Felicia datang ke kantor itu hanya untuk bekerja.
Bukan untuk jatuh cinta pada manajer yang usianya lima belas tahun lebih tua—dan seharusnya terlalu jauh untuk didekati.
James Han tahu batas. Jabatan, usia, etika—semuanya berdiri di antara mereka.
Tapi semakin ia menjaga jarak, semakin ia menyadari satu hal: ada perasaan yang tumbuh justru karena tidak pernah disentuh.
Ketika sistem memisahkan mereka, dan Felicia hampir memilih hidup yang lain, James Han memilih menunggu—tanpa janji, tanpa paksaan.
Karena ada cinta yang tidak datang untuk dimiliki, melainkan untuk dipilih di waktu yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seribu Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua belas
Pagi itu, suasana di lantai pimpinan sudah terasa seperti medan perang. Pak Han sudah berada di meja kerjanya sejak pukul tujuh pagi, dan suara gebrakan meja sesekali terdengar sampai ke meja Felicia di luar.
Sebagai orang yang memegang dua jabatan sekaligus—Manajer Sampel dan Manajer Pemasaran—Pak Han benar-benar sedang berada di titik didih. Divisi Produksi protes karena desain sampel dari tim Pak Han dianggap terlalu rumit dan memakan biaya tinggi, sementara tim Pemasaran mendesak produk itu segera diluncurkan karena tren pasar tidak bisa menunggu.
"Bagaimana bisa kalian bilang ini tidak bisa diproduksi secara massal?! Kita sudah riset berbulan-bulan!" suara bariton Pak Han menggelegar dari ruang rapat, membuat para manajer lain tertunduk lesu.
Rapat itu berakhir dengan hasil yang menggantung dan tensi yang tinggi. Saat Pak Han kembali ke ruangannya, wajahnya sudah tidak bisa didefinisikan lagi—pucat karena kelelahan, tapi matanya menyala merah karena emosi yang tertahan.
Felicia, yang sejak tadi hanya bisa menguping cemas, segera beranjak ke pantri. Ia menyeduh teh hangat dengan sedikit aroma melati, berharap uapnya bisa sedikit mencairkan suasana hati bosnya.
Ketukan pelan diberikan Felicia sebelum masuk. Pak Han sedang memijat pelipisnya dengan mata tertutup, tumpukan berkas revisi jadwal berserakan di depannya.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak? Atau Bapak mau saya belikan makanan?" tanya Felicia lembut sambil meletakkan cangkir teh di sisi meja yang kosong.
Pak Han hanya menghela napas panjang, matanya masih terpejam. "Nggak perlu. Saya lagi pusing. Gak selera makan."
Suaranya terdengar serak dan lelah, jauh dari nada otoriter yang biasanya ia gunakan. Felicia hanya mengangguk pelan, menyadari bahwa saat ini Pak Han lebih butuh ketenangan daripada tawaran basa-basi. Ia keluar ruangan dengan langkah seringan mungkin.
Waktu seolah berlari. Jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam. Kantor cabang PT Arthemis sudah sepi, hanya menyisakan lampu di ruangan Pak Han dan meja Felicia yang masih menyala.
Felicia sedang bergelut dengan jadwal baru Pak Han. Karena masalah di divisi produksi tadi, Pak Han harus bolak-balik antara kantor Cipta (tempat pabrik sampel) dan kantor Pusat mulai besok pagi. Jadwalnya berantakan total, dan Felicia harus memastikan semuanya tertata rapi agar tidak ada tabrakan waktu.
Tiba-tiba, pintu ruangan Pak Han terbuka. Pria itu sudah mengenakan jasnya, tas kerja tersampir di tangan, namun wajahnya nampak terkejut melihat Felicia masih di sana.
"Pulang, Fel. Sudah malam," Pak Han mengingatkan. Suaranya sudah lebih tenang, namun gurat kelelahan tidak bisa disembunyikan dari matanya.
Felicia mendongak, jemarinya masih lincah mengetik di keyboard. "Gak masalah, Pak. Ini sedikit lagi selesai. Bapak kalau mau duluan, silakan. Seharian Bapak sudah capek banget."
Pak Han terdiam di ambang pintu. Ia menatap Felicia—gadis yang seharian ini ia perlakukan dengan dingin dan ia beri tugas menumpuk—malah memilih untuk bertahan demi mempermudah pekerjaannya besok.
Ia tidak langsung pergi. Han melangkah mendekat ke meja Felicia, melihat jadwal rumit yang sedang disusun asistennya itu.
"Jadwal ke Cipta jam tujuh pagi itu... pindahkan ke jam sembilan saja," ujar Han pelan, berdiri cukup dekat di samping kursi Felicia. "Saya tidak mau kamu harus bangun terlalu pagi hanya untuk menyiapkan berkas saya."
Felicia menoleh, menatap Pak Han dengan polos. "Tapi kalau jam sembilan, nanti Bapak telat ketemu orang Pusat, Pak."
Han menatap balik mata Felicia. Keheningan malam itu membuat suasana mendadak terasa berbeda. "Biar saya yang telat, asal kamu tidak kelelahan. Saya sudah cukup menyiksa kamu seharian kemarin dan tadi."
Tangannya bergerak ragu, hampir menyentuh bahu Felicia, namun ia tarik kembali. Han berdeham pelan, mencoba mengembalikan sisa-sisa wibawanya. "Selesaikan itu dalam lima menit. Saya tunggu di bawah. Saya antar kamu pulang."
"Eh? Gak usah Pak, saya bisa naik ojol—"
"Tidak ada bantahan, Felicia. Ini perintah atasan. Lima menit, atau saya hapus semua jadwal yang sudah kamu ketik itu," ucap Han dengan nada kaku yang dipaksakan, padahal di dalam hatinya, dia hanya ingin memastikan Felicia sampai di rumah dengan aman.
Mobil sedan hitam itu meluncur pelan membelah jalanan kota yang sudah mulai lengang. Aroma sandalwood dari pengharum mobil Pak Han yang mahal mendadak terasa menenangkan, tidak lagi mengintimidasi seperti biasanya.
Keheningan di dalam kabin terasa canggung sampai akhirnya Felicia memberanikan diri membuka suara. "Pak Han... dari dulu memang sedisiplin ini ya? Maksud saya, apa waktu kuliah Bapak juga tipe yang kalau ada masalah langsung gebrak meja?"
Han terkekeh pendek—sebuah pemandangan langka yang membuat Felicia sempat terpana. "Dulu saya lebih parah, Fel. Saya tipe yang tidak akan tidur sebelum masalah selesai. Masa muda saya habis di perpustakaan dan laboratorium sampel. Membosankan, kalau menurut standar anak muda sekarang."
"Masa sih, Pak? Nggak ada waktu buat... ya, tahu sendiri, cinta monyet atau pacaran gitu?" goda Felicia sambil melirik jahil.
Han terdiam sejenak, jemarinya mengetuk kemudi dengan irama pelan. "Pernah. Sekali. Tapi gagal karena saya terlalu fokus mengejar karier. Dia bilang saya lebih cinta mesin produksi daripada dia." Han tersenyum tipis, ada gurat nostalgia yang singkat di matanya. "Sejak itu, saya malas memulai lagi. Hubungan itu rumit, butuh investasi emosi yang besar."
Mobil berhenti di lampu merah. Han menoleh ke arah Felicia, menatap asistennya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kalau kamu sendiri bagaimana? Kamu sudah punya pacar, Fel?"
Jantung Felicia seolah berhenti berdetak sedetik. "Belum, Pak."
"Oh ya?" Han menaikkan alisnya, tampak sedikit terkejut namun ada binar lega yang tersirat sangat tipis di matanya. "Baguslah."
Han kembali mengalihkan pandangannya ke jalanan di depan saat lampu berubah hijau. "Gunakan masa muda kamu buat hal produktif, Felicia. Pacaran itu hanya akan menghambat kamu berkembang. Banyak drama, banyak membuang waktu untuk hal-hal yang tidak rasional."
Felicia mendengus pelan, menahan tawa. "Tadi bilangnya bagus, tapi alasannya kok horor banget ya. Jadi menurut Bapak, saya nggak boleh pacaran biar bisa jadi asisten Bapak selamanya?"
Han tertegun. Kalimat Felicia barusan sebenarnya adalah apa yang ia pikirkan, tapi ia tidak menyangka gadis itu akan mengucapkannya secara gamblang.
"Bukan selamanya," ralat Han dengan nada suara yang mendadak rendah dan serius. "Tapi selagi kamu di samping saya... saya ingin kamu fokus pada apa yang ada di depan mata. Hal-hal lain hanya akan jadi distraksi."
Felicia hanya manggut-manggut, tidak menyadari kalau "distraksi" yang dimaksud Pak Han sebenarnya adalah rasa cemburu pria itu sendiri pada setiap laki-laki yang berani mendekatinya.
"Termasuk dilarang pacaran sama Rey, Pak?" pancing Felicia sambil menahan senyum.
Mendengar nama itu, pegangan Han pada kemudi otomatis mengencang. "Terutama dengan montir yang cuma bisa kasih pinjam sandal jepit cadangan. Itu bukan perkembangan, itu kemunduran."
Felicia tertawa lepas mendengarnya. "Bapak masih ingat aja soal sandal jepit itu! Ternyata Bapak diam-diam perhatian ya."
Han tidak menjawab, tapi sudut bibirnya terangkat sedikit. Ya, dia perhatian. Terlalu perhatian sampai-sampai dia mulai bingung bagaimana cara berhenti.