Niat hati merayakan ulangtahun pernikahan kedua dengan kejutan manis, Cakra justru dihantam kenyataan pahit. Di dalam apartemen mereka, ia menemukan Hana terlelap dalam pelukan sepupunya sendiri. Tanpa tahu bahwa ini adalah jebakan licik sang ibu mertua yang tak pernah merestui mereka, Cakra terbakar api cemburu.
Malam itu juga, tanpa ruang untuk penjelasan, talak dijatuhkan. Hana hancur. Di balik kehancuran itu, ia menyimpan rahasia besar: sebuah kabar kehamilan yang baru saja ingin ia sampaikan sebagai hadiah anniversary mereka.
Tahun-tahun berlalu, Hana bangkit dan berjuang membesarkan putra mereka sendirian. Namun, waktu adalah saksi yang paling jujur. Akankah kebenaran tentang rencana jahat sang ibu mertua akhirnya terungkap? Dan saat penyesalan mulai menghujam Cakra, mampukah Hana memaafkan pria yang lebih memilih percaya pada amarah daripada cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan yang tidak di duga
Di sebuah kafe mewah yang eksklusif di dalam sebuah Mall kota Jakarta, denting sendok perak beradu dengan porselen mahal menciptakan harmoni yang kontras dengan niat jahat yang sedang dibicarakan. Nyonya Inggit duduk berhadapan dengan Jesica, wanita yang sejak dulu terobsesi ingin menggantikan posisi Hana di samping Cakra.
"Aku sudah memerintahkan orang untuk mencari info soal Hana, Tan! Pokoknya selama 48 jam, kita tunggu hasilnya," ujar Jesica sambil menyesap latte-nya dengan gaya anggun yang palsu. "Tapi aku tidak menyangka Tante Inggit bisa senekat itu kembali lagi ke Mansion. Lantas bagaimana reaksi Cakra dan Om Ardi?"
Inggit menyandarkan punggungnya, wajahnya yang penuh riasan tampak dingin. "Aku menyesal kenapa tidak sedari dulu aku melakukan hal ini, Jes. Reaksi mereka sih, ya... begitulah. Tapi lambat laun aku yakin mereka pasti akan bisa kembali menerima kehadiranku. Terutama jika aku berhasil membawa El kembali ke sana. Cakra tidak akan punya alasan untuk mengusirku lagi."
Jesica tersenyum licik. "Tentu, Tan. Dan setelah itu, aku yang akan memastikan Hana benar-benar lenyap dari kehidupan Cakra untuk selamanya."
Di sisi lain kota, suasana jauh lebih hangat. Karena jadwal kantor yang sedikit renggang, Hana memutuskan untuk menculik putranya sejenak dari rutinitas les setelah sekolah. Ia membawa El ke salah satu mall besar untuk menghabiskan waktu bersama.
"Bun, kita hanya main berdua saja nih, serius? Om Tama nggak ikut?" tanya El sambil menatap bundanya penuh selidik. Tangannya sesekali meraba jam tangan di balik lengan bajunya, memastikan benda itu aman.
Hana terkekeh melihat wajah serius putranya. "Om Tama lagi sibuk dengan pekerjaannya, Sayang. Jadi Bunda hanya ajak El saja. Lagian Bunda kangen bisa main lagi sama kamu. Maaf ya, semenjak Bunda bekerja di perusahaan kakek, kamu jadi jarang memiliki waktu bersama Bunda."
El tersenyum lebar, menampakkan lesung pipinya yang sangat mirip dengan Cakra. "Tidak apa-apa, Bunda. Justru aku bangga memiliki Bunda sehebat ini!"
Mendengar itu, hati Hana mencelos. Ia langsung merangkul dan memeluk El erat-erat. "Terima kasih, Sayang. Ayo, kita makan siang dulu di sana, baru kita ke Time Zone sepuasnya!"
Keduanya kemudian duduk di sebuah restoran Italia yang cukup ramai namun nyaman. El bercerita dengan riang tentang Axel, sementara Hana mendengarkan dengan tatapan penuh kasih. Mereka menikmati pasta dan tawa, sejenak melupakan ketegangan yang menghantui hari-hari sebelumnya.
Namun, ketenangan itu hancur seketika saat Hana tanpa sengaja mengalihkan pandangannya ke meja tepat di sebelahnya.
Seorang wanita paruh baya dengan pakaian branded dari ujung rambut hingga ujung kaki baru saja duduk di sana bersama seorang wanita muda yang Hana kenali sebagai Jesica.
Mata Hana membulat sempurna. Detak jantungnya berpacu cepat. Wanita paruh baya itu adalah Nyonya Inggit.
Pada saat yang sama, Inggit yang baru saja ingin memesan makanan, menoleh. Matanya bertemu dengan mata Hana. Keduanya terpaku. Ruangan yang luas itu mendadak terasa hampa bagi Hana, hanya ada bayang-bayang siksaan dan penghinaan masa lalu yang kembali berputar di kepalanya.
"Hana?" gumam Inggit, suaranya mengandung nada tajam yang tidak berubah selama enam tahun.
Tatapan Inggit kemudian beralih ke samping Hana. Matanya melebar saat melihat El Barack. Meskipun El mengenakan topi, kemiripan wajahnya dengan Cakra saat kecil tidak bisa dibohongi.
"Dan anak ini..." Inggit bangkit dari kursinya, tangannya gemetar antara amarah dan obsesi.
Hana dengan sigap berdiri, posisinya langsung melindungi El di belakang tubuhnya. Insting pelindungnya menyala. "Sayang, ayo kita pergi dari sini sekarang," bisik Hana dengan suara gemetar namun tegas.
"Tunggu dulu, Hana Zakiyah!" teriak Inggit, menarik perhatian pengunjung lain. "Berani sekali kau menyembunyikan pewaris Ardiwinata selama ini!"
Ketegangan di restoran itu memuncak seketika. Jesica berdiri dengan angkuh, sengaja menggeser kursinya untuk menutup akses jalan Hana. Sementara itu, Nyonya Inggit melangkah maju dengan mata yang berkilat obsesif menatap El.
El mencengkeram ujung baju Hana dengan erat. Wajah kecilnya pucat pasi. Baginya, dua wanita di depannya tidak terlihat seperti manusia, melainkan sosok menakutkan yang memancarkan aura jahat.
"Sini, Nak... Kamu harus ikut Nenek. Kamu tidak seharusnya tinggal dengan wanita rendahan seperti dia," ucap Inggit sambil mengulurkan tangan keriputnya yang dipenuhi perhiasan mahal, mencoba meraih pergelangan tangan El.
Hana menepis tangan itu dengan kasar, suaranya naik satu oktaf. "Jangan sentuh anakku! Tangan kalian terlalu kotor untuk menyentuhnya!"
Wajah Inggit memerah padam karena dihina di depan umum. Harga dirinya terusik hebat. "Kau! Masih berani bicara lancang padaku?" Tanpa peringatan, tangan kanan Inggit melayang di udara, siap mendaratkan tamparan keras ke pipi Hana.
Namun, sebelum jemari itu menyentuh kulit Hana, sebuah tangan kekar menangkap pergelangan tangan Inggit di udara dengan kekuatan yang membuat wanita itu meringis.
"Jangan kalian berani menyentuh calon istriku!"
Suara berat dan berwibawa itu menggelegar. Tama berdiri di sana dengan gagah, masih mengenakan seragam dinas polisinya yang memberikan kesan mengintimidasi. Sorot matanya tajam, seolah siap memborgol siapa pun yang mengganggu Hana.
Inggit dan Jesica tersentak mundur. Nyali mereka menciut melihat seragam yang dikenakan Tama. Jesica bahkan refleks bersembunyi di balik bahu Inggit.
Hana menghela napas lega, tangannya yang gemetar kini bersandar pada lengan Tama. "Mas Tama..." bisiknya lirih, penuh rasa syukur.
Inggit menatap Tama dari ujung rambut hingga ujung kaki, memindai lencana dan pangkat yang tersemat di seragam pria itu.
'Benarkah pria ini calon suaminya Hana? Baguslah, jadi aku tidak perlu bersusah payah menyingkirkan wanita ini lagi dari Cakra. Kupikir dia masih mengharapkan putraku, tapi sepertinya tidak,' batin Inggit dengan senyum sinis yang mulai muncul kembali.
Hana melangkah maju satu langkah, menatap tepat ke bola mata Inggit dengan keberanian yang kini berlipat ganda karena kehadiran Tama.
"Dengar baik-baik, Tante. Jangan pernah sedikit pun Tante mencoba menyentuh putraku lagi. Dia tidak ada kaitannya dengan keluarga Ardiwinata. Dia adalah putraku, dan hanya putraku!" tegas Hana.
Mendengar kalimat itu, El Barack terdiam seribu bahasa. Ada rasa nyeri yang menusuk hati kecilnya.
"Tidak ada kaitan dengan Ardiwinata?" batin El bingung.
Padahal tadi saat jam istirahat di sekolah ia baru saja memeluk Ayahnya, pria yang bernama Cakra Ardiwinata. Ia tahu darah yang mengalir di nadinya adalah darah pria itu.
"Ayo, Mas, El... kita pergi dari sini. Tempat ini sudah terasa sesak oleh udara kotor," ucap Hana sambil menarik tangan El.
Tama menatap Inggit dan Jesica dengan tatapan memperingatkan terakhir kali sebelum berbalik mengikuti Hana. Di belakang, Inggit hanya bisa mendengus kesal namun merasa menang karena menganggap Hana sudah menjauh dari Cakra.
Suasana hening menyelimuti perjalanan pulang. El hanya menatap ke luar jendela, sementara jarinya terus mengusap layar smartwatch di balik lengan bajunya. Ia ingin sekali bertanya pada Bundanya, namun ia takut akan merusak suasana.
Tama melirik El dari spion tengah, ia menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan pikiran bocah itu.
"El, kamu baik-baik saja? Maaf ya, Om tadi datangnya telat," ucap Tama mencoba mencairkan suasana.
"Aku gapapa, Om Tama. Terima kasih sudah bantu Bunda," jawab El singkat, namun pikirannya jauh melayang.
Ia mulai menyadari bahwa ada "perang" besar yang terjadi di masa lalu antara Bunda dan keluarga Ayahnya. Dan kini, ia terjepit di tengah-tengahnya sebagai rahasia yang paling berbahaya.
Bersambung...