Alvaro Rayhan, seorang fotografer freelance yang biasa merekam kehidupan orang lain, tidak pernah mengira bahwa suatu sore yang biasa di sebuah kafe kecil akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.
Di bawah sinar senja yang lembut dan wangi kopi, ia melihat Aurellia Kinanti—seorang karyawan kafe dengan senyum yang hangat, dan momen itu tertangkap oleh kameranya tanpa ada rencana sebelumnya.
Perjumpaan singkat tersebut menjadi permulaan dari perjalanan emosional yang berlangsung perlahan, tenang, dan penuh keraguan. Alvaro, yang selalu menutupi perasaannya dengan lensa kamera, harus belajar untuk menghadapi ketakutannya akan kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanaiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepakatan
Alvaro terbangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena alarm yang berdering—alarmnya malah tetap diam—tetapi karena pikirannya sudah penuh dengan berbagai hal. Ia memandangi langit-langit kamar kosnya yang tampak mulai memudar warnanya, kemudian menghela napas panjang.
“Aneh,” katanya pelan. “Baru aja kenal… tapi kenapa terus-terusan terlintas dalam pikiran gue. ”
Ia bangkit dari tempat tidur, duduk di tepi kasur, dan mengambil ponsel yang diflip sejak malam sebelumnya. Tidak ada pesan terbaru dari Aurellia. Tidak ada komunikasi lebih lanjut setelah mereka pulang malam itu. Namun, perasaan anehnya justru semakin kuat di saat itu.
Tenang, tetapi ramai.
Alvaro menuju kamar mandi, menyirami wajahnya dengan air dingin. Di cermin, ia melihat refleksinya—terlihat lebih segar dibandingkan beberapa minggu lalu. Bukan karena istirahat yang cukup, melainkan ada sesuatu yang ia nantikan setiap harinya sekarang. Waktu tertentu. Tempat tertentu. Senyuman tertentu.
“Kafe itu lagi,” ucapnya pelan dengan senyam kecil.
Sementara itu, di rumah, Aurellia duduk di meja makan dengan secangkir teh hangat yang mendekati dingin. Nara duduk di hadapannya, berpura-pura sangat fokus pada ponselnya tapi sesekali mencuri pandang ke kakaknya.
“Kak,” akhirnya Nara bertanya. “Kenapa sih dari tadi kakak senyum-senyum sendiri? ”
Aurellia terkejut. “Hah? Maksudnya?. Enggak. ”
“Enggak? ” Nara mengangkat alis. “Tehnya kakak udah dingin, tapi kakak masih terus ngaduk teh. ”
Aurellia menundukkan kepala, memandangi cangkirnya, kemudian tertawa kecil. “Itu cuma kebiasaan aja. ”
“Hmm,” Nara mendengus, tampak skeptis. “Kebiasaan yang baru. ”
Bu Dewi yang baru saja keluar dari dapur ikut mendengarkan. “Ada apa kalian ribut pagi-pagi ini? ”
“Ini, Bu,” kata Nara cepat. “Kak Aurellia lagi aneh. ”
Aurellia melirik adiknya dengan tatapan tajam. “Nara…”
Bu Dewi mengukir senyum. “Biarin aja. Biasanya orang yang lagi bahagia emang keliatan beda. ”
Pernyataan itu membuat Aurellia terdiam sejenak. Dia tidak membantah. Namun, ia belum siap untuk mengakui sepenuhnya—bahkan kepada dirinya sendiri.
“Cuma lagi asik sama kerjaan, Bu,” jawabnya akhirnya.
Bu Dewi mengangguk, tidak memaksa. Tetapi senyumnya menyiratkan sesuatu yang lain.
Siang hari, Alvaro telah menyelesaikan satu foto yang diedit untuk klien. Ia menutup laptop, meregangkan tubuhnya, lalu melihat jam. Masih terlalu awal untuk menuju kafe. Namun, ia sudah terbiasa menghitung waktu dengan cara yang berbeda.
Bukan menunggu tenggat waktu, tetapi menunggu peluang.
Ponselnya bergetar. Nama Roni muncul di layar.
Roni:
Lo ke kafe sore ini?
Alvaro langsung menjawab.
Alvaro:
Yoi. Jam biasa.
Beberapa detik kemudian.
Roni:
Gue ikut. Sekalian mau ngumpul.
Alvaro tersenyum. “Circle makin nambah,” katanya dalam hati, teringat judul yang sempat melintas di pikirannya beberapa hari yang lalu.
Sore hari tiba dengan pelan. Langit Jakarta berwarna jingga lembut, tidak terlalu cerah tetapi juga tidak kelabu. Alvaro datang di kafe sedikit lebih awal. Seperti biasa, ia memilih duduk di meja dekat jendela.
“Americano, Mas? ” suaranya yang sudah begitu familiar menyapanya.
Alvaro menoleh. Aurellia berdiri di balik meja, rambutnya ditata rapi, wajahnya terlihat segar meskipun sudah melewati jam sibuk.
“Iya,” jawab Alvaro. Lalu, dengan sedikit ragu, ia menambahkan, “Yang biasa. ”
Aurellia tersenyum. “Siap. ”
Ada sedikit jeda setelah itu. Tidak canggung, namun juga tidak terburu-buru untuk diisi. Saat Aurellia membawa minumannya, Alvaro berucap pelan, “Kemarin… makasih banyak ya. ”
Aurellia mengangkat alisnya. “Makasih buat apa? ”
“Soalnya… kamu udah jujur,” katanya, tidak berani menatap terlalu lama.
Aurellia terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. “Aku juga agak kaget. Tapi… ya, rasanya bener. ”
Alvaro mengangguk. “Iya. Bener. ”
Roni tiba tidak lama setelah itu, segera mengisi suasana dengan nada suaranya yang santai. “Eh, kalian berdua ini keliatannya semakin akrab, ya? ”
Aurellia mengeluarkan tawa kecil. “Ya biasa saja. ”
“Biasa, tapi keliatan jelas amat, ” sahut Roni dengan senyuman.
Alvaro memberi tendangan ringan di bawah meja. “Lo terlalu banyak omong dah. ”
Mereka terlibat dalam obrolan ringan—membahas pekerjaan, kota, dan berbagai hal kecil yang entah kenapa terasa berarti. Aurellia bergabung sesekali ketika ada kesempatan, lalu kembali fokus pada tugasnya. Namun, setiap kali ia melintas, selalu ada tatapan singkat yang saling bertemu.
Malam pun mulai gelap. Lampu-lampu di kafe menyala satu per satu. Ketika suasana kafe mulai sepi, Alvaro berani untuk berbicara.
“Rel,” ujarnya dengan nada rendah. “Besok… mau jalan bentar enggak? Enggak lama sih. ”
Aurellia menatapnya. Ada jeda singkat—cukup untuk membuat Alvaro hampir merasa ragu untuk bertanya.
“Boleh,” jawabnya akhirnya. “Setelah shift. ”
Alvaro memberikan senyuman lebar. “Okee. ”
Ketika mereka berpisah malam itu, tidak ada pelukan, tidak ada janji-janji besar. Hanya kesepakatan kecil yang terasa memadai.
Di perjalanan pulang, Aurellia menatap jalanan dari jendela angkot. Pelan-pelan saja, pikirnya. Aku tidak ingin terburu-buru. Namun, aku juga tidak ingin mundur.
Di kamar kosnya, Alvaro membuka kamera, melihat foto-foto lama, kemudian menutupnya kembali. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu untuk mengabadikan momen.
Karena ada beberapa hal yang ternyata lebih baik dijalani—daripada hanya disimpan.
Aurellia selalu merasakan ada jeda aneh setiap kali waktu kerjanya hampir berakhir. Bukan karena kelelahan atau ingin segera pulang. Lebih tepatnya… ada sesuatu yang ingin ia undur. Setiap sore, ia lebih sering melirik jam, lalu berpura-pura repot menata meja atau memeriksa rak gelas.
Kenapa aku bisa jadi kayak gini? pikirnya.
Ia bukan orang yang gampang berharap. Selama ini, hidupnya berjalan lancar: bekerja, pulang, membantu ibu, mendengarkan cerita Nara, tidur. Semuanya terasa aman. Tetapi sejak Alvaro hadir di waktu yang sama, pola itu sedikit berubah—tidak rusak, hanya sedikit bergeser.
Dan yang membuatnya resah justru karena perubahan itu terasa… menyenangkan.
Aurellia memandangi ponselnya di kamar, layarnya gelap tanpa ada pemberitahuan. Ia tidak mengharapkan pesan. Setidaknya, itulah yang ia katakan pada dirinya sendiri. Namun kenyataannya, pikirannya kerap kembali pada satu hal sederhana: hari ini Alvaro datang ke kafe jam berapa?
Ia tersenyum kecil, lalu menggelengkan kepala. “Lebay,” bisiknya.
Mereka tidak sering berkomunikasi. Tidak juga saling memberi kabar tentang hal-hal kecil. Namun entah mengapa, keberadaan Alvaro terasa kongkret. Seolah seseorang yang meski tak banyak berbicara tetap dapat terdengar.
Mungkin karena dia tidak memaksakan diri, pikir Aurellia. Dan aku juga tidak merasa harus menjadi orang lain di hadapannya.
Di balik perasaan hangat itu, ada ketakutan kecil yang tak pernah ia ungkapkan. Takut berharap terlalu tinggi. Takut salah menilai. Takut jika kedekatan ini hanya nyaman untuk satu pihak.
Ia pernah berada di fase di mana perasaan muncul terlalu cepat, dan kemudian menghilang begitu saja. Sejak saat itu, Aurellia belajar untuk menahan diri. Menikmati tanpa mencengkeram terlalu kuat.
"Aku boleh ngerasain nyaman, tapi jangan sampai lupa untuk menjaga diri, " pikirnya dalam hati.
Namun, ia juga menyadari—menjaga diri tidak berarti menutup sepenuhnya.
Suatu malam, Nara memandangnya lama saat Aurellia melipat pakaian.
“Kak,” ucap Nara pelan. “Kakak lagi jatuh cinta, ya? ”
Aurellia terhenti sejenak. Tidak menjawab. Tidak membantah.
Ia hanya tersenyum kecil, kali ini tanpa terburu-buru untuk menyembunyikannya.
Kakak cuma lagi… ngerasa nyaman,” katanya akhirnya.
Dan di dalam hatinya, ia menambahkan kalimat yang belum siap ia sampaikan kepada siapa pun: Jika rasa nyaman ini bertahan, mungkin aku ingin melangkah perlahan. Bersama dia.