkan Nick terus memijatnya hingga ia tertidur kembali. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di Swiss, Nadine tidur tanpa mimpi buruk. Ia tidur dengan perasaan aman, tahu bahwa di sampingnya, ada seorang pria yang rela menghancurkan seluruh egonya hanya untuk memastikan ia bisa bernapas dengan lega.
Dan di kegelapan malam, Nick terus terjaga, menatap wajah tidur Nadine dengan air mata yang mengalir dalam diam, sebuah janji bisu bahwa ia tidak akan pernah lagi membiarkan wanita ini berjalan sendirian, apa pun taruhannya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰