Kiana Elvaretta tidak butuh pangeran. Di usia tiga puluh, dia sudah memiliki kerajaan bisnis logistiknya sendiri. Baginya, laki-laki hanyalah gangguan—terutama setelah mantan suaminya mencoba menghancurkan hidupnya.
Namun, demi mengamankan warisan sang kakek, Kiana harus menikah lagi dalam 30 hari. Pilihannya jatuh pada Gavin Ardiman, duda beranak satu yang juga rival bisnis paling dingin di ibu kota.
"Aku tidak butuh uangmu, Gavin. Aku hanya butuh statusmu selama satu tahun," cetus Kiana sambil menyodorkan kontrak pra-nikah setebal sepuluh halaman.
Gavin setuju, berpikir bahwa memiliki istri yang tidak menuntut cinta akan mempermudah hidupnya. Namun, dia salah besar. Kiana tidak datang untuk menjadi ibu rumah tangga yang penurut. Dia datang untuk menguasai rumah, memenangkan hati putrinya yang pemberontak dengan cara yang tak terduga, dan perlahan... meruntuhkan tembok es di hati Gavin.
Saat g4irah mulai merusak klausul kontrak, siapakah yang akan menyerah lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Bikini & Mata Keranjang
"Lima puluh juta?!" pekik Kiana, suaranya melengking memenuhi kamar villa yang sunyi.
Kiana melompat mundur dari pelukan Gavin seolah-olah kulit suaminya itu dialiri listrik tegangan tinggi. Dia berguling ke tepi kasur, nyaris jatuh terjungkal ke lantai marmer, lalu menarik selimut menutupi tubuhnya rapat-rapat sampai ke leher. Wajahnya merah padam, lebih merah dari kepiting saus Padang.
"Enak aja! Itu pemerasan namanya!" sembur Kiana, napasnya memburu. Jantungnya berdegup kencang, antara kaget bangun tidur dan... salah tingkah parah.
Gavin masih dalam posisi santainya, bertumpu pada satu siku dengan dada telanjang yang terekspos jelas. Dia tertawa renyah melihat kepanikan istrinya. Rambutnya yang berantakan khas bangun tidur justru membuatnya terlihat makin menyebalkan sekaligus menarik.
"Pemerasan? Itu hukum pasar, Kiana," goda Gavin. "Ada supply, ada demand. Kamu kedinginan, saya sediakan kehangatan. Tarif premium."
"Nggak ada transaksi! Itu... itu kecelakaan! Alea nendang gulingnya!" Kiana menunjuk Alea yang masih tidur pulas di ujung kaki mereka dengan mulut sedikit terbuka. "Lagian kamu juga diem aja dipeluk! Harusnya kamu dorong aku dong!"
"Kenapa harus saya dorong kalau rasanya nyaman?" balas Gavin enteng.
Kiana ternganga. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar. Pria ini benar-benar berbahaya di pagi hari. Otaknya belum cukup encer untuk membalas godaan sefrontal itu.
"Minggir! Aku mau bikin kopi!" Kiana akhirnya memilih strategi paling purba: kabur.
Dia melompat turun dari kasur, menyambar robe tipisnya, dan lari terbirit-birit menuju pantry tanpa menoleh lagi, meninggalkan Gavin yang masih terkekeh geli di atas kasur.
Siang harinya, matahari Bali bersinar terik tanpa ampun. Langit biru bersih tanpa awan, kontras dengan air kolam renang infinity yang berkilauan menggoda iman.
"Ayo, Tante! Cepetan! Airnya enak banget!" teriak Alea dari pinggir kolam. Bocah itu sudah siap dengan baju renang motif Little Pony dan kacamata renang warna pink neon.
Kiana berdiri di depan cermin kamar mandi, menatap pantulan dirinya dengan ragu.
Lagi-lagi, Bi Inah berulah.
Kiana mengaduk-aduk kopernya mencari baju renang yang sopan, berharap menemukan kaos selancar lengan panjang atau setidaknya baju renang model selam. Tapi nihil. Yang ada hanya sehelai swimsuit one-piece berwarna maroon gelap.
Memang bukan bikini two-pieces. Potongannya elegan, menutupi perut. Tapi bahannya... astaga, bahannya menempel ketat seperti kulit kedua. Bagian punggungnya terbuka lebar (backless) sampai ke pinggang, dan potongan di bagian pahanya cukup tinggi, membuat kaki jenjang Kiana terlihat semakin panjang.
"Ini sih bukan baju renang, ini baju pamer bodi," gerutu Kiana.
Dia buru-buru memakai outer berupa robe panjang transparan berwarna putih untuk menutupi tubuhnya. Dia mengikat tali robe itu kuat-kuat di pinggang.
"Pokoknya jangan dibuka kecuali pas nyemplung," tekad Kiana.
Kiana melangkah keluar menuju area kolam renang.
Di sana, Gavin sudah berada di pinggir kolam. Dia mengenakan celana renang hitam selutut dan kaos tanpa lengan yang memperlihatkan otot bisepnya. Dia sedang berlutut, berusaha memakaikan pelampung lengan (armbands) berwarna oranye ke lengan kecil Alea.
"Papa, jangan kenceng-kenceng, nanti darah aku nggak ngalir," protes Alea.
"Iya, Bawel. Ini biar kamu nggak tenggelam," sahut Gavin sabar.
Kiana berjalan mendekat. Angin laut meniup rambutnya yang digerai.
"Udah siap?" tanya Kiana, berusaha terdengar santai.
Gavin mendongak. Dia melihat Kiana yang masih terbungkus rapat.
"Udah. Tinggal nunggu Tante Kiana yang dandannya lama banget kayak mau kondangan," sindir Gavin.
"Dandan itu butuh proses, Pak CEO," balas Kiana. Dia meletakkan handuk dan kacamata hitamnya di kursi jemur (sun lounger).
Udara siang itu benar-benar panas dan lembap. Keringat mulai menetes di leher Kiana. Memakai robe panjang di cuaca seperti ini rasanya konyol.
"Tante, ayo nyebur!" ajak Alea, sudah tidak sabar.
"Iya, sebentar."
Kiana menarik napas panjang. Bodo amatlah. Ini kolam renang, bukan pengajian, batinnya.
Perlahan, jari-jari Kiana membuka simpul tali di pinggangnya. Dia meloloskan robe putih itu dari bahunya, membiarkannya jatuh meluruh ke lantai kayu deck kolam.
Dalam sekejap, kulit putih mulus Kiana yang kontras dengan baju renang maroon itu terekspos sinar matahari. Lekuk tubuhnya yang ramping namun berisi terbentuk sempurna. Kiana menyisir rambut panjangnya ke belakang telinga dengan gerakan natural.
Gavin, yang sedang fokus memasukkan pengait pelampung Alea, menoleh sekilas karena mendengar suara kain jatuh.
Dan gerakan tangannya terhenti total.
Mata Gavin membelalak sedikit. Dia terpaku.
Pemandangan di depannya—istrinya yang berdiri dengan percaya diri (padahal aslinya gemetar) dalam balutan baju renang yang mencetak siluet tubuhnya dengan indah—membuat otak Gavin short circuit. Dia lupa kalau dia sedang memegang lengan anaknya.
"Pa! Papa!" Alea memukul bahu Gavin. "Sakit! Papa nyubit kulit aku!"
Gavin tersentak kaget. Ternyata tangannya yang tadi diam, tanpa sadar menekan jepitan pelampung sampai menjepit kulit lengan Alea.
"Eh! Maaf, Sayang! Maaf!" Gavin buru-buru melepaskan jepitan itu, wajahnya sedikit memerah karena ketahuan salah tingkah. Dia mengusap lengan Alea. "Papa nggak sengaja. Papa... kacamata Papa burem."
"Burem apanya? Papa kan nggak pake kacamata!" protes Alea polos.
Kiana yang melihat adegan itu menahan tawa. "Kenapa, Vin? Grogi liat air?"
Gavin berdehem keras, memalingkan wajah, berusaha mengembalikan wibawanya yang runtuh. "Airnya silau. Cepetan masuk, nanti gosong."
Kiana tersenyum penuh kemenangan. Skor satu sama.
Namun, kemenangan Kiana tidak bertahan lama.
Villa yang mereka tempati memang privat, tapi posisinya berundak di tebing. Villa di sebelah kanan mereka posisinya sedikit lebih tinggi, dan balkonnya menghadap serong ke arah kolam renang mereka.
Saat Kiana berjalan menuju tangga kolam, terdengar suara siulan nyaring dari arah atas.
Suit-suiiit!
Kiana menoleh kaget.
Di balkon villa sebelah, berdiri tiga orang turis asing pria—bule-bule muda yang bertelanjang dada sambil memegang botol bir. Mereka melambai-lambai ke arah Kiana dengan tatapan mata keranjang yang tidak disembunyikan.
"Hi, Beautiful! Nice view!" seru salah satu bule itu dengan aksen kental.
"Come join us for a party tonight!" timpal temannya sambil tertawa-tawa.
Kiana langsung merasa risih. Dia benci dijadikan objek tontonan. Refleks, dia menyilangkan tangan di depan dada, berusaha menutupi tubuhnya. Rasa percaya dirinya yang tadi baru dibangun, langsung ciut.
"Ck," Kiana mendecakkan lidah, memutar tubuhnya membelakangi mereka. Tapi sialnya, baju renangnya backless, jadi punggung mulusnya malah terekspos jelas ke arah para bule itu.
Siulan kembali terdengar, kali ini lebih riuh.
Kiana hendak membentak mereka atau lari mengambil robe-nya kembali, ketika tiba-tiba sebuah bayangan besar menutupi tubuhnya dari sorotan matahari dan tatapan mata para bule itu.
Gavin.
Pria itu sudah berdiri tegak tepat di belakang Kiana, menghalangi pandangan dari villa sebelah dengan tubuhnya yang tinggi dan lebar. Wajah Gavin yang tadi santai, kini berubah dingin dan keras.
Tatapan matanya tajam menusuk ke arah balkon villa sebelah, seolah menantang mereka untuk berani bersuara lagi.
Aura dominan Gavin begitu kuat hingga para bule itu terdiam, saling sikut, lalu pura-pura sibuk minum bir dan masuk ke dalam villa mereka.
Kiana mendongak, menatap punggung Gavin yang lebar di hadapannya.
"Gavin?" panggil Kiana pelan.
Gavin berbalik badan. Dia tidak tersenyum. Dia menatap Kiana dengan sorot mata yang sulit diartikan—campuran antara kesal dan... posesif?
Tangan Gavin terulur, mengambil robe putih Kiana dari kursi, lalu menyampirkannya ke bahu Kiana dengan gerakan tegas namun tidak kasar. Dia menutup tubuh bagian depan Kiana.
"Pakai," perintah Gavin pendek.
"Tapi aku mau renang..." protes Kiana bingung. "Panas kalau pakai ini."
Gavin maju selangkah, menepis jarak di antara mereka. Dia menunduk sedikit, mendekatkan wajahnya ke telinga Kiana. Suaranya rendah, berat, dan penuh peringatan.
"Kalau mau renang, masuk ke air sekarang. Jangan berdiri lama-lama di pinggir," bisik Gavin, napas hangatnya menyapu leher Kiana.
"Kenapa? Cemburu?" tantang Kiana, mencoba bercanda untuk menutupi detak jantungnya yang menggila karena jarak mereka.
Gavin tidak tertawa. Dia menatap mata Kiana lekat-lekat, lalu tangannya merapikan kerah robe Kiana, memastikan tidak ada kulit yang terekspos ke arah tetangga.
"Saya investor utama di perusahaan ini," ucap Gavin datar, tapi ada nada berbahaya di sana. "Saya nggak suka aset berharga perusahaan saya dipamerkan gratisan ke orang asing. Paham?"
Wajah Kiana memanas. Aset perusahaan?
Itu cara Gavin bilang 'milikku' tanpa harus melanggar gengsi CEO-nya. Dasar pria kaku yang gengsian. Tapi entah kenapa, perut Kiana terasa geli dan hangat mendengar kalimat posesif itu.
"Siapa juga yang pamer," gumam Kiana, memalingkan wajah yang merona. "Udah ah, minggir. Aku mau nyebur."
Gavin mundur selangkah, memberinya jalan. Tapi matanya tetap mengawasi sekitar, berjaga-jaga seperti bodyguard pribadi.
Kiana buru-buru melepas robe-nya di bibir kolam dan langsung meluncur masuk ke dalam air yang dingin.
Byur.
Segarnya air kolam sedikit mendinginkan kepalanya yang kepanasan gara-gara "serangan" Gavin barusan.
"Sini Tante! Kita lomba tahan napas!" ajak Alea yang sudah menunggu di bagian kolam anak yang dangkal, yang dibatasi tembok pemisah dari kolam utama yang dalam (infinity pool).
Kiana berenang mendekati Alea. "Oke, siapa takut! Yang kalah harus traktir es krim nanti sore!"
"Setuju!"
Mereka mulai bermain air. Gavin duduk di kursi jemur, mengawasi mereka sambil sesekali mengecek ponselnya. Suasana kembali cair. Kiana dan Alea tertawa-tawa, saling ciprat air. Gavin tersenyum tipis melihat pemandangan itu.
Lima belas menit berlalu.
Kiana menepi ke pinggir kolam untuk minum jus jeruk yang baru diantar pelayan. Dia duduk di tangga kolam, mengobrol sebentar dengan Gavin tentang jadwal makan malam nanti.
"Nanti malam kita ke Jimbaran. Klien Kakek katanya ada di sana, jadi siap-siap pasang muka manis lagi," kata Gavin tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.
"Jimbaran lagi? Nggak bosen apa makan ikan bakar?" keluh Kiana sambil menyedot jusnya.
Sementara orang dewasa itu sibuk mengobrol, Alea bermain sendirian di kolam anak.
Dia membawa mainan bebek karet kuning kesayangannya.
"Berenang ya, Bebek... cit…cit…cit..." Alea mendorong bebek itu di permukaan air.
Tiba-tiba, dorongan Alea terlalu kencang. Bebek karet itu meluncur melewati batas pemisah kolam anak yang rendah, masuk ke area kolam utama (infinity pool).
Arus dari filter kolam membuat bebek itu bergerak cepat menjauh, menuju ke tengah kolam yang dalam.
"Eh! Bebek!" seru Alea panik.
Dia menoleh ke arah Papa dan Tantenya. Mereka sedang sibuk bicara serius. Alea tidak mau mengganggu. Dia pikir dia bisa mengambilnya sendiri. Jaraknya tidak terlalu jauh.
Alea naik ke pinggiran kolam (deck kayu), lalu berjalan cepat di pinggir kolam utama mengejar bebeknya.
"Tungguin bebek!"
Alea berlutut di pinggir kolam utama, menjulurkan tangannya mencoba meraih bebek karet itu.
Ujung jarinya hampir menyentuh ekor bebek. Sedikit lagi.
Alea memajukan badannya.
Tapi dia lupa satu hal. Lantai marmer di pinggir kolam itu basah dan sangat licin.
Kaki tumpuan Alea tergelincir.
"Ah!"
Tidak ada yang sempat berteriak. Tubuh kecil Alea meluncur jatuh ke dalam kolam sedalam dua meter itu.
BYUR!
Suara deburan air yang cukup keras terdengar.
Pelampung tangan Alea? Sialnya, tadi dia melepasnya sebentar karena gatal dan lupa memakainya lagi saat mengejar bebek.
Alea tenggelam.
Air masuk ke hidung dan mulutnya. Dia mencoba menggapai permukaan, tapi kakinya tidak menapak dasar. Panik menguasai dirinya.
trimakasih ya sudah buat cerita ini
ditunggu karya selanjutnya⚘️⚘️⚘️