NovelToon NovelToon
Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / CEO / Sistem / Mafia / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Kenzo Banyu Samudera adalah anak tiri dari keluarga konglomerat, hidup sebagai pecundang yang dihina, disiksa, dan dibuang. Lemah, cupu, dan tak pernah melawan—hingga suatu malam ia nyaris mati bersimbah darah. Namun kematian itu justru menjadi awal kebangkitan.
Kesadaran Bayu Samudra, petarung jalanan miskin yang tewas dalam pertarungan brutal, terbangun di tubuh Kenzo. Bersamaan dengan itu, sebuah Sistem Pemburu aktif di kepalanya. Kebangkitan ini bukan hadiah. Keluarga Kenzo memfitnah, menghapus identitasnya, dan mengusirnya dari rumah.
Dari jalanan kumuh, Bayu merangkak naik. Tinju jalanannya berpadu dengan kecerdasan Kenzo dan kekuatan sistem. Perlahan ia membangun kerajaan bayangan bisnis legal di permukaan, mafia di balik layar. Namun sisa memori Kenzo menghadirkan luka, kesepian, dan konflik batin.
Di antara dendam, cinta, dan kegelapan, Bayu harus memilih: menjadi monster penguasa, atau manusia yang masih mengingat rasa kalah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: TIDUR DI KOLONG JEMBATAN

#

Hujan nggak berhenti sampai malam. Bayu berjalan tanpa arah. Jalanan sepi. Hanya sesekali mobil lewat, menyiramkan air dari genangan ke tubuhnya yang udah basah kuyup.

Dingin.

Gigi-giginya berdenting. Tubuhnya gemetar nggak berhenti. Tangan-tangannya mati rasa.

Lima ratus ribu di saku rasanya berat. Tapi dia nggak bisa pakai itu buat nginep di hotel. Terlalu boros. Uang itu harus bertahan sampai dia dapet penghasilan.

Atau sampai dia mati.

Bayu melewati deretan toko yang udah tutup. Gerai kaki lima yang udah dibersihin. Nggak ada tempat berteduh.

Kakinya terus melangkah. Entah udah berapa kilometer. Rasanya mau copot.

Lalu dia melihatnya.

Jembatan.

Jembatan layang tua yang melintas di atas jalan raya. Di bawahnya, ada ruang kosong. Cukup lebar. Cukup tinggi. Terlindung dari hujan.

Bayu mendekat. Langkahnya berat. Hampir terseret.

Di bawah jembatan, ada beberapa orang. Gelandangan. Tidur di atas kardus. Ada yang bungkus diri pakai karung. Ada yang cuma pakai koran lusuh sebagai selimut.

Asap tipis mengepul dari kaleng bekas yang dijadikan tungku kecil. Api kecil berkobar di dalamnya, menerangi wajah-wajah lelah dan kotor.

Bayu berhenti di tepi. Nggak tau harus masuk atau nggak.

"Hei, anak muda."

Suara serak memanggil. Bayu menoleh.

Seorang pria tua duduk bersandar di tiang jembatan. Rambutnya putih berantakan. Janggutnya panjang dan kotor. Bajunya compang-camping. Tapi matanya... masih tajam. Masih ada kehidupan di sana.

"Kau kedinginan," kata pria itu. Bukan pertanyaan. Pernyataan.

Bayu mengangguk pelan. Nggak bisa bohong. Tubuhnya gemetar parah.

"Masuk. Api masih menyala." Pria itu menunjuk tungku kecil di tengah.

Bayu berjalan pelan. Duduk di dekat api. Panas langsung menerpa wajahnya. Rasanya... seperti hidup lagi.

"Terima kasih," gumamnya pelan.

Pria tua itu tertawa kecil. "Nggak usah formal. Di sini semua sama. Sampah masyarakat."

Bayu melirik. Nggak tau harus bilang apa.

Pria itu membuka kantong plastik lusuh di sampingnya. Mengeluarkan roti tawar yang udah agak keras. Putus dua. Kasih satu bagian ke Bayu.

"Makan. Kau kelihatan belum makan seharian."

Bayu menatap roti itu. Kecil. Keras. Mungkin udah basi.

Tapi perutnya keroncongan keras.

Dia ambil roti itu. "Terima kasih."

"Iya, iya. Nggak usah banyak terima kasih. Bikin gue berasa jadi orang baik." Pria itu menggigit rotinya, mengunyah pelan.

Bayu juga gigit. Rasanya hambar. Teksturnya keras. Tapi dia nggak peduli. Dia makan cepat. Sampai habis.

Mereka diam sebentar. Hanya suara hujan dan api yang berderak.

"Kenapa kau di sini?" tanya pria tua itu tiba-tiba.

Bayu menatap api. "Diusir."

"Keluarga?"

Bayu mengangguk.

Pria itu menghela napas panjang. "Keluarga... kadang lebih kejam dari musuh."

Bayu nggak jawab. Tapi kata-kata itu menancap.

"Aku juga begitu," lanjut pria itu pelan. Matanya menatap kosong ke depan. "Dulu punya istri. Dua anak. Rumah bagus. Kerja kantoran."

Dia terdiam sebentar. Napas panjang keluar.

"Lalu perusahaan bangkrut. Aku kehilangan pekerjaan. Nggak bisa bayar cicilan rumah. Istriku... pergi. Bawa anak-anak. Ninggalin aku sendirian."

Suaranya bergetar. Matanya berkaca-kaca.

"Aku coba cari kerja. Tapi nggak ada yang mau nerima. Usia udah tua. Nggak punya koneksi. Perlahan... aku jatuh ke sini."

Dia menatap Bayu. Senyum pahit terpasang di bibirnya.

"Udah sepuluh tahun. Anak-anakku mungkin udah nggak inget wajah bapaknya."

Air mata mengalir di pipi kusamnya. Tapi dia usap cepat.

"Maaf. Jadi curhat."

Bayu merasakan dadanya sesak. Bukan karena cerita pria itu sedih. Tapi karena... dia lihat bayangan dirinya di masa depan.

Kalau dia gagal.

Kalau dia nggak bisa bangkit.

Dia akan jadi seperti ini. Terlupakan. Sendirian. Mati perlahan di jalanan.

"Aku... nggak akan jadi seperti ini," gumam Bayu pelan.

Pria tua itu menatapnya. "Semua orang bilang begitu. Tapi realita lebih kejam dari tekad, anak muda."

Bayu menggeleng. "Bukan tekad. Ini... dendam."

Pria itu mengernyit. "Dendam?"

Bayu menatap api. Tatapannya kosong tapi ada sesuatu yang menyala di sana.

"Mereka... keluargaku... mereka buang aku. Fitnah aku. Nganggap aku sampah."

Tangannya mengepal. Kuku-kukunya menancap di telapak sampai terasa sakit.

"Tapi aku nggak akan diam. Aku akan balik. Aku akan buat mereka semua berlutut."

Suaranya gemetar. Bukan karena takut. Tapi karena kemarahan yang menggebu.

"Aku akan balikin semuanya. Berlipat ganda."

Pria tua itu menatapnya lama. Lalu tersenyum tipis. "Dendam... bisa jadi api yang membakar musuh. Atau membakar dirimu sendiri."

Bayu nggak jawab.

Mereka kembali diam. Api mulai mengecil. Hujan mulai reda.

Pria tua itu berbaring di atas kardus. "Tidur. Besok dunia masih sama kejamnya."

Bayu menatap langit gelap di atas jembatan. Nggak ada bintang. Cuma kegelapan.

Dia berbaring di kardus yang dikasih pria tua itu. Dingin. Keras. Bau apek.

Tapi ini tempat tidurnya malam ini.

Matanya menatap kosong ke atas. Pikiran-pikirannya kacau.

Dika yang menusuk punggungnya.

Valerie yang menatap jijik.

Raka yang tertawa meremehkan.

Arjuna yang bahkan nggak menoleh.

Semua wajah itu berputar di kepalanya. Seperti mimpi buruk yang nggak berhenti.

"Gue akan balikin semuanya..."

Bisikan itu keluar pelan. Penuh janji.

"Kalian semua... akan bayar."

Matanya perlahan menutup. Tubuhnya kelelahan.

Tapi sebelum dia benar-benar tidur...

Suara itu muncul.

**[KEMAMPUAN BARU TERBUKA]**

**[DETEKSI BAHAYA TINGKAT 1]**

**[DESKRIPSI: DAPAT MERASAKAN KEHADIRAN MUSUH ATAU ANCAMAN DALAM RADIUS 50 METER]**

Bayu membuka matanya sekilas. Bingung.

**[PERINGATAN]**

**[DETEKSI BAHAYA AKTIF]**

**[ADA YANG MENGIKUTIMU]**

**[JARAK: 30 METER]**

Jantung Bayu langsung berdegup keras. Dia bangkit cepat. Melirik sekeliling.

Kegelapan. Hanya api kecil yang menerangi.

Tapi dia merasakan sesuatu. Seperti ada yang menatap. Dari kegelapan.

"Siapa..."

Gumaman itu keluar tanpa sadar.

Lalu dia melihatnya.

Bayangan. Di ujung jembatan. Berdiri diam. Menatap ke arah Bayu.

Tubuh besar. Siluet yang nggak jelas.

Tapi ada.

Bayu berdiri pelan. Jantungnya berdegup keras.

Bayangan itu bergerak. Mundur. Menghilang di kegelapan.

Bayu berdiri di sana. Napasnya pendek.

"Ada yang ngikutin gue..."

Bisikan panik keluar.

Pria tua itu masih tidur. Nggak sadar apa-apa.

Bayu duduk lagi. Tapi matanya tetap terbuka. Waspada.

Malam itu dia nggak tidur nyenyak.

Karena dia tau...

Bahaya baru baru aja dimulai.

1
REY ASMODEUS
mantap
aa ge _ Andri Author Geje: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!