Hujan deras mengguyur atap seng pos keamanan belakang RSU Cakra Buana, menyamarkan suara seretan langkah kaki yang berat di lorong beton. Seorang petugas keamanan muda, dengan napas memburu dan seragam basah oleh keringat dingin, berusaha memutar kunci pintu besi berkarat dengan tangan gemetar.
Dia tidak berani menoleh ke belakang, ke arah kegelapan pekat di mana suara lonceng kaki pengantin terdengar gemerincing, semakin lama semakin mendekat, diiringi aroma melati yang begitu menyengat hingga membuat mual.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Lorong Terlarang
Napas Elara memburu, menciptakan uap tipis di udara yang mendadak dingin menusuk tulang di lorong Basement Level 4 RSU Cakra Buana. Lantai beton yang retak-retak di bawah kakinya terasa licin oleh rembesan air tanah yang bercampur dengan lumut hitam, membuat setiap langkahnya menjadi pertaruhan keseimbangan. Di sampingnya, Pak Darto bergerak dengan ketangkasan yang mengejutkan untuk pria seusianya, meski suara napasnya terdengar berat dan berirama kasar seperti mesin tua yang dipaksa bekerja melampaui batas.
Suara langkah kaki berat yang mengejar mereka terdengar semakin dekat, memantul-mantul di dinding lorong yang sempit dan menciptakan gema yang membingungkan arah. Itu bukan langkah kaki manusia biasa, melainkan hentakan sepatu bot militer yang dipadu dengan seretan benda logam di lantai, menciptakan suara ngilu yang merayap naik ke tengkuk. Elara tahu Dr. Arisandi tidak sendirian; pria itu membawa sesuatu—atau seseorang—yang telah kehilangan akal sehatnya di bawah pengaruh energi gelap rumah sakit ini.
"Jangan menoleh, Neng, terus lari ke arah percabangan pipa uap!" seru Pak Darto dengan suara tertahan, tangannya mencengkeram lengan Elara untuk menariknya menjauh dari bayangan yang mulai memanjang di tikungan belakang. Pria tua itu melemparkan segenggam garam kasar ke belakang punggung mereka tanpa melihat, sebuah upaya putus asa untuk memperlambat entitas yang mungkin menempel pada pengejar mereka.
Elara memacu kakinya lebih cepat, mengabaikan rasa perih di paru-parunya yang mulai protes akibat menghirup udara lembap bercampur bau formalin kedaluwarsa. Lorong ini seolah tidak berujung, dihiasi oleh lampu-lampu neon yang berkedip sekarat, melemparkan cahaya stroboskopik yang membuat bayangan pipa-pipa di langit-langit tampak seperti ular yang menggeliat. Di dunia bawah tanah Kota Arcapura ini, batas antara halusinasi dan realitas menjadi sangat tipis.
Mereka berbelok tajam ke kiri, memasuki segmen lorong yang lebih tua di mana dindingnya bukan lagi beton modern, melainkan susunan bata merah khas arsitektur kolonial yang mulai rapuh. Di sini, bau tanah basah semakin menyengat, bercampur dengan aroma anyir darah kering yang entah berasal dari mana. Elara menyadari bahwa mereka telah memasuki zona terlarang yang bahkan tidak tercatat dalam denah renovasi rumah sakit sepuluh tahun lalu.
"Itu dia, Ruang Arsip Lama," bisik Pak Darto sambil menunjuk sebuah pintu kayu jati tebal yang permukaannya telah dimakan rayap namun masih berdiri kokoh dengan palang besi melintang. "Pasak kedua seharusnya disembunyikan di sana oleh pendiri rumah sakit ini, untuk menahan energi negatif dari tanah rawa di bawah pondasi."
Elara menghambur ke arah pintu itu, jemarinya yang gemetar meraba gembok besar berkarat yang mengunci palang besi tersebut. "Terkunci, Pak! Kita butuh kunci atau linggis untuk membukanya!" ucapnya panik, matanya liar mencari alat bantu di sekitar tumpukan barang rongsokan yang berserakan di depan pintu.
Pak Darto menggeleng keras, ia merogoh saku jaket lusuhnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk paku yang terbuat dari tulang hewan. "Minggir, Neng, ini bukan gembok biasa yang bisa dibuka dengan kekerasan fisik, ini dikunci dengan rapalan," gumamnya seraya menempelkan paku tulang itu ke lubang kunci.
Suara tawa dingin menggema dari ujung lorong tempat mereka datang, suara Dr. Arisandi yang terdengar begitu tenang namun sarat dengan ancaman mematikan. "Kalian pikir bisa lari kemana di perut Cakra Buana ini? Tikus-tikus kecil yang malang, kalian hanya berlari menuju kuburan kalian sendiri," suaranya memantul, seolah ia berbicara langsung di telinga Elara.
Pak Darto memutar paku tulang itu dengan sentakan kuat, memicu percikan api biru yang tidak wajar sebelum gembok tua itu terbuka dengan bunyi *klik* yang nyaring. Tanpa membuang waktu, pria tua itu menendang pintu hingga terbuka, memperlihatkan ruangan gelap gulita yang dipenuhi rak-rak besi tinggi menjulang hingga ke langit-langit. Debu tebal beterbangan seketika, menciptakan kabut yang menyesakkan napas.
"Masuk dan cari kotak medis berbahan tembaga dengan lambang VOC!" perintah Pak Darto sambil mendorong Elara masuk, sementara ia sendiri berbalik menghadap lorong, mencabut keris kecil dari balik punggungnya. "Bapak akan menahan mereka di sini. Cari pasaknya, Elara! Nasib kita tergantung pada benda itu!"
Elara ingin memprotes, tidak tega meninggalkan Pak Darto sendirian menghadapi Dr. Arisandi yang mungkin memiliki kekuatan supranatural, namun sorot mata tajam pria tua itu tidak menerima bantahan. Dengan hati berat, Elara berlari masuk ke dalam labirin rak arsip, menyalakan senter ponselnya yang baterainya tinggal lima belas persen. Cahaya putih pucat itu menyapu tumpukan map kuning dan buku-buku besar bersampul kulit yang tampak seperti nisan di pemakaman ilmu pengetahuan.
Di dalam Ruang Arsip, kesunyian terasa begitu menekan, seolah ribuan rahasia pasien yang telah meninggal di rumah sakit ini sedang mengamati gerak-gerik Elara dari kegelapan. Ia menyusuri lorong antar rak, matanya menyapu setiap sudut, mencari kilau tembaga yang dimaksud Pak Darto. Suara gaduh perkelahian mulai terdengar dari arah pintu masuk, bunyi logam beradu dan teriakan mantra yang saling sahut-menyahut.
"Ayo, di mana kau..." bisik Elara pada dirinya sendiri, keringat dingin mengalir di pelipisnya saat ia menyadari rak-rak ini disusun berdasarkan tahun kematian pasien. Ia berlari menuju bagian paling ujung, tempat arsip tahun 1920-an disimpan, masa di mana wabah besar pernah melanda Kota Arcapura dan rumah sakit ini menjadi pusat karantina massal.
Di sudut ruangan, tertutup oleh tumpukan kursi roda rusak, sebuah lemari kaca kusam berdiri menyendiri seolah diasingkan dari perabot lainnya. Di dalamnya, samar-samar Elara melihat sebuah kotak tembaga yang telah menghijau karena oksidasi, namun ukiran lambang kongsi dagang Belanda masih terlihat jelas di tutupnya. Jantung Elara berdegup kencang, ia telah menemukannya.
Elara memecahkan kaca lemari itu dengan siku, tidak mempedulikan serpihan kaca yang menggores kulit jaketnya, dan meraih kotak berat tersebut. Sensasi dingin langsung menjalar dari ujung jarinya ke seluruh lengan saat kulitnya bersentuhan dengan permukaan tembaga itu. Ada getaran halus yang memancar dari dalam kotak, sebuah denyut energi yang terasa purba dan marah.
Namun, sebelum ia sempat membuka kotak itu, suara langkah kaki perlahan mendekat dari arah pintu masuk, berbeda dengan langkah seret sebelumnya, langkah ini tenang dan terukur. "Pak Darto?" panggil Elara ragu, suaranya bergetar di antara rak-rak tinggi yang menjulang seperti menara.
Tidak ada jawaban, hanya suara gesekan kain jas lab yang beradu dengan sisi rak besi. Sosok Dr. Arisandi muncul dari balik bayangan, wajahnya yang biasanya rapi kini tampak kuyu dengan urat-urat hitam menonjol di sekitar lehernya. Di tangannya, ia memegang sebuah skalpel bedah yang berkilau di bawah cahaya senter Elara, namun bukan skalpel itu yang membuat Elara takut, melainkan bayangan Dr. Arisandi di dinding yang tidak menyerupai manusia.
"Pak Darto sudah istirahat sebentar, Elara. Orang tua memang cepat lelah," ucap Dr. Arisandi dengan senyum miring yang mengerikan, matanya yang memerah menatap kotak di tangan Elara dengan lapar. "Sekarang, serahkan benda itu. Kau tidak tahu apa yang kau pegang. Itu bukan sekadar pasak penahan, itu adalah kunci gerbang yang seharusnya tetap tertutup."
Elara mundur selangkah, memeluk kotak tembaga itu erat-erat di dadanya seolah itu adalah pelampung di tengah lautan badai. "Anda yang tidak mengerti, Dokter. Anda dimanfaatkan oleh entitas yang Anda pikir bisa Anda kendalikan," balas Elara dengan suara yang ia usahakan terdengar tegas, mengingat semua peringatan Pak Darto tentang manipulasi roh jahat.
"Dimanfaatkan?" Dr. Arisandi tertawa pelan, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan dua batu nisan. "Saya adalah evolusi, Elara. Sains dan spiritualitas adalah dua sisi mata uang yang sama. Berikan kotaknya, dan saya akan membiarkanmu pergi dari sini hidup-hidup. Atau setidaknya, matimu tidak akan menyakitkan."
Elara melirik ke sekeliling, mencari jalan keluar lain, namun lorong arsip ini adalah jalan buntu. Satu-satunya jalan keluar terhalang oleh tubuh dokter gila itu. Tiba-tiba, ia teringat ucapan Pak Darto tentang sifat pasak tersebut: benda itu menahan energi negatif. Jika pasak itu dicabut atau dibuka segelnya di tempat yang salah, dampaknya bisa meledak.
Dengan nekat, Elara meletakkan tangannya di pengait kotak tembaga itu. "Mundur, atau saya buka kotak ini sekarang juga!" ancamnya, matanya menatap tajam ke arah Arisandi. "Jika ini meledakkan energi spiritual, kita berdua akan hancur di sini bersama seluruh gedung ini!"
Senyum di wajah Dr. Arisandi luntur seketika, digantikan oleh ekspresi waspada yang bercampur dengan keraguan. Ia tahu Elara tidak menggertak; keputusasaan di mata gadis itu adalah bahan bakar yang berbahaya. "Jangan bodoh, Elara. Kau akan membunuh ratusan pasien di atas sana jika kau melepaskan segel itu di sini tanpa ritual."
"Biarkan saya lewat," tuntut Elara, jarinya sudah siap menjentikkan pengait kotak. Suasana di ruangan itu menegang, udara terasa statis seolah badai petir sedang berkumpul di dalam ruang tertutup. Lampu senter di lantai berkedip-kedip liar, merespons lonjakan energi yang terjadi akibat konfrontasi dua kehendak yang saling berbenturan.
Di belakang Dr. Arisandi, Elara melihat pergerakan samar. Pak Darto, dengan wajah babak belur dan darah mengalir dari pelipisnya, merangkak perlahan sambil memegang sebuah tabung pemadam api. Pria tua itu menempelkan jari telunjuk di bibirnya, memberi isyarat pada Elara untuk menahan perhatian sang dokter sedikit lebih lama lagi.