"Ambil, ambillah dia! Aku ikhlaskan dia untukmu."
Suara seorang wanita terdengar begitu nyaring ketika berada di depan rumah wanita yang menjadi selingkuhan suaminya.
Didepan keluarga besar sang pelakor dia tak gentar meski pun sendirian.
Hancur hati Arundari saat mengetahui bahwa gadis yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri itu tega menjadi duri dalam daging pada biduk rumahtangganya.
Tampilannya yang religius sungguh tidak berjalan lurus dengan perbuatannya.
Tak ingin sakit hati terlalu lama, Arundari memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya dengan Heri.
Apakah Arundari bisa kembali merasakan cinta setelah dirinya disakiti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Adyaksa Gumilar 17
"Gimana, Mirza? Udah?"
"Sudah Tuan, sesuai yang Tuan perintahkan."
Mirza Daulay, dia adalah salah satu pengacara milik tim kuasa hukum AKAR. Di bawah perintah Adyaksa, dia datang ke rumah Arundari dan menawarkan diri untuk menjadi pendamping hukum bagi wanita itu.
Mirza juga dengan jujur mengatakan bahwa Adyaksa lah yang memerintahkan dia untuk datang sebagai bantuan. Beruntung Arundari tidak menolak sehingga tugasnya menjadi mudah. Kalau tidak mungkin dia akan kesulitan menghadapai tuannya.
Dan Mirza juga senang, pasalnya Arundari sama sekali tidak menolak. Ketika Mirza datang untuk menawarkan bantuan, Arundari langsung dengan senang hati menerimanya.
"Jadi kapan sidang cerai akan dilakukan?" tanya Adya untuk mengonfirmasi hasil kerja anak buahnya itu.
"Maaf Tuan, tapi Mbak Arundari tadi bukan ke pengadilan agama. Beliau lebih dulu ke kantor polisi untuk melaporkan perzinahan dan perselingkuhan yang dilakukan oleh Heri dan Jelita,"jawab Mirza dengan hati-hati.
Hahahaha
Mirza terkejut mendengar tawa Adyaksa. Dia padahal sudah takut jika apa yang dijawabnya tidak sesuai dengan keinginan sang tuan.
"Wanita itu beneran cerdik. Bagus, emang lebih baik begitu dulu. Jangan dulu cerai secara hukum, bawa dua orang itu ke penjara barulah cerai. Bagus bagus bagus. Baiklah kerja bagus, Mirza. Sekarang kamu fokus aja buat bantu Arun. Jangan lupa laporkan semuanya padaku,"ucap Adyaksa.
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi,"pamit Mirza undur diri dari ruangan itu.
Haaah
Adyaksa menyandarkan punggungnya pada kursi. Dia juga menarik satu sudut bibirnya sehingga terbit sebuah seringai.
"Wanita yang bener-bener hebat. Sekarang, mari kita lihat. Apa akan ada tontonan yang menarik atau malah membosankan. Tapi yang jelas, pasangan menjijikan itu harus dapat balasan yang setimpal,"ucap Adyaksa lirih.
Dia paling membenci yang nama pengkhianatan dalam model apapun. Apalagi dalam kasus ini adalah seorang suami yang berkhianat kepada istrinya.
Sungguh rasanya membuat marah. Bagaimana bisa orang yang sudah berjanji kepada Allah dan di depan orang tua, berani melakukan pengkhianatan yang menyakitkan.
Cinta yang dibangun, bagaimana bisa itu bisa dikhianati begitu saja.
Adyaksa sungguh tidak habis pikir dengan orang seperti Heri ini. Terlebih pria itu katanya mengeri agama. Pun dengan Jelita, Adyaksa benar-benar tidak bisa mengerti. Bagaimana sesama wanita malah menyakiti.
"Emang nggak ada laki-laki lain apa. Haah bener-bener. Seharusnya dia malu sama kerudung yang dipake. Mana dia juga suka nyanyi lagu religi dan solawatan lagi. Haduuuh. Perasaan aku tuh dah kejam dan jahat dulu. Tapi kok modelan begini lebih berasa jahatnya ya."
Adyaksa teringat tentang dirinya yang dulu. Bukan hanya itu, dia juga teringat soal kakeknya yang terlihat tenang namun juga sangat menghanyutkan.
Adyaksa Gumilar, dia disebut sebagai pewaris tunggal AKAR. Sedari kecil, dia sudah tak memiliki orang tua karena sebuah tragedi.
Adyaksa kecil, dirawat oleh kakeknya yang bernama Adi Gumilar. Orang tua Adyaksa meninggal karena sebuah hal yang berhubungan dengan kakeknya. Bisa dibilang salah sasaran.
Adi adalah seorang pimpinan organisasi dunia bawah pada masanya. Dia jelas memiliki banyak musuh. Nyawanya terancam, dan banyak yang mengincar. Namun Adi tak pernah mengira bahwa dia kecolongan dalam mengawasi keluarganya. Nasi telah menjadi bubur, anak dan menantunya menjadi korban dari semua hal yang dilakukan.
Adi pun memutuskan untuk berhenti. Dia membubarkan organisasi tanpa nama itu. Sedangkan Adyaksa tidak berpikir demikian. Dia ingin membalas dendam atas kematian kedua orangtuanya.
"Nggak Nak, sudah cukup. Jangan lagi membuat dendam berkelanjutan. Yang salah tuh Eyang, Eyang lah yang membuat bapak dan ibu mu meninggal. Semua karena Eyang."
Hingga Adi meninggal, Adyaksa memang diam dan tidak melakukan apapun. Tapi di belakang sang kakek, Adyaksa kembali menghidupkan organisasi tanpa nana tersebut.
Setelah dendam dia terbalaskan, Adyaksa baru benar-benar berhenti dari dunia bawah. Dan permintaan dari klien terakhir yang diterimanya pun tak sepenuhnya dilakukan.
"Insaf, ya memang sebenernya pun aku masih belajar untuk benar-benar keluar dari kubangan lumpur itu. Kuakui aku kejam dan nggak berperasaan. Tapi melihat dua orang itu kok ya aku gedek bukan main. Haah bisa-bisanya lho tuh laki yang wajahnya nggak seberapa selingkuh. Laah jadi body shaming kan aku jadinya, haaah. Arundari, ku lihat-lihat wajahnya kayak familier. Pernah lihat dimana ya? Ah itu mesti cuma perasaanku aja."
Adyaksa menggelengkan kepalanya. Dia kembali fokus dengan pekerjaan yang masih menumpuk di atas meja itu. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 17.00
"Ya kali lembur," gumamnya lirih.
"No Bos. Hari ini nggak bisa lembur Bos. Bos nggak inget apa ada janji ketemu sama klien. Itu lho yang mau bikin rumah,"sahut Beni sambil berjalan mendekat ke meja kerja Adyaksa.
"Kamu denger Ben aku ngomong baru aja?" tanya Adyaksa sambil memiringkan kepalanya.
"Denger lah, Beni Satria. Sudah tahunan ikut Bos jadi ya pasti denger suara Bos mau sekecil apapun itu. Kayaknya aku juga bisa denger suara hati Bos deh,"jawab Beni asal.
Adyaksa hanya memutar bola matanya malas. Memang benar dia ada janji makan malam dengan klien. Tapi sungguh hari ini rasanya malas sekali akan bertemu dengan orang di luar.
Tapi jika digagalkan pun akan dinilai buruk. Dia akan dianggap tidak profesional.
Meski bagi Adyaksa tidak jadi soal, tapi dia tidak ingin membuat nama AKAR buruk terlebih perusahaan ini adalah hasil kerja keras dari kakek dan juga ayahnya.
"Arundari, apa dia baik-baik aja ya?"
"Laaah?"
Beni terkaget-kaget ketika mendengar ucapan dari bosnya yang tiba-tiba itu. Sejarah dirinya yang mengikuti Adyaksa, belum pernah sekalipun tuannya tersebut memikirkan tentang wanita.
Bagaimana tidak Beni berpikiran demikian? Bagaimana tidak Beni berkata bahwa Adyaksa tengah memikirkan wanita, baru kali ini Adyaksa tiba-tiba bertanya kabar tentang wanita.
"Bos beneran nanya tentang keadaan Mbak Arun?" tanya Beni memastikan bahwa telinganya tidak bermasalah.
"Kamu emang budek ya? masa nanya yang udah jelas-jelas kamu denger."
Haaah
Beni membuang nafasnya kasar. Mau bagaimanapun Adyaksa adalah pria yang ketus. Keramahannya kepada orang lain sungguh hanya kamuflase semata.
"Iya iya tahu. Kan ada orang yang aku kirim ke sana, Bos. Jadi Bos bisa tanya ke mereka,"ucap Beni.
"Nggak usah lah. Nggak perlu. Haah, ya udah ayo pulang. Eh nggak usah pulang lah. langsung ke lokasi aja habis magrib. Di sini aku punya baju kan. Kamu juga ada kan di ruangan mu. Jadi kita berangkat langsung ke tempat yang dijanjikan."
Mendengar ucapan Adyaksa, Beni hanya mengangguk saja. Baginya situasi ini sudah merupakan hal yang biasa. Jadi dia juga sudah menyiapkan beberapa pasang baju di ruangannya untuk berjaga-jaga.
"Kalau gitu, saya siapkan makan malam dulu, Tuan. Anda mau makan apa? Astagfirullah lupa, kan nanti mau makan malam." ucap Beni dengan gaya bicara formal. Dia memang suka seperti itu. Berubah-ubah gaya bicaranya tergantung kondisi. Tapi Beni akan selalu bicara normal jika mereka dihadapkan dalam situasi pekerjaan.
TBC
Ada maksud tersembunyi nih dari Adyaksa😄
Apakah Anis nanti nya akan berjodoh sama Beni yaa..? hhmmm... 🤣🤣