Lastri menjadi janda paling dibicarakan di desa setelah membongkar aib suaminya, seorang Kepala Desa ke internet.
Kejujurannya membuatnya diceraikan dan dikucilkan, namun ia memilih tetap tinggal, mengolah ladang milik orang tuanya dengan kepala tegak.
Kehadiran Malvin, pria pendiam yang sering datang ke desa perlahan mengubah hidup Lastri. Tak banyak yang tahu, Malvin adalah seorang Presiden Direktur perusahaan besar yang sedang menyamar untuk proyek desa.
Di antara hamparan sawah, dan gosip warga, tumbuh perasaan yang pelan tapi dalam. Tentang perempuan yang dilukai, dan pria yang jatuh cinta pada ketegaran sang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter³ — Pengucilan.
Lastri baru menyadari bahwa pengucilan tidak selalu datang dalam bentuk kata-kata. Kadang hadir sebagai pintu yang tak lagi dibukakan, jalan yang mendadak dipersingkat, dan aturan yang berubah tanpa pernah ditulis.
Pagi itu, ia membawa hasil panen kecil. Dua karung padi dan satu keranjang sayur menuju pengepul di ujung desa. Biasanya, Pak Wiryo akan menyambutnya dengan senyum, menimbang dengan jujur, lalu mengobrol tentang cuaca. Namun hari itu, pria tua itu hanya berdiri di ambang gudang, tangannya bersedekap.
“Maaf, Las,” katanya tanpa menatap wanita itu. “Aku nggak bisa nerima dulu hasil panen mu.”
Lastri terdiam. “Kenapa, Pak?”
Pak Wiryo menghela napas. “Ada arahan... dari yang diatas.”
Kata itu jatuh pelan, tapi berat. Arahan selalu berarti kuasa. Lastri mengangguk, ia tak akan memaksa. Ia memutar arah, mendorong gerobak dengan tenaga yang terasa dua kali lebih berat disertai peluh yang mengucur deras.
Di jalan, ia berpapasan dengan beberapa petani lain. Ada yang pura-pura sibuk, dan ada yang menunduk. Ada pula yang memandangnya dengan tatapan yang dulu tak pernah ada, campuran iba dan curiga.
Sampai di rumah, ibunya sudah menunggu di beranda. Wajah wanita paruh baya itu tampak lebih pucat dari biasanya.
“Mereka nggak mau nerima?” tanya ibunya pelan.
Lastri tersenyum kecil. “Mungkin belum rezeki hari ini, Bu”
Ibunya memejamkan mata sejenak. Ayahnya keluar membawa kursi bambu, duduk perlahan. “Kalau begini terus,” katanya hati-hati, “Ladang kita bisa berhenti bernapas.”
Lastri menatap sawah yang terbentang. Padi-padi itu tetap hijau, tak tahu-menahu soal politik desa. “Sawah nggak salah Pak, yang salah cara manusia mengatur nafas hidupnya sendiri. Mereka menjual suara dan nurani, hanya demi lembaran uang. Surya dipilih oleh warga, itu sebabnya... mereka akan terus berdiri di pihaknya apapun yang terjadi.“
Lastri dan kedua orang tuanya menarik napas panjang. Mereka mulai lelah dengan keadaan, namun sorot mata mereka tetap memancarkan keteguhan.
Sementara itu di balai desa, Surya duduk dengan map cokelat di hadapannya. Suaranya lembut, penuh kebapakan.
“Kita harus tetap taat pada aturan,” katanya pada beberapa tokoh. “Jangan sampai ada yang memprovokasi pasar. Mengenai proyek dari perusahaan swasta untuk pengembangan kawasan, kita harus mampu meraih kepercayaan mereka. Jika berhasil, nilai investasi yang masuk ke desa ini mencapai 30 miliar. Kalian tentu paham, langkah apa yang harus diambil.“
Seorang tokoh desa menyela dengan nada yakin. “Jangan khawatir, Pak Kades. Kabar buruk apa pun tentang Bapak sudah kami tangani. Investasi ini pasti kita amankan.”
Surya tersenyum samar. Tetapi di balik itu, matanya membeku, teringat satu nama yang sempat menggores harga dirinya... Lastri.
Perempuan kurang ajar! Jika investasi itu sampai terganggu karena akibat ulahmu... kau akan menyesalinya!
Siang itu, Malvin mendengar cerita yang sama dari dua tempat berbeda. Dari sopir penginapan yang berbisik, dan dari pedagang kecil yang mengeluh pembeli berkurang karena “aturan baru”.
“Aturan apa?” tanya Malvin.
Pedagang itu mengangkat bahu. “Peraturan yang nggak tertulis dari yang diatas.”
Malvin tersenyum tipis. Ia sudah lama bekerja dengan aturan tak tertulis, dan tahu betul siapa yang diuntungkan olehnya.
Sore hari, Malvin menyusuri pematang. Ia melihat Lastri duduk di tepi sawah, membersihkan lumpur dari kakinya. Wajah perempuan janda itu tenang, tapi matanya menyimpan hitung-hitungan yang tidak sederhana.
“Panennya bagus,” kata Malvin, berdiri agak jauh, seperti biasanya dia memakai kemeja putih dan celana hitam sederhana.
Lastri menoleh. “Iya, tapi sedikit sulit untuk dijual.”
Malvin menangkap nada itu. “Ada yang berubah?”
Lastri tidak langsung menjawab, ia meremas ujung kain bajunya. “Desa ini seperti sawah, kalau aliran airnya dipersempit... yang kering bukan cuma satu petak, tapi seluruh ladang.”
Malvin mengangguk paham. “Tapi air yang jernih, akan selalu mencari jalannya.”
Lastri terdiam, seperti mengerti sesuatu.
Malamnya, ayah Lastri batuk keras. Ibu Lastri duduk di sisinya, mengusap punggung sang suami. Lastri berdiri di ambang pintu, dadanya terasa sesak melihat kedua orang tuanya. Seumur hidup mereka bergelut dengan ladang, namun kini bahkan menjual hasil panen pun tak lagi mereka mampu... semua karena Surya.
“Bapak nggak apa-apa, Neng...” kata ayahnya, memaksakan senyuman. “Cuma masuk angin.”
Lastri tahu itu hanyalah kebohongan kecil untuk menenangkan hatinya. Sebelum air mata sempat jatuh, ia berpaling dan mengusap wajahnya cepat. Lalu ia kembali dengan senyum tipis, masuk ke kamar orang tuanya, dan duduk di bawah. Tangannya memijat perlahan kedua kaki sang Ayah.
“Surya tidak memberi Lastri uang sepeserpun, Pak. Pakaian dan barang-barang di rumah dinas juga dilarangnya untuk kubawa. Lastri hanya pulang dengan baju-baju yang lama, syukurlah masih muat. Sebenarnya Lastri punya tabungan, tapi Surya mengambilnya juga. Bapak bersabarlah sedikit lagi. Kalau hasil panen sudah bisa dijual, kita berobat. Kartu KIS Bapak sepertinya sudah dinonaktifkan oleh Surya, jadi kita tak bisa lagi berobat gratis. Maafkan Lastri, Pak…”
Sang ayah menguvsap kepala putrinya dengan penuh kasih. “Mengapa kau meminta maaf, Nak? Bukan kamu yang bersalah. Kesalahan ada pada manusia yang tak mampu mengekang hawa nafsunya, lalu menutupinya dengan kebohongan demi menjaga martabat di hadapan orang lain. Tenanglah... kejujuran dan keberanianmu tak akan sia-sia. Pada waktunya, kebenaran akan menemukan jalannya sendiri. Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya, selama kita terus bersandar dan memohon pertolongan kepada-Nya.”
Lastri mengangguk pelan, senyum lembut mengiringi ucapannya. “Iya, Pak. InsyaAllah...”
Di penginapan, Malvin membuka laptop. Ia menelusuri data pasar lokal, jalur distribusi, dan koperasi sekitar. Angkanya berbicara jujur, ada penyumbatan. Dan itu... disengaja.
Ia menutup laptop, “Belum waktunya.”
Keesokan paginya, Lastri mencoba peruntungan ke desa sebelah. Jaraknya lebih jauh, tapi ia berangkat juga. Di sana, seorang pengepul muda menerima hasil panennya tanpa banyak tanya.
“Bayarnya memang lebih kecil,” kata pemuda itu. “Tapi kami, menerima siapa saja...”
Lastri tersenyum tulus untuk pertama kalinya hari itu, akhirnya dia bisa membawa bapaknya berobat. Ketika ia pulang, tubuhnya lelah. Namun di hatinya, ada tekad kecil yang tumbuh. Ketika satu pintu menutup, ia akan melangkah mencari pintu lain. Saat semua pintu tertutup rapat, jendela pun akan ia buka.
Dari kejauhan, mata Malvin mengikuti gerobak Lastri yang tadinya sarat hasil panen telah kosong ketika sampai di rumah. Ia menyimpan satu kesimpulan penting, Lastri tidak berdiri sebagai orang yang menanti diselamatkan oleh siapapun. Keteguhan perempuan itu, diam-diam menggetarkan hatinya.
Malam Jumat biasanya membawa ketenangan di desa. Lampu-lampu rumah menyala lebih awal, suara mengaji terdengar dari berbagai sudut, dan orang-orang mengenakan wajah paling santun yang mereka punya.
Namun bagi Lastri, malam itu datang dengan beban yang lain.
Pengajian rutin diadakan di rumah salah satu tokoh masyarakat. Undangan disebar sejak sore, lewat pesan singkat dan kabar lisan. Nama Lastri tidak disebut, tapi ibunya mendapat pesan singkat dari tetangga dekat.
"Datang ya, Bu. Biar suasana tetap rukun."
Kata rukun kembali muncul, kali ini dengan nada yang lebih licin.
Lastri sebenarnya ingin menolak. Namun ia melihat ibunya yang duduk termenung di ruang tengah, jarinya meremas ujung kerudung.
“Kita akan datang, Bu,” ujar Lastri akhirnya. “Biar mereka tahu, kita tidak bersalah dan tak perlu bersembunyi dari siapa pun.”