Aroma melati yang merebak di gedung itu terasa mencekik paru-paru Rina. Harusnya, hari ini menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya. Namun, di balik riasan bold dan kebaya putih mewah yang melekat di tubuhnya, ada hati yang sedang hancur berkeping-keping.
Di sampingnya, duduk Gus Azkar. Pria itu tampak tenang, nyaris tanpa cela. Dua bulan lalu, saat Azkar datang melamar ke rumahnya, Rina tak punya kuasa untuk menolak keinginan orang tuanya. Azkar adalah menantu idaman—seorang ustadz muda yang dihormati, santun, dan memiliki garis keturunan pemuka agama yang terpandang.
Tapi bagi Rina, Azkar adalah orang asing yang memisahkan dunianya dengan Bian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31 Rahasia yang Tersingkap
Rina langsung menyambar ponsel itu dari tangan Azkar dengan gerakan yang cukup cepat untuk ukuran orang sakit. Ia segera mematikan layarnya dan menyembunyikannya di bawah bantal. Napasnya memburu, ia merasa malu luar biasa hingga tidak berani menatap mata suaminya.
"Mas lihat folder yang di bawah?" tanya Rina dengan suara yang nyaris hilang karena malu. "Mas lihat foto-foto... itu?"
Kejujuran yang Canggung
Azkar terdiam sejenak, lalu ia kembali duduk di kursi samping ranjang, menatap Rina dengan tatapan yang kini jauh lebih lembut dan dalam.
"Iya, Mas lihat," jawab Azkar jujur, suaranya rendah dan tenang. "Kenapa harus malu? Kamu istri Mas. Tapi jujur... Mas kaget. Mas nggak tahu kalau istri Mas ini ternyata punya sisi yang... seberani itu."
Rina menutup wajahnya dengan kedua tangan, air mata malu mulai mengalir. "Itu foto lama, Mas. Waktu Rina masih merasa cantik... waktu Rina belum sekurus dan sejelek sekarang. Tolong lupakan, Mas. Rina malu banget."
Azkar perlahan menarik tangan Rina dari wajahnya, memaksa istrinya untuk menatapnya. "Jangan bilang begitu. Kamu nggak jelek. Justru Mas sedih... Mas sadar Mas sudah bikin 'gadis ceria' di foto itu menghilang. Tapi Rin, jujur, Mas jadi makin nggak sabar nunggu kamu sembuh total."
Kalimat terakhir Azkar yang sedikit bernada menggoda itu membuat Rina semakin salah tingkah. Di tengah suasana rumah sakit yang dingin, ada kehangatan baru yang muncul—kehangatan yang bukan berasal dari mesin medis, melainkan dari dua hati yang mulai saling terbuka.
____________________________________________________
Rahasia kecil Rina kini telah diketahui Azkar, dan itu justru membuat Azkar semakin terobsesi untuk menyembuhkan istrinya.
____________________________________________________
Rina ingin rasanya menghilang dari bumi saat itu juga. Ia menarik selimutnya tinggi-tinggi hingga menutupi hidung, hanya menyisakan matanya yang bergerak gelisah. Malu yang ia rasakan jauh lebih hebat daripada rasa sakit di dadanya tadi.
Gus Azkar, yang melihat tingkah menggemaskan istrinya, justru merasa gemas. Rasa bersalah yang tadi menghimpitnya sedikit terangkat oleh sisi manusiawi Rina yang baru saja ia temukan. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Rina yang sedang bersembunyi di balik selimut.
Bisikan yang Mendebarkan
"Rin," panggil Azkar rendah, suaranya terdengar sangat maskulin dan dalam di keheningan malam itu.
Rina tidak menyahut, ia malah semakin merapatkan selimutnya.
Azkar terkekeh kecil—sebuah tawa yang sangat jarang didengar Rina. Ia kemudian mencondongkan tubuhnya, bibirnya berada tepat di samping telinga Rina yang tertutup kerudung instan.
"Mas sudah baca tulisan di bawah foto itu," bisik Azkar pelan, nafas hangatnya menyentuh kulit leher Rina. "Katanya... 'mana tahan suami gue kalau lihat ini'. Kamu mau tahu jawabannya?"
Jantung Rina serasa berhenti berdetak. Ia bisa merasakan wajah Azkar masih sangat dekat dengan telinganya.
"Jawabannya... kamu benar, Rin. Mas memang tidak akan tahan," lanjut Azkar dengan nada menggoda yang sangat kental, namun terselip ketulusan di sana. "Jadi, cepatlah sembuh. Mas ingin melihat kembali 'gadis' yang percaya diri itu. Mas ingin kamu tahu bahwa bagi Mas, kamu yang dulu ataupun yang sekarang, tetap menjadi satu-satunya wanita yang bisa membuat Mas kehilangan kendali."
Rina seketika melepaskan selimutnya, menatap Azkar dengan mata membulat sempurna. Wajahnya sudah bukan lagi merah merona, tapi benar-benar matang seperti tomat.
"Mas Azkar! Ih, mesum!" teriak Rina pelan sambil mendorong bahu suaminya dengan tangan yang masih lemah.