Rania Felisya, seorang istri yang selama ini mempercayai pernikahannya sebagai rumah paling aman, dikejutkan oleh kenyataan pahit ketika tidak sengaja mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan ganda itu menghancurkan keyakinannya tentang cinta, persahabatan, dan kesetiaan.
Di tengah luka dan amarah, Rania memutuskan untuk segera berpisah dengan suaminya—Rangga. Namun, Rangga tidak menginginkan perpisahan itu dan malah menjadikan anak mereka sebagai alat sandera.
"Kau benar-benar iblis, Rangga!" ucap Rania.
"Aku bisa menjadi iblis hanya untukmu, Rania," balas Rangga.
Akankah Rania berhasil melepaskan diri dari Rangga dan membalas semuanya, atau malah semakin terpuruk dan hancur tak bersisa?
Yuk ikuti kisah mereka selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Pintu yang Terkunci
"Kau tidak boleh keluar dari rumah ini satu langkah pun."
Deg.
"Apa?" Rania tercengang dengan mata membelalak lebar saat mendengar ucapan Rangga, dadanya langsung terasa sesak bak dihantam batu besar. "Ka-kau, kau bilang apa?" Napasnya mulai memburu, wajahnya berubah pias.
Rangga mendekati Rania dengan tetap tidak mengendurkan tatapan tajamnya. "Aku bilang kau tidak boleh keluar dari rumah ini." ulangnya dengan penuh penekanan.
Rania menggeleng dengan tidak percaya. Bagaimana mungkin laki-laki itu melarangnya keluar seperti ini? Memangnya dia punya hak apa atas kebebasannya?
"Kau benar-benar gila, Rangga. Kau sudah tidak waras!" bentak Rania. Dia segera turun dari ranjang dan berniat untuk keluar, tapi lagi-lagi Rangga mencekal tangannya dan menahannya agar tidak pergi.
"Sudah aku bilang kau tidak boleh keluar, Rania. Kau harus patuh padaku!" hardik Rangga, dia beralih memeluk Rania yang terus memberontak.
"Lepaskan aku! Kau tidak berhak memperlakukan aku seperti ini, Rangga. Kau tidak punya hak!" jerit Rania histeris. Sekuat tenaga dia berusaha untuk melepaskan diri, tetapi Rangga malah memelintir tangannya dan kembali menghempaskan tubuhnya sampai jatuh membentur lantai.
Bruk.
"Aargh!" Rania memekik sakit saat lututnya terbentur lantai, seketika air mata yang sejak tadi menggenang tumpah ruah tak tertahan, sungguh dia tidak menduga jika suaminya akan menjadi sangat gila seperti ini.
"Diam di sini atau kau tau sendiri akibatnya, Rania," ancam Rangga, kedua matanya berkilat penuh kemarahan, tangannya sibuk menggulung lengan kemejanya karena merasa panas.
Rania mengepalkan kedua tangannya dengan erat, dia menoleh ke arah Rangga dengan tubuh gemetar, menatap laki-laki itu penuh kebencian.
"Bajing*an!" umpat Rania dengan bibir gemetaran.
Rangga tertawa pelan, kemudian mendekati Rania yang masih terduduk dilantai. "Kau sendiri yang ingin diperlakukan seperti ini, Rania," katanya setengah berbisik, bibirnya menyeringai licik. "Kalau kau mau ku perlakukan dengan baik, maka kau harus patuh padaku," sambungnya.
Kedua mata Rania berkilat penuh kemarahan dengan apa yang Rangga lakukan saat ini, spontan tangannya terangkat karena ingin menampar laki-laki itu. Namun, dengan cepat Rangga menahan tangannya dan kembali mencengkramnya dengan erat.
"Sakit, Rangga. Lepaskan tanganku," pinta Rania, setengah merintih.
Rangga sedikit mengendurkan cengkraman tangannya saat melihat Rania kesakitan. "Aku tidak ingin menyakitimu, Rania, tapi kau juga harus mendengarkan ucapanku. Kau harus patuh seperti dulu." tekannya.
Rania menggigit bibir, dadanya berdenyut sakit sampai membuat napasnya sesak seakan tercekat ditenggorokan, tangan dan kakinya terasa lemas.
"Aku akan kembali lagi nanti," ucap Rangga kemudian. Dia mengecup kening Rania membuat tubuh wanita itu beringsut mundur ke belakang. "Tunggulah aku." sambungnya.
Rangga langsung berdiri dan berbalik untuk keluar dari kamar itu. Sebelum keluar, dia menoleh ke belakang, melihat Rania yang juga menatapnya dengan penuh kebencian. Dia lalu mengambil kunci yang tergantung di balik pintu membuat tubuh Rania tersentak.
"Ti-tidak, Rangga. Jangan lakukan itu!" jerit Rania saat Rangga hendak menutup pintu dan menguncinya. Dengan cepat dia berlari ke arah pintu, tapi terlambat, pintu itu sudah tertutup tanpa bisa dia tahan.
Brak!
Pintu tertutup dengan kuat disertai suara teriakan Rania.
"Rangga!" teriaknya sembari menaik-turunkan pegangan pintu. "Buka, Rangga. Buka pintunya!" teriaknya lagi sembari menggedor-gedor pintu itu.
Rania terus berteriak berharap Rangga mau membukanya, dia memukul-mukul pintu dengan kuat sampai tangannya penuh memar.
"Aku mohon buka, Rangga. Buka pintunya!" jerit Rania kembali, suaranya mulai lemah, tenaganya berkurang karena terus berteriak dan mencoba membuka pintu itu.
"Buka, Rangga. Aku mohon jangan lakukan ini padaku, aku mohon." Rania terisak. Air mata jatuh perlahan, lalu semakin banyak, sampai akhirnya tangis itu pecah tanpa bisa ditahan lagi. Bukan tangis pelan, tapi tangis yang dalam, patah, seperti hati yang diremas berkali-kali tanpa jeda.
Bahu Rania bergetar hebat, tubuhnya merosot ke lantai, bersandar pada pintu yang tak mau terbuka.
“Aku cuma mau pergi…” isaknya terputus-putus. “Aku cuma mau berhenti disakiti…” Kata-kata itu tenggelam dalam tangis yang makin keras.
Tak ada yang menenangkan. Tak ada pelukan.
Tak ada suara yang menjawab bahwa semuanya akan baik-baik saja. Yang ada hanya ruangan sempit, pintu terkunci, dan seorang perempuan yang merasa hidupnya benar-benar tidak lagi miliknya.
Waktu berjalan lambat. Sangat lambat. Setiap menit terasa seperti jam yang tak berujung.
Tangis Rania akhirnya melemah menjadi isak kecil yang tersisa. Matanya bengkak, napasnya berat, tubuhnya lelah, tapi pikirannya tetap terjaga dalam rasa takut yang sunyi.
Di lantai kamar itu, Rania memeluk dirinya sendiri erat-erat, seolah hanya itu satu-satunya cara untuk memastikan bahwa ia masih ada, masih hidup,
meski hatinya terasa sudah hancur sepenuhnya karena diperlakukan seperti binatang oleh suaminya sendiri.
Sementara itu, Rangga bergegas keluar dari rumah sambil membawa Dafa setelah mengunci Rania di kamar. Dia sama sekali tidak ada niat seperti itu, tetapi Rania sendirilah yang terus memancing emosinya hingga kesabarannya tidak lagi tersisa.
"Dapa mau mama, Dapa mau sama mama." Dafa menangis histeris saat dibawa paksa oleh papanya.
"Tenanglah, Dafa. Nanti mama nyusul, mama masih sakit perut," ucap Rangga asal. Dia memasukkan putranya ke dalam mobil tanpa menghiraukan tangisan Dafa, tidak lupa dia juga membawa kunci mobil Rania beserta ponsel dan juga tas wanita itu.
"Gamau! Dapa mau mama, mau mama," seru Dafa dengan terisak. Dia menarik-narik tangan ayahnya yang sibuk menghidupkan mobil untuk membawanya pergi.
Rangga menghela napas kasar, kemudian beralih melihat ke arah putranya. "Kita mau ke rumah nenek, kita mau beli mainan yang banyak juga, abis itu kita mau ke Skyboom, nanti papa balik lagi jemput mama." rayunya.
Dafa menatap papanya dengan ragu, dia masih terisak, membuat Rangga kembali merayu dengan berbagai cara agar putranya itu tidak menangis lagi.
Setelah Dafa sedikit tenang, Rangga segera melajukan mobilnya untuk pergi dari tempat itu, meninggalkan istrinya yang terkurung sendiri di dalam kamar mereka.
"Aku yakin setelah ini Rania pasti sadar kalau dia tidak bisa terus melawanku, dan harus menuruti semua ucapanku."
*
*
*
Bersambung.
dah nurut aja kenapa sama tuan muda